
Ya, Aryaka pastinya lebih dekat dengan Sarah. Karena beberapa bulan terakhir dia ikut Sarah. Dan Sarah yang memang sangat merindukan sosok anak, sangat menyayangi Aryaka.
Aku kembali ke tempat dudukku. Mas Raka juga.
"Nah, sekarang silakan kalian selesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan. Kami siap membantu kalau tidak juga ada titik temu. Saya permisi dulu," ucap polisi yang tadi menelpon Roni.
"Ayo kita cari tempat di luar saja untuk membicarakan ini," ajak Roni.
Kami mengikuti Roni keluar ruangan. Sarah menggendong Aryaka. Mas Arka menyeret kopernya. Kelihatan sekali kalau dia sudah siap untuk pergi jauh.
Roni masuk ke sebuah cafe terkenal, masih di area bandara. Setelah mendapat meja dan memesan minuman, Roni membuka pembicaraan.
"Baik, kita mulai saja pembicaraan ini. Maaf Arka, aku mewakili Aryani, bagaimana keputusanmu sekarang? Kalau soal Aryaka, antara kami dan Aryani sudah ada perjanjian meski tidak tertulis. Selama Aryani merasa belum mampu mengurus Aryaka, kami yang akan membantu mengurusnya. Jadi maaf, kalau Aryaka kami bawa dulu sampai masalah kalian selesai," ucap Roni.
"Baiklah. Aku juga minta maaf karena telah mengambil Aryaka tanpa seijin kalian. Karena aku berfikir, aku lebih berhak atas anakku," ucap mas Arka.
"Benar sekali. Aryaka hak kalian berdua. Tapi anak pun punya hak untuk mendapatkan hidup yang nyaman. Tidak kekurangan suatu apapun. Bukan kami meremehkan kalian, tapi kenyataannya Aryani harus mencari nafkah untuk menghidupi kalian. Kalau Aryaka ikut kalian, sementara saat itu kondisi kamu masih belum sehat, kasihan kalian kan? Makanya kami menawarkan bantuan. Karena Sarah bersedia mengurus Aryaka," sahut Roni.
"Iya. Aku paham. Dan aku berterima kasih pada kalian telah mengurus anakku dengan baik. Maaf kalau aku salah menilai kalian selama ini," ucap mas Arka.
"Kami maklumi. Mungkin karena kamu belum mengenal kami. Sekarang, kami akan bawa Aryaka pulang dulu. Jangan sampai dia terpengaruh oleh keadaan ini. Selesaikan masalah kalian dengan baik. Setelah itu hubungi kami, kami tidak akan menahan Aryaka ataupun membawanya lari. Kalian sudah tau alamat rumah kami, kan?" Roni terlihat menyindir mas Arka yang dengan seenaknya membawa kabur Aryaka.
"Baik. Aku akan membawa Aryani pulang dulu. Kami akan menyelesaikan masalah rumah tangga kami dulu."
Mas Arka berdiri. Aku menatap Roni dan Sarah. Mereka memberi kode agar aku mengikuti mas Arka.
"Mama pulang dulu, Sayang." Aku mencium kening Aryaka yang masih di pangkuan Sarah.
Anakku hanya diam menatapku. Dia seakan tak mengenaliku lagi.
Aku menghela nafasku. Lalu aku pamit pada Roni dan Sarah.
"Hati-hati, Ar. Kalau ada apa-apa, hubungi kami," ucap Sarah.
Aku mengangguk lalu berjalan mengikuti mas Arka yang berjalan menyeret kopernya, tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
Sakit juga rasanya hatiku dicuekin seperti ini. Tapi aku berusaha menahannya. Bagaimana pun ini semua terjadi akibat kesalahanku.
Mas Arka berdiri di lobi bandara. Entah apa yang dipikirkannya.
"Aku pesan taksi online, ya?" tanyaku. Mas Arka hanya mengangguk.
Aku menebak, dia tak ada uang untuk membayar ongkos taksi. Makanya hanya diam.
Setelah mendapatkan taksi online, aku duluan masuk ke mobil tanpa menawarkan pada mas Arka.
Mas Arka ikut naik juga di samping sopir. Sebelumnya dia minta sopir membukakan bagasi.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali. Aku menyibukan diri berkirim kabar pada Mila.
