
"Don, ayolah kita memeriksakan diri. Biar hidup kita punya kepastian. Kalau memang kita harus mati, ayo kita mati bersama. Tapi kalau masih dikasih kesempatan hidup normal, ijinkan aku menebus dosa-dosa pada suami dan anakku. Mereka tidak bersalah, Don. Tolong aku. Please, sekali ini saja." Aku memohon kebesaran hati Doni.
"Anakmu sudah nyaman hidup dengan Sarah dan Roni," sahut Doni.
"Don, Sarah dan Roni bukan orang tua kandung. Bagaimana pun, suatu hari nanti anakku akan mencari aku. Ibu kandungnya. Tolong, Don. Beri aku kesempatan."
"Tidak! Aku tak merelakan kamu hidup bahagia dengan Arka! Aku yang berhak memilikimu. Bukan dia!" Doni tetap tak mau melepaskanku.
Aku tidak menyangka kalau Doni punya sifat yang keras dan sangat egois.
Sewaktu sekolah dulu, Doni adalah sosok yang lembut. Tak pernah ugal-ugalan seperti anak-anak lain. Tapi kenapa sekarang Doni jadi berubah begini?
"Sudah terlalu sering aku kehilangan. Dulu, orang tuaku membuangku. Lalu anak yang dikandung Maya pun harus pergi sebelum aku sempat melihatnya. Lalu Maya yang tinggal menghitung hari. Dan sekarang, aku tak mau kehilangan kamu."
"Kamu takut kehilangan Maya?" tanyaku. Doni mengangguk.
"Maya pun pasti sangat kehilangan kamu, Don. Karena di saat-saat terakhirnya, kamu malah pergi meninggalkannya."
Doni menundukan wajahnya mendengar omonganku.
"Don. Buat Maya bahagia di akhir hidupnya. Buat dia bangga pernah memiliki laki-laki hebat seperti kamu. Laki-laki yang mampu bangkit dari keterpurukan. Laki-laki yang mampu berdiri di atas kaki sendiri."
Doni semakin menunduk.
"Don. Temani Maya. Dia lebih membutuhkan kamu, daripada aku. Aku masih punya suami dan anak. Sedangkan Maya? Dia hanya memiliki kamu."
Doni menatapku dalam. Sangat dalam dan tajam.
"Dan kamu akan kembali pada Arka?" tanya Doni.
"Iya. Kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing. Membahagiakan orang-orang yang pantas kita bahagiakan."
"Apa aku tak pantas kamu bahagiakan?" tanya Doni lagi.
"Don, mungkin kita sudah tak punya banyak waktu. Sudah saatnya kita memberikan kebahagiaan pada mereka. Jadi ini bukan lagi tentang aku dan kamu. Tapi tentang mereka, Don."
Doni terdiam. Lalu membuka ponselnya. Dia membuka galerinya dan dischrool sampai ke bawah.
Dia buka lagi foto-foto lamanya bersama dengan Maya. Aku tersenyum. Aku biarkan Doni bermain dengan masa lalunya. Biar dia sadar bahwa masih ada Maya dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kamu merindukan Maya?" tanyaku. Doni mengangguk.
"Cari dia, Don. Dekap dia. Beri dia rasa nyaman. Beri dia kebahagiaan." Doni mengangguk.
"Lalu kamu?" tanya Doni.
"Pergilah, jangan pikirkan aku. Aku bisa lebih kuat dari Maya. Sampaikan maafku juga pada Maya. Maaf karena telah merebut kebahagiaannya. Maaf karena pernah mengambilmu."
"Kamu yakin bisa menghadapi semuanya sendiri?" tanya Doni penuh kekhawatiran.
"Don. Kamu tau aku kan? Sejak dulu aku sudah terbiasa hidup sendiri. Menjalani hidup sendiri. Mencari makan sendiri. Aku bisa, Don. Aku kuat."
Doni lalu mendekapku erat. Lalu Doni mengatakan kenapa dia tak juga mau melepaskanku. Karena dia khawatir aku tidak kuat lagi. Takut aku tak berani lagi menjalani semuanya sendiri.
Aku berusaha meyakinkan Doni lagi, bahwa aku bisa. Apapun yang terjadi.
"Lalu kalau ternyata kamu positif seperti Maya? Dan semua orang menjauhimu seperti yang dirasakan Maya, siapa yang akan melindungimu?" Doni benar-benar sangat mengkhawatirkanku.
