SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 103 MULAI MENGINGAT


__ADS_3

Aku menggeliatkan badan lagi. Seluruh persendianku terasa mau patah. Mungkin terlalu lama tertidur.


Saat kubuka mataku, masih tak ada siapa pun. Yang aku lihat hanya dinding berwarna putih.


Aku mengerjap-ngerjapkan mata lagi. Aku coba melihat ke sekelilingku.


Syukurlah, aku sudah bisa melihat benda-benda lain. Ada televisi yang menempel di dinding. Ada sebuah meja dan juga ada sofa kecil.


Aku coba gerakan tanganku. Dimulai dengan jari. Bisa. Spontan aku menatap jemariku.


Aku angkat tanganku. Bisa lagi. Aku angkat lebih tinggi lagi.


Oh, aku bersyukur masih bisa bergerak. Artinya aku belum mati.


Giliran aku menggerakan kakiku. Terus dan terus hingga selimut yang menutupinya tersingkap.


Aku masih hidup. Aku bisa bergerak. Hanya kepalaku yang masih sangat pusing. Setiap aku memandang ke sekeliling terasa ikut berputar juga.


Dan aku baru menyadari ada alat penyangga di leherku. Ada apa dengan leherku?


Aku coba raba. Tanganku merasakan ada benda yang menahan leherku.


Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Dan kenapa aku bisa berada di sini.


Tiba-tiba bayangan tentang kejadian sebelum akhirnya aku tumbang, melintas di kepalaku.


Bayangan tentang bagaimana mas Teguh yang hendak memperkosaku lagi. Hingga bayangan mas Arka yang datang berniat menolongku. Tapi mas Teguh malah menyerangnya.


Ya, mas Teguh. Aku jadi merinding sendiri membayangkan kekejamannya. Bagaimana kalau dia tiba-tiba datang ke sini dan mencelakai aku lagi?


Sedangkan kondisiku sedang tak berdaya. Siapa yang akan menolongku?


Lalu mas Arka. Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia baik-baik saja setelah penyerangan itu?


Tidak! Aku tak yakin kalau dia baik-baik saja. Aku masih ingat bagaimana dia mengerang seperti kesakitan.


Aku masih ingat bagaimana mas Teguh mendorong kursi roda mas Arka hingga terhempas dengan keras ke tembok. Dan mas Arka yang terpelanting jatuh ke lantai, lalu mas Teguh menendang bahkan menginjak kepalanya.


Aku juga masih ingat saat aku memukulkan vas bunga ke bagian belakang kepala mas Teguh hingga mengeluarkan banyak darah.


Dan bagaimana mas Teguh berbalik badan dan menyerangku.


Bayangan-bayangan menakutkan itu berkelebat-kelebat di kepalaku. Hingga nafasku terasa memburu.


Tiba-tiba aku merasa sangat takut. Takut mas Teguh akan mendatangiku.

__ADS_1


Aku putar mataku untuk melihat ke sekeliling. Tak ada siapapun dan pintu tertutup.


Sampai kemudian, tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Dan...


"Aakh...!" Spontan aku berteriak. Dalam bayanganku, mas Teguh yang masuk ke ruangan serba putih ini.


Spontan juga seorang perawat yang barusaja masuk berlari mendekat ke arahku.


Tapi dalam bayanganku, itu adalah mas Teguh.


"Tidaak...! Jangan...! Ampun mas, ampuun...!" Teriakku.


"Bu...Ibu! Ini saya, Bu. Perawat di sini. Saya tidak akan mencelakai ibu!"


Perawat itu memegangi bahuku dengan kencang. Aku yang memejamkan mata setelah menjerit tadi, membuka mataku lagi.


Aku tatap orang yang ada di dekatku. Benar dia perawat. Lalu aku lihat dari pintu muncul dua orang perawat lagi.


"Ada apa, Lusi?" Tanya salah satu perawat yang baru saja masuk.


"Ibu ini sepertinya sudah siuman. Lalu mengingat kejadian sebelumnya. Benar begitu, Bu?" Tanya perawat yang bernama Lusi itu kepadaku.


Aku mengangguk dengan lega. Karena kekhawatiranku tak terbukti.


"Ibu sudah ingat kejadian sebelumnya?" Tanya Perawat Lusi. Aku mengangguk.


Aku mengangguk lagi, sambil memandang wajahnya yang meneduhkan meski usinya masih sangat muda.