Aku ceritakan semuanya pada Mila. Bagaimana pun, Mila harus tahu permasalahannya. Karena dari kemarin Mila selalu membantuku.
Mila menawarkan untuk segera cek darah di rumah sakit. Agar permasalahanku cepat selesai.
"Iya, Mil. Nanti aku tanya Sarah dulu. Tadi dia bilang punya kenalan dokter yang khusus menangani ini," ucapku di telpon.
"Oke. Aku tutup telponnya, ya. Nanti aku hubungi lagi."
Aku menghubungi Sarah. Ingin segera mendatangi dokter yang bisa membantuku cek darah.
"Iya, sebentar aku tanyakan, Ar. Nanti aku hubungi lagi," ucap Sarah di telpon.
Aku bernafas lega. Masih ada jalan buatku menyelesaikan masalahku sendiri.
"Aku ikut kalau kamu mau cek darah," ucap mas Arka. Sepertinya dia dari tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Mila dan Sarah.
"Iya," jawabku singkat. Aku tak mau ngomong panjang lebar. Enggak enak dengan sopir taksi online-nya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup membuat aku ngantuk, kami tiba di gang rumahku.
Rumah kecil peninggalan kedua orang tuaku. Rumah yang selalu aku rindukan. Dan rumah yang sampai sekarang masih mampu melindungiku.
__ADS_1
Mas Arka menyeret kopernya sendiri. Aku pun tak berniat menawarkan diri untuk membantunya.
Kunci rumah disembunyikan mas Arka dibalik pot bunga. Setelah diambilnya, kami masuk ke rumahku.
Hhh. Aku duduk di kursi ruang tamu sambil menunggu kabar dari Sarah.
"Kamu mau aku buatkan minum?" tanya mas Arka.
Dalam hati aku ingin ketawa. Lah ini kan rumahku, kenapa malah dia yang menawariku minum.
Aku ingin menolak tapi enggak enak. Akhirnya aku iyakan. Untuk sekedar menghargai niat baiknya.
Tak lama, mas Arka datang dengan dua gelas teh hangat. Dia tahu kalau aku tak begitu suka minuman dingin meski cuaca panas.
"Ar. Maafkan aku. Aku terlalu percaya pada omongan Deni. Aku enggak menyangka kalau Deni ternyata punya niat yang enggak baik padaku juga anak kita," ucap mas Arka.
"Iya, Mas. Setiap orang kan bisa saja khilaf. Aku juga minta maaf karena sudah....menghianati kamu," sahutku.
Aku sekedar meminta maaf saja. Tak berharap mas Arka mau menerimaku kembali. Aku tahu itu akan sangat sulit baginya.
Apalagi dengan kondisiku yang masih belum jelas. Bisa saja aku mengidap aids seperti tuduhannya.
"Iya, Ar. Aku sudah memaafkan kamu. Aku juga berterima kasih pada kamu, telah menyelamatkan aku dari Deni. Kalau tidak ada kamu, mungkin sekarang aku dan anak kita sudah dibawa terbang oleh mereka. Dan beberapa hari lagi....ah, aku tak bisa membayangkannya," ucap mas Arka penuh penyesalan.
"Iya, Mas. Sudah sewajarnya aku menyelamatkan kalian. Terutama Aryaka. Kamu juga harus berterima kasih pada Roni dan Sarah. Mereka yang selama ini membantu kita. Mereka merawat Aryaka dengan baik," sahutku.
Mas Arka mengangguk. Lalu mendekat dan berjongkok di depanku. Dia meraih tanganku.
"Ar. Maukah kamu kembali padaku? Kita memulai lagi lembaran baru. Aku akan melupakan semua yang pernah kamu lakukan padaku. Dan aku minta, kamu pun mau menerima keadaanku apa adanya," pinta mas Arka.
Aku terkejut mendengarnya. Benarkah yang diucapkan mas Arka?
"Tapi aku belum tau kondisku, Mas. Bisa jadi aku terinfeksi virus itu," sahutku.
"Apapun kondisi kamu nantinya, aku akan menerimamu, Ar. Seperti kamu menerima dan merawatku saat aku sakit," ucap mas Arka.
__ADS_1
Tak terasa air mata mengalir dari pipiku. Mas Arka memelukku dengan erat.