SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 72 ANAKKU LAHIR


__ADS_3

Jam enam pagi aku baru terbangun dari tidurku. Semalam hampir dini hari aku baru bisa benar-benar lelap. Aku masih bisa merasakan mas Teguh yang bolak balik keluar masuk kamar ibu.


Aku membuka mataku. Tak ada siapa pun di dalam kamar. Lampu kamar sudah dimatikan dan jendela kamar pun sudah terbuka.


Mungkin bi Yati yang melakukan semua. Aku membuka selimutku. Semalam aku merasa kedinginan, jadi aku meminta bi Yati mencarikan selimut yang lebih tebal.


Aku beranjak dari tempat tidur. Lalu berjalan keluar kamar. Aku ingin melihat mas Arka.


Mas Arka tak ada di kamarnya. Aku berusaha mencarinya keluar.


"Bi, lihat mas Arka tidak?" tanyaku pada bi Yati yang sedang sibuk di dapur.


"Tadi dibawa keluar sama mas Teguh, Bu" jawab bi Yati.


"Apa sudah dimandikan?" tanyaku lagi.


"Sudah rapi, Bu. Mungkin mas Teguh yang memandikannya." Aku mengannguk. Lalu meminta bi Yati membuatkanku teh hangat.


"Aku mandi dulu, Bi. Nanti tehnya letakan saja di sini." Aku bergegas ke kamar mandi.


Gak enak rasanya tinggal di rumah mertua, kalau malas mandi. Walau pun mertuaku sudah tak ada semua.


Selesai mandi aku melihat mas Arka sedang disuapi makan oleh mas Teguh. Dengan telaten mas Teguh menyuapi, seperti kakak dengan adiknya.


Memang katanya mas Teguh dari dulu diasuh oleh mertuaku untuk menjaga mas Arka. Dan tugas itu tetap dilaksanakannya meski kedua mertuaku sudah tak ada.


Aku jadi merasa tenang tinggal di sini. Setidaknya banyak yang akan membantuku dan mas Arka.


"Tadi dari mana mas?" tanyaku pada mas Teguh.


"Jalan-jalan aja ke depan. Biar Arka gak bosen di dalam rumah terus" jawab mas Teguh.


Aku memperhatikan mas Arka yang masih tak berdaya di kursi rodanya. Badannya semakin kurus. Tak lagi gagah seperti dulu.


"Menurut mas Teguh, mas Arka bisa sembuh lagi tidak ya?" tanyaku pada mas Teguh.


"Insyaa Allah. Kita berdoa saja semoga Arka segera bisa pulih lagi" jawab mas Teguh. Dia menyuapi mas Arka lagi.


"Makanya untuk sementara kalian tinggal di sini dulu. Biar aku bantu mengurus Arka. Misalnya pun aku tidak bisa, aku bisa minta bantuan tetangga di sini. Kalau kalian jauh, bagaimana kami bisa membantu? Kasihan kan kamu kerepotan sendiri" ucap mas Teguh lagi.

__ADS_1


Aku mengangguk. Aku sudah memantapkan diri untuk tinggal di sini sementara. Paling tidak sampai mas Arka pulih lagi.


Menjelang siang, mas Teguh pamit mau keluar sebentar. Katanya mau mengurus usaha mertuaku yang dipercayakan padanya selama ini.


Mas Arka sudah di letakan di tempat tidur. Aku khawatir kalau mas Arka capek dan tak ada yang membantuku memindahkannya.


Aku menghilangkan kejenuhanku dengan membantu bi Yati di dapur. Tiba-tiba perutku terasa mules.


"Bi, aku ke kamar mandi dulu ya. Perutku mules."


Aku bergegas masuk ke kamar mandi. Sesampainya di sana, aku memposisikan diri di atas closet. Beberapa menit aku tunggu, tak ada yang keluar.


Aku berbalik lagi ke dapur. Baru saja sebentar, perutku terasa mules lagi.


"Ibu tadi makan apa? Kok bolak-balik ke kamar mandi terus?" tanya bi Yati.


Kayaknya aku gak makan yang aneh-aneh. Aku hanya sarapan nasi goreng saja tadi. Itu pun tidak terlalu pedas.


Saat aku di kamar mandi dan membuka celana dalamku, aku mendapati ada bercak merah tua. Darah.


