
Mila mengantarkan aku pulang. Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Mila berusaha mencairkan suasana dengan mengomentari apapun yang dilihatnya di jalanan. Tapi sayangnya aku sedang tak tertarik.
"Ar. Maafkan aku," ucap Mila yang melihat aku hanya diam saja.
Aku hanya meliriknya sekilas. Bukan membenci atau marah pada Mila. Tapi aku sedang sangat sedih dan kacau.
"Seharusnya aku tak perlu bilang ke kamu, Ar. Sekarang kamu malah jadi diam begini." Mila menyesal telah mengatakannya padaku.
Aku menghela nafasku dalam-dalam.
"Kamu sama sekali tidak bersalah, Mil." Aku hela nafasku lagi.
"Aku malah berterima kasih pada kamu. Kamu telah memberi informasi yang sangat penting padaku. Meski ini sangat menyakitkan." Aku menghapus air mata yang keluar tanpa aba-aba.
"Semoga kamu kuat menghadapinya, Ar. Kalau kamu butuh bantuan, aku siap membantumu kapan saja. Jangan pernah ragu meminta bantuan padaku, Ar," ucap Mila dengan tulus.
Aku tahu Mila teman yang tulus. Dia tidak pernah itung-itungan dalam hal apapun.
Kejelekan Mila hanya satu. Dia hobi berganti pasangan kencan. Setiap menemukan yang baru, dengan atau tanpa alasan Mila akan meninggalkannya.
"Ar." Mila menepikan mobilnya.
"Ada apa?" Aku menoleh padanya. Aku sudah menghapus air mataku. Karena sebentar lagi akan sampai di rumahku. Aku tak mau mas Arka melihat aku menangis.
"Aku jadi takut." Tangan Mila menggenggam stir dengan kuat.
"Takut padaku?" Aku berfikir begitu. Siapapun pasti akan takut berdekatan dengan orang yang mengidap HIV. Karena banyak orang yang masih awam soal itu. Termasuk aku.
"Bukan." Mila menatap lurus ke depan.
"Lalu?" Aku menatap Mila yang masih saja menerawang pandangannya entah kemana.
"Aku sering berganti-ganti pasangan, Ar." Tiba-tiba tangis Mila pecah.
Aku biarkan saja dia menangis sepuasnya. Karena aku sendiri juga sedang ingin menangis. Mungkin dengan menangis akan mengurangi kesedihannya.
"Kamu pakai pengaman, kan?" tanyaku. Meski aku sendiri tak pernah pakai pengaman saat bersama Doni. Karena aku pikir Doni bersih, bukan lelaki yang suka jajan diluar.
Aku hanya mengkonsumsi obat khusus yang aku beli di apotek, untuk mencegah kehamilan yang aku minum setelah kami berhubungan.
"Itu tidak menjamin, Ar!"
__ADS_1
Iya memang. Pengaman bisa saja bocor. Atau terlambat memakainya. Atau...ah entahlah. Aku tidak begitu faham dengan cara penularan HIV. Karena selama ini, aku tak pernah berfikir kalau aku akan beresiko.
Mila kembali menangis. Tangannya memukul-mukul stir mobilnya.
"Sudahlah, Mil. Kamu mau menangis meraung-raung pun kalau memang sudah kena ya kena saja. Tidak akan ada gunanya kan?"
Walaupun aku sebenarnya pingin melakukan hal yang sama seperti Mila. Aku pingin nangis. Pingin teriak.
"Terus, aku harus bagaimana? Tertawa? Menari-nari menyambut hari kematianku, begitu?" teriak Mila seakan aku tak akan mendengarnya.
Dia pasti sangat ketakutan. Hampir sebulan sekali dia ganti pasangan yang belum jelas kebersihannya. Bahkan kadang enggak jelas asal usulnya.
Bagi Mila asal kaya dan banyak uang, usul teman tak akan pernah digubris.
"Berdoa saja, semoga virus itu menjauh dari kehidupan kita." Sok suci banget bicaraku. Jangankan berdoa, mengingat dosa saja aku enggan.
"Apa dengan berdoa terus virus itu takut? Dan tak akan menggerogoti kita?" Mila bicara seolah-olah virus itu sudah pasti ada dan bersemayam di tubuhnya.
"Minimal bisa menguatkan kita."
