
Beberapa hari kemudian Doni mengajak aku menemui klien-nya di daerah puncak.
"Itu kan jauh, Don. Nanti siapa yang akan menggantikan aku?" tanyaku.
"Biar Mila handle sendiri. Dia pasti bisa."
Lalu Doni menghubungi Mila lewat telepon hotel. Tadi memang Doni memanggilku ke ruang kerjanya.
(Hallo, Mila. Kamu setelah makan siang segera kembali ke mejamu. Aku akan mengajak Aryani ketemu klien. Kamu handle sampai sore) ucap Doni tanpa basa basi.
Pasti Mila di sana mendumel. Tàpi gak bakalan berani protes langsung ke Doni.
Apalagi sejak kejadian Mila membawaku ke tempat nongkrongnya. Mila dapat semprotan dari Doni keesokan harinya.
"Sekarang kamu kembali ke mejamu. Biar Mila makan siang dulu. Setelah itu kita berangkat." perintah Doni.
Aku kembali ke mejaku. Benar saja, Mila sudah cemberut.
"Kenapa cemberut, neng?" Aku mencoba mengajak becanda Mila.
"Auk ah. Masa aku suruh sendirian lagi di sini. Tau sendiri kan bagaimana repotnya? Emang ya, kalau bos itu bisanya asal perintah aja!" Mila meluapkan kemarahannya padaku.
"Udah sana istirahat. Jangan lupa makan yang banyak. Sendirian kan butuh tenaga ekstra." Aku meledek Mila biar dia semakin kesal.
"Hemm. Kamu enak, Ar. Diajak jalan-jalan sama bos!" sahut Mila.
"Jalan-jalan gimana? Nemui klien. Pasti akan lebih membosankan. Enak juga disini. Bisa cuci mata" sahutku biar Mila tidak iri.
"Udah sana. Entar keburu bos Doni datang menjemputku. Kamu gagal makan siang." Aku mendorong tubuh Mila agar segera pergi.
"Iya, ih. Gak sabaran amat yang mau jalan ke puncak." Mila balas meledekku. Lalu segera pergi ke kantin belakang hotel.
Satu jam kemudian, Doni menjemputku. On time banget ini orang.
"Kamu sudah siap, Ar?" Aku mengangguk. Tadi sewaktu Mila istirahat aku mulai bersiap.
"Tinggal dulu ya, Mil. Kalau ada yang ganteng-ganteng jangan lupa difoto. Kirimkan ke aku" bisikku pelan.
"Ish. Udah jalan sama bos ganteng masih saja kegatelan" sahut Mila. Aku tertawa ngakak. Paling suka meledek Mila sampai dia kesal.
Aku keluar dari loby mengikuti Doni, hingga ke parkiran.
"Pasang sabuk pengamanmu" ucap Doni sebelum melajukan mobilnya.
Klek.
"Dah, ayo jalan" ucapku serasa aku yang mengajak Doni. Padahal kebalikannya.
"Kenapa mendadak sih, Don? Kasihan Mila tau. Jam segini kan banyak yang chek in chek out".
"Ada pak Munawir yang akan membantu Mila nanti. Tenang saja. Aku sudah mengaturnya. Dan soal mendadak, nanti kita tanyakan ke temanku. Oke."
__ADS_1
Doni mulai melajukan mobilnya ke arah puncak. Sudah lama sekali aku tidak ke sana. Terakhir saat Yola masih tinggal di sini. Dan suamiku masih sehat.
"Kamu belum makan siang kan? Kita makan dulu sebentar ya?"
Doni membelokan mobilnya ke sebuah warung makan. Syukurlah. Aku pikir Doni akan membiarkanku kelaparan.
"Ayo, waktu kita tidak lama. Temanku juga lagi otewe katanya."
Aku segera memilih menu yang cepat makannya.Kami makan tanpa banyak bicara biar cepat.
Seperti biasa, Doni makan dengan lahap.
"Bisa gemuk aku kalau makan ditemani kamu terus" ucap Doni.
"Kok bisa?" tanyaku tak mengerti.
"Makanku jadi banyak. Enak rasanya makan ditemani kamu" sahutnya.
"Bilang saja laper" sahutku.
Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Nyaman sekali saat bersama Doni. Rasanya seperti dulu bersama mas Arka saat dia masih sehat.
Sejak suamiku sakit, semua berbeda. Tak ada lagi rasa nyaman. Yang ada cuma kesedihan.
