SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 132 KEBODOHAN MILA


__ADS_3

Aku benar-benar kabur dari rumah. Bukan karena Doni meski aku kaburnya dengan Doni.


Aku tak punya alasan apapun untuk bisa keluar rumah tanpa mas Arka.


Dan saat kesempatan itu ada di depan mata, langsung saja ambil langkah seribu.


Aku tak pedulikan resiko nantinya. Yang penting urusanku sekarang bisa segera beres.


Daripada harus stres setiap hari memikirkan hal yang masih ngambang.


Mobil Doni benar-benar sudah di tempat biasa. Aku langsung saja membuka pintu depan dan naik.


"Ayo cepetan jalan, Don. Nanti keburu mas Arka melihat kita." Padahal jelas enggak mungkin karena mas Arka masih ada di kamar mandi.


Dia juga enggak akan berfikir kalau aku kabur. Paling teriak-teriak mencariku di setiap sudut rumah.


"Memangnya kamu enggak pamit?" tanya Doni.


"Memangnya aku mesti pamit bagaimana coba?"


Doni hanya nyengir saja. Lalu segera tancap gas. Sementara aku mematikan ponselku.


Setelah agak jauh, aku meminta Doni mampir cari sarapan dulu.


"Kamu belum sarapan?" tanya Doni.


"Belum, Don. Aku bangun kesiangan."


Doni menoleh dan menatapku tajam.


"Kenapa?" tanyaku bingung. Karena merasa tak ada yang salah dengan ucapanku.


"Kalian semalam...?"


Ah, aku tahu maksud dan arah pertanyaan Doni. Pasti dia mengira semalam kami bermesraan sampai pagi, lalu bangunnya kesiangan.


"Enggak, Don. Semalam gerah banget. Kamu kan tahu sendiri rumahku tak ada AC-nya."


"Terus kamu...?"


"Apa? Buka baju? Enggaklah," sahutku.


"Kenapa enggak? Kalian kan suami istri." Wajah Doni berubah muram.


"Untuk saat ini enggak dulu, Don. Aku tak mau mas Arka terinfeksi juga. Aku harus memastikan kalau diriku aman."


"Dan setelah aman, kalian akan...." Kembali Doni tak melanjutkan kalimatnya. Tapi aku paham maksudnya.


"Don, aku kan sudah bilang, aku akan kembali memperbaiki rumah tanggaku. Aku tak mau gagal, Don. Meski aku telah menjadi seorang...penghianat."


"Dan melupakan aku." Doni terlihat semakin sedih. Kasihan, pastinya. Tapi aku tak mau kembali melakukan dosa lagi. Cukup sudah apa yang selama ini aku lakukan.

__ADS_1


"Don. Kita punya rumah tangga masing-masing. Cobalah untuk memperbaikinya. Kamu kembalilah pada Maya. Kasihan dia. Di saat seperti ini dia butuh support."


"Aku selalu support dia. Apapun yang dia mau, aku berikan. Bahkan saat dia tak mau berpisah denganku pun, aku turuti. Walaupun sebagai suami aku juga butuh perhatian. Kasih sayang. Bukan cuma dicurigai dan dimintai uang saja," ucap Doni panjang lebar.


"Cobalah untuk bicara padanya, Don. Mungkin ada jalan keluar untuk kalian."


"Jalan keluar apa? Kami bersama lagi, dan aku akan benar-benar terinfeksi virus sialan itu?" Doni terlihat emosi.


"Bukan begitu juga, Don. Maksudku kalian bisa konsultasikan ke dokter. Biar tau apa yang harus kalian lakukan sebagai suami istri. Dan apa yang harus kalian hindari." Aku berusaha menjelaskan pada Doni.


"Kamu gampang saja bilang begitu. Nyatanya kamu sendiri? Apa kamu punya jalan keluar selain tadi kabur?" tanya Doni yang terasa menusuk tepat di jantungku.


Memang paling gampang itu memberi saran pada orang lain. Giliran kita berada di posisi yang sama, seperti tak ada jalan keluar lagi.


"Ya sudah, Don. Masih pagi. Jangan berdebat dulu. Aku laper."


Doni kelihatannya lupa mencari tempat buat kami sarapan.


Tanpa banyak bertanya lagi, Doni membelokan mobilnya ke sebuah rumah makan yang kebetulan sudah buka.


