
Aku menemui Doni di apartemen yang dulu katanya untukku. Tapi kenyataannya, Doni tak pernah memberikan bukti kepemilikannya padaku. Aku enggan untuk menanyakannya.
Apalagi setelah sekarang aku memilih mengundurkan diri dari kehidupan Doni. Aku tak mau Doni mengikatku dengan pemberiannya.
Aku juga bukan seperti Mila yang dengan mudah mencari keuntungan dari lelaki yang mendekatinya. Dan akan meninggalkannya dengan mudah setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dulu aku begitu memuja Doni. Aku seperti menemukan sesuatu yang hilang dari hidupku. Ya, aku kehilangan sosok suamiku setelah penyakit stroke merampas hidupnya. Suamiku jadi seperti mayat hidup.
Tapi sekarang, aku mulai menyadari kekeliruanku. Aku ingin memperbaiki lagi kesalahan yang dengan sengaja aku buat. Meski akan ada hati yang terluka. Hatinya Doni.
"Hay, Don. Apa kabar?" sapaku berusaha bersikap biasa saja. Agar Doni tidak merayuku lagi. Karena terus terang aku belum mampu melupakan Doni sepenuhnya.
"Seperti yang kamu lihat. Tidak terlalu baik bukan?" jawab Doni.
Aku melihat penampilan Doni tak seperti biasanya. Jambangnya tumbuh liar seperti tak terawat. Biasanya Doni selalu rajin mencukur jambangnya, hingga tak membuatku kegelian saat Doni mencumbuiku.
Rambutnya pun semakin panjang dan tak disisir dengan benar. Kelihatannya hanya disugar dengan jemarinya saja.
Jemari yang dulu sering membuatku terbang ke nirwana saat menari di bagian terindahku.
Hhmm. Aku menghempaskan nafasku. Menghempaskan bayangan indah dengan Doni. Biarlah akan aku simpan di lubuk hatiku yang terdalam.
"Kenapa?" tanyaku.
"Mestinya aku yang bertanya padamu. Kenapa kamu tega membuatku seperti ini?"
Aku semakin tak mengerti. Apa Doni begitu terluka dengan keputusanku?
"Don. Aku datang bukan untuk membahas itu," sahutku.
"Lalu untuk apa? Untuk semakin melukaiku?" tanya Doni dengan suara memelas.
Aku sangat terkejut dengan pertanyaan Doni. Bagaimana mungkin laki-laki sesempurna Doni bisa terluka hanya karena perempuan sepertiku?
Aku hanya perempuan kesepian yang haus belaian. Dan Doni datang memberikan air kehangatan untukku.
Tak ada yang istimewa dariku. Aku jadi ingat masa-masa sekolahku dulu. Di saat anak-anak perempuan seusiaku tampil modis dan berusaha jadi idola, aku hanya seorang gadis kampung yang tampil seadanya.
Meski banyak teman-teman cewek yang iri padaku karena Doni yang lumayan jadi idola, malah mendekatiku.
__ADS_1
Aku tak pernah tahu alasan Doni mendekatiku saat itu. Yang aku tahu, kami sering membahas tentang pelajaran sekolah yang sulit. Karena hanya itu kelebihanku.
Aku dikaruniai otak yang cukup cerdas. Mungkin karena aku dididik untuk selalu rajin belajar oleh kedua orang tuaku sejak kecil.
Dan sekarang pun aku tak tahu kenapa Doni kembali mendekatiku, di saat banyak perempuan lain yang jauh lebih menarik.
Mila contohnya. Dia jauh lebih menarik dariku. Penampilannya sangat modis, dibawa kemana-mana enggak bakal malu-maluin.
Permaianannya di ranjang pastinya lebih menantang dari aku. Karena Mila sering berganti pasangan yang pastinya beda-beda gayanya.
"Maafkan aku, Don. Aku tak pernah berniat menyakiti kamu. Dari awal kan kita tidak punya komitmen apapun." Aku menundukan kepalaku. Sakit rasanya mengatakan itu. Kalau boleh memilih, aku pasti akan memilih keduanya.
Tapi kenyataannya aku hanya boleh memilih salah satu. Dan aku memilih kembali pada suamiku. Suami yang telah memberikan aku seorang buah hati.
