SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 59 CUMA KHILAF


__ADS_3

Aku dan Yola bergegas ke pos satpam. Kebetulan di sana sedang berjaga beberapa satpam. Tidak seperti biasanya yang hanya satu atau dua orang saja.


"Eh, Bu Yola. Kapan pulang, Bu?" sapa salah satu satpam yang bernama pak Budi. Dia memang cukup akrab dengan Yola.


Dulu waktu Yola masih tinggal di sini, sering dimintai tolong oleh Yola.


Dan dia juga yang pernah menungguiku waktu aku pingsan. Bahkan memberiku ongkos saat aku mau ke rumah ibu mertuaku.


"Barusan aja, Pak" sahut Yola. Lalu Yola menginterogasi semua empat orang satpam yang kebetulan sedang berkumpul di pos.


Yola layaknya seorang detektif, dia menanyakan ini itu secara detail.


"Kalau gak salah, malam itu sekitar jam dua malam. Mas Bima datang naik motor. Karena yang saya tau, dia juga tinggal di sini, saya membukakan portalnya" jawab salah satu teman pak Budi.


"Lalu jam berapa kira-kira Bima pergi lagi, Pak?" tanya Bima.


"Saya tidak tau, Bu. Karena saya malam itu berjaga sendiri. Pak Budi sedang ijin karena anaknya sakit. Benar kan Pak Budi?" Di jawab anggukan oleh pak Budi.


"Lalu jam lima saya balik lagi ke pos, ambil topi saya terus saya pulang, karena perut saya agak sakit. Dan saya pikir sebentar lagi sudah ganti shif. Pak Budi yang gantian jaga pagi bareng pak Anton" jawab orang yang bernama pak Basuki.


"Jadi tidak ada yang tau kalau Bima pergi lagi?" tanya Yola. Semuanya menggeleng.


"Sebenarnya setelah kejadian, saya sudah lapor ke kantor Polisi. Saat Polisi datang, Bu Aryani malah pingsan sampai Polisi itu pergi lagi" ucap pak Budi.


"Setelah Bu Aryani siuman, saya sudah menyarankannya untuk datang ke kantor Polisi. Melanjutkan penyelidikan. Tapi kelihatannya Ibu Aryani tidak melakukannya kan, Bu?" ujar pak Budi, yang saat aku pingsan menemaniku di rumah.


Aku menggeleng. Yola menatapku, seakan dia minta penjelasan padaku.


"Aku sangat shock, Yol. Aku tak bisa berfikir apa-apa" jawabku membela diri.


"Dan kamu membiarkan malingnya bebas begitu saja?" tanya Yola, dengan mata yang menatap tajam ke arahku.


Aku menundukan wajahku. Tak berani menatap mata Yola. Karena aku yang salah. Tak datang ke kantor Polisi setelah aku siuman.


"Ya sudah bapak-bapak, terima kasih atas semua informasinya. Biar nanti selanjutnya kita yang akan menyelesaikannya" ucap Yola, lalu mengajak aku pulang kembali ke rumah.


"Kalau perlu keterangan lain, kami siap membantu, bu Yola" ucap pak Budi, sebelum kami berlalu.

__ADS_1


"Iya, Pak. Terima kasih sekali lagi. Permisi" sahut Yola, lalu kami bergegas kembali ke rumahku.


Aku merasa sangat tidak enak dengan Yola. Aku yang kena musibah, malah dia yang repot mikir.


Dan kenapa juga aku tak pernah mencurigai Bima? Apa karena aku yang sudah terlanjur menyukainya? Walaupun pada akhirnya aku bisa menolaknya.


Atau karena penolakanku, lalu Bima melakukan semua itu padaku? Karena selama ini sikap Bima sangat baik dan tak ada yang mencurigakan.


Dia sering membawa mobil mas Arka sebelum dijual, untuk urusan pribadinya. Dan dia akan kembali lagi tepat waktu.


Di kamar pun, dia tak pernah mengambil uangku se-sen pun, meski aku meletakannya sembarangan.


Sampai di rumahku, aku segera masuk ke kamarku. Aku kepingin melihat mas Arka. Yola mengikutiku.