"Don. Banyak jalan untukku. Setidaknya aku masih diberi kesehatan. Kekuatan. Percayalah padaku."
Akhirnya Doni mengangguk. Dan mau mengantarkanku pulang. Bahkan Doni ingin bertemu dengan mas Arka.
"Arka sudah terlanjur tau!" ucap Doni.
"Dari siapa?" tanyaku tak mengerti.
"Mila pasti sudah mengatakannya. Kamu tau kan, bagaimana sifat Mila?"
"Tidak, Don. Dia tak seburuk itu."
Selama ini Doni selalu menilai buruk Mila. Tanpa mau tau kebaikan Mila.
"Ya sudah. Terserah apa pendapat kamu tentang Mila. Sekarang antarkan aku pulang," pintaku.
"Tidak sekarang, Aryani. Besok pagi. Ini sudah terlalu malam. Tidurlah. Besok aku bangunkan dan aku antar kamu pulang."
"Kamu janji mengantarku pulang?" Doni memgangguk.
Akhirnya aku masuk ke kamar Doni. Doni malah mengikuti.
__ADS_1
"Kamu mau apa, Don?" tanyaku.
"Tidur. Ijinkan sekali ini saja. Malam ini saja, aku tidur bersama kamu, Aryani," pinta Doni.
Aku menghela nafasku. Aku tak mau Doni melakukannya lagi. Sudah cukup rasanya dosa-dosa yang pernah aku lakukan dengan Doni.
"Tenang, Ar. Aku hanya ingin tidur memelukmu saja. Ijinkan sekali lagi. Kita tidak akan pernah tau umur kita, kan? Siapa tau besok pagi aku sudah mati. Dan aku akan mati bahagia karena telah kamu beri kesempatan."
"Hush! Jangan bilang begitu. Dan jangan mati dulu. Kasihan Maya. Dia menunggumu kembali padanya."
Aku merebahkan diri. Doni ikut juga. Ada perasaan takut, seperti malam kemarin saat tidur dengan mas Arka. Aku sampai mesti pura-pura sakit.
Aku susah sekali memejamkan mata. Sementara Doni, aku lihat begitu mudahnya terlelap. Tangannya mendekap erat tubuhku. Sampai aku merasa sesak bernafas.
Dan malam itu benar-benar jadi malam terakhir bagiku dan Doni. Karena pagi harinya, aku yang bangun kesiangan karena semalam tak bisa tidur, tak bisa lagi membangunkan Doni.
Doni tetap terdiam meski aku mengguncang lengannya. Dan saat aku mau memindahkan lengannya, lengan itu telah kaku. Seluruh badan Doni dingin.
"Don! Doni!" teriakku. Aku berusaha bangun meski sulit, karena tangan Doni masih mendekap tubuhku.
Aku berhasil melepaskan diri. Lalu turun dari tempat tidur. Aku teliti kondisi Doni. Dia benar-benar sudah tak lagi bergerak.
Aku sangat panik. Aku coba mencari pertolongan setelah merapikan diri.
Tempat pertama yang aku tuju, pos security apartemen. Mereka berdatangan ke unitku. Dan salah satu security memastikan kalau Doni sudah mati.
Aku terhenyak. Tubuhku pun terasa susah sekali digerakan. Bukan. Bukan aku mau mati menyusul Doni. Tapi aku syok dengan kenyataan ini.
Doni mati di pelukanku. Di pelukan perempuan lain yang bukan istrinya. Perempuan yang masih bersuami.
Aku membayangkan berita yang akan viral nanti. Pasti hastagnya akan sangat menyakitkanku juga orang-orang yang menyayangiku.
Aku menelpon Mila, dengan hape Doni. Karena hapeku yang aku matikan entah disembunyikan dimana oleh Doni.
"Mila. Datanglah ke apartemenku. Tolong aku, Mil. Doni mati!"
Mila pun sangat terkejut dengan berita itu. Begitu juga Sarah dan Roni yang aku kabari. Mereka segera berdatangan ke apartemenku.
Apartemen yang diberikan Doni untukku. Untuk kami menikmati hari-hari indah penuh dosa berdua.
__ADS_1
Sampai akhirnya kami menikmati saat-saat terakhir berdua. Meski aku merasa sangat kehilangan Doni, tapi aku bahagia sudah mengetahui bahwa Doni masih sangat mencintai Maya.