"Ibu bisa bicara?" Tanya Lusi karena dari tadi aku hanya mengangguk saja.


Aku menggeleng. Karena aku belum mencobanya.


"Tadi bisa teriak. Berarti ibu bisa bicara. Coba jawab pertanyaan saya tadi. Atau ibu mau bertanya pada saya?" Lusi memancingku untuk bicara.


"E...en...entahlah." Suaraku keluar juga. Tapi terasa tercekat di tenggorokan.


Lusi tersenyum mendengarnya. Perawat yang lain keluar meninggalkan ruanganku.


"Ibu haus?" Tanya Lusi. Aku mengangguk.


Lalu dengan telaten, Lusi memberiku minum air putih dengan sedotannya.


"Sementara ibu minum pakai sedotan dulu, ya? Nanti kalau leher ibu makin membaik dan ibu sudah bisa mengangkat kepala, boleh langsung dari gelas." Aku kembali mengangguk mendengar penjelasan Lusi. Lalu menyedot air putih darinya.


Akh. Segar sekali tenggorokanku.

__ADS_1


"Sudah, Sus." Aku terkejut karena aku bisa bicara lagi.


"Bagus. Ibu sudah bisa bicara. Perkembangan yang sangat luar biasa" ucap Lusi.


Lalu dia terus memancingku untuk bicara. Hanya obrolan ringan saja. Hingga membuatku capek.


"Sekarang ibu istirahat saja dulu. Sebentar lagi waktunya makan malam. Nanti saya ke sini lagi untuk mengantarkannya."


Lusi membetulkan selimutku dan mengecek cairan infusku. Lalu keluar dari ruangan perawatanku.


Beruntung sekali aku bertemu dengan perawat sebaik Lusi, di saat kondisiku sedang tidak berdaya.


Jam enam sore perawat yang bernama Lusi datang lagi ke ruanganku. Dia membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Selamat malam, Bu. Bagaimana kondisi Ibu?" tanya Lusi dengan ramah.


"Baik, Sus." Aku terkejut sendiri. Ternyata aku masih bisa ngomong dengan jelas.


Lusi tersenyum padaku. Lalu meletakan nampan itu di atas meja.


"Makan dulu ya, Bu." Lusi menaikan sandaran tempat tidurku hingga aku bisa agak tegak duduk.


"Terima kasih, Sus." Akh, aku jadi kepingin ngomong terus. Karena tadi aku pikir, aku sudah tidak bisa bersuara lagi.


Lusi perlahan-lahan menyuapiku. Sambil bercerita seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya.


"Sus, boleh aku tahu siapa yang membawaku ke sini?" tanyaku. Sedikit-sedikit aku sudah bisa mengingat kejadian yang membuatku terkapar.


"Entah, Bu. Saya tahunya ibu sudah di kamar ini. Apa ibu sudah bisa mengingat semuanya?"


"Bisa dibilang begitu. Tapi ya mungkin masih ada yang lupa juga" sahutku.


"Pelan-pelan saja mengingatnya, Bu. Jangan dipaksakan dulu. Karena kepala ibu mengalami benturan yang keras. Besok pagi biar dokter yang menjelaskannya." Aku mengangguk.


"Oh, iya Sus. Bagaimana caranya ya aku bisa mendapatkan hapeku lagi. Karena seingatku, saat peristiwa itu aku masih memakai tasku" tanyaku.


Aku berfikir dengan adanya hape, aku bisa menghubungi Doni mungkin. Dia juga berhak tahu apa yang terjadi padaku.


"Besok saja ibu tanyakan pada Dokter. Mungkin besok orang dari kepolisian akan kemari kalau tahu ibu sudah siuman."


Aku mengangguk mengerti. Bagaimanapun kasusku pasti akan sampai ke polisi.


Entah siapa yang melaporkan kejadiannya. Karena setahuku kami bertiga terkapar.


Aku ingat ketika ada sekelebat bayangan yang memukul mas Teguh hingga dia ambruk.

__ADS_1


Siapa dia ya? Kalau itu bi Yati, apa dia seberani itu? Lagi pula sejak pertama aku masuk rumah, tak ada tanda-tanda bi Yati ada di rumah.


Bahkan aku tak mendengar suara anakku. Astaga! Aku baru ingat, dimana anakku sekarang?


__ADS_2