
Sejak mengetahui suamiku sakit, aku lebih memperhatikan pola makannya. Aku udah searching di google, makanan apa saja yang mesti di hindari.
Walaupun aku belum tau pasti penyakit suamiku. Setiap aku tanyakan, jawabannya selalu sama. Hanya sakit kepala biasa.
Padahal jelas-jelas obat yang di konsumsinya bukan obat biasa. Dia mengatakan kalau itu memang obat resep dari dokter. Sengaja dia minta obat itu, biar segera reda sakit kepalanya.
Dan dia memberikan alasan ketika aku tanya, kenapa harus membawa obat-obat itu di tas kerjanya. Dia katakan buat jaga-jaga, kalau saat kerja tiba-tiba sakit kepalanya kambuh.Juga biar gampang mencarinya.
Pokoknya ada aja jawabannya. Dia tak tau kalau aku sudah mencari informasi tentang obat-obat itu di internet.
Mungkin dia sengaja menyembunyikan penyakitnya dari aku, agar aku tak mengkhawatirkannya.
Dia selalu mengatakan bahwa dia sehat. Bahwa dia baik-baik saja.
Satu lagi pertanyaanku, yang ingin aku tau jawabannya. Apakah orang tuanya tau tentang penyakitnya itu? Kapan-kapan aku akan menanyakannya langsung.
Hari ini tepat tiga bulan usia pernikahanku. Tiga bulan juga aku menjadi pengangguran. Hanya mengerjakan pekerjaan rumah, dan menunggu suamiku pulang kerja.
Kadang terasa sangat membosankan. Dan suamiku tau itu. Karena kalau aku sedang merasa bosan, biasanya aku cemberut terus.
Lalu suamiku akan mengajaku jalan-jalan keluar. Makan di restauran, nongkrong di cafe, atau sekedar muter-muter kota.
Dia sangat mengerti kemauanku. Sangat memahami perasaanku. Itu salah satu hal yang membuatku bangga padanya.
Dan satu lagi, dia tak pernah tergoda sedikitpun dengan tetangga kami yang selalu tampil seksi itu. Sampai akhirnya, si seksi itu capek sendiri. Dan jarang terlihat lagi.
Pagi ini, setelah aku menemani suamiku sarapan, tiba-tiba perutku mual. Entah kenapa. Suamiku sempat bertanya sebelum berangkat ke kantor.
Aku jawab, mungkin masuk angin aja. Nanti juga hilang sendiri mualnya.
Setelah dia yakin, kalau aku baik-baik saja, dia pun berangkat ke kantor. Dan seperti biasanya, aku mengantarnya sampai teras depan.
Begitu mobil suamiku tak terlihat lagi, aku segera masuk ke dalam rumah. Karena rasa mual itu semakin menjadi.
Aku ambil minyak gosok. Aku baluri sendiri perutku. Tapi rasa mualnya gak juga ilang.
__ADS_1
Aku mencoba memakan buah yang ada di dalam kulkas. Mungkin dengan makan buah, bisa lebih enakan. Ternyata benar juga.
Aku mendengar suara tukang sayur lewat depan rumah. Aku segera bergegas keluar. Aku kepingin masak sayur asem. Rasanya udah lama juga aku gak masak sayur asem.
Pas lagi milih-milih sayur, untuk isian sayur asemnya, si seksi ikutan bergabung. Dia juga langsung memilih belanjaan.
Karena sikapnya yang sedikit angkuh pada tetangga, dan pakaiannya yang kayak kurang bahan, mereka malas untuk menegurnya. Dia pun asik memilih tanpa di gubris para tetangga, yang juga sedang belanja.
Dia sedang memilih jengkol. Ibu-ibu yang lain pada senyam senyum. Salah satu menyenggol tanganku, untuk ikut memperhatikan dia.
Aku dengar, ibu sebelahku berbisik padaku.
"Gayanya aja yang selangit. Seleranya tetep aja jengkol" sambil matanya melirik ke arah si seksi itu.
Spontan aku ikutan melihat ke arahnya. Saat melihat jengkol itu, apalagi si seksi itu sempat memencet-mencet, hingga bau khas jengkol menyebar, tiba-tiba perutku mual.
