
Sore harinya ibu minta diantar pulang oleh Bima. Ibu janji akan membawakan jambu untukku. Sebenarnya aku gak pingin makan jambu. Tadi kan sekedar mengalihkan perhatian ibu saja.
Dan benar saja, Bima pulang membawa satu kantong plastik jambu. Aku suruh menyimpannya ke dalam kulkas.
Setelah menyimpan jambu-jambu itu, Bima memindahkan mas Arka ke kamar. Aku hanya menunggunya di ruang tengah.
Malas aku kalau harus bersamaan di kamar dengan Bima. Otaknya mesum terus.
Walaupun kadang aku menginginkannya, tapi aku gak mau terjebak dalam kemesumannya.
"Bim, aku ingin bicara" ujarku ketika Bima melintasiku. Seperti biasa, tugas selanjutnya setelah membawa mas Arka ke kamar adalah mengunci pintu depan.
Setelah Bima selesai mengunci pintu, dia duduk di dekatku. Aku bergeser sedikit menjauh.
Bima menatapku tajam. Aku menghela nafasku.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Bim, tolong mulai sekarang jaga sikap kamu terhadapku. Kamu harus mikir, di rumah ini ada orang lain, bi Yati. Dan aku adalah istri dari orang yang menggajimu. Aku gak ingin sesuatu terjadi dengan rumah tanggaku. Paham?" ucapku tegas.
Bima menatapku dengan mata elangnya. Dia kelihatan gak suka dengan omonganku. Dan aku menambahkan,
"Aku gak ingin kita melakukan hal yang lebih jauh lagi, Bim. Cukup yang sudah-sudah, dan jangan pernah diulangi lagi."
Bima langsung beranjak dari duduknya, lalu masuk ke kamarnya. Aku pun mencoba tak peduli. Aku masuk ke kamarku sendiri dan mengunci pintunya.
Maaf, Bim. Aku gak mau merusak rumah tanggaku sendiri. Aku masih sangat mencintai suamiku. Dan aku masih selalu berharap suamiku bisa sembuh lagi. Batinku.
Aku merebahkan tubuhku, mendekap suamiku. Dan aku tertidur di pelukan suamiku.
Sebelum terlelap, aku membisikan ke telinga mas Arka, Mas...ayo dong sembuh. Aku merindukanmu. Lalu aku mengecup ujung telinganya.
Dulu, kalau aku sudah mengecup ujung telinganya, mas Arka akan langsung menyerangku. Karena itu adalah bagian sensitifnya.
Tapi sekarang, jangankan menyerang, merespon saja dia tak mampu.
Suara adzan subuh membangunkan aku dari tidurku. Aku menjalankan kewajibanku kepada Yang Maha Memberi Hidup.
__ADS_1
Selesai dengan kewajibanku, aku lihat mas Arka sudah membuka matanya. Aku mendekatinya. Aku usap kepalanya. Dan aku kecup keningnya.
"Selamat pagi suamiku" ucapku, lalu aku beranjak keluar kamar. Aku akan memulai pagiku dengan segelas susu dan setangkup roti bakar dengan selai coklat.
Bima keluar dari kamarnya. Aku cuma memperhatikannya tanpa berminat menyapanya.
Dia pun berlalu begitu saja dan masuk ke kamarku. Aku mengernyitkan dahi. Tumben jam segini dia masuk ke kamarku. Biasanya dia olah raga dulu di halaman atau joging muterin komplek.
Tapi aku juga malas untuk menanyakannya. Aku lagi malas berinteraksi dengannya.
Setengah jam kemudian, Bima membawa suamiku yang sudah rapi keluar kamar.
Bima meletakan kursi roda mas Arka di sebelahku duduk. Lalu dia ke dapur. Sepertinya menyiapkan makan buat mas Arka.
Aku masih pada mode diam sama Bima. Aku hanya memainkan tangan suamiku. Tangannya aku angkat ke atas lalu menurunkannya. Begitu berulang-ulang.
Kata dokter itu salah satu terapi sederhana, yang bisa aku lakukan sendiri di rumah. Dan tidak memberatkan aku, mengingat usia kandunganku semakin tua.
