SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 46 IBU TAK JADI MENGINAP


__ADS_3

Aku masuk ke kamarku. Aku melihat mas Arka terbaring di atas tempat tidur. Matanya yang terbuka lebar, menatap ke langit-langit kamar.


Kenapa dia tidak tidur? Apa dia menungguku? Aku mendekatinya. Aku ambil tangannya dan mengecupnya


"Aku sudah pulang, Mas" ucapku. Walaupun aku tau dia tidak akan mendengar.


Aku melepas semua pakaianku. Hanya menyisakan ********** saja. Lalu aku menuju ke kamar mandi.


Aku pingin mandi. Cuaca panas membuatku kegerahan. Lagi pula aku baru pulang dari berbelanja, mungkin banyak kotoran yang menempel di tubuhku.


Selesai membersihkan badan, dengan hanya mengenakan handuk, aku keluar dari kamar mandi.


"Aaaakhhh!" teriakku ketika melihat Bima sudah ada di kamarku. Dia sedang menurunkan mas Arka dari tempat tidur. Dia menatapku sekilas.


Aku langsung masuk lagi ke dalam kamar mandi. Setelah aku pastikan Bima sudah keluar, aku keluar dari kamar mandi.


Salahku tadi tidak mengunci pintu. Jadi Bima bisa langsung masuk.


Tak ingin melakukan kesalahan yang sama, aku langsung mengunci pintu kamarku.


Baru aja selesai berpakaian, pintu kamar diketuk dari luar. Suara Bima memanggil namaku.


Aku membukakan pintu untuknya. Lalu menuju meja riasku. Aku mau menyisir rambutku.


Bima menghampiriku. Dia berdiri persis di belakangku. Lalu memelukku. Tangannya mengelus perutku yang sudah sangat besar. Dan kepalanya di sandarkan di bahuku.


Aku berusaha menepisnya. Dan melepaskan pelukannya.


"Tolong jangan seperti ini, Bim" Aku terus berusaha melepaskan diri.


"Sebentar aja, Ar. Ya?" pinta Bima memelas. Aku menghela nafasku, dan melanjutkan menyisir rambutku.


"Ada apa? Kenapa masuk ke kamarku? Bukannya kamu mestinya mengurusi suamiku?" tanyaku.


"Dia sedang di rendam kakinya. Satu jam lagi baru selesai" jawab Bima.


"Bukannya sekarang jadwal makan siangnya?" tanyaku.


"Tadi setelah melihatmu hanya memakai handuk, aku jadi ingin memelukmu, Ar. Makanya aku siapkan saja rendaman kaki untuk suamimu" jawabnya.


Pintar sekali dia. Mengalihkan jadwal. Tapi bagaimana kalau mas Arka kelaparan?

__ADS_1


"Tenang aja, suami kamu gak akan mati karena kelaparan" jawab Bima. Aku melototkan mataku ke arah Bima lewat kaca cermin. Lalu aku letakan sisirku.


"Jangan gila kamu, Bima!" Aku membalikan tubuhku sambil melepaskan pelukannya.


"Aku memang sudah gila. Aku gila karena kamu, Aryani" jawab Bima. Dan tanpa aku sangka, Bima langsung menarik wajahku. Bibirnya langsung melahap bibirku.


Aku mencoba melepaskannya. Tapi tangan Bima terlalu kuat menekan wajahku. Aku pun pasrah. Dan menikmatinya.


Tangan bima mulai meyusuri leherku. Lalu turun ke dadaku. Aku mendesah. Aku tak bisa mengontrol diriku.


Saat tangan Bima mulai sampai di ujung gunung kembarku, kami mendengar suara ibu mertuaku dari luar.


Kami segera saling melepaskan. Aku buru-buru merapikan pakaianku. Dan Bima mengambil obat mas Arka yang aku letakan di atas meja riasku.


Lalu Bima keluar dari kamarku, membawa obat itu. Aku menenangkan jantungku dulu, lalu aku pun keluar menyusul Bima.


"Ibu...kapan datangnya?" tanyaku basa-basi sambil memeluk dan mencium pipi ibu mertuaku.


"Barusan aja, Ar. Kamu lagi ngapain di kamar?" Degh! Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mesti menjawab apa?


"Man...di, Bu" jawabku tergagap. Gimana kalau ibu tau kalau Bima juga dari kamarku?


