SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 151 MEMULAI DARI NOL


__ADS_3

Aku menoleh pada mas Arka. Dia mendekatiku dan memeluk bahuku.


Beberapa tetangga yang melihat, mendekat.


"Ada apa ini, Mbak Aryani?" tanya salah seorang tetangga.


"Dia tadi mau mencuri di rumah kami, Pak. Lalu ketahuan istriku dan sempat akan membunuh. Untung istriku bisa mengalahkannya," jawab mas Arka membelaku.


Aku menatap mas Arka. Dia menganggukan kepala, memberi tanda agar aku mengiyakan.


"Benar begitu, Mbak Aryani?" tanya tetanggaku.


"Iya, Pak. Maaf, saya terpaksa melumpuhkannya," jawabku.


"Iya, Pak. Kalau tidak, entahlah. Dia sangat berbahaya," timpal mas Arka.


"Lho ini bukannya teman Mbak Aryani?" tanya seorang ibu-ibu. Sepertinya dia mengenali wajah Mila yang sering datang ke rumahku.


Jantungku berdegup kencang. Meski semua aku lakukan untuk membela diri, aku tetap saja takut kalau sampai Mila...mati.


Urusannya bisa panjang kalau benar Mila mati. Aku bakal jadi tersangka utamanya.


"Iya, Bu. Tadinya dia bertamu baik-baik. Tapi ternyata malah akan mencuri tas milik Aryani," jawab mas Arka yang kembali membelaku.


"Kalau begitu, amankan saja. Bawa ke rumah pak RT dulu," sahut tetangga yang lain.


Lalu ibu-ibu tadi yang aku lupa namanya, mendekati Mila. Dia mengguncang-guncang tubuh Mila.


Beruntung Mila menggeliat. Rupanya dia hanya pingsan. Lalu membuka matanya.


Ibu itu dibantu seorang lelaki, membantu Mila untuk bangun. Meski mas Arka sudah mengatakan kalau Mila akan mencuri, mereka masih bersikap baik. Mungkin karena Mila seorang perempuan.


"Bawa ke rumah pak RT saja!" ucap bapak-bapak yang rumahnya tak jauh dari rumahku.


"Tidak! Aku tidak mau!" Mila langsung melepaskan diri dari pegangan ibu-ibu tadi.


"Biarkan dia pergi saja, Bu," ucap mas Arka.


"Lho, katanya dia pencuri?" tanya ibu tadi.


"Biarkan saja, Bu. Mending biarkan dia pergi. Dia tak akan berani ke sini lagi," jawab mas Arka.


Mila menggeram dengan kesal karena dia dibilang pencuri.


"Jaga omongan kamu, Arka!" seru Mila. Meski baru saja siuman, tapi suaranya masih saja kencang.

__ADS_1


"Pergilah, Mil. Daripada nanti kamu dihakimi massa," usir mas Arka.


"Kalian keterlaluan!" seru Mila.


Tiga orang tetanggaku saling berpandangan. Lalu membubarkan diri. Mungkin mereka tahu kalau kami berbohong soal Mila yang akan mencuri di rumahku.


"Arka! Aku tak akan berhenti sebelum memilikimu! Dan kamu, Aryani! Aku akan buat perhitungan lagi denganmu!" ancam Mila yang masih belum kapok.


"Apa masih kurang keras aku menghajarmu?" tanyaku sambil berkacak pinggang.


Mila menatapku, lalu meludah.


Cuih!


Aku maju mendekat ke arahnya. Mila yang mungkin masih sakit di beberapa bagian tubuhnya, mundur.


Aku sengaja semakin mendekat. Dan akhirnya Mila memilih untuk lari.


Aku membiarkannya saja. Malas untuk mengejarnya. Aku juga takut kalau makin emosi dan kembali melukai Mila.


Aku tak mau berurusan dengannya lagi. Apalagi kalau harus berurusan dengan hukum. Karena bukan tidak mungkin kalau aku kembali menghajarnya, warga akan turun tangan dan membawa kami ke kantor polisi.


Setelah Mila tak terlihat lagi, mas Arka menuntunku masuk ke dalam rumah. Dan kami duduk di ruang tamu. Mas Arka duduk di sebelahku.


"Ar. Maafkan aku, ya?" ucap mas Arka. Lalu dia menggenggam tanganku.


Aku langsung memeluk mas Arka dengan erat.


"Iya, Mas. Aku sudah memaafkanmu. Harusnya aku yang minta maaf padamu. Terlalu banyak kesalahanku padamu, Mas."


