
Sampai sore kita menghabiskan waktu di cafe itu. Sarah yang mudah bergaul membuat aku nyaman berdekatan dengannya.
Kami banyak bercerita, bercanda dan selfie berdua.
"Ar, aku unggah di medsosku ya? Nanti aku tag kamu juga Doni."
Dengan sopan Sarah meminta ijin padaku. Aku setuju-setuju saja.
"Posting aja, Sar. Tapi kita berteman dulu ya, biar kamu bisa nge-tag."
Lalu aku membuka medsosku dan nge-add medsosnya Sarah.
Sore menjelang maghrib kita balik ke vila. Cuaca mulai buruk. Mendung tebal.
"Kayaknya mau hujan ini" ucap Doni saat aku sudah di dalam mobilnya.
Sarah dan Roni ikut kita juga ke vila. Rencananya mereka akan pulang bersama Doni dan menginap di hotel tempatku bekerja.
Dan benar saja. Hujan lebat disertai petir tak lama setelah kami tiba di vila.
Mas Teguh mengirimkan pesan padaku. Katanya tadi dia sudah menjemputku ke hotel.
Aku memang tak memberitahukannya kalau aku pergi. Aku pikir akan kembali sebelum jam kerja selesai.
Aku hanya membalas lagi meeting di tempat lain, dan akan pulang agak malam.
(Meeting di mana? Nanti aku jemput, jam berapa?)
Aku tak membalasnya.
"Satpam kamu?" tanya Doni, lalu duduk di sebelahku.
"Iya" jawabku singkat.
"Sini aku yang balas."
Doni meminta ponselku.
"Jangan, biar aku saja." Lalu aku ngetik balasan ke mas Teguh.
(Aku nanti pulang sendiri)
Doni ikut membaca ketikanku.
"Bilang saja pergi sama pacar kamu. Aku pingin tau bagaimana reaksinya."
Aku menatap Doni. Sembarangan saja. Bisa ngomel dua hari dua malam.
Sarah dan Roni ikut bergabung bersama kami, setelah mereka berganti pakaian di kamar yang disediakan Doni untuk mereka.
"Enak banget kamu bisa ganti baju, Sar?" ucapku pada Sarah.
"Kalau kamu mau, bisa pakai bajuku. Aku bawa baju satu koper" sahut Sarah.
"Enggak, ah. Nanti juga pulang kalau hujan sudah reda" sahutku menolak tawaran Sarah.
"Eh, kalian mau ngopi enggak? Nanti aku minta sama pak Yono membuatkan."
Doni menawari kami semua.
"Selain kopi ada tidak?" tanyaku, karena aku tidak begitu suka kopi.
"Sebentar aku tanyakan." Lalu Doni berjalan ke belakang vila.
Di sana ada sebuah paviliun tempat tinggal pak Yono penjaga vila. Dia tinggal sendirian.
__ADS_1
Kata Doni, dulu dia tinggal berdua istrinya di sini. Tapi setahun yang lalu istrinya meninggal di sini juga.
Tak lama Doni kembali.
"Adanya cuma kopi sama teh. Maklum, aku jarang sekali ke sini. Yang punya juga sudah lama gak pernah balik" ucap Doni.
"Ya udah, aku teh hangat saja. Kamu minum apa Sar?" tanyaku pada Sarah.
"Aku white kopi saja kalau ada. Roni kopi hitam" jawab Sarah.
Doni balik lagi ke belakang. Dia jadi repot melayani kami.
Agak lama Doni di belakang, mungkin dia menunggu sampai pesanan kami jadi.
Mas Teguh menelponku. Aku mendiamkannya. Malas aku berdebat dengannya. Pasti dia akan terus menanyakan dimana aku berada.
Di sini juga ada Sarah dan suaminya. Aku lebih gak enak lagi. Terlebih Doni.
"Ponselmu bunyi tuh Ar. Angkat saja" ucap Sarah.
"Biarin saja. Gak penting."
"Itu bunyi lagi. Siapa tau penting" ucap Sarah lagi, setelah ponselku bunyi lagi.
Aku mereject panggilan mas Teguh. Tapi mas Teguh terus saja memanggil.
Doni muncul dari belakang membawa nampan berisi minuman. Dia mendengar ponselku yang masih berdering.
Setelah meletakan nampan di meja, Doni meraih ponselku. Doni membaca nama pemanggilnya.
Dan dengan santainya dia menerima panggilan mas Teguh. Doni menjauh dari kami.
Aku hanya menelan ludahku. Entah apa yang akan dikatakan oleh Doni.
Tak lama Doni datang lagi menyerahkan ponselku.
"Kamu jawab apa, Don?"
