
"Mas Arka...." gumamku. Tubuhku terasa kaku terpaku. Mataku tak lepas dari sosok mas Arka yang berdiri jauh di sana.
Untung saja banyak orang lalu lalang di sana, jadi mas Arka tak melihatku dan Doni.
"Kita pergi saja, Don," ucapku. Aku raih tangan Doni. Dan menariknya.
"Kenapa? Kita hadapi saja. Aku siap dengan segala konsekuensinya," ucap Doni.
"Tidak, Don. Aku tidak mau menanggung apapun konsekuansinya."
"Tapi kamu sudah terlanjur kabur. Dan si bodoh Mila sudah terlanjur mengajaknya ke sini," ucap Doni memaksaku. Aku menggeleng.
"Tidak! Aku tetap akan pergi." Aku lepaskan tangan Doni dan berbalik melangkah sendiri. Tak urung, Doni mengikutiku juga.
"Ar. Aku akan bertanggung jawab padamu, apapun yang terjadi," ucap Doni sambil mengikuti langkahku.
Setelah agak jauh dan yakin tak terlihat oleh mas Arka, aku menoleh.
"Dan mas Arka akan terluka? Don, dia baru sembuh dari stroke. Kalau aku serang lagi otaknya dengan masalahku, dia bisa mati!"
Aku mendekat ke mobil Doni. Dan tanpa aku minta lagi, Doni membuka pintu mobil. Kami segera naik. Dan Doni melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.
"Lalu kenapa kalau dia mati? Bukankah kemarin-kemarin juga dia sudah seperti orang mati?" tanya Doni.
"Itu bukan karena aku. Dan aku tak mau menjadi penyebabnya mati!"
"Oh! Mulia sekali hati kamu, Aryani!" ucap Doni sarkas.
"Tidak perlu menyindirku, Don. Aku memang istri bejad. Tapi aku bukan seorang pembunuh. Aku tak mau membuat orang, mati karenaku!"
"Tapi dengan keputusanmu ini, kamu akan membuatku mati, Aryani!" sahut Doni.
"Don. Jangan membuatku merasa bersalah padamu. Aku kan sudah pernah bilang padamu, lupakan semuanya karena yang kita lakukan adalah suatu kesalahan!"
"Tidak buatku!" sahut Doni lagi.
"Bagiku kamu adalah nyawaku. Hidupku. Please Ar, kita hadapi bersama." Doni terus saja meminta bahkan memohon padaku. Dan aku tetap menggelengkan kepalaku.
"Kenapa kamu begitu keras kepala, Aryani?" Suara Doni bergetar.
"Aku mencintainya, Don. Aku tak mau dia terluka."
"Tidak! Kamu tidak mencintainya! Kamu mencintaiku!" seru Doni. Aku menoleh ke arahnya. Lalu menggeleng.
"Kalau kamu mencintainya, kamu tak akan pernah menghianatinya," ucap Doni lagi.
"Ada saatnya manusia khilaf, Don. Dan anggap saja saat itu aku sedang khilaf."
"Tidak! Kamu tidak sedang khilaf. Kamu sadar saat melakukannya. Bahkan kamu menikmatinya, kan?" Doni menyentuh pipiku dengan satu tangannya. Aku menghindar. Aku tak ingin lagi ada sentuhan fisik dengannya.
Hape Doni berdering. Doni mengambil dari kantong kemejanya, lalu menyerahkan padaku.
Mila yang menelpon. Aku tak mau mengangkatnya.
"Kamu saja yang bicara." Aku menawarkan pada Doni.
"Oke," jawab Doni. Lalu aku geser tombol hijau.
__ADS_1
Aku tetap memegangi hape Doni dan menempelkan di telinganya.
"Hallo...."
Suara mas Arka. Tanganku langsung terasa lemas. Dan tak sadar hape Doni jatuh.
Suara mas Arka masih bisa aku dengar. Aku kembali mengambil hape Doni yang jatuh, agar tak memgganggu konsentrasi Doni menyetir.
Lalu mematikannya. Aku sandarkan kepalaku di sandaran jok. Sambil merutuiki sikap Mila.
Apa maksud Mila melakukan semua ini? Mestinya Mila tahu resikonya kalau sampai mas Arka tahu semuanya. Bukan malah melibatkannya seperti ini.
Doni melajukan mobilnya ke arah apartemennya. Aku tak menolak, meski aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak ke sana lagi.
Tapi saat ini, tak ada tempat yang lebih aman dari apartemen ini. Mila tak mungkin menyusul ke sini, karena dia tak pernah tahu.