Aku coba tahan rasa mual itu. Tapi bau jengkol itu, semakin menusuk-nusuk hidungku.
Howeek.
Tiba-tiba suara itu keluar dari mulutku, tanpa bisa aku cegah. Aku langsung menutup mulutku. Semakin aku tahan, semakin terasa ada yang mau keluar dari mulutku.
Setelah semua terasa udah keluar, aku merasa lega. Walaupun tenggorokan terasa panas.
Aku mengambil segelas air putih dan meminumnya. Lega rasanya.
Aku duduk di sofa ruang tengah. Menetralkan tubuhku dulu. Setelah beberapa saat, baru aku keluar lagi. Berniat melanjutkan belanjaku.
Tapi sayang, si tukang sayur udah gak ada lagi. Ada perasaan kecewa yang amat sangat. Karena aku udah membayangkan makan sayur asem, dengan ikan goreng.
Aku masuk kembali ke rumah. Aku terduduk lunglai di sofa ruang tamu.
Tiba-tiba, tetanggaku yang super seksi itu datang. Dia berdiri di pintu. Karena aku memang belum menutupnya.
Dia mengulungkan plastik kresek padaku. Aku memperhatikannya. Apa itu? Tanyaku.
__ADS_1
"Kamu mau masak sayur asem kan? Ini belanjaanmu. Ada ikan kembungnya juga. Tadi udah di pilihkan sama abangnya" jawabnya.
Aku beranjak dari duduk ku. Dan menerima bungkusan itu. Aku masih tak percaya si seksi itu, mau repot-repot mengantarkan belanjaanku.
Aku mengucapkan terima kasih dan menanyakan harganya.
"Udah aku bayar. Gak perlu di ganti. Anggap aja sebagai salam kenal dari aku. Namaku Yola. Kamu Aryani kan?" ujarnya, lalu dia pergi begitu saja.
Aku masih bengong. Masih tak percaya apa yang terjadi. Ternyata dia baik juga. Tapi aku tak tau apa maksud semua ini. Semoga tak ada maksud jelek.
Aku pun segera ke dapur. Mengeksekusi belanjaan tadi. Aku berniat, nanti setelah masakanku selesai, akan memberikannya semangkuk. Ya, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku, karena dia sudah berbaik hati membayar dan mengantarkan belanjaanku.
Setelah selesai memasak, aku mengambil mangkuk untuk tempat sayur asemnya, dan piring untuk tempat ikan gorengnya.
Aku siap mengantarkan ke rumah si seksi itu. Oh iya, Yola namanya. Aku mengedikan bahuku.Lalu aku segera ke rumahnya.
Tiga bulan bertetangga, baru kali ini aku menginjakan kakiku di rumahnya. Entah siapa yang salah, ku tak tau.
Pintu rumahnya terbuka, hingga memudahkan aku. Aku tak perlu mengetuknya. Aku ucapkan salam.
Dia menjawabnya dari dalam. Lalu mempersilakan aku masuk. Aku menurutinya. Dia juga mempersilakan aku duduk.
Sambil duduk, aku lihat-lihat sekelilingku. Sementara dia masuk ke dalam, meletakkan kiriman masakanku.
Boleh juga seleranya Yola. Rumahnya bersih. Rapi. Beberapa hiasan yang di pajang di dinding dan di beberapa tempat, kelihatannya bukan barang murahan.
Aku juga melihat di dinding, ada fotonya bersanding dengan seorang laki-laki gagah. Mungkin itu suaminya.
Tak lama dia kembali. Dengan membawa mangkuk dan piringku.
"Maaf, pulangnya kosongan." ucapnya.
"Gak apa-apa. Santai aja. Aku permisi pulang ya" ucapku, lalu berdiri.
"Kalau kamu butuh teman, mainlah kesini. Pintu rumahku terbuka buatmu. Mungkin kita bisa berteman" ucap Yola. Aku mengangguk.
__ADS_1
Tak aku sangka, ternyata dia baik juga orangnya. Mungkin aku selama ini salah menilainya. Dengan penampilannya yang selalu seksi, aku jadi negatif thinking padanya.
Semoga dia bisa menjadi temanku di sini. Teman baru rasa lama. Begitu kira-kira. Gara-gara jengkol.