SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 26 JOGJA MEMANG ISTIMEWA


__ADS_3

Hari pertama di Jogja. Karena tadi kami belum sempat sarapan, kami menuju ke pusat pedagang gudeg. Aku memang sangat menginginkan makan gudeg langsung di kotanya.


Kami menyewa jasa supir, sekaligus menjadi pemandu kami di jalan. Karena kami buta dengan jalan-jalan di kota ini.


Liburan kami kali ini memang benar-benar seru. Walaupun di awali dengan kejadian yang sempat membuat kami syok.


Kami mengunjungi tempat-tempat wisata yang sedang viral di medsos. Kami juga mendatangi tempat-tempat kuliner yang terkenal.


Tak lupa kami berjalan-jalan di Malioboro yang sangat fenomenal. Dan berbelanja banyak baju batik di pasar Beringharjo yang terkenal murah.


Malamnya, kami nongkrong di angkringan lagi. Kali ini di seputaran alun-alun utara. Walaupun menurutku lebih mirip cafe outdoor. Tapi gak apa-apalah. Mumpung masih di Jogja, semuanya akan kami coba.


Sebenarnya aku lebih suka angkringan tradisional, dengan menu-menu yang ndeso. Dan tentunya harga yang merakyat.


Selesai dari alun-alun, kami balik ke hotel lagi. Karena besok masih banyak tempat yang akan kami kunjungi.


Termasuk candi borobudur.


Tadi sang supir yang merangkap pemandu wisata, menanyakan tentang rencana kami besok. Dia juga memberi beberapa opsi.


Sebenarnya kami ingin mengunjungi semua tempat-tempat itu. Tapi waktu kami yang cuma tiga hari, gak akan cukup.


Kalau ke Jogja dan kepingin semua di jelajahi ya luangkan waktu sebulan. Pasti puas. Kata sang pemandu wisata sambil terbahak.


"Wah, kalau sebulan, dapur bisa gak ngebul dong pak" jawab mas Arka sambil tertawa juga.


"Betul pak. Saya bisa langsung di kasih SP sama perusahaan" timpal mas Deni.


Dan akhirnya kami memilih ke candi borobudur saja. Jaraknya yang lumayan jauh, karena letaknya masuk di provinsi jawa tengah, membuat kami harus berangkat pagi-pagi.


Mas Deni udah mewanti-wanti, aku dan mas Arka, untuk bangun pagi.


"Besok pagi jam lima, gue gedor pintu kamar kalian" ancam mas Deni.

__ADS_1


"Iya bawel. Katanya honeymoon, malah jalan mulu. Kapan in the hoy nya?" ucap mas Arka, pura-pura kesal.


Ini memang boleh di bilang acara piknik bersama. Karena selama tiga hari jadwal kami sangat padat. Pulang ke rumah nanti, yang ada badan kami remuk redam.


Malam ini pun, kami manfaatkan untuk istirahat total. Kakiku yang terasa sangat pegal, di pijit sama mas Arka. Sampai aku tertidur.


Alarm yang kami setel jam lima pagi, membangunkan kami yang masih ngantuk. Aku bergegas ke kamar mandi. Sebelum mas Deni ribut lagi. Dan sebelum mendapatkan serangan fajar dari mas Arka.


Selesai mandi dan berpakaian, aku membangunkan mas Arka. Dengan susah payah dan sedikit drama, akhirnya mas Arka mau mandi juga.


Padahal kalau di rumah, tanpa di suruh, jam setengah lima dia pasti sudah bangun dan bersiap sholat subuh. Lha ini, mentang-mentang liburan, semuanya ikutan libur.


Jam enam, pintu kamar kami sudah di gedor-gedor. Mungkin karena terbiasa kerja di luar negeri, mas Deni sangat on time.


Beda dengan kita. Walaupun sama-sama kerja, tapi masih suka ngaret. Apalagi kalau liburan kayak gini, jam gak berlaku.


Kami keluar kamar dan mengikuti mereka untuk sarapan pagi di lantai bawah. Si pemandu kami sudah siap menunggu di lobi.


