
Siangnya aku pamit pulang. Aku pikir Doni tak mau mengantar. Malah dia yang memaksaku bareng dengannya, katanya sekalian jalan.
Di jalan Doni malah memintaku menemaninya ke proyek. Aku sudah menolak, tapi Doni terus memaksa.
Akhirnya aku ikuti maunya Doni. Karena aku pikir siang ini mas Arka akan diajak ke tempat terapi. Daripada nanti di rumah sendirian, mending menurut saja. Itung-itung hari perpisahan dengan Doni.
Saat baru datang ke proyek, semua masih baik-baik saja. Di sana ada juga Rudi yang menemaniku ngobrol.
Kami makan siang bersama di sebuah rumah makan yang tak jauh dari lokasi proyek.
Setelah kami makan siang dan kembali ke proyek, barulah terjadi hal yang sangat tidak aku duga.
"Don. Itu bukannya Maya?" Roni menunjuk ke arah seorang perempuan yang sedang berdiri di tengah pintu.
Mati aku! Itu istrinya Doni. Dia menatap ke arahku. Dan Doni sedang berjalan di sisiku sambil menggandeng tanganku.
Aku menepiskan tangan Doni. Doni pun tak protes.
"Enggak usah dilepas. Aku sudah lihat kok. Terusin saja!" ucap Maya dengan nada menyindirku.
Doni mendekati Maya dan menarik tangannya untuk masuk ke dalam, supaya tak banyak orang yang mendengar ocehan Maya.
Karena kebiasaan Maya, dia akan mengoceh tak karuan di depan banyak orang untuk mempermalukan Doni.
"Enggak usah narik-narik! Aku bisa masuk sendiri!" Maya menepiskan tangan Doni.
Tapi bukannya masuk, dia malah menatap nyalang ke arahku. Aku jadi serba salah. Mau aku ajak senyum dianya jutek, mau aku jutekin nanti malah bikin perkara.
Akhirnya aku memilih diam saja.
"Hebat ya, seorang resepsionis mejanya bisa pindah ke sini!"
"Diam kamu!" Doni menarik tangan Maya dan menutup pintu ruangan kecil yang dipakai untuk kantor.
Roni mengajakku menjauh agar tak mendengar pertengkaran mereka.
"Dia sering ke sini, Ron?" tanyaku setelah kami duduk di sebuah saung yang biasa dipakai pekerja untuk istirahat.
"Enggak. Aku juga enggak tahu dia tahunya dari mana. Setahuku tak ada orang yang tahu tentang proyek di sini," sahut Roni.
"Apa mungkin dia mengikuti Doni sampai ke sini?" tanyaku lagi.
"Bisa jadi. Tapi untuk apa? Selama ini setahuku jatah uang dari Doni enggak pernah terlambat. Apalagi yang dia cari?"
"Mungkin dia menginginkan lebih?"
__ADS_1
"Kan bisa dia bilang lewat telpon seperti biasanya. Enggak perlu juga nyariian Doni sampai sini." Roni terlihat kesal.
Setahuku, baik Roni maupun Sarah sangat tidak suka dengan sikap istrinya Doni. Dia merasa pernah berjasa pada Doni dan sekarang memerasnya.
"Doni pernah bilang sedang mengajukan perceraian."
"Iya. Tapi ya begitu, Maya malah menuntut balik ke Doni. Tuntutannya gede. Makanya untuk sementara masalahnya dipending dulu. Doni lagi nyari celah biar si Maya itu tidak bisa lagi menuntut," sahut Roni.
"Tapi kan mereka belum punya rumah sendiri. Artinya tidak ada harta gono gini?"
"Mestinya. Tapi Maya dan keluarganya itu licik. Mereka bisa tahu berapa penghasilan Doni dan itulah yang akhirnya jadi masalah. Pokoknya ribetlah." Roni ikutan pusing memikirkan nasib perkawinan sahabatnya itu.
"Kalian berarti dulu satu kampus?" tanyaku.
Roni mengangguk.
"Awalnya semua baik-baik saja. Meski sebenarnya Doni tak pernah mencintai Maya." Roni memulai ceritanya. Tapi aku potong dengan sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku.
"Maaf, Ron. Bukannya mereka menikah karena Maya hamil?"