Apalagi setelah tinggal di rumah mertuaku, dan hidup satu atap dengan mas Teguh. Aku jadi merasa terkungkung.
Terlalu banyak aturan. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak penting bahkan menghakimi.
Kebebasanku hilang. Apa-apa harus sesuai kemauannya. Kalau tidak, dia akan ngomel dan ceramah panjang lebar. Dia seakan bisa menguasai hidupku.
Doni mengajakku jalan lagi. Makanku juga sudah selesai.
Doni melajukan mobilnya agak cepat. Biar tidak telat katanya. Doni memang orang yang selalu tepat waktu.
Sejak dulu saat sekolah. Dia tak pernah terlambat.
Kami sampai di sebuah vila yang cukup besar. Halamannya pun luas.
"Kita ketemuan di sini?" tanyaku.
"Iya. Ini vila temanku pemilik hotel kita" sahut Doni.
Tajir banget temannya Doni. Punya hotel berbintang di kota. Dan vila yang besar juga.
Aku belum pernah bertemu dengannya. Doni bilang, temannya tinggal di luar negeri. Semua usahanya diserahkan pada Doni.
Teman Doni yang akan kita temui sudah sampai lebih dulu.
"Hay, Bro. Sorry aku telat" ucap Doni menyalami temannya.
"Enggak juga. Kita juga baru datang. Oh, iya. Kenalkan ini istri baruku."
__ADS_1
Teman Doni memperkenalkan seorang wanita cantik. Aku pun dikenalkan Doni sebagai sekretarisnya.
"Hebat kamu, Don. Punya sekretaris yang cantik. Istrimu tidak cemburu?" tanya temannya yang bernama Roni.
"Enggak lah. Masa cemburu sama sekretaris" sahut Doni. Aku hanya tersenyum.
Sepertinya teman Doni ini mengenal istri Doni. Dia banyak bertanya tentang istrinya.
"Kamu bisa ngobrol dulu dengan Sarah, Ar."
Doni menyuruh aku dan Sarah, istri Roni untuk mencari tempat ngobrol yang asik.
Aku pikir, aku akan mengikuti meeting yang membosankan. Ternyata hanya bertemu teman lamanya saja.
Aku dan Sarah berjalan-jalan di sekitar vila. Banyak pemandangan yang indah. Ada juga kolam renang yang tak terlalu besar di belakang vila.
Aku ngobrol santai dengan Sarah. Dia orang yang sangat menyenangkan.
"Kalian masih muda. Sudah lama menikah?" tanyaku pada Sarah.
"Baru beberapa bulan. Aku istri keduanya. Istri pertama Roni meninggal setahun yang lalu" sahut Sarah.
Dia juga menanyakan tentang aku. Karena merasa nyaman dengan Sarah, aku menceritakan sekelumit hidupku pada Sarah.
"Oh. Kasihan sekali. Itu mirip cerita Roni. Katanya dulu istrinya juga meninggal karena stroke."
Degh.
Aku jadi merasa deg-degan. Jangan-jangan suamiku juga akan meninggal karena stroke.
"Jangan kecil hati. Tidak semua penderita stroke berakhir dengan kematian. Bapakku juga pernah kena stroke, tapi bisa sehat sampai sekarang" ucap Sarah, membesarkan hatiku.
Lalu Sarah menceritakan tentang bapaknya dan penangananya. Juga biaya yang sangat banyak sampai bapaknya bisa sembuh.
Setelah hampir dua jam aku ngobrol dengan Sarah, Doni mengajak kami ke sebuah cafe yang tak jauh dari lokasi vila.
View di sekitar cafe sangat indah. Dari lantai dua kami bisa menikmati pemandangan pegunungan.
Aku dan Sarah yang ternyata hoby selfie, mengambil beberapa foto di sana. Doni juga ikutan selfie.
"Ar, kita foto berdua ya? Kita kan belum pernah foto berduaan" pinta Doni.
"Aku malu, Don" sahutku.
"Malu sama siapa?" tanya Doni.
"Malu sama rumput yang bergoyang. Hahaha." Doni mengacak rambutku.
Doni memeluk pinggangku dari belakang dan mengarahkan kamera ponselnya.
Aku panas dingin. Posisi kami yang sangat dekat, membuat aku grogi.
__ADS_1
"Senyum dong, Ar. Jangan tegang begitu" ucap Doni di telingaku.
Aku pun tersenyum menghadap kamera. Bahagia? Entahlah.