
Aku pamit pulang pada Doni. Aku berniat untuk melupakan semua obrolanku barusan bersama Doni. Aku tak mau dianggap orang yang tak punya pendirian.
Aku akan melangkah tanpa Doni lagi apapun yang akan terjadi. Kalau memang aku harus mati karena HIV ya aku pasrah. Mungkin itu balasan dari yang Maha Kuasa atas kelakuanku selama ini.
"Lama sekali?" tanya mas Arka yang masih setia menunggu di rumah Yola.
"Iya, Mas. Maaf," jawabku singkat saja. Tentu saja aku tak mau menceritakan apapun tentang pertemuanku tadi.
"Sudah beres semua urusannya?" tanya mas Arka lagi.
"Sudah." Aku langsung meninggalkan mas Arka. Tak mau dia menanyakan lebih banyak lagi.
Aku bergabung dengan Yola yang sedang sibuk membuat desain ruangan untuk butik kami.
"Dari mana kamu, Ar?" tanya Yola.
Haduh, menghindar dari pertanyaan mas Arka, malah ditanyai Yola.
"Dari rumah temanku." Aku pura-pura mengambil kertas corat coretnya Yola.
"Oh. Kirain pacaran. Lama banget," sahut Yola disambut tawa oleh Deni.
"Pacaran kok siang-siang." Aku menjawab candaan Yola meski wajahku terasa panas dan jantungku berpacu dengan cepat.
"Lho memangnya kalau pacaran mesti malam-malam?" Yola menjawab lagi.
Dalam hati, sudah dong Yola jangan diperpanjang lagi. Aku khawatir mas Arka ikut bergabung dan menimpali.
Aku pasang wajah serius menatap gambar desain Yola. Maksudku biar Yola enggak memperpanjang lagi candaannya.
Deni pergi meninggalkan kami. Dia mengajak mas Arka mengukur ruangan yang bakal kami pakai nantinya.
"Ar. Waktu Arka sakit kamu pernah enggak kepingin?" tanya Yola perlahan.
"Kepingin apa?" Sebenarnya aku tahu apa maksud pertanyaan Yola. Tapi aku khawatir salah mengerti.
"Kepingin itu?" Yola menaik turunkan alisnya.
Sekarang aku paham maksudnya. Tapi bingung mau jawab bagaimana. Pasti akan ada pertanyaan lain setelah aku menjawabnya.
"Ar! Yey, malah melamun!" Yola yang mengira aku sedang melamun, mengguncang lenganku.
"Apaan sih, siapa yang melamun?" jawabku sambil menjauhkan lenganku.
__ADS_1
"Ya jawab dong kalau kamu tidak melamun." Yola malah memaksa aku untuk menjawab.
"Kadang-kadang," jawabku pada akhirnya.
"Terus apa yang kamu lakukan saat kepingin?" tanya Yola dengan serius. Dan serius juga aku pingin banget menyumpal mulut Yola agar tidak bertanya-tanya lagi.
Aku takut keceplosan dan terungkaplah kelakuanku selama mas Arka sakit kemarin.
"Enggak ngapa-ngapain. Kan aku sibuk mengurusi anak. Dan setelah itu aku sibuk bekerja," jawabku.
"Halah, bohong. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Bilang saja sama aku, Ar. Aku bisa simpan rahasia kok." Yola tetap memaksaku menjawab pertanyaan konyolnya.
Yola mungkin tak akan membocorkan pada orang lain. Tapi bisa jadi dia akan cerita pada Deni. Sedangkan Deni itu sepupunya mas Arka. Bukan tidak mungkin Deni ngomong ke mas Arka. Selesai sudah.
"Sudah ah, Yol. Ngapain sih ngomongin begituan?" Aku berusaha menghentikan pembicaraan soal itu.
"Ar. Aku juga pernah mengalami saat-saat seperti kamu."
Aku terkejut mendengar ucapan Yola. Apa maksudnya?
"Kok kamu terkejut begitu?" tanya Yola.
"Omonganmu itu lho. Maksud kamu apa?"
"Kamu kan tahu sendiri, dulu Deni jarang pulang. Bisa berbulan-bulan dia baru pulang. Kamu pikir itu hal yang mudah buat aku menjalaninya?" sahut Yola.