"Maya menjebak Doni. Maya mengajak Doni ke sebuah pesta teman kami. Kami semua berpasangan. Doni dengan Maya, meski mereka bukan sepasang kekasih. Lalu kami yang lelaki banyak-banyakan minum. Waktu itu Doni lagi suka-sukanya minum. Dan dia juaranya meski tak dapat hadiah apa-apa."
"Konyol sekali," sahutku.
"Ya begitulah. Namanya juga anak muda."
"Saat kami semua pulang, Maya mengantar Doni pulang ke kosannya. Kosannya Doni. Tapi Mayanya malah yang enggak pulang. Karena kondisi Doni lagi banyak minum, bikin dia khilaf. Apalagi Maya memang sudah lama mengincar Doni. Dan terjadilah apa yang mestinya tak perlu terjadi."
"Owh. Jadi mereka melakukannya dalam keadaan sama-sama tidak sadar?"
"Yang enggak sadar Doni. Kalau Maya ya jelas dia sadarlah, orang dia enggak ikut minum," sahut Roni.
"Hebat ya, sekali langsung tokcer." Aku dan Roni tertawa.
"Itu namanya Doni lagi apes!" Roni menimpali sambil terus tertawa.
Kasihan juga Doni. Sampai sekarang dia harus menanggung dosanya.
"Kamu sendiri bagaimana kelanjutannya dengan Doni?" tanya Roni.
Karena aku sudah percaya pada Roni, aku ceritakan rencanaku saat ini.
Roni tampak kecewa dengan keputusanku. Apalagi saat aku juga bilang kalau mau mengambil lagi anakku.
"Sarah pasti akan sangat kehilangan, Ar." Wajah Roni berubah lesu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ron. Aku juga enggak bisa egois pada suamiku. Bagaimanapun Aryaka juga anak suamiku. Dia juga ingin berkumpul dengan anaknya."
"Bukan karena pengaruh dari teman kamu itu kan?" tanya Roni.
"Yola maksud kamu?"
Roni mengangguk.
"Enggak, Ron. Yola orang yang sangat baik. Deni, suaminya Yola juga sepupunya suamiku. Tak ada maksud jelek dari mereka."
Aku tak ingin Roni menilai jelek pada Yola dan Deni. Bagaimanapun mereka telah banyak menolong kehidupanku dan mas Arka.
Lagi pula, antara mas Arka dan Deni punya ikatan darah yang kuat. Mereka sudah sangat dekat sejak kecil.
Mungkin yang dikhawatirkan Roni kejadian berulang lagi seperti saat mas Teguh dulu memanfaatkan kami.
Tapi kan sekarang kondisinya berbeda. Kalau dulu, mas Arka dalam kondisi tak sadar. Makanya mudah sekali dimanfaatkan.
"Kondisi suamiku sekarang sudah jauh lebih baik, Ron. Pelan-pelan dia akan belajar lagi bekerja seperti dulu."
"Ya sudah. Nanti aku sampaikan pada Sarah. Semoga Sarah bisa menerimanya."
Waduh. Memangnya kalau Sarah tidak bisa menerimanya terus apa yang akan mereka lakukan pada anakku? Aku jadi berfikiran negatif.
Hampir satu jam aku dan Roni ngobrol. Maya terlihat keluar dari kantor. Dan berjalan mendekatiku.
"Apa kamu sedang merayu Roni juga? Hati-hati, Ron. Dia perempuan kesepian!"
Glek! Aku menelan ludahku.
"Kamu kan yang suaminya stroke itu? Suami lumpuh malah ditinggal selingkuh!" Maya masih saja mengata-ngataiku.
Doni berlari mendatangi kami. Lalu menarik lagi tangan Maya.
"Lepasin, Don. Aku mau kasih tahu ke perempuan gatel ini. Kalau butuh uang dan kehangatan jangan nidurin laki orang. Cari aja om-om hidung belang!"
Plak! Doni menampar pipi istrinya.
"Kamu menamparku demi perempuan ini, Don?"
"Iya! Jangan berkata sembarangan pada dia. Dia satu-satunya perempuan yang aku cintai!" Doni menekan suaranya.
Aku diam saja. Karena Roni terus saja memegangi tanganku untuk menguatkanku.
Andai saja tak dipegangi Roni, sudah aku tampar dia sebelum Doni menamparnya.
__ADS_1
Dia boleh mencaci maki aku, aku terima karena aku sadar kalau salah. Tapi jangan bawa-bawa suamiku.