
"Kalau begitu saya permisi pulang, Pak" pamitku pada Doni. Doni malah tertawa mendengarku memanggilnya pak.
"Kok pak sih? Santai saja, aku kan juga belum tua. Hahaha." Aku malah jadi ikut tertawa.
"Kamu kan atasanku sekarang. Jadi aku harus menghormati kamu dong" sahutku.
"Oke. Tapi kalau di luar jangan panggil pak ya? Aku kan bukan bapakmu" pinta Doni. Aku mengangguk setuju.
"Oh iya. Besok pagi kamu datanglah satu jam sebelum shift-mu. Temui pak Budi. Dia yang akan memberi pengarahan nanti" ucap Doni sebelum aku pamit pulang.
"Oke, aku pamit pulang dulu ya." Doni mengangguk, aku pun meninggalkan ruangannya.
Dan benar saja, mas Teguh menungguku. Dia duduk di dekat loby hotel. Ish, sebal banget lihatnya. Masa orang lagi interviu saja ditunggu.
Aku berjalan pura-pura tidak melihatnya. Malas aku menyapanya duluan.
"Ar, tunggu!" Aku menoleh, pura-pura terkejut.
"Masih disini? Katanya ada urusan kerjaan?" tanyaku.
"Gampang itu. Nanti setelah kamu aku antar pulang, aku bisa pergi lagi" jawab mas Teguh. Lalu menggandeng tanganku. Aku menepisnya dengan pura-pura mengambil sesuatu dari dalam tasku.
"Kita langsung pulang, ya?" ucapku. Padahal aku ada ingin membeli beberapa pakaian dan sepatu untuk kerja besok pagi.
Lebih baik nanti aku pergi lagi sendiri daripada minta diantar mas Teguh. Pasti dia akan memilihkan untukku, walaupun nantinya dia yang akan membayar.
"Kamu tidak membutuhkan sesuatu untuk persiapan kerjamu besok?"
Tau saja kalau aku besok sudah mulai kerja. Aku menggeleng.
"Belilah pakaian atau sepatu. Aku antar sekalian."
"Nanti saja. Perutku agak tidak enak. Aku mau cepat-cepat pulang" ucapku berbohong. Untung saja ada ide yang tiba-tiba melintas.
"Kenapa? Mulas atau perih?" tanya mas Teguh.
Ish, masih saja bertanya.
"Cuma mules saja" sahutku.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Kan kamu bisa numpang di toilet hotel dulu" ucap mas Teguh terdengar sangat khawatir.
"Gak apa-apa. Aku bisa nahan kok" sahutku sudah semakin kesal.
Tiba-tiba mas Teguh menambah kecepatan mobilnya. Biar cepat sampai katanya.
Terserah deh. Lebih cepat lebih baik. Aku sudah sangat kesal. Wajahku sepertinya sudah terlihat cukup cemberut. Bukan menahan mulas tapi menahan kesal.
__ADS_1
"Tahan dulu, Ar. Sebentar lagi sampai" ucapnya dengan mimik sangat khawatir.
Aku jadi kepingin ketawa. Tapi aku tahan. Mukaku mungkin sudah sangat kacau. Tadi menahan kesal, sekarang menahan tawa.
Tak lama kita sampai juga di rumah. Aku yang sedang pura-pura mulas, punya alasan untuk cepat-cepat turun dari mobil.
Aku bergegas masuk ke kamarku, lalu menguncinya. Lega rasanya bisa terbebas dari manusia posesif satu itu.
Tok.
Tok.
Tok.
Yaelah, siapa lagi sih? Baru saja rebahan, sudah diganggu.
"Ar! Aryani! Kamu tidak apa-apa? Katanya mulas, kok tidak ke kamar mandi?" itu suara mas Teguh.
Alamak! Aku lupa kalau dikamarku ini tak ada kamar mandinya. Memang dasar tidak boleh berbohong.
"I...Iya, Mas. Sebentar" Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu membuka pintu dan terpaksa masuk ke kamar mandi di sebelah kamarku.
Ah, mana lupa tidak bawa hape. Aku jadi bosan pura-pura BAB. Kan gak lucu kalau BAB-nya cuma sebentar.
Aku benar-benar kesal harus berdiri beberapa menit di dalam kamar mandi. Setelah aku rasa cukup, aku keluar.
"Minumlah, biar perutmu agak enakan" ucapnya sambil mengulurkan gelas berisi teh hangat itu.
"Makasih" sahutku, lalu aku bawa masuk gelas teh itu.
"Perlu minyak angin untuk menggosok perutmu? Biar aku ambilkan" ucap mas Teguh di depan pintu kamarku yang masih terbuka.
