SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 25 JOGJAKARTA


__ADS_3

Mobil melaju cukup kencang membelah jalanan kota Jogja. Karena sudah lumayan malam, jalanan agak lengang.


"Pelankan mobilmu Ka. Kita udah aman" ujar mas Deni, yang duduk persis di belakang mas Arka.


Mas Arka pun menurunkan kecepatannya. Jantungku yang tadi berdegup kencang, sudah mulai stabil.


"Ka, kita cari kedai kopi atau warung angkringan dulu. Sambil kita browsing, nyari hotel yang lain" ucap mas Deni.


Di depan sebelah kiri jalan, terlihat sebuah warung angkringan, yang tak terlalu ramai. Mas Arka pun segera menepikan mobilnya. Kami juga segera turun.


Kami duduk di gelaran tikar yang sudah di sediakan. Lalu si pedagang menawarkan beberapa menu minuman.


Aku memesan jahe hangat. Yang lain juga mengikuti, kecuali mas Deni yang memesan kopi tubruk.


Lalu mas Arka mengajak aku ke gerobag angkringan itu. Untuk memilih aneka makanan kecil yang di tata rapi disana. Yola pun mengikutiku.


Yola yang penasaran dengan nasi kucing, segera mengambil beberapa bungkus. Karena memang kami belum makan malam. Aneka sate pun tak lupa kami masukan ke piring seng yang telah di sediakan.


Suasana Jogja sudah mulai terasa. Langit yang cerah, bertabur bintang-bintang. Membuat kami bisa bersantai duduk lesehan walau tanpa atap.


Serombongan anak muda berjalan membawa alat-alat musik sederhana. Kelihatannya mereka pengamen jalanan. Mereka berhenti di depan kami.


Dengan sopan mereka menyapa kami. Lalu permisi memainkan alat musiknya. Mereka membawakan sebuah lagu yang sedang hits.


Selesai dengan lagu itu, aku meminta mereka membawakan sebuah lagu lagi. Lagu Jogjakarta, yang sangat aku gandrungi.


Dengan fasih mereka menyanyikan lagu itu. Kami ikut bersenandung. Kami jadi melupakan beberapa peristiwa menegangkan yang kami alami tadi.


Kemudian mereka berpamitan dengan sopan juga. Aku memberikan uang sebagai ucapan terima kasihku. Karena mereka sudah menghibur kami yang kelelahan.


Setelah selesai makan, mas Arka mendekati si pedagang angkringan, untuk menanyakan hotel di sekitar situ.


Ternyata tak jauh dari tempat itu, ada beberapa hotel bagus yang harganya tak terlalu tinggi. Kami segera berpamitan dan meluncur ke salah satunya.

__ADS_1


Sebelum masuk ke area hotel, mas Arka menawarkan dulu pada kami. Melihat dari bangunannya yang mewah, dan terlihat bersih, kami pun setuju untuk segera check in. Karena kami sudah sangat lelah.


Beruntung kami bisa mendapatkan dua buah kamar yang bersisihan. Jadi kalau perlu apa-apa lebih mudah. Untuk antisipasi, mas Arka booking untuk semalam dulu. Dia mengatakan, kalau kami betah, besok akan kami tambah untuk dua hari lagi ke depan.


Seorang pegawai hotel mengantarkan kami ke lantai tiga. Kamar kami ada di lantai paling atas, hotel tersebut. Di Jogja memang jarang sekali bangunan tinggi yang mencakar langit.


Lega rasanya, akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Kamar hotel yang cukup luas. Bersih.


Aku segera merebahkan tubuhku yang mulai terasa pegal. Sementara mas Arka langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa sadar, aku pun terlelap.



Matahari pagi sudah menampakan sinarnya, yang menembus dari celah korden jendela. Aku mengerjapkan mata. Aku lihat, mas Arka masih terlelap.


Aku ingin bangun. Tapi badanku terasa masih sangat pegal. Melihatku yang sudah membuka mata, mas Arka meraihku dalam dekapannya.


Aku pun bersembunyi lagi di dada bidangnya. Terasa sangat nyaman berada di pelukannya.


Perlahan tangan mas Arka mulai menjelajah. Dia membelai punggungku. Merematnya perlahan. Lalu tangannya perlahan-lahan turun.