"Aku jawab apa adanya. Kamu lagi di puncak bersamaku dan temanku."
Doni mengambil camilan yang tadi kita beli di cafe.
"Lagian kakak ipar kok kayak satpam" ucap Sarah.
Aku memang sudah menceritakan pada Sarah tentang mas Teguh.
"Ya gitu deh. Kalau bukan karena aku masih membutuhkannya, malas aku berhubungan sama dia" sahutku.
Doni yang paling malas kalau membahas soal mas Teguh, mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba lampu padam. Spontan aku memekik pelan dan memeluk Doni yang ada di sebelahku. Karena dibarengi dengan petir yang menyambar juga.
Gelap gulita. Doni mengambil ponselku yang ada di depannya.
"Buka dong. Passwordnya apa?"
Aku membuka ponselku yang aku password. Doni memperhatikan saat aku menekan password.
"Pake di password segala" gumam Doni.
Ya iyalah. Kalau tidak, mas Teguh akan dengan mudah membuka-buka ponselku.
Doni dan Roni berbarengan menyalakan senter ponsel. Aku melepaskan diri dari dekapan Doni. Malu juga sih sama Sarah dan suaminya.
Aku melihat jam di ponselku. Hampir jam delapan malam. Dan kami masih terjebak di vila ini.
__ADS_1
"Kita mau pulang jam berapa, Don?" tanyaku.
"Nginap!" sahut Doni.
Sarah dan Roni tertawa melihat aku yang kesal karena jawaban Doni.
"Hujannya masih lebat, Ar. Petir juga masih menyambar-nyambar. Kamu berani pulang dalam kondisi cuaca seperti ini? Baru mati lampu saja sudah jerit-jerit" ucap Doni.
Aku mencubit lengan Doni. Bikin malu saja.
Tak lama, Pak Yono datang membawakan lilin.
"Terima kasih, Pak" ucap Doni. Lalu pak Yono kembali ke paviliunnya.
Sarah menguap berkali-kali.
"Don, sepertinya kita mau numpang menginap di sini. Sarah udah ngantuk" ucap Roni.
"Silakan. Kan sudah aku sediain kamar buat kalian" sahut Doni.
"Kalian bagaimana?" tanya Roni.
"Masih banyak kamar kosong. Tenang saja" sahut Doni.
Maksud Doni, kita juga akan menginap di sini?
Tapi kalau pulang, aku juga takut. Teringat perjalananku dulu dari Jogja. Mobil kita mogok ditengah hujan deras, lalu datanglah lelaki dengan wajah menakutkan.
Hih! Aku gak mau mengalaminya lagi.
Aku masih bertahan di sofa bersama Doni. Hingga rasa kantuk menyerangku.
"Kita menginap disini saja, Ar" ucap Doni yang melihatku menguap terus.
Aku pasrah. Mau bagaimana lagi.
Doni mengajakku ke sebuah kamar. Kamar yang cukup luas. Ada kamar mandinya di dalam. Dan sebuah sofa yang cukup besar.
Doni menutup dan mengunci pintunya. Jantungku berdetak dengan cepat. Aku akan tidur sekamar dengan Doni.
Mengapa dia tidak di kamar lain saja? Katanya masih banyak kamar.
Doni masuk ke kamar mandi. Aku masih ragu dan duduk di tepi ranjang.
Doni keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan boxer tanpa baju atau kaos.
Dadanya terpampang indah. Aku menelan ludahku. Apa aku kuat dengan godaan ini?
Aku memalingkan mukaku, saat Doni mendekat.
"Kamu tidak membersihkan badanmu dulu?" tanya Doni.
Tanpa menjawab, aku berjalan ke kamar mandi. Jantungku berdebar tak menentu.
Lama aku tercenung di kamar mandi. Aku tatap wajahku di cermin yang ada di atas wastafel.
Aku beranikan diri keluar dari kamar mandi, setelah aku membersihkan wajahku.
Doni sudah meringkuk di atas ranjang, dengan selimut tebal. Aku bernafas lega.
Aku melepas sepatu dan blazerku. Bagian atasku hanya ditutupi kaos tipis tanpa lengan.
Aku tak sadar kalau Doni menatapku. Rupanya dia tidak tidur.
Dengan malu-malu, aku masuk ke dalam selimut tebal. Dadaku bergemuruh.
__ADS_1
Jantungku semakin berpacu dengan cepat saat tangan Doni memelukku di dalam selimut.
Sampai akhirnya aku melupakan sejenak suamiku yang sedang stroke, saat tubuh Doni sudah berada di atasku. Dan kami sama-sama tanpa sehelai benang pun.