"Oh. Lain kali kamu taruh obatnya Arka di luar aja. Jadi Bima gak harus bolak-balik masuk kamarmu."


Ah, Bima memang kurang ajar. Bagaimana kalau ibu tiba-tiba masuk ke kamarku? Habislah aku.


"Bima! Kamu cari tempat buat naruh obatnya Arka. Itu kan banyak lemari. Kamu bisa menaruhnya di sana." ucap ibu pada Bima.


"Iya, Bu. Nanti saya akan cari tempat yang mudah di jangkau" jawab Bima santai. Dia berkata seolah gak ada sesuatu yang terjadi.


Lalu dengan cekatan dia mengangkat kaki mas Arka dari rendamannya, dan mengelapnya hingga kering.


"Arka sudah makan?" tanya ibu lagi pada Bima. Skak mat! Apa coba yang akan di jawab oleh Bima?


Aku makin menundukan kepalaku. Tak berani menatap ibu sama sekali. Jantungku serasa mau copot.


"Belum, Bu. Tadi saya habis mengantar bu Aryani ke supermarket. Karena kami pulangnya udah agak siang, jadi saya terapi pak Arka dulu. Biar gak kesorean" jawabnya asal.


Untung ibu gak banyak tanya lagi. Karena aku mengalihkan perhatian ibu dengan menanyakan pohon jambu di belakang rumah ibu.


"Jambu di belakang rumah ibu sudah berbuah lagi?" tanyaku.

__ADS_1


"Banyak, Ar. Nanti kalau Bima ngantar ibu, biar mengambilkannya untukmu" ucap ibu.


Lalu dengan santainya Bima berjalan ke dapur mengambil makan siang mas Arka. Dan segera menyuapi mas Arka.


Aku mengajak ibu makan siang. Agar ibu gak fokus lagi pada mas Arka.


"Ibu udah makan, Ar. Kamu aja. Ibu temani kamu makan." Lalu ibu menarik kursi makan dan aku juga mengikutinya.


Aku mengambil piring dan mengisinya sedikit. Karena sebenarnya aku masih kenyang. Tadi kan sudah makan bakso di dekat supermarket.


Aku terus saja mengajak ibu berbicara. Dan berhasil. Kami jadi asik ngobrol.


Setelah mas Arka selesai makan, Bima memberinya obat. Ibu menghampiri mas Arka lagi.


Aku udah ketar-ketir, takut kalau ibu membahas soal makan siang mas Arka yang telat lagi.


"Lain kali jangan sampai telat kasih makannya Bim. Kalau terapi kan bisa nanti atau besok lagi. Arka kan gak bisa protes. Dia juga gak bisa minta makan, walaupun laper." Benar kan? Aku terdiam di kursiku.


"Iya, Bu. Terima kasih sudah diingatkan" jawab Bima. Lalu dia meminumkan air putih hangat ke mas Arka.


Ibu mendorong kursi roda mas Arka keluar. Mungkin ibu pingin mencari udara segar.


Bi Yati yang dari tadi hanya diam, menatapku sekilas. Lalu mengambil piring bekasku makan.


Apa bi Yati juga tau apa yang Bima lakukan kepadaku? Orang kalau melakukan dosa, tingkat kekhawatirannya makin tinggi.


Aku menghela nafas, lalu beranjak berdiri. Aku menyusul ibu ke teras. Ibu sedang mengajak mas Arka berbicara.


Aku duduk di sebelah ibu. Tanganku meraih tangan mas Arka. Membelainya pelan.


"Ar, malam ini kayaknya ibu mau menginap di sini. Udah lama kan ibu gak nginap?" Aku terkejut dengan rencana dadakan itu.


Tadi bukannya ibu mau membawakan aku jambu, kalau Bima mengantarnya pulang?


"Iya, Bu. Nginap aja. Nanti aku yang tidur di ranjang kecil. Ibu bisa tidur bareng mas Arka" jawabku.


"Oh, iya. Ibu lupa kalau kamar satunya di pakai Bima" ucap ibu.


"Ya udah, nanti sore Bima biar nganter ibu pulang. Kamu jadi kan dibawain jambu?". Aku mengangguk. Lega.


Lega, bukan karena aku gak pingin ibu tidur di sini. Tapi jantungku masih dag dig dug atas kejadian tadi di kamarku.

__ADS_1


"


__ADS_2