Selesai sarapan yang singkat, kami segera berangkat. Ngejar waktu, biar gak kesiangan sampai lokasi. Karena di sana kalau kesiangan, panasnya gak ketulungan. Begitu kata si pemandu.


Melihat bangunan candi yang sangat tinggi, mas Arka melarangku untuk naik ke atas. Yola juga ikutan bawel, melarangku naik.


Akhirnya aku hanya bisa melihatnya dari bawah. Mas Arka juga gak ikutan naik. Dia menemani aku di bawah.


Setelah Yola puas dan kelihatan kelelahan, kami memutuskan untuk kembali ke kota Jogja. Kami akan langsung ke daerah kaliurang. Karena jalan pulangnya bisa melewati arah ke sana.


Kami akan menikmati suasana pegunungan. Letaknya persis di kaki gunung merapi. Banyak tempat-tempat indah di sana. Bekas terjadinya gunung merapi meletus, beberapa tahun yang lalu.


Puas kami berkeliling, dari yang sekedar berjalan kaki, sampai kami menyewa sebuah mobil jeep, untuk berkeliling. Sangat-sangat menyenangkan.


Menjelang sore kami segera pulang. Karena cuaca akan mulai dingin. Kami kembali ke kota. Rencananya kami akan ke alun-alun selatan, tapi karena kakiku udah terasa kram, kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel.


Sebenarnya aku sudah bilang ke Yola, aku di antar ke hotel, terus mereka melanjutkannya. Tapi Yola menolak. Dia gak mau pergi kalau tanpa aku.

__ADS_1


Ya sudah, terserah mereka. Yang penting aku sudah menawarkan. Karena aku juga gak mau dianggap mengganggu.


Mereka memang orang-orang baik. Sahabat yang baik. Dan saudara yang juga sangat baik. Selalu mau mengerti dan mengalah.


Malam ini, seperti malam kemarin. Mas Arka jadi tukang pijit pribadiku. Dia dengan telaten memijit kakiku.


Sejak hamil, memang kakiku gak kuat kalau jalan terlalu jauh. Gampang pegal. Padahal jaman masih single, kemana-mana aku sering jalan kaki. Selain menyehatkan juga hemat ongkos.


"Sayang, malam ini ada jatah gak buat mas?" tanya mas Arka memelas. Aku memandangnya yang sedang memijit kakiku dengan kasihan.


"Gak usah gak apa-apa juga sih, kalau kamu capek. Jangan di paksa. Kasihan dedeknya" ucapnya lagi, sambil mengelus perutku.


Aku jadi gak tega melihatnya. Lalu aku mengangguk dan menarik tangannya, agar mendekat.


Dan kamipun saling memberi kenikmatan, sebelum kami sama-sama terlelap. Sampai-sampai kami kesiangan. Alarm yang kami setel, sama sekali tak kami dengar.


Jam delapan kamar kami di gedor dari luar. Barulah kami terbangun. Dengan mata masih setengah melek, mas Arka menyahut keras dari tempat tidur.


Aku bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Belum selesai aku mandi, mas Arka menyusulku.


Dengan senyuman nakal, dia mempermainkan gunung kembarku. Aku tahan tangannya agar tak kebablasan.


Aku gak mau hari ini gagal ke pantai, gara-gara kenakalannya.


Setelah kami siap, kami segera keluar kamar. Mereka ternyata sudah menunggu di lobi. Sebelum kami protes untuk sarapan dulu, mas Deni sudah mendahului dengan mengatakan, kita sarapan di luar aja Arka!


Mas Arka menggaruk tengkuknya. Lalu berjalan mengikuti mereka. Kami pun menuju ke pantai parang tritis.


Kami disana sampai sore, karena kami ingin melihat matahari terbenam. Dan berfoto pas momen itu. Baru setelah itu, kami kembali ke hotel. Karena besok kami akan pulang kembali ke kota kami.


Memang benar kata pemandu wisata kami, tidak cukup waktu tiga hari, untuk menjelajahi Jogja. Tapi kami sangat puas bisa berlibur ke sini.


Jogja yang akan selalu kami rindukan.

__ADS_1


Jogja memang istimewa.


__ADS_2