SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 111 SUAMIKU SUDAH BISA BERDIRI


__ADS_3

"Don, aku mau pulang." Aku membangunkan Doni yang terlelap karena kelelahan.


"Aku ngantuk sekali, Ar." Doni malah memeluk gulingnya dengan erat.


"Ya sudah. Aku pulang sendiri ya?"


Aku tak tega memaksa Doni mengantarku. Biar saja aku pulang dengan ojek online.


Doni membuka matanya. Lalu bangun dan masuk ke kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, Doni berganti pakaian. Aku hanya memperhatikannya.


"Ayo, katanya mau pulang" ajak Doni.


Aku pun berjalan mengikuti Doni.


Sepanjang perjalanan, Doni tak bicara sedikitpun. Mungkin dia masih mengantuk. Aku jadi merasa bersalah.


"Kamu masih mengantuk ya, Don?"


Doni hanya melirikku.


"Maaf ya, aku merepotkan kamu."


Doni mengacak rambutku. Tapi masih diam tanpa sepatah katapun. Bahkan hingga sampai di depan gang rumahku.


"Makasih ya, Don." Doni mengangguk masih tanpa suara.


Aku tak mau mempermasalahkannya. Aku sangat capek.


Aku turun dari mobil dan berjalan menuju rumahku, melewati gang yang tak terlalu besar.


Sampai di depan rumah, aku melihat lampu teras sudah menyala. Syukurlah mas Arka sudah bisa menyalakan lampunya sendiri.


Aku sendiri bahkan lupa kalau suamiku itu masih mengandalkan kursi rodanya.


Pintu rumah dibiarkan terbuka. Aku melihat mas Arka menungguku di ruang tamu.


"Kamu belum tidur, Mas?" tanyaku.


Mas Arka hanya menggeleng pelan.


"Sudah makan?" tanyaku lagi. Dia mengangguk.


Aku meletakan tasku di atas meja, dan membawa mas Arka ke kamar.


"Istirahat ya?"


Aku membantu mas Arka pindah ke tempat tidur. Kami tidur terpisah. Aku tidur di kamarku sendiri, sementara mas Arka di bekas kamar orang tuaku.


Mas Arka menatapku.


"Ada apa?" tanyaku.


Dia hanya menggeleng, lalu memejamkan matanya.


Sebenarnya aku sangat iba padanya. Tapi aku tak bisa berharap banyak padanya.


Aku berjalan ke kamarku setelah mengunci pintu rumah. Aku rebahkan tubuhku yang sudah sangat lelah.


Tak butuh waktu lama untukku terlelap.

__ADS_1


Tengah malam, aku terbangun karena aku mendengar suara isakan. Aku buka lebar-lebar mataku.


Mas Arka dengan kursi rodanya sudah ada di sebelah tempat tidurku.


"Ada apa, Mas?" Aku beranjak dari tidurku.


Mas Arka menghapus air matanya. Aku melihat jam di dinding kamarku. Masih jam satu malam.


"Kenapa ke sini? Ini masih malam. Tidur lagi ya?"


Mas Arka menggeleng.


"Kamu mau tidur di sini?"


Mas Arka hanya diam. Lalu aku membantunya pindah ke tempat tidurku yang sempit.


Lalu aku naik dan ikut tidur. Mataku masih sangat mengantuk. Aku tidur membelakanginya sambil memeluk guling.


Aku merasakan tangan mas Arka memelukku dari belakang. Aku terkesiap. Dan membuka mataku lagi.


Pelukan mas Arka semakin erat. Aku bisa merasakannya. Sepertinya tenaganya semakin pulih.


"Mas. Kamu belum tidur?"


Mas Arka yang belum bisa menjawab, semakin mengeratkan pelukannya sebagai jawaban.


Aku membalikan tubuhku. Dia tersenyum.


"Kenapa?"


Mas Arka hanya diam, tapi matanya menatapku tajam.


"Aku masih mengantuk, Mas."


Aku pun tertidur lagi di pelukan suamiku.


Saking lelapnya tertidur, aku sampai tak mendengar suara alarm. Malah mas Arka yang mencoba membangunkanku dengan menggoyang-goyangkan lenganku.


"Mm. Jam berapa ini?" Aku membuka sedikit mataku, dan terhenyak melihat jam menunjukan pukul enam pagi.


Gawat. Aku bisa kesiangan. Karena banyak sekali yang harus aku lakukan sebelum berangkat kerja.


