
Mas Arka meminta ibu dan aku untuk pulang ke rumah ibu. Aku menginap disana, menemani ibu malam ini. Sementara mas Arka yang akan menunggui bapak di rumah sakit.
Aku pun segera memesan mobil online, untuk mengantarkan kami pulang ke rumah ibu. Karena aku juga gak bisa menyetir mobil sendiri.
Besoknya, pagi-pagi sekali, aku dan ibu akan kembali ke rumah sakit. Karena mas Arka harus berangkat kerja. Gak enak katanya, kalau minta tambahan waktu lagi.
Ibu yang akan menjaga bapak. Aku juga akan pulang ke rumah dulu. Nanti setelah mas Arka pulang kerja, baru kami kesini lagi. Malamnya mas Arka akan menjaga bapak lagi.
Aku lihat wajah mas Arka sangat letih. Mungkin dia semalam kurang tidur. Dan lagi, harus tidur di sofa, pasti membuat badan pegal-pegal.
Kami juga baru pulang dari bepergian. Capeknya belum hilang. Dan pagi ini, mas Arka sudah harus berangkat kerja. Kasihan sekali suamiku.
Sesampainya di rumah, aku menyiapkan semua keperluan mas Arka. Sementara dia mandi dulu.
Setelah mas Arka berangkat kerja, aku masuk ke dalam rumah. Hari ini aku tidak berniat memasak. Karena nanti sore sepulang mas Arka kerja, kami akan kembali ke rumah sakit.
Nanti sore untuk makan, kami bisa membelinya di jalan. Badanku rasanya masih belum fit. Jadi, aku hanya bersih-bersih rumah dan membereskannya sedikit.
Saat aku sedang istirahat, setelah selesai beres-beres, Yola datang. Pintu rumah memang tidak aku tutup. Jadi dia bisa langsung masuk sambil mengucapkan salam.
Yola menanyakan kenapa kami semalam tidak pulang. Aku menjelaskan, kalau bapak mertuaku masuk rumah sakit, dan sekarang harus opname.
Jadi untuk beberapa hari ini, aku akan tidur di rumah ibu. Menemani ibu, dan mas Arka tidur di rumah sakit. Bergantian menjaga bapak.
Yola juga menanyakan di rumah sakit mana bapak di rawat. Nanti sore akan menjenguknya. Aku bilang, nanti sore bareng kami saja ke sananya. Yola pun setuju.
Yola menatapku. Sepertinya ada yang ingin di sampaikannya.
"Ada apa Yol?" tanyaku.
__ADS_1
"Ah, gak apa-apa. Nanti saja" jawabnya. Membuat aku jadi penasaran. Tak biasanya Yola menyimpan rahasia.
Kemudian Yola pun pamit pulang. Dengan meninggalkan rasa penasaran. Dia berjanji akan berangkat bareng, nanti sore.
Sore setelah mas Arka pulang, kami bersiap ke rumah sakit. Yola dan mas Deni membawa mobil sendiri. Karena nanti aku dan mas Arka tidak pulang ke rumah.
Mas Deni pun ingin membezuk bapak mertuaku, pamannya yang lama tak di jumpainya.
Sejak keluarga orang tua mereka memiliki rumah sendiri-sendiri, mereka memang katanya tak pernah lagi bertemu. Bahkan beberapa hari ini mas Deni pulang ke tanah air pun, belum menemuinya.
Sesampainya di rumah sakit, kami segera kamar inap bapak. Kondisi bapak masih seperti kemarin. Belum ada perubahan.
Melihat kondisi bapak, mas Deni menyarankan untuk di bawa ke luar negeri saja. Biar bapak mendapatkan perawatan disana.
Tapi ibu menolaknya. Karena menurut ibu terlalu jauh. Ibu juga gak mau jauh-jauh dari kami, anak-anaknya. Karena kami juga gak mungkin bisa ikut. Mas Arka kan harus kerja.
Ya sudah, bapak tetap di rawat di rumah sakit ini. Dan kami akan selalu mendampingi ibu. Paling tidak sampai bapak sembuh.
