SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 16 AKU BENERAN HAMIL


__ADS_3

Keesokan siangnya, aku juga melakukan hal yang sama. Numpang makan siang di rumah Yola.


Yola sendiri sangat tidak keberatan dengan kebiasaan baruku itu. Bahkan dia mengaku senang, ada teman makan. Dan ada yang menghabiskan masakannya. Karena aku makannya bisa dua kali lipat porsi biasanya. Kalau kata Yola, porsi kuli.


Hampir satu minggu ini, aku numpang makan siang di rumah Yola. Aku pernah menawarkan pada Yola, agar aku yang bayar belanjaannya. Tapi dia menolak.


Katanya, uangku buat persiapan melahirkan saja. Aku tertawa terbahak mendengar ocehan Yola. Hamil aja belum, kok mikir melahirkan. Ada-ada saja.


Hari minggu ini, aku dan mas Arka berencana mengunjungi orang tuanya. Udah lama juga kita tidak ke rumah mereka.


Mertuaku sudah berkali-kali menelponku. Meminta kami untuk datang ke sana.


Selesai sarapan dan membereskan rumah, kami segera bersiap. Memang rumah mertuaku, lumayan jauh dari tempat tinggal kami.


Di tengah jalan, aku melihat ada tukang rujak buah, yang sedang menata dagangannya. Karena masih agak pagi, jadi tukang rujak itu belum mulai jualannya.


Aku meminta mas Arka menghentikan mobilnya. Dia memandangku heran.


"Nanti di depan ada lagi sayang. Yang ini kan belum siap. Ntar lama lho nunggunya" ucap mas Arka. Karena memang dagangannya belum siap.


Aku tetap keukeuh. Pokoknya harus beli disini. Nunggu lama gak apa-apa. Toh, gak terburu-buru juga. Mas Arka pun hanya bisa menghela nafas.


Aku segera turun dari mobil. Aku menghampiri tukang rujak buah itu.


"Udah siap belum bang?" tanyaku. Padahal aku sudah lihat sendiri, abangnya masih mencuci buah-buahnya.


"Belum neng. Ini baru nyuci buahnya" jawab si abangnya, tanpa menawariku mau menunggu apa tidak.


"Gak apa-apa deh bang. Saya tunggu" ujarku cuek.


Si abangnya melihatku. Mungkin dia merasa aneh atau bagaimana. Si abangnya pun meneruskan mencuci buah-buahan itu. Tanpa menghiraukan aku.


Hampir satu jam aku nunggu, duduk di bangku si abangnya. Setelah benar-benar beres, baru padagang itu membuatkan pesananku.


Setelah selesai, aku kembali ke mobil. Mas Arka memandangku sambil geleng-geleng kepala. Aku tersenyum menampilkan gigi-gigiku. Tanpa rasa bersalah. Kami pun melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di rumah mertuaku, kami disambut dengan pelukan ibu mertuaku. Dia kelihatan sangat merindukan kami.


"Kenapa gak pernah main kesini lagi? Hari minggu kan kalian di rumah aja" tanya ibu mertuaku.


Kami tak bisa menjawabnya. Hanya tersenyum sambil berjalan menuju ruang tengah. Di sana sudah ada bapak mertuaku, dengan aneka makanan kecil di atas meja.

__ADS_1


Kami di persilakan mencicipi makanan-makanan itu. Tapi aku malah membuka rujak buah yang aku beli tadi. Aku juga menawari mereka, karena aku membelinya empat porsi.


Mereka melihatku sambil mengerutkan dahi.


"Pagi-pagi makan rujak buah. Emangnya kalian sudah sarapan?" tanya ibu.


" Udah bu, tadi sebelum berangkat kami sarapan dulu" jawabku. Aku lalu berjalan ke dapur mengambil beberapa piring.


Aku dengar mas Arka, menceritakan bagaimana aku tadi menunggu lama, si pedagang rujak buah menyiapkan dagangannya.


Ibu tersenyum bangga. Aku heran, kenapa ibu malah tersenyum.


"Alhamdulillah" kata ibu. Aku makin heran dengan jawabannya.


Tanpa basa basi lagi, aku segera memakan rujak buah, yang telah aku pindah ke piring.


Bapak menolak memakannya. Katanya buah-buahannya terlalu keras. Giginya udah gak kuat. Sementara yang lain ikut memakannya.