Bukan Doni yang masih berstatus suami orang. Akan sangat tidak bijak kalau aku memilih Doni. Semua orang akan menyalahkanku. Karena aku bukannya mempertahankan apa yang sudah aku miliki. Malah memperebutkan milik orang.
"Begitu?" tanya Doni.Aku mengangguk.
"Mudah sekali kamu mengatakan itu. Setelah apa yang kita lakukan selama ini."
Doni, please deh. Jangan mengungkit-ungkit dulu apa yang pernah kita lakukan.
"Ya sudah. Katakan apa maksud kedatanganmu."
Aku menghela nafasku dulu. Biar lebih tenang mengatakannya.
"Aku dapat kabar, kalau Maya istri kamu terinfeksi virus HIV." Aku berusaha mengatakannya perlahan, agar Doni tidak tersinggung. Bagaimana pun Maya masih sah menjadi istrinya.
"Siapa yang bilang?" tanya Doni menyelidik.
"Tidak penting siapa yang bilang." Aku tak mau mengatakan kalau aku dapat informasinya dari Mila. Karena Doni pasti akan tak mempercayainya.
"Mila?" tebak Doni.
"Aku bilang tak penting siapa yang mengatakannya. Aku hanya mau tanya dulu, apa kamu sudah tahu masalah ini?" Aku tetap akan menyembunyikan Mila.
"Sudah," jawab Doni singkat dan sangat jelas.
"Sudah? Sejak kapan?" Ganti aku yang bertanya penuh selidik.
__ADS_1
"Sudah lama."
Aku terjengit. Sangat terkejut dengan jawaban Doni. Jadi dia sudah lama mengetahuinya? Dan Doni dengan tanpa rasa bersalah melakukan hubungan denganku? Apa dia akan menularkannya padaku?
"Dan kamu?" tanyaku dengan suara gemetar. Asli aku sangat takut kalau ternyata Doni juga mengidap virus itu.
"Apa yang kamu harapkan? Apa kamu mengharapkan aku tertular virus itu?"
Jawaban Doni malah berbelit-belit. Aku hanya ingin Doni menjawab iya atau tidak. Itu saja yang membuatku tenang. Tenang kalau jawaban Doni tidak. Tapi akan jadi kiamat kalau Doni menjawab iya.
"Don, aku serius!" ucapku dengan nada keras.
"Kamu pikir aku tidak serius?"
Aku memejamkan mataku. Mungkin Doni sudah sangat kesal padaku, hingga dia pun membalas ingin membuatku kesal juga.
"Don, sekali lagi aku bertanya. Apa kamu juga mengidap virus itu?" tanyaku sambil menatap wajah Doni.
"Apa bedanya bagiku sekarang, aku mengidapnya atau tidak? Toh, hidupku sama-sama telah hancur."
Jadi Doni merasa sekarang hidupnya hancur? Dan aku yang menghancurkannya?
Lalu bagaimana kalau ternyata Doni menularkan virus mematikan itu padaku? Apa itu bukan berarti Doni juga menghancurkan hidupku?
"Don. Aku ingin kepastiannya. Seandainya kita memang mengidapnya, mari kita sama-sama mencari solusinya." Aku berusaha bersikap dewasa dalam menghadspinya.
"Solusi? Kamu pikir orang yang mengidap virus itu punya solusi? Solusinya hanya satu. Mati!" Wajah Doni memerah seperti menahan amarah.
Mati? Aku belum siap mati. Aku masih ingin hidup. Minimal untuk menebus kesalahanku pada suamiku dan membesarkan anakku.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Don?" Aku sudah tak bisa menahan air mataku.
"Tetaplah bersamaku. Karena kita akan kuat menghadapinya kalau bersama. Dan akan hancur kalau berjalan sendiri."
"Don. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku pada suami dan anakku," pintaku.
"Tak ada kesempatan untuk itu. Yang ada, kita nikmati saja hidup ini sebelum kematian menjemput." Ucapan Doni sangat membuat aku menyesal seumur hidup karena telah menerimanya masuk dalam kehidupanku.
Aku memejamkan mataku yang sudah banjir air mata. Tuhan, aku belum mau mati. Tolong beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Beri kesempatan untukku memeluk kembali suami dan anakku.
__ADS_1