Sementara mas Arka tetap tinggal di rumah sakit. Menunggui bapak sampai besok pagi. Dan seperti biasanya, akan bergantian dengan ibu.
Pagi-pagi, aku dan ibu sudah sampai di rumah sakit lagi. Ibu membawakan kami sarapan, yang tadi udah di siapkan oleh bi Sumi di rumah ibu.
Karena ada rapat pagi, mas Arka tak sempat memakannya. Dia bilang, nanti aja sarapan di rumah. Walaupun, begitu sampai rumah, mas Arka buru-buru berangkat ke kantor, tanpa sempat sarapan.
Aku kasihan banget melihat suamiku, yang beberapa hari ini jadi sangat sibuk. Sibuk dengan pekerjaan kantor yang di tinggalkannya beberapa hari, karena kami pergi berlibur. Dan sibuk menjaga bapak di rumah sakit.
Pasti dia sangat capek. Capek badan dan juga pikiran pastinya. Tapi mau bagaimana lagi.
Siang ini, Yola kembali menghampiri aku di rumahku. Dia membawakan aku makan siang. Dan kami makan siang bersama.
__ADS_1
Katanya, mas Deni sedang ada urusan. Jadi Yola bisa makan siang bersamaku.
Selesai makan siang, Yola mengatakan hal yang sebenarnya ingin dia katakan dari kemarin.
Dia mengatakan, kalau suaminya ingin Yola ikut dengannya ke luar negeri. Karena mas Deni mendapatkan pekerjaan baru di sana. Tidak lagi bekerja di kapal.
Degh.
Aku sangat terkejut mendengarnya. Yola akan pindah. Dan aku, kembali tak punya teman disini. Karena di komplek perumahan ini, hanya Yola satu-satunya temanku. Aku pasti akan sangat merasa kehilangan.
Yola pun kelihatan sangat sedih. Sebenarnya dia lebih suka tinggal di negeri sendiri. Tapi dia juga tak bisa menolak keputusan suaminya.
Kami saling berpelukan dan menangis. Sedih karena kami akan terpisah jauh. Dan pasti Yola akan lama disana. Bahkan bisa jadi selamanya.
Tapi Yola berjanji, kalau ada waktu suaminya dapat cuti, pasti akan mengunjungi aku di sini. Yola pun meminta aku, kalau sudah melahirkan, membawa anakku kesana.
Yola adalah salah satu orang yang sangat menginginkan bisa bertemu anakku. Dia pernah bilang, akan menyayangi anakku seperti anaknya sendiri. Karena hampir lima tahun menikah, dia belum juga di beri momongan.
Aku mencoba mengikhlaskan Yola pergi. Dan akan selalu mendoakan, semoga nanti disana Yola segera di beri momongan. Karena kan setiap hari bertemu suaminya.
Yola di rumahku sampai suaminya menelfonnya, kalau dia sudah di rumah. Yola pun pamit pulang.
Aku sangat merasa kehilangan, jika Yola sudah pergi. Tak ada lagi temanku makan siang. Tak ada lagi teman berbagi cerita, selain suamiku. Dua hari lagi, Yola akan pergi.
Dua hari kemudian, aku ingin mengantarkan Yola sampai ke bandara. Aku ingin melepaskan kepergian Yola. Aku ingin menikmati sedikit waktu bersama Yola.
Mas Arka pun ijin pulang lebih awal, karena dia akan ikut mengantar juga. Dan gak mungkin mas Arka membiarkan aku pulang dari bandara sendirian.
Suasana haru benar-benar menyelimuti kepergian Yola. Aku memeluknya erat. Dan menangis bersama.
__ADS_1
Mas Deni mengatakan, akan meluangkan waktu untuk kami bertemu lagi, kalau dia sudah bisa ambil cuti.
Perpisahan yang benar-benar menguras air mata. Kami melepaskan kepergian Yola dan suaminya. Aku menangis sesenggukan di pelukan mas Arka, saat pesawat yang membawa Yola mulai lepas landas. Yola pergi. Dan aku, tak punya teman lagi yang sebaik Yola.