Sejenak aku menenangkan diriku. Apa aku akan melahirkan sekarang? Padahal prediksi dokter waktu itu, masih dua mingguan lagi.


Memang aku sudah lama juga tak memeriksakan diri ke dokter kandungan lagi. Karena kondisi keuanganku yang tak memungkinkan.


"Apa ibu tidak telpon mas Teguh saja? Biar dia yang mengantar" ucap bi Yati.


Sebenarnya aku kepingin menelpon mas Teguh, cuma gak enak karena mas Teguh baru saja pamit pergi.


Tapi karena tak ada pilihan lain, akhirnya aku menelponnya juga.


Mas Teguh segera menyuruh aku bersiap. Menyiapkan semua keperluan untukku dan bayiku nanti. Jaga-jaga kalau aku benar-benar melahirkan.Sementara dia juga bersiap menjemputku.


Aku yang semakin merasa mulas, meminta bi Yati untuk menyiapkan semua keperluan yang nanti aku butuhkan. Bi Yati yang sudah berpengalaman, lebih paham mempersiapkannya.


Aku mondar-mandir di dalam rumah mertuaku. Perutku semakin mulas.


Tak lama, mas Teguh datang. Dia langsung membimbingku masuk ke mobilnya. Sementara bi Yati membawakan keperluanku ke bagasi.


Belum sampai di mobil, aku merasa kebelet pipis. Dan aku tak bisa menahannya lagi. Hingga aku ngompol di celana. Alhasil baju dasterku basah semua.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku tak bisa menahannya" ucapku menahan malu. Tapi aku merasa air yang keluar sangat hangat dan agak lengket di kakiku.


"Itu bukan pipis, Bu. Air ketuban ibu sudah keluar. Cepat bawa ke rumah sakit, Mas" ucap bi Yati.


"Bibi sekalian ikut saja. Temani saya" sahut mas Teguh.


"Tapi bagaimana dengan mas Arka?" tanya bi Yati.


"Tinggal saja dulu, Bi. Nanti saya carikan orang untuk menemani Arka. Sekarang yang penting kita tolong Aryani dulu."


Mas Teguh langsung mengangkatku ke jok tengah, dan bi Yati menemaniku.


Sepanjang perjalanan aku sudah sangat tegang. Aku takut bayiku akan lahir di dalam mobil. Belum lagi perutku yang semakin mulas.


"Mas, bisa lebih cepat tidak?" rengekku. Aku tak bisa menahan sakitnya.


Aku menggenggam tangan bi Yati dengan erat.


"Tahan dulu, Bu. Jangan mengejan ya. Rileks saja" ucap bi Yati berusaha menenangkanku.


"Tarik nafas pelan-pelan. Rileks, Bu. Tahan. Jangan mengejan." Bi Yati terus saja berceloteh.


"Kalau tak bisa menahan sakitnya, pejamkan mata ibu." Aku menuruti perkataan bi Yati. Aku memejamkan mataku sambil terus berdoa semoga bayiku tak lahir di mobil.


Mas Teguh melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia juga sangat tegang.


"Hati-hati bawa mobilnya, Mas. Jangan sampai ada goncangan. Ini perut ibu Aryani sudah sangat keras" ucap bi Yati.


"I...Iya, Bi. Tenang saja. Sebentar lagi sampai" sahut mas Teguh.


Keringat dingin sudah membanjiri tubuhku. Aku merasa sangat mulas. Seperti ada yang mau keluar dari kemaluanku.


"Bi...sakiit." Aku terus saja merengek. Air mata pun tak bisa aku tahan lagi.


Bi Yati memegangi bagian bawah dasterku yang sudah basah oleh air ketuban yang keluar tadi.


Tak lama, kami pun sampai di depan IGD. Mas Teguh segera keluar dari mobilnya dan meminta bantuan.


Aku segera dipindahkan ke brankar dan dibawa ke ruangan bersalin.

__ADS_1


Dua perawat yang tadi membawaku, segera mempersiapkan persalinanku. Aku lihat mereka sangat sigap. Aku masih terus menahan agar bayiku tak keluar dulu.


Semua persiapan selesai. Bidan yang dipanggil baru saja tiba di ruangan. Dan tak butuh waktu lama, anakku lahir.


__ADS_2