Sampai di dalam apartemen, Doni menyerahkan kembali hapenya. Ada satu pesan dari Mila.
Dia menanyakan kami ada di mana. Aku tak membacanya. Hanya mengintip saja. Biar Mila tahu kalau aku maupun Doni tak membacanya.
Aku merebahkan badanku di sofa. Kepalaku terasa berdenyut. Berkunang-kunang.
"Don."
Doni langsung menghampiriku.
"Ada apa?"
"Kepalaku pusing. Aku tidur dulu, ya. Tolong jangan ganggu," pintaku.
Doni menyentuh dahiku. Lalu mengecupnya dengan lembut. Aku memejamkan mata. Berusaha menghilangkan perasaan yang merayap dalam hatiku.
"Aku pindahkan ke kamar, ya?" Doni berjongkok di sisiku.
"Enggak, Don. Di sini saja."
"Di sini tidak nyaman, kamu malah bisa semakin pusing."
Dan tanpa menunggu persetujuanku, Doni mengangkatku. Kepalaku malah semakin berdenyut. Bahkan aku merasa kehilangan kesadaranku. Entah apa yang sedang terjadi dengan kepalaku.
Aku masih bisa merasakan saat Doni membaringkanku. Dan sekali lagi Doni menyentuh dahiku dengan telapak tangannya.
Bahkan aku bisa mendengar saat hape Doni kembali berdering. Sepertinya ada panggilan masuk. Tapi entah siapa.
Aku bisa mendengar langkah Doni meninggalkan kamar, dan menutup pintunya. Tapi aku tak bisa melihat.
Aku berusaha menggerakan tanganku. Menggapai apa saja yang ada di dekatku. Aku naik turunkan tanganku, kakiku, semua masih terasa.
Aku masih sadar. Tapi kenapa mataku sulit sekali aku buka?
Doni kembali masuk ke kamar.
"Don." Aku masih bisa mendengar suaraku sendiri meski sangat pelan.
"Iya. Aku di sini. Istirahatlah." Doni membelai kepalaku. Dan aku sudah tak bisa lagi menahan rasa kantuk.
Hingga entah sudah berapa lama aku tertidur, perutku terasa sangat lapar.
__ADS_1
"Don."
"Iya. Aku di sini."
Aku membuka mataku. Aku lihat Doni masih berada di tempat yang sama seperti saat aku mau tidur tadi. Berarti aku tertidur sebentar.
"Jam berapa ini?" tanyaku.
Doni melihat jam di pergelangan tangannya.
"Jam tujuh malam."
Aku langsung melonjak dan bangun. Duduk di tempat tidur dan memandang Doni.
Aku ambil tangan Doni. Benar, jam tujuh malam.
"Aku tidur lama sekali, ya?" tanyaku.
"Sangat lama," jawab Doni.
"Kenapa kamu enggak membangunkanku?"
"Kamu lupa dengan omonganmu tadi siang di sofa?"
Aku menggeleng.
"Kamu bilang tak ingin diganggu dulu. Makanya aku tidak mengganggumu."
Aku berusaha mengingatnya. Benar juga. Tadi kepalaku terasa sangat sakit.
"Tadi aku memanggil dokter karena khawatir dengan keadaanmu yang tidur kayak....orang mati," ucap Doni.
"Dokter?"
Doni mengangguk.
"Lalu apa kata dokter?" tanyaku penasaran.
"Dia bilang, tekanan darah kamu turun. Kamu kelelahan. Terutama pikiranmu. Kamu terlalu lelah berfikir. Makanya, maaf, tadi dokter menyuntikan obat penenang padamu."
Owh. Aku baru paham kenapa aku lama sekali tertidur. Rupanya pengaruh obat penenang.
"Sekarang aku lapar, Don."
Pintu kamar terbuka. Mas Arka muncul dari sana. Dia membawakan aku makanan dan minuman di atas nampan.
Aku mengedipkan mataku agak lama sebelum menajamkan pandanganku.
"Mas Arka...."
"Iya." Mas Arka mendekatiku. Lalu Doni menyingkir dan membiarkan mas Arka duduk menggantikannya.
Kalau boleh meminta aku ingin tak sadar lagi seperti tadi. Biar aku tak melihat mas Arka di sini. Di apartemen Doni. Di kamar Doni. Di atas tempat tidur Doni.
Aahhkk!
Aku membuka mataku dan langsung beranjak duduk.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Ar?"
Doni. Mataku menatap ke sekeliling. Tak ada mas Arka. Aku menghela nafas lega. Rupanya aku hanya mimpi.