Setelah makanan mas Arka siap, Bima membawa mas Arka ke ruang tengah. Dia menyuapi mas Arka di sana. Tumben, pikirku. Mungkin Bima masih marah dengan ucapanku semalam.
Aku masih tetap tak peduli. Aku beranjak dari dudukku, lalu masuk ke kamarku. Aku mau mandi. Tak lupa juga aku mengunci pintu kamar. Aku tak mau kejadian lagi, Bima yang tau-tau sudah ada di kamarku.
Aku pun memilih pakaian yang pantas untuk pergi ke rumah sakit. Aku mencari baju yang tak terlalu ketat. Biar nanti gak perlu ganti baju lagi karena di protes oleh Bima.
Aku memang mau minta diantarkan oleh Bima, seperti biasanya. Itu artinya, aku harus mengajaknya bicara lebih dahulu.
Setelah rapi, aku keluar kamar sambil membawa tas kecilku sekalian. Biar gak bolak balik ke kamar.
Aku mendekati Bima yang sedang memberi minum mas Arka. Sepertinya mas Arka baru selesai minum obatnya.
Bima menoleh ke arahku. Dia seperti terkejut melihatku yang sudah rapi. Aku menunggu dia bertanya lebih dahulu.
Tapi dia tak kunjung bertanya juga. Malah dia membawa mas Arka ke teras depan dan memarkirkan kursi roda mas Arka di sana.
Aku kesal juga di cuekin. Bugh! Aku melempar tas kecilku di atas meja. Lalu aku duduk di sofa.
Tak lama, Bima datang menghampiri aku. Tak biasanya dia hanya berdiri saja. Biasanya dia akan duduk di dekatku.
__ADS_1
Aku menatapnya kesal. Karena dari tadi dia mengabaikanku. Padahal aku juga mengabaikannya dari semalam.
"Aku mau pamit pergi dulu. Nanti sore aku akan balik lagi. Ada urusan yang harus aku selesaikan" ucapnya, tanpa melihat ke arahku.
Belum juga aku menjawab, dia sudah berlalu ke kamarnya. Dan tak lama, dia keluar lagi dan menghentikan langkahnya di dekatku.
"Assalamualaikum..." ucapnya, lalu dia pergi. Dia terlihat membawa tas kecil. Tak biasanya dia pergi membawa tas kecil yang dia selempangkan di dadanya.
Aku terbengong, melihat dia benar-benar pergi. Bima rupanya benar-benar tersinggung dengan ucapanku semalam.
Memang apa salahnya perkataanku semalam? Apa salah kalau aku menolaknya?
Kalau Bima pergi, lalu siapa yang akan mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku tak berani pergi sendirian, dengan perutku yang semakin membesar.
Aku juga gak mungkin minta antar ibu mertuaku. Karena kalau dadakan, biasanya ibu akan menolaknya.
Karena ibu harus menyiapkan makan siang buat orang-orang yang bekerja di sawahnya ibu.
Akhirnya aku putuskan untuk menundanya besok pagi. Nanti aku akan janjian sama ibu, biar besok pagi bisa mengantarku.
Aku kembali ke kamarku untuk berganti pakaian rumahan. Lalu aku merebahkan tubuhku.
Aku masih memikirkan sikap Bima yang gampang sekali tersinggung. Lalu aku harus bagaimana menanggapinya?
Ngomong salah. Kalau aku gak ngomong juga akan makin salah.
Aku mengambil ponselku. Aku buka aplikasi chatku. Aku lihat Bima sedang online. Tapi dia tidak menyapaku. Aku pun tak mau mengechatnya duluan.
Aku asik membuka obrolan di grup sekolahku. Aku ikutan komen di sana. Lumayanlah bisa mengalihkan pikiranku dari Bima.
Hampir satu jam aku berselancar di dunia maya. Ngobrol online dengan teman-teman SMP-ku.
Tiba-tiba aku teringat mas Arka yang tadi sedang berjemur. Astaghfirullah...aku lupa membawanya masuk.
Pasti mas Arka sudah kecapean dan kepanasan.
Aku langsung beranjak dari tempat tidurku. Lalu bergegas ke halaman depan.
__ADS_1
Alhamdulillah...bi Yati ternyata sudah membawa mas Arka masuk ke dalam.
Maafkan aku mas, aku lupa.