Mila menatapku tajam.
"Kamu sering berdoa?" Aku menggeleng. Mila tertawa, meski air matanya belum kering. Dan hidungnya masih penuh cairan.
"Kamu pikir Allah akan mendengarkan doa para pendosa seperti kita?" Mila menyamakanku seperti dia.
Sebenarnya aku tidak terima, karena meskipun aku melakukan dosa, tapi aku hanya melakukannya dengan Doni. Bukan seperti Mila yang selalu up to date.
Tapi kalau untuk marah sekarang, rasanya waktunya tidak tepat.
"Allah Maha mendengar, Mil." Ya setahuku Allah Maha mendengar, Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan banyak lagi.
"Allah akan mendengarkan doa kita para pendosa. Tapi tak akan pernah mau mengabulkannya. Kenapa? Karena kita tidak pantas mendapatkan pengampunan. Kita hanya pantas mendapatkan azab. Azab, Ar!"
Mila kembali menangisi perbuatannya. Mungkin dia sangat menyesal. Sepertiku. Tapi apa menyesal masih ada gunanya di saat-saat seperti ini?
Aku pun tiba-tiba takut dengan azab dari Allah. Aku takut Allah akan murka padaku.
Mas Arka saja yang jadi orang terlalu baik, Allah memberinya penyakit yang mengerikan. Apalagi aku?
Aku menundukan kepalaku. Ingin rasanya aku bentur-benturkan agar hilang semua dosa-dosaku.
__ADS_1
"Mil, bagaimana kalau besok kita cek darah? Untuk memastikan keadaan kita," ajakku.
"Kamu pikir aku punya banyak waktu untuk mengantri di rumah sakit? Kamu enak, sekarang kamu sudah free. Kamu bisa pergi kapan pun."
"Terus maumu bagaimana?"
Mila termenung. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang. Entah apa yang ditimbangnya.
"Oke. Besok aku akan membolos. Dan aku akan menjemputmu. Jam berapa kamu bisa pergi?" tanya Mila.
"Aku kan sudah free, aku bisa pergi kapan pun." Aku kembalikan lagi omongan Mila.
"Baik. Lebih cepat lebih baik. Dan sebaiknya, kamu juga tanya ke Doni. Apa dia tahu kabar tentang Maya atau belum?"
"Untuk apa?" Aku sudah malas berhubungan dengan Doni lagi. Karena dia aku sekarang dalam posisi yang mengerikan. Aku sangat menyesal berhubungan dengannya.
"Dia juga perlu tahu tentang kondisi istrinya. Yang pasti berhubungan dengan kondisinya juga."
Mila begitu sangat peduli pada Doni. Ini pasti bukan tanpa alasan.
"Ya, nanti aku tanyakan." Akhirnya aku mengalah. Aku juga sudah capek. Aku pingin pulang. Pingin berdoa pada Yang Maha Kuasa.
"Pulang yuk, Mil. Aku sudah capek." Mila mengangguk. Lalu menyalakan mesin mobilnya.
Kelihatannya ini terakhir kalinya Mila berganti mobil. Karena setelah ini, kemungkinan Mila akan tobat. Apapun hasil cek kita nantinya.
Ya semoga saja, ini jadi pembelajaran bagi Mila. Juga bagiku. Agar lebih berhati-hati lagi dalam bertindak.
Tapi bagaimana kalau virus itu benar-benar sudah bersemayam di tubuhku?
Aku harus pergi jauh. Jauh dari suami dan anakku. Karena aku tak ingin mereka ikut tertular.
Biarlah aku yang merasakannya sendiri. Ini takdirku. Ini azabku. Aku tak ingin menyeret orang lain. Apalagi orang-orang yang aku sayangi.
Mobil Mila mengerem mendadak.
"Fokus dong, Mil!" Tubuhku sampai maju ke depan. Karena aku tak mengenakan sabuk pengaman. Untung tidak sampai kejedot kaca.
"Iya, sorry Ar. Sorry." Mila kembali fokus menyetir.
Padahal aku sendiri juga tidak fokus. Aku enggak tahu kenapa tadi Mila sampai mengerem mendadak.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir, kami ini orang yang takut dengan bayangan sendiri. Takut dengan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Tapi jujur, memang bayangan itu sangat menakutkan. Aku pun tak berani lagi membayangkannya.