SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 65 PINDAH SEMENTARA


__ADS_3

Sore ini ibu mertuaku akan dimakamkan. Aku dibantu mas Teguh, membawa serta mas Arka ke pemakaman.


Suasana haru benar-benar aku rasakan. Aku merasa hidup sebatang kara. Tak ada siapa pun lagi yang bisa menolongku.


Ibu mertua satu-satunya yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri telah berpulang. Sementara suamiku belum ada perkembangan yang berarti.


Aku lihat wajah mas Arka pun mendung. Semendung langit sore di area pemakaman keluarga ini.


Ibu mertuaku di makamkan bersebelahan dengan bapak mertuaku. Karena memang dulu ibu mertuaku pernah berpesan kalau meninggal ingin dimakamkan bersebelahan.


Saat jenazah ibu mertuaku diturunkan, aku lihat ada air mata keluar deras dari mata mas Arka. Mungkin dia bisa merasakan kehilangan orang tuanya yang tinggal satu-satunya.


Aku memeluk erat bahu mas Arka yang masih hanya terduduk di kursi rodanya. Tangisku tak dapat lagi dibendung.


Di liang lahat ada mas Teguh dan beberapa laki-laki lain menerima jenazah ibu mertuaku.


Saat tanah mulai di turunkan, tangan mas Arka bergerak seolah ingin menggapai jenazah ibunya.


Ditengah tangisku aku memperhatikan gerakan perlahan tangan itu meski tanpa suara. Aku semakin tak bisa menahan tangisku.


Sedih karena kehilangan orang tua yang hanya tinggal satu-satunya. Tapi bahagia melihat ada gerakan dari tangan mas Arka.


Entah darimana datangnya kekuatan itu, tangan mas Arka terus saja menggapai. Hingga tubuhnya nyaris terjatuh ke depan.


Aku dan bi Yati yang ada di kanan kirinya, berusaha menahan tubuh mas Arka agar tak jatuh.


Selesai prosesi pemakaman, saat para pelayat satu per satu meninggalkan area pemakaman, aku berjongkok dengan berpegangan pada kursi roda mas Arka.


Aku lafalkan doa-doa sebisaku. Aku genggam tangan mas Arka yang masih terus saja terulur ke depan.


Mas Teguh bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih merah, di depanku. Aku lihat dia juga sangat kehilangan.


Ibu mertuaku memang sosok yang sangat baik. Selama hidupnya ibu selalu membantu orang-orang di sekitarnya.


Maka saat pemakaman ibu pun, banyak sekali pelayat yang menangis merasa sangat kehilangan.


Sore semakin gelap, mas Teguh mengajak kami meninggalkan area prmakaman itu. Mas Teguh mendorong kursi roda mas Arka.

__ADS_1


Tangan mas Arka masih terus saja terulur ke depan. Seperti tak rela meninggalkan ibunya di sana.


Aku berjalan bersebelahan dengan mas Teguh. Bi Yati di belakangku.


Jarak pemakaman tak terlalu jauh dari rumah ibu mertuaku. Kami juga berjalan kaki seperti pelayat-pelayat lain yang masih menunggu di depan area pemakaman itu.


Sepanjang perjalanan, aku terus saja menangis. Tak kering-kering air mataku, terus saja mengalir.


"Ikhlaskan, Dek. Kasihan Arka kalau kamu terus saja menangis" ucap mas Teguh.


Aku mendengarnya dan berusaha menghentikan tangisku. Betul sekali omongan mas Teguh, kalau aku terus saja menangis dan bersedih, lalu bagaimana dengan mas Arka?


Aku adalah satu-satunya harapan mas Arka. Tak ada lagi yang dimilikinya selain aku.


"Bi, nanti tolong siapkan untuk acara tahlilan Ibu, ya" ucap mas Teguh pada bi Yati.


"Baik, Mas Teguh. Nanti saya akan minta tolong ibu-ibu lain untuk membantu" ujar bi Yati.


Kami terus berjalan menyusuri jalanan setapak keluar dari area pemakaman.


Sesampainya di rumah ibu mertuaku, banyak orang-orang yang sedang mempersiapkan untuk acara tahlilan.