Aku memesan makanan seadanya. Karena menunya masih belum lengkap. Yang penting aku makan dulu. Takutnya nanti di sana harus mengantri lama.


"Don. Kamu hubungi Mila. Tanyakan jam berapa dia ke rumah sakit."


"Kenapa enggak kamu saja yang menghubungi? Kamu kan tau sendiri kalau aku malas berhubungan dengan Mila," jawab Doni.


Aku menahan tawaku, dengan menutup mulutku pakai tangan.


"Lha kemarin kan kalian saling berbagi kabar. Sampai kamu mau ikut ke rumah sakit."


"Dia yang menghubungiku! Kalau enggak karena kamu, aku juga enggak akan pergi!" sahut Doni ketus.


"Ya udah, sini pinjam hape kamu. Hapelu lowbath," ucapku berbohong.


"Kenapa tadi enggak dicharge di mobil?" tanya Doni.


"Lupa." Jawaban yang paling tepat untuk kebohonganku.


Doni menyerahkan hapenya. Dan aku mulai mencari nomor kontaknya Mila.


"Hay, Mil. Ini aku, Aryani. Kamu dimana?" tanyaku saat Mila sudah mengangkat telponku.


"Aku barusan dari rumah kamu, Ar. Kata suami kamu, kamu pergi enggak pamit," jawab Mila tanpa rasa berdosa.


Alamak, siapa juga yang mengijinkan dia ke rumah? Jangan sampai Mila mengatakan kalau kami janjian ke rumah sakit.


"Kenapa kamu ke rumahku, Mila?" tanyaku dengan kesal.


"Ya biar kita bisa jalan bareng."


Ingin rasanya aku cakar-cakar muka Mila yang glowing. Aku sudah setengah mati mencari cara untuk pergi, sampai akhirnya kabur, eh malah dia ke rumahku.

__ADS_1


Doni tertawa terbahak-bahak.


Aku yang kesal pada Mila, lalu mematikan panggilan.


"Bodoh sekali si Mila. Mestinya kan dia konfirmasi dulu sama aku," Aku bersungut-sungut.


"Udah. Jangan marah-marah. Dia kan soulmate kamu," ledek Doni.


"Bagaimana kalau Mila mengatakan kalau kita janjian ke rumah sakit?" tanyaku pada Doni dengan kesal.


"Kesalnya sama Mila. Jangan sama aku dong," ucap Doni.


"Iya! Udah ah. Aku lapar. Mau makan dulu."


Aku menyuap makananku. Dasar Mila bodoh. Ceroboh. Aku masih saja kepingin memaki Mila.


Yang dipikir cuma dandan terus jadi otaknya eror. Wajah glowing tapi otak butek! Aku masih terus saja merutuki Mila.


Sampai makan kami selesai, aku masih malas bicara gara-gara kebodohan Mila.


"Udah yuk. Kita temui Mila. Mungkin dia sudah sampai di rumah sakit." ajak Doni.


Aku menurut dan mengikuti langkah Doni setelah membayar makan kami.


Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, aku masih malas bicara. Aku hanya ingin memaki Mila.


Doni senyum penuh kemenangan. Karena temanku itu sukses membuat aku kesal.


"Kira-kira Mila sudah sampai belum, ya?" tanya Doni.


"Mana aku tau!" Aku mengangkat bahuku.


"Coba kamu telpon, Ar," perintah Doni.


"Kamu saja yang telpon. Malas aku bicara sama orang bodoh!"


Doni semakin puas tertawa.


Tapi aku malah curiga, kenapa Mila enggak telpon balik setelah aku mematikan panggilan tadi?


Mestinya dia telpon balik dan kasih kabar. Biar kita enggak saling mencari dan menunggu.


"Masih belum mau telpon Mila?" tanya Doni.


"Entar aja, kalau sudah sampai sana."


Doni menurut. Dan tak lama kami sampai di rumah sakit. Melihat aku masih kesal, Doni sendiri yang menelpon Mila. Mila mengatakan kalau dia masih di bagian pandaftaran.


Doni bertanya pada seorang security di mana tempat pendaftran.


"Di sana, Pak." Security itu menunjuk ke suatu tempat.

__ADS_1


Aku mengikuti arah tangan security itu. Di sana aku melihat Mila sedang berdiri dengan mas Arka.


__ADS_2