Kami bercerita banyak tentang hari-hari kami di rumah. Aku juga menceritakan tentang teman baruku yang super seksi, Yola.


Aku menceritakan bagaimana awalnya kami menilai Yola. Tapi pada akhirnya, aku malah lengket.


Aku juga menceritakan, hampir setiap makan siang aku nebeng makan di sana. Mas Arka kaget mendengar ceritaku. Soalnya aku tak pernah cerita kepadanya.


Setelah jam makan siang, kami dipersilakan makan. Ibu sudah masak banyak, untuk kami.


Melihat begitu banyak maksakan, bukannya membuat aku nafsu makan. Malah membuatku mual. Aku pun ijin ke kamar mandi. Untung mualku gak sampai muntah.


Ibu menawariku mamilih makanan mana yang aku mau. Satu pun tak ada yang aku inginkan. Mereka sampai heran melihatku.


"Pilih aja mana yang kamu suka Ar" ucap ibu. Aku menggeleng tak bersemangat.


"Kamu maunya makan apa sih sayang?" tanya mas Arka, karena sedikitpun aku tak menyentuh makanan itu.


Akhirnya setelah mereka desak terus, baru aku bilang, kalau aku maunya makan masakannya temanku, Yola.


Mereka tercengang mendengar jawabanku. Bagaimana mungkin aku makan masakannya Yola, sedang kami sedang ada disini.


Aku tetap tak mau memakannya. Akhirnya aku memilih keluar, dan duduk sendiri di taman belakang.


Di belakang rumah mertuaku memang ada sebuah taman. Sebetulnya lebih mirip kebun sih. Karena disana banyak di tanami tanaman-tanaman kebutuhan dapur. Seperti cabai, tomat dan beberapa buah-buahan.

__ADS_1


Aku melihat ada buah jambu, yang sedang berbuah lebat. Aku pun segera mencari galah, untuk memetiknya.


Saat aku sedang kesulitan memetik jambu itu, mas Arka datang membantuku. Berjatuhanlah beberapa jambu yang merah-merah.


Aku kegirangan seperti anak kecil. Lalu mengumpulkannya, dan segera mencucinya.


Mas Arka dan ibu yang kemudian ikut bergabung, melihat semua tingkahku.


"Kayaknya kamu harus membawa istrimu ke dokter kandungan. Mungkin dia lagi hamil" ucap ibu pada mas Arka.


Aku sempat mendengarnya. Aku mengernyitkan dahiku. Hamil?


"Atau kamu belikan dulu test pack di apotek. Biar tau sekarang hasilnya. Aryani, kapan kamu terakhir menstruasi?" tanya ibu.


Pertanyaan yang sama seperti Yola. Aku pun hanya menggeleng. Karena aku lupa.


Mas Arka pun segera berangkat ke apotek, untuk membeli test pack. Aku gak mempedulikannya. Aku lebih peduli dengan jambu-jambuku.


Tak lama mas Arka pulang dengan membawa beberapa test pack dari berbagai merk.


"Kenapa banyak sekali kamu membelinya?" tanya ibu pada mas Arka.


Mas Arka menjelaskan, kalau tadi di tawari banyak merk. Karena dia tidak tau, akhirnya dia beli semua. Daripada salah, dan mesti balik lagi.


Ibu manggut-manggut. Kata ibu, ya udah gak apa-apa, kalau nanti salah saat makainya kan bisa ganti yang baru.


Setelah aku merasa kenyang memakan jambu-jambu itu, ibu menyuruhku menggunakan test pack. Ibu juga mengajarkan padaku bagaimana cara menggunakannya.


Aku segera masuk ke kamar mandi. Ibu membawakanku sebuah wadah kecil, untuk menampung air seniku.


Setelah tertampung, aku bersihkan dulu diriku. Lalu aku mencelupkan alat itu ke dalam wadah.


Aku tunggu beberapa saat.Awalnya hanya satu garis, tapi beberapa detik kemudian muncul satu garis lagi.


Aku segera membawanya keluar. Dan aku berikan kepada ibu. Ibu langsung kegirangan.


Sementara aku dan mas Arka berpandangan tak mengerti.


"Ada apa bu?" tanya mas Arka.


"Alhamdulillah, istrimu positif. Dia hamil" ucap ibu.

__ADS_1


Aku hamil? Beneran hamil?


__ADS_2