Entah siapa yang memerintahkan, secara otomatis mereka bekerja bakti.


Ibu-ibu banyak yang datang membawa hidangan untuk makan para tamu yang akan datang bertahlil nanti malam.


Kami masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah sudah terlihat sangat bersih. Padahal tadi saat aku meninggalkan rumah ibu, mengantar ke pemakaman, rumah ini terlihat sangat berantakan.


Aku duduk di kursi tamu panjang dari kayu. Mas Arka di letakan oleh mas Teguh di sebelahku duduk.


Aku lihat air mata mas Arka masih terus mengalir. Betapa sedihnya dia. Aku menghapus air mata itu.


"Ikhlaskan, Mas. Mas jangan terlalu bersedih, masih ada aku dan calon anak kita. Sebentar lagi dia akan lahir, Mas" ucapku perlahan di telingan mas Arka.


Dan tanpa aku duga, mas Arka mengangguk perlahan. Aku sangat bahagia. Saking bahagianya, aku ciumi seluruh wajah mas Arka tanpa mempedulikan sekitarku.


Mas Teguh yang berdiri tak jauh dari kami, menatap pemandangan itu dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


Aku hanya melihatnya sekilas. Dan kembali dengan kebahagiaanku karena mas Arka yang sudah bisa sedikit merespon.


Selepas maghrib, acara tahlilan di mulai. Semua sudah dipersiapkan oleh tetangga.


Aku yang tadi tak sempat membawa pakaian ganti, terpaksa memakai pakaian yang tadi lagi. Hanya aku tutupi dengan kerudung hitam yang aku bawa dari rumah.


Mas Teguh meminjamkan baju koko dan kain sarung beserta kopiahnya untuk mas Arka. Dan mas Teguh juga yang mendandaninya.


Sudah lama sekali aku tak melihat mas Arka memakai baju koko seperti itu. Dia terlihat masih tampan, walaupun badannya sedikit lebih kurus.


Kami mengikuti acara tahlilan sampai selesai. Mas Arka duduk di kursi rodanya, sementara aku dan yang lain duduk di tikar.


Selesai acara, aku meminta bi Yati membuatkan makan malam untuk mas Arka. Karena dari tadi siang mas Arka belum makan.


"Dek, sebaiknya malam ini kalian tidur di sini. Kalau mau sih, mulai malam ini kalian tinggal di sini saja" ucap mas Teguh. Aku memandang wajahnya. Maksudnya bagaimana?


"Rumah ini tak ada yang menempati, dan sebentar lagi kamu melahirkan. Arka juga belum sehat. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan kalian. Kalau di sini kan akan banyak tetangga yang membantu" lanjut mas Teguh.


Aku berusaha mencerna ucapan mas Teguh. Benar juga. Tapi bagaimana dengan rumah kami di sana?


"Tapi rumah kami nanti tak ada yang menempati, Mas?" ujarku.


"Ya, dikosongkan sementara. Nanti kalau aku ada waktu, aku akan menyempatkan diri ke sana untuk sekedar mengeceknya" ucap mas Teguh.


Aku tak bisa lagi menyangkal omongan mas Teguh. Malah sebaliknya, aku merasa sangat berterima kasih diberi solusi untuk permasalahanku.


Tadinya aku tak bisa membayangkan kalau aku dan mas Arka hanya tinggal berdua di rumah kami.


Bagaimana kalau malam-malam aku mau melahirkan? Siapa yang akan menolongku? Siapa yang akan menjaga mas Arka di rumah?


"Oke, Mas. Aku setuju dengan idemu. Tapi bolehkah aku minta tolong?" ujarku ragu-ragu.


"Minta tolong apa Dek? Kalau aku bisa, pasti aku akan menolongmu" ucap mas Teguh.


Lalu aku mengatakan meminta tolong di antarkan ke rumahku sebentar, untuk mengambil pakaianku dan pakaian mas Arka. Serta perlengkapan untuk calon anakku yang kemarin dibelikan Yola.


Aku memantapkan diri untuk tinggal sementara di rumah almarhum mertuaku.

__ADS_1


__ADS_2