Posisi mas Arka sudah sangat mendekati pintu kamar. Sehingga aku hampir saja mengenainya saat membuka pintu.


"Dia sudah bisa bergerak, Ar?" tanya Yola. Aku mengangguk. Yola tersenyum mendengarnya.


"Ayo kita pindahkan Arka ke atas tempat tidur. Kamu membantu memegangi aja. Biar aku yang angkat. Kasihan kan Arka beberapa hari di lantai terus."


Akhirnya mas Arka berhasil kami pindahkan. Wajah mas Arka terlihat gembira. Mungkin dia pegal di lantai terus.


"Tapi nanti kalau mas Arka bergerak, dia bisa jatuh, Yol" ujarku.


"Semoga enggak. Lagian posisinya agak jauh. Kalau di lantai kan licin, jadi dia bisa mudah bergeser. Di sini kan agak susah, Ar" ucap Yola.


Aku mengangguk dan menghela nafasku. Bagaimana pun, aku bersyukur akhirnya mas Arka tak tidur di lantai lagi.


Aku juga tak perlu ikut tidur di lantai. Badanku pegal semua. Dan kalau pagi perutku langsung mules kena dinginnya lantai.


"Aku lapar, Ar. Kamu masak apa hari ini?" tanya Yola.


Aku menggeleng lemah. Yola pasti masih ingat, kita dulu sama-sama hobi memasak. Dan kita selalu berbagi masakan.


Bahkan aku selalu makan siang di rumahnya, diawal-awal kehamilanku.


"Ya udah, kita pesan makanan lewat aplikasi saja" ucap Yola. Aku hanya diam, lalu berjalan keluar kamarku.

__ADS_1


"Untung aku belum menghapus aplikasinya" lanjut Yola. Lalu dia asik berburu makanan kesukaannya yang katanya tak bisa ditemukannya di luar negeri.


"Kamu mau pesan apa, Ar? Sekalian buat makan malam Arka juga" ucap Yola.


Aku lalu mengambil ponsel Yola dan memilih makanan yang aku inginkan. Dan juga memilihkan makanan untuk mas Arka.


"Pilih sesukamu, Ar. Nanti kita makan bersama-sama. Aku kangen makan bersama kalian lagi" ucap Yola. Yang aku jawab dengan anggukan saja, karena aku sedang sibuk memilih makanan.


Beberapa hari hidup serba kekurangan, membuat mataku berbinar-binar melihat gambar makanan yang menggoda iman. Kayak orang yang gak pernah makan setahun aja.


Setelah selesai memilih, aku menyerahkan kembali ponsel Yola. Lalu Yola segera menyelesaikan pesanan kami.


"Ar, malam ini boleh kan kalau aku menginap di sini? Aku malas kalau tidur sendirian di rumahku. Lagian aku masih kangen banget sama kalian" pinta Yola.


Dengan sangat senang hati, aku menerima permintaan Yola. Aku juga masih kangen banget sama Yola.


Dan beberapa hari serasa hidup sendirian, menanggung semua masalah ini sendirian, membuatku nyaris gila.


Tak ada teman bercerita. Tak ada teman berbagi. Semua aku jalani sendirian.


Kadang ingin berteriak yang kencang. Kadang ingin menangis yang keras. Bahkan kadang ingin rasanya aku membanting semua barang-barang yang ada di hadapanku.


"Menginaplah di sini sesukamu, Yol. Aku butuh teman. Sepi sekali hidupku sejak mas Arka sakit" jawabku.


Lalu kami lanjutkan dengan bercerita tentang apapun, sambil menunggu pesanan makanan kami di antar.


"Yang namanya Bima itu ganteng ya?" tanya Yola tiba-tiba. Membuatku kaget dan salah tingkah.


Aku gak ngira kalau Yola akan menanyakan hal itu. Bagaimana aku akan menjawabnya?


"Hey, ditanya malah bengong!" ucap Yola, menepuk pipiku pelan.


"Hayo, jangan-jangan kamu naksir dia ya?" Yola menggodaku.


Aku hanya menghela nafasku. Gak mungkin aku mengiyakan, karena aku juga gak naksir. Cuma pernah khilaf oleh pesona Bima.


Iya, cuma khilaf. Tak lebih.

__ADS_1


__ADS_2