Pakaiannya juga super mini dan ketat. Meski sekarang masih sering memakainya. Tapi sekarang jauh lebih modis. Enggak asal ketat.
Dan selama aku mengenal Yola, tak pernah aku melihat Yola pergi dengan lelaki lain. Entah bagaimana caranya dia memenuhi kebutuhan biologisnya.
Yola pernah bercerita sekilas, kalau dia sering video call-an dengan suaminya. Tapi apa itu bisa menuntaskan hasratnya?
"Aku tersiksa, Ar. Sangat tersiksa. Tapi aku mencoba untuk mengalihkannya. Aku sibukan diriku dengan banyak membaca, memasak, shoping, atau apapun yang bisa mengalihkan perhatianku."
Aku mengangguk lagi. Hebat. Itu kata-kata yang paling pantas untuk Yola.
Tidak seperti aku, yang malah jatuh ke pelukan laki-laki lain, di saat suamiku sedang sakit parah bahkan hampir mati.
Aku menundukan kepalaku. Aku pejamkan mataku. Aku kembali terbayang dosa-dosa yang telah aku lakukan dengan Doni.
Dan yang lebih membuat air mataku mengalir begitu saja, saat aku mengingat lagi kondisiku sekarang. Yang mungkin saja sudah tertulari virus mematikan itu.
"Kenapa menangis?" tanya Yola. Dia menggeser duduknya lebih dekat denganku.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Yol." Aku hapus air mataku dengan tissue.
"Besok, aku kita keluar berdua. Kamu harus cerita padaku. Jangan kamu pendam sendiri, Ar." Aku hanya mengangguk.
Setelah hari mulai malam, aku dan mas Arka pamit pulang. Aku sudah sangat lelah. Bukan lelah badan, tapi lelah pikiran.
Meski badanku mengerjakan persiapan kami buka butik, tapi pikiranku tidak bisa fokus. Bukan memikirkan Doni. Tapi memikirkan penyakit yang bakal aku bawa nanti seumur hidupku.
"Mandilah. Biar badan kamu segar. Pikiran juga lebih fresh," ucap mas Arka setelah kami sampai di rumah.
"Iya, Mas." Aku menurut saja apa kata suamiku. Aku memang butuh mandi. Selain karena badanku lengket, kepalaku juga terasa berat.
Guyuran air dari gayung, mampu menyegarkan kembali badanku. Kepala yang aku basahi juga membuatnya lebih enteng.
"Kamu mau mandi juga, Mas?" tanyaku saat sudah keluar dari kamar mandi. Aku lihat mas Arka berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi.
"Iya. Itu di meja makan ada teh panas. Mungkin kamu mau," ucap mas Arka sebelum masuk ke kamar mandi.
"Iya, Mas. Makasih."
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, aku menghampiri meja makan.
Suamiku yang begitu baik. Begitu pengertian. Sampai hati aku menghianati orang sebaik dia.
Aku kembali di hantui perasaan bersalah. Aku pejamkan mataku untuk menahan air mata yang ingin keluar begitu saja.
Mas Arka keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Meski badannya tidak sesegar dulu, tapi dimataku sangat menggoda.
"Kok belum diminum tehnya?" tanya mas Arka.
"Masih panas, Mas." Alasan yang tepat, meski sebenarnya bukan itu masalahnya.
"Mau aku tiupin?" Mas Arka mendekat. Aroma tubuhnya menusuk ke hidungku. Aroma tubuh yang dulu pernah menghipnotisku.
"Enggak usah, Mas. Aku minum pelan-pelan saja." Aku tak mau semakin terpesona dengan aroma tubuh mas Arka.
"Kamu pakai baju dulu, sana."
Mas Arka menatapku dengan tajam. Lalu dia semakin mendekat.
Aku merasakan badanku panas dingin. Seperti anak remaja yang berdekatan dengan gebetannya.
Cup.
__ADS_1
Mas Arka mengecup bibirku sekilas. Aku termangu. Rasa ini. Iya, rasa ini yang telah lama aku rindukan. Rasa yang tak aku dapatkan dari lelaki lain.
Mas Arka menjauhkan wajahnya. Lalu pergi ke kamar. Ada sedikit perasaan kecewa. Tapi juga takut.