SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 39 SUAMIKU STROKE


__ADS_3

Semakin hari perutku semakin membesar. Gak terasa udah memasuki bulan ke enam. Mas Arka pun semakin sibuk dengan pekerjaannya.


Aku sudah sering mengingatkan. Tapi mas Arka tetep bandel. Kata mas Arka, toh aku udah ada temannya di rumah. Ibu pun sering menginap di rumah.


Hari ini aku ada jadwal kontrol ke dokter kandungan. Rencananya sore nanti ibu akan mengantarkanku. Tapi ternyata ibu ada acara mendadak.


Aku menelfon mas Arka, kalau ibu tidak bisa mengantar. Dan aku akan pergi dengan bi Yati. Tapi mas Arka bilang, nanti akan segera pulang untuk mengantarkan aku. Ya sudah, aku menunggu mas Arka saja.


Sampai hampir maghrib, mas Arka belum juga pulang. Padahal dia udah janji mau pulang cepat. Aku mencoba menelfon nomornya, tapi tidak aktif.Aku menunggu saja sampai dia pulang.


Selepas isya, mas Arka tak juga ada kabar. Telfonnya juga belum aktif. Aku makin bingung. Aku harus menghubungi siapa?


Aku mencoba menelfon ibu. Ibu hanya bilang, tunggu aja dulu. Mungkin ada meeting dadakan. Kalau soal kontrol ke dokter, bisa besok lagi.


Aku menurut aja, daripada bikin ibu ikutan panik. Aku mencoba tenang. Sambil aku terus stanby hape.


Sampai jam sepuluh malam, hape mas Arka tak juga aktif. Aku makin gelisah. Mau menelfon ibu lagi, gak enak karena sudah malam. Ibu pasti sudah tidur.


Jam sebelas malam, ada yang mengetuk pintu rumah. Siapa? Biasanya mas Arka langsung masuk kalau pulang malam. Karena dia bawa kunci cadangan.


Sebelum membuka pintu rumah, aku membangunkan bi Yati dulu. Karena sudah malam, aku khawatir.


Perlahan-lahan aku membukakan pintu. Ternyata orang yang mengaku dari rumah sakit.


"Selamat malam, Bu. Apa benar ini rumahnya bapak Arka Putranto?" tanya orang itu. Aku mengangguk.


"Bisa bertemu dengan keluarganya?" tanyanya lagi. Aku menatapnya tajam. Aku lihat penampilannya dari atas hingga ke bawah.


"Saya istrinya. Maaf, anda siapa dan dari mana ya?" tanyaku menyelidik.


Lali dia menjelaskan, kalau dia petugas dari rumah sakit. Kedatangannya ke sini mau memberitahukan kalau mas Arka sekarang di rawat di rumah sakit. Karena tadi di hotel ada insiden. Tapi dia tidak mau mengatakan insiden apa.


Aku bingung, ini orang beneran apa mau tipu-tipu? Karena dia datangnya hampir tengah malam begini. Aku coba menghubungi nomor hapenya mas Arka, tapi gak aktif.


Orang itu merogoh saku bajunya, dan menyerahkan ponsel milik mas Arka. Aku mengambilnya dan memang benar itu milik mas Arka.

__ADS_1


Aku bergegas ke kamar, untuk berganti pakaian. Begitu juga bi Yati. Dia akan aku ajak serta. Untuk berjaga-jaga.


Kamipun berangkat ke rumah sakit, dengan menumpang mobil orang itu. Hariku udah ketar-ketir. Ada apa dengan mas Arka? Jantungku berdegup kencang.


Sampai di rumah sakit, aku mengikuti orang itu menuju ke IGD. Dan benar saja. Mas Arka ada di sana.


Aku bergegas mendekatinya. Mas Arka sudah tak sadarkan diri. Banyak selang yang di pasangkan di tubuhnya.


Seorang dokter menghampiriku. Dadaku makin berdegup kencang.


"Ibu keluarganya?" tanya dokter itu. Aku mengangguk.


Lalu dokter itu mengajak aku ke ruangannya. Dia mengatakan kondisi mas Arka. Mas Arka terkena serangan STROKE.


Aku terdiam. Air mataku mengalir kepipi. Aku serasa melayang entah kemana. Duniaku berputar. Dan...gelap.