"Enggak" sahutku singkat. Ingin sekali aku menutup pintu kamarku lalu menguncinya. Tapi manusia itu masih setia berdiri di sana.
Aku duduk saja sambil memainkan ponselku. Eh, dia malah berjalan masuk ke dalam kamarku, lalu dengan santainya duduk disebelahku.
"Kalau perlu apa-apa, bilang ke bi Yati. Aryaka sepertinya sedang tidur. Arka juga. Aku mau ke gudang dulu sebentar" ucapnya, lalu berdiri dan meninggalkan kamarku.
Oh iya. Apa kabar anak dan suamiku? Aku jadi lupa dengan mereka, gara-gara pura-pura sakit perut tadi.
Aku mencari anakku dulu. Dia sedang tidur di kamar tamu yang di sulap jadi kamar anakku. Anakku akan tidur di sana kalau aku sedang tidak di rumah.
Aku juga melihat suamiku di kamar mertuaku. Dia juga sedang tertidur lelap. Aku tidak mau mengganggunya, lalu aku tutup lagi pintu kamarnya.
Aku ke depan ngecek apa mas Teguh sudah pergi. Aku tidak melihat mobilnya, berarti dia sudah pergi. Syukurlah.
"Bi Yati, aku titip Aryaka dulu ya. Aku mau keluar lagi sebentar" ucapku pada bi Yati setelah aku berganti pakaian.
__ADS_1
Kan gak enak banget kalau ke mall memakai baju kerja. Entar dikira orang, aku lagi membolos.
Aku hanya mengenakan celana jeans, kaos pendek sedikit ketat dan tas selempang kecil.
Rambutku juga hanya aku ikat ekor kuda. Aku sudah menghapus make-up ku. Karena aku kurang nyaman dengan make-up tebal.
Sepatu sneakers jaman aku belum hamil pun aku pakai lagi. Beberapa hari yang lalu, aku mengambil barang-barangku itu di rumah lama.
"Iya, Bu. Oh iya, susunya den Aryaka tinggal sedikit" ujar bi Yati.
"Iya, nanti sekalian aku belikan." Lalu aku segera memesan taksi online.
Sampai di mal, aku berjalan muter-muter saja sendirian. Senang sekali rasanya, bisa jalan-jalan lagi di mal, walau pun sendirian.
Aku memilih beberapa stel baju kerja dan sepatu pantofel yang tidak terlalu tinggi haknya. Aku juga memilih sebuah tas.
Walau pun aku sudah memiliki tas buat kerja, tidak salah juga aku membelinya lagi. Buat ganti-ganti.
Saat aku sedang mengantri di kasir, tiba-tiba ada yang memanggil namaku.
"Ar! Aryani!" Suara yang tak asing di telingaku.
Aku menoleh. ****! Umpatku dalam hati. Mas Teguh lagi. Kenapa harus ketemu dia lagi sih? Sedang apa dia di sini? Apa dunia begitu sempit, sampai kemana aku pergi selalu ada dia?
"Eh, Mas Teguh. Sama siapa, Mas?" tanyaku. Aku merasa mukaku sudah memerah karena katahuan dia berbelanja sendiri. Sedangkan tadi dia sudah menawari untuk mengantarku.
"Belanja apa kamu?" tanyanya sambil melihat tas belanjaan yang aku bawa.
"Mm...ini, Mas. Baju, sepatu sama tas" sahutku.
"Tadi kamu bilang sakit perut. Terus aku menawari untuk mengantarmu, kamu tidak mau. Sekarang malah pergi sendiri. Bagaimana sih kamu?" Mas Teguh mengoceh tak karuan.
Aku yang tidak mau berdebat di muka umum, memilih mengacuhkannya.
Sementara dia masih terus saja berdiri di sampingku yang sedang mengantri.
Hingga sampai di kasir dan dia membayar semua belanjaanku. Walau pun aku sudah menolaknya.
"Terima kasih. Aku pulang duluan ya, Mas" ucapku setelah dia membayar semuanya. Padahal aku masih ingin berjalan-jalan lagi.
"Aku antar pulang!" Aku hanya menelan ludahku saja dan mengikutinya ke parkiran.
Di mobil, mas Teguh terlihat sangat kesal padaku. Aku pun memilih untuk diam saja. Memandang keluar lewat jendela.
Tiba-tiba aku ingat anakku. Ingat pesan bi Yati yang minta aku membelikan susu buat anakku.
Ah, kenapa aku jadi lupa? Gara-gara ketemu manusia posesif ini.
__ADS_1