"Lepasin pakaianmu sayang" aku pun seperti terhipnotis dengan permintaannya. Lalu aku sedikit bergeser untuk melepas semua pakaianku.


Tanpa malu-malu, aku lepas hingga tak bersisa sehelai benangpun. Mas Arka tersenyum senang. Lalu dia pun melakukan hal yang sama. Hingga kami sama-sama seperti bayi yang baru lahir.


Karena perutku yang kini sudah ada isinya, dan dokter telah memperingatkan aku, untuk berhati-hati dalam berhubungan dengan suami, aku pun memilih merebahkan tubuhku.


Tanpa aba-aba, mas Arka langsung mengungkungku. Dia langsung menyerangku tanpa ampun. Hingga aku menggelinjang, saat bibirnya bermain di area v ku. Sementara tangannya asik meremat dua gunung kembarku bergantian.


Aku merasa terbang melayang ke awan biru. Mas Arka sangat lihay memainkannya. Hingga aku menaik turunkan pinggangku, karena tak tahan. Ritmenya yang semakin cepat, membuatku terus mengerang. Dan tanganku *******-***** rambutnya.


Bahkan tak cuma meremas rambutnya, tapi menekan kepalanya untuk lebih dalam lagi memasukinya. Aku hampir mencapai puncakku, ketika tiba-tiba ponsel mas Arka berbunyi.


Kami mencoba untuk tidak peduli, dan terus menikmati permainan yang baru di mulai. Namun suara deringan ponsel itu, terus saja mengganggu kami.

__ADS_1


Hingga terpaksa kami menghentikan sejenak kenikmatan yang sedang kami rasakan.


Mas Arka mengangkat panggilan itu. Yang ternyata dari mas Deni.


"Bangun woy, udah siang. Katanya mau jalan-jalan. Keburu malem lagi!" seru mas Deni di seberang sana.


Aku dengar mas Arka berdecak sebal. Hasratnya yang sudah sampai di ubun-ubun dipaksa turun.


"Iya bawel! Ganggu orang tidur aja!" ucap mas Arka berbohong. Lalu segera mematikan ponselnya.


Dia menatapku kecewa. Hasrat hati kepingin melanjutkan, tapi pasti yang di kamar sebelah akan terus mengganggu. Bisa jadi, mereka akan menggedor-gedor pintu kamar.


Lalu kami pun beranjak ke kamar mandi. Untuk menghemat waktu, kami mandi bersama.


Di bawah kucuran air dari shower, mas Arka memelukku dari belakang. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengeras di bawah sana. Lalu dengan lembut tangannya terus meremas gunung kembarku.


Rupanya mas Arka, ingin menuntaskan hasratnya yang tadi tertunda, gara-gara panggilan telfon dari kamar sebelah.


Mas Arka pun memintaku untuk menyandar pada dinding di depanku. Lalu perlahan dia mengangkat satu kakiku, dan meletakkannya di atas closet, yang berada persis di sebelahku.


Lalu perlahan dia memberikan aku kenikmatan dari belakangku. Aku kembali mengerang. Suaraku menyatu dengan suara air dari shower, yang terus mengalir.


Hingga kami sama-sama mencapai puncak nirwana. Lalu mas Arka memelukku lagi dari belakang, dan menciumi punggungku.


"Udah mas, kita udah di tunggu mereka" ucapku perlahan. Mas Arka pun melepaskan pelukannya.


Kami memulai aktifitas mandi yang sebenarnya, dengan cepat. Karena kami sudah mendengar lagi suara panggilan di ponsel mas Arka. Pasti itu dari kamar seberang. Yang gak sabaran.


Selesai mandi, kami pun bersiap. Yola dan mas Deni sudah menunggu kami di lobi hotel.


"Bro, kami sarapan dulu ya" ucap mas Arka pada mas Deni.


"Udah nanti di jalan aja kita cari sarapannya. Ntar kesiangan" ucap mas Deni yang langsung menuju parkiran mobil.

__ADS_1


Aku memandang mas Arka. Dia hanya mengangkat bahunya. Akhirnya kami pun mengikuti mereka dari belakang.


__ADS_2