Saat aku sadar, aku sudah ada di sebuah ruangan yang serba putih. Aku masih ditemani bi Yati. Juga ada ibu di sebelahnya.


Aku membuka mata. Berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Ibu langsung mendekatiku. Menggenggam tanganku.


"Ibu...mas Arka..." ucapku terbata. Ibu menangis sesenggukan. Aku goncang-goncang tangan ibu.


"Mas Arka mana, Bu?" tanyaku lagi. Ibu melepaskan pelukannya. Menghapus air matanya.


"Arka di ruangan sebelah, Ar" jawab ibu. Aku segera bangkit dari tidurku. Bi Yati membantuku.


Ibu berjalan ke arah kamar sebelah. Aku mengikutinya, juga bi Yati. Sesampainya di kamar sebelah, aku melihat mas Arka masih tak sadarkan diri. Masih banyak selang yang terpasang di tubuhnya.


Ibu menggenggam tanganku lagi. Erat. Aku memandang ke arah ibu. Ibu kembali menangis.


Aku mendekat ke ranjang mas Arka. Aku tatap wajahnya. Pucat. Seperti...tak ada darah yang mengalir.


Aku goncang tubuh mas Arka. Aku panggil-panggil namanya. Tapi mas Arka tak menjawab. Aku menangis sejadi-jadinya.


"Bu...mas Arka..." tangisku histeris. Ibu memelukku erat.

__ADS_1


Seorang dokter dan beberapa perawatnya masuk ke ruangan mas Arka. Dokter itu memeriksa kondisi mas Arka. Agak lama mereka memeriksanya.


Ibu masih terus memelukku. Tangisnya sesenggukan. Sampai kemudian dokter selesai dengan pemeriksaannya.


"Sementara pasien di rawat dulu ya, Bu" ucap dokter itu.


"Kita lihat dulu perkembangannya. Semoga pasien bisa segera sadar kembali" lanjut dokter itu.


"Tapi anak saya masih bisa di sembuhkan, kan Dok?" tanya ibu.


"Kita selalu mengusahakan yang terbaik buat pasien, Bu. Kita lihat perkembangannya dulu ya" jawab dokter.


"Saya permisi dulu, Bu" ucap dokter itu lagi. Lalu melangkah keluar.


"Kalau ada apa-apa, ibu bisa menghubungi kami lewat tombol yang ini ya, Bu" ucap salah satu perawat, sambil menunjukan salah satu tombol di atas tempat tidur mas Arka. Aku dan ibu mengangguk.


Malam ini, aku dan ibu, juga bi Yati menginap di rumah sakit. Kami bergantian menjaga mas Arka. Berharap ada reaksi dari mas Arka.


Tapi sampai pagipun, belum ada reaksi apa-apa dari mas Arka. Dia masih tetap diam.


Saat visit dokter, mas Arka di periksa kembali. Beberapa obat di masukkan ke dalam kantung infusnya.


Sampai beberapa hari kondisi mas Arka tak juga ada kemajuan. Dia masih saja terdiam.


Dokter menyarankan untuk membawa mas Arka ke rumah sakit yang lebih besar. Untuk mendapat penanganan lebih lanjut.


Kami pun menuruti saran dokter. Dan membawa mas Arka ke rumah sakit yang lebih besar, yang telah di rujuk.


Sedikit ada perkembangan di sana, setelah beberapa hari mas Arka di rawat. Tubuh bagian kirinya lumpuh total. Muka mas Arka seperti mencong ke kiri.


Dia tidak bisa respon apapun. Hanya bisa melihat dengan tatapan kosong. Hampa.


Dia tak mampu untuk berdiri. Hanya duduk. Itu pun mesti disangga punggungnya.


Miris melihat kondisi mas Arka. Aku dan ibu hanya bisa menangis melihatnya.

__ADS_1


Selama mas Arka di rawat, aku dan ibu hampir tak pernah pulang ke rumah. Disamping karena jaraknya yang jauh, kami juga selalu ingin mendampingi mas Arka, dan melihat perkembangannya.


Aku sampai mengabaikan kandunganku. Bagiku sekarang yang paling penting, mas Arka bisa sembuh. Walaupun dokter telah memvonis kalau mas Arka STROKE.


__ADS_2