
Aku menyimpan perhiasan emas peninggalan orang tuaku di lemari. Aku jadi ingat dengan perhiasanku yang dikasih mas Arka dulu. Yang raib dibawa kabur Bimo perawat sialan itu.
"Kok melamun?" tanya mas Arka sambil memelukku dari belakang.
"Eh, Mas. Ngagetin aja." Aku meletakan dompet ibuku di laci lemari.
"Mas, jangan begini." Aku mencoba menghindar saat mas Arka menciumi leherku.
"Kenapa? Kamu enggak kangen?" bisik mas Arka di telingaku.
"Bukan begitu, Mas. Kita harus menunggu beberapa hari, sampai aku cek darah lagi," jawabku.
"Apa bedanya, Ar?" tanya mas Arka.
"Beda, Mas. Kita bisa lebih tenang melakukannya."
"Kamu takut bakal menulariku?" tanya mas Arka lagi.
Aku hanya bisa mengangguk. Bayangan menakutkan tentang virus itu kembali datang.
"Yakin saja, Ar. Kalau kamu tidak mengidapnya," ucap mas Arka. Dia membimbingku duduk di tepi ranjang.
Aku menatap sedih pada sosok kecil yang masih lelap tertidur. Bagaimana kalau aku dinyatakan positif? Dan aku akan meninggalkan untuk selama-lamanya.
"Kok nangis?" Mas Arka mengulurkan tangannya, menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Lalu memelukku dengan erat.
"Maafkan aku, Mas. Semua karena kesalahanku." Tangisku semakin menjadi saat mas Arka membelai punggungku dengan lembut.
"Aku sudah memaafkannya, Ar. Lupakan semuanya. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Dampingi aku terus, ya," pinta mas Arka.
Mestinya aku yang memintanya untuk terus mendampingiku. Aku yang sedang dihukum oleh yang Maha Kuasa. Aku yang masih ragu dengan kondisiku.
"Terima kasih, Mas. Aku janji akan selalu mendampingimu."
Mas Arka mengurai pelukannya. Lalu kembali menghapus air mataku.
"Sekarang, kita pindahkan Aryaka, yuk. Kita kan mau tidur bertiga," ucap mas Arka.
Lalu dia menggendong Aryaka untuk dipindahkan ke kamar depan. Aku mengikutinya dengan membawakan guling kecil milik anakku.
"Ayo kita tidur." Mas Arka sudah memposisikan diri di sebelah kanan Aryaka. Aku di sebelah kiri Aryaka.
Kami tidur bertiga sambil memeluk Aryaka. Sesuatu yang hampir saja hilang dalam kehidupan rumah tangga kami.
Aku pikir semuanya akan berakhir. Tapi ternyata kami mampu melaluinya. Melalui semua cobaan dan godaan yang menerpa.
Hingga pagi menjelang, kami bangun begitu adzan subuh terdengar.
"Ar. Bangun. Kita sholat berjamaah, yuk."
__ADS_1
Aku merasakan guncangan di bahu. Saat aku membuka mata, mas Arka sudah rapi dengan baju kokonya.
"Iya, Mas. Aku ke kamar mandi dulu." Aku bergegas ke kamar mandi.
Sudah lama sekali aku tak sholat. Apalagi berjamaah dengan mas Arka.
Ya Allah. Ampuni semua dosa-dosaku. Terima kasih, ya Allah. Engkau kembalikan keluarga kecilku lagi. Doaku saat selesai sholat.
Jam enam pagi, Aryaka baru bangun. Dia mencari maminya. Sarah.
Ya, Aryaka beberapa bulan tinggal dengan Sarah. Tentunya akan sulit buat dia melupakan Sarah.
"Eh, anak Mama udah bangun. Sini, sama Mama." Aku mengulurkan kedua tangan.
Aryaka menggeleng. Dia tetap mencari Sarah. Dan malah hampir menangis.
"Mami mana?" rengeknya.
"Aka mandi dulu. Nanti kita ke rumah mami. Semalam kan Aka bobok sama mama dan papa di sini," jawabku.
"Yuk, mandi dulu." Aku tetap mengulurkan kedua tanganku. Yang akhirnya disambut juga oleh anakku.
Aku membawa Aryaka ke kamar mandi. Sementara mas Arka sedang menyiapkan makan pagi untuk kami. Dia sudah mulai bekerja pagi ini. Dan rencananya dia akan berangkat jam tujuh nanti.