Aku langsung bangun dan menuju ke kamar mandi. Mandi secepatnya karena harus menyiapkan makan untuk mas Arka selama aku tinggal nanti.


Belum lagi memandikan mas Arka yang memakan waktu cukup lama. Karena aku harus menunggunya BAB juga.


Keluar dari kamar mandi, aku melihat mas Arka sudah duduk di atas kursi rodanya. Dia juga sudah membawa pakaian ganti juga handuk.


"Sebentar ya, mandinya. Aku pakai baju dulu." Aku yang hanya mengenakan handuk berlari ke kamarku.


Aku memakai celana pendek dan kaos dulu. Karena akan memandikan mas Arka dan memasak di dapur.


Saat aku keluar dari kamarku, aku tak melihat mas Arka di tempatnya tadi.


"Mas! Mas Arka!" Aku memanggil dan mencarinya.


Mas Arka memberi tanda padaku dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan gayung.


"Mas! Kamu di dalam?" tanyaku khawatir. Bagaimana kalau dia terjatuh?


"Buka pintunya, Mas!"

__ADS_1


Mas Arka membuka pintu dengan sebelah tangannya. Dia sudah berdiri menyandar di dinding kamar mandi.


"Kamu ngapain? Kalau jatuh bagaimana?"


Aku membantunya duduk di kursi plastik yang aku sediakan untuk dia mandi. Lalu aku keluarkan kursi rodanya.


"Jangan nekat, Mas. Kamu belum bisa sendiri."


Aku terus saja mengomel sambil memandikannya. Aku gosok seluruh tubuhnya. Dan aku bilas hingga bersih.


"Dah, selesai." Aku mengeringkan tubuhnya dengan handuk, dan memapahnya dengan memeluknya hingga ke kursi rodanya.


Setelah duduk di kursi rodanya, aku mulai memakaikan baju. Seperti itulah rutinitasku memandikan suamiku.


"Aku mau masak dulu. Kamu mau nunggu di sini?" mas Arka mengangguk.


Lalu aku mulai membuatkan suamiku makanan. Aku siapkan juga untuk makan siang sampai malam.


Karena aku pasti akan pulang malam. Doni selalu mengajakku ke apartemennya dulu.


Aku melihat jam. Sudah pukul tujuh lewat. Sambil menunggu masakanku matang, aku masuk ke kamarku.


Aku berganti pakaian dan memoles wajahku seadanya. Aku memang tidak begitu suka berdandan medok, jadi tidak butuh waktu lama.


Aku bolak-balik ke dapur sambil menyiapkan tasku. Balik lagi ke dapur menyiapkan makanan.


Mas Arka hanya menatapku saja. Ya, dia bisa apa kalau tidak cuma melihat.


"Mas, kita sarapan yuk. Seadanya ya?" Aku mengambilkan makanan untuknya. Sambil aku makan, aku juga menyuapinya.


Mas Arka menatapku. Lalu menepuk pangkuannya.


"Kamu mau makan sendiri?" tanyaku.


Mas Arka mengangguk. Aku ragu-ragu memberikannya. Bagaimana kalau tumpah? Bukan makanannya yang aku khawatirkan, tapi akan menambah pekerjaanku nantinya.


Aku memperhatikan mas Arka makan. Dengan perlahan dia menyuapkan makanan ke mulutnya.


Lalu mengunyahnya perlahan juga. Air mataku sampai menetes melihatnya.


Aku jadi berfikir, mas Arka pasti sudah belajar dari kemarin saat aku tinggal.


Aku merasa sangat bersalah. Di saat suamiku kesulitan untuk makan, malah aku tinggal.


Dia yang setia menungguku di rumah, aku malah bersama lelaki lain.


Ah, sudahlah. Aku tak mau memikirkannya. Biarkan saja semua berjalan seperti ini. Toh, mas Arka tak melihatnya.


Aku masih pulang ke rumah. Aku masih memikirkan makannya, mandinya dan juga BAB-nya.


Aku selesai lebih dulu. Sementara makanan mas Arka masih separuh.


"Habiskan makannya ya, Mas. Aku siap-siap dulu."


Aku kembali ke kamarku dan merapikan penampilanku.


Baru aku keluar lagi dari kamar.


"Mas!" Aku terkejut dengan pemandangan di depanku. Mas Arka sudah bisa berdiri dan berjalan dengan bertumpu pada kursi.


"Kamu bisa berdiri, Mas?"

__ADS_1


Mas Arka menatap ke arahku dan mengangguk pelan. Spontan aku berlari memeluknya.


__ADS_2