Aku tak bisa membendung air mataku. Tangisku pecah di pelukan mas Arka.


Suami yang pernah aku hianati. Aku merasa sangat berdosa padanya. Aku merasa sangat kotor berada di pelukannya. Lalu aku lepaskan pelukanku. Aku segera menjauh.


"Kenapa?" tanya mas Arka.


"Aku sudah kotor, Mas. Sebagai istri aku sudah tidak suci lagi." Aku menundukan kepala.


Mas Arka mengangkat daguku.


"Enggak, Ar. Bagiku, kamu masih seperti yang dulu. Aku bisa memaklumi semuanya. Keadaan yang memaksamu melakukannya."


Aku menatap wajah mas Arka. Benarkah apa yang dikatakannya?


Mas Arka menganggukan kepalanya, lalu mengecup keningku.

__ADS_1


"Kita mulai lagi semuanya dari awal, Ar. Lupakan semua masalah yang pernah ada. Kamu bisa kan, tetap menjadi istriku seperti dulu?" ucap mas Arka.


Aku mengangguk. Air mataku semakin deras.


"Kita berjuang bersama, ya. Biar kita bisa membangun rumah tangga yang harmonis lagi seperti dulu. Aku akan mulai mencari pekerjaan. Biar kita bisa mengasuh anak kita lagi. Aku ingin kita bisa berkumpul, Ar." Mas Arka meraihku dan memelukku dengan erat.


"Kamu serius, Mas?" tanyaku. Bukan aku tak percaya pada ucapan mas Arka. Tapi aku hanya ingin memastikannya lagi.


"Serius, Ar. Aku masih sangat mencintai kamu dan juga anak kita. Kapan kita bisa mengambilnya?" tanya mas Arka.


"Nanti, Mas. Kalau kita sudah punya penghasilan lagi. Kasihan anak kita kalau harus hidup kekurangan. Sarah dan Roni sangat bisa dipercaya merawatnya. Kita titipkan dulu untuk sementara, ya," sahutku.


Mas Arka mengangguk, lalu kembali mengecup keningku. Dan mas Arka berusaha mencium bibirku.


Tapi tiba-tiba hapeku berbunyi. Aku melepaskan diri. Dan mengambil hapeku di tas yang ada di atas meja.


Panggilan dari Sarah. Mas Arka yang melihatnya, menganggukan kepala.


"Apa? Alhamdulillah, Sar. Roni sudah tau?" tanyaku.


Ternyata Sarah positif hamil. Dia masih ada di Jogja bersama anakku. Dia bilang besok pagi akan kembali.


"Soal anakmu, enggak usah khawatir, Ar. Aku masih tetap akan merawatnya kalau kamu mengijinkan," ucap Sarah.


"Iya, Sar. Terima kasih. Mas Arka akan mencari pekerjaan dulu biar kami bisa merawat Aryaka. Kasihan kamu kalau kecapean. Hamil muda kan harus banyak istirahat," sahutku.


"Kalau soal pekerjaan buat Arka, nanti aku bicarakan pada Roni. Pasti dia mau membantu. Lagi pula Roni butuh asisten. Kamu tau sendiri kan, bagaimana repotnya dia tanpa Doni," ucap Sarah.


Sarah tak tahu kalau mas Arka ikut mendengarkan pembicaraan kami. Untungnya mas Arka bisa mengerti. Dia mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, Sar. Terima kasih. Aku tunggu ya, kepulangan kalian. Aku udah kangen banget sama Aryaka," ucapku.


"Enggak kangen sama aku?" tanya Sarah sambil ketawa.


"Enggak! Nanti Roni cemburu!" jawabku juga sambil ketawa.


Lalu setelah bercanda sebentar, Sarah menyudahi panggilannya karena aku dengar Aryaka menangis. Sepertinya dia jatuh.


Aku jadi makin kangen pada anakku. Dia sedang aktif berjalan. Bahkan suka berlarian. Sarah sering mengirimkan videonya padaku.


"Secepatnya kita ambil Aryaka. Aku kasihan pada Sarah, Ar. Dia pasti kerepotan. Apalagi bik Yati udah enggak ikut dengannya lagi," ucap mas Arka.


"Memangnya bik Yati kemana, Mas?"


"Dia aku suruh pulang kampung saat aku....menculik anakku sendiri." Mas Arka menundukan kepalanya. Dia terlihat sangat malu.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Mas. Aku bisa kok, merawatnya sendiri." Aku menggenggam tangan mas Arka.


"Iya, Ar. Kita memulai lagi dari nol, ya?"


__ADS_2