"Sudah, Mas. Nanti aku yang nerusin. Kamu makan dulu aja. Biar enggak telat," ucapku sambil menggendong Aryaka yang baru selesai mandi.
Dia memang sangat perhatian pada anak kami. Tak akan mau dia makan sendirian sementara aku masih sibuk mengurusi Aryaka.
"Ayo, Aka pakai baju dulu. Terus kita sarapan." Aku mengambilkan pakaian Aryaka yang sudah aku pindahkan ke lemari.
"Teyus ke lumah mami," sahut Aryaka sambil tertawa dan loncat-loncat di tempat tidurku.
"Iya, Sayang. Abis maem kita ke rumah mami."
Dengan semangat, Aryaka menurut saat aku pakaikan baju.
"Mas, Aryaka mau ke rumah Sarah, katanya," ucapku saat kami sudah mulai makan.
Aku menyuapi Aryaka. Biar makannya enggak berantakan.
"Oke. Kalau begitu, kalian aku antarkan ke sana dulu. Nanti sore aku jemput," jawab mas Arka penuh pengertian.
"Iya, Mas. Ayo, Sayang. Maemnya cepat dihabiskan. Biar papa enggak terlambat kerja."
"Enggak usah buru-buru. Kamu juga belum makan, kan? Sini aku suapin Aryaka. Kamu makan dulu." Mas Arka meraih piring makan Aryaka. Dia sudah selesai makannya.
Aku pun buru-buru makan. Lalu aku berganti pakaian. Aku juga menyiapkan uang untuk pegangan mas Arka nanti. Kasihan dia tak punya uang sedikitpun.
"Dompet kamu mana, Mas?" tanyaku.
__ADS_1
"Dompet? Mau buat apa?" tanya balik mas Arka.
"Udah, bawa sini aja." Aku tahu, kalau aku ngomong duluan, pasti bakalan ditolak.
Mas Arka memberikan dompetnya. Dan benar saja, kosong melompong.
Aku isi dengan uang dari saku, lalu aku serahkan kembali.
"Nih."
Mas Arka menatapku sendu.
"Makasih, Ar. Nanti kalau aku sudah gajian, aku ganti," ucapnya. Lalu mendekatiku dan memelukku dengan erat.
"Mama, ayo ke lumah mami." Suara Aryaka menyadarkan kami, kalau sudah ada makhluk kecil di antara kami.
Mas Arka melepaskan pelukannya, lalu menggendong Aryaka dan membawanya keluar. Aku mengikuti mereka dan mengunci pintu rumah.
"Lho, mau pada kemana pagi-pagi begini?" sapa bu RT yang kebetulan lewat.
"Aka mau ke lumah mami," jawab Aryaka duluan.
"Owalah, kamu kok pinter sih? Anak siapa, ini?" Bu RT mencubit pipi gembul Aryaka.
"Anak mami," jawab Aryaka lagi.
"Siapa mami, Dek Aryani?" tanya bu RT.
"Teman saya yang kemarin-kemarin merawat Aryaka, Mbak," jawabku.
Bu RT salah satu tetangga yang paham dengan permasalahan rumah tanggaku. Jadi enggak salah juga aku berterus terang padanya soal maminya Aryaka.
Umurnya yang hanya beberapa tahun di atasku, hingga aku memanggilnya mbak.
"Mari, Mbak. Kami duluan. Mas Arka hari ini sudah mulai kerja."
"Alhamdulillah, Mas Arka sudah bisa kerja lagi. Selamat ya buat kalian," ucap bu RT menyemangati kami. Lalu dia pergi meninggalkan halaman rumahku yang mepet dengan jalanan.
"Aka mau di belakang sama Mama apa di depan sama Papa?" tanya mas Arka.
"Aka di depan. Aka mau nyetil," jawab Aryaka.
Dengan senang hati mas Arka mendudukan Aryaka di depannya. Dan melajukan motornya perlahan.
Seperti kemarin siang, mas Arka melewati jalanan kecil. Alasannya masih sama, selain menghindari polusi udara juga menghindari macet.
Malaikat kecilku berteriak-teriak kegirangan melihat jalanan yang penuh. Aku sangat terharu melihat kegembiraannya.
Keluarga kecilku, kalianlah sekarang mood boosterku untuk terus menjalani hidup ini.
__ADS_1