SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 63 KAMU HARUS KUAT, YOLA


__ADS_3

Hari ini Yola sudah akan kembali lagi Australi. Suaminya, mas Deni sudah berkali-kali menelfon. Meminta Yola untuk kembali.


Semalam aku tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan mereka lewat telfon. Mereka terdengar sedang berdebat.


Sebenarnya tak ada niatanku menguping. Tapi kebetulan aku keluar kamar dan mendapati pintu depan yang terbuka, aku berniat menutupnya.


Ternyata Yola sedang menerima telfon dari suaminya di sana. Tadinya aku hendak berbalik. Tapi Yola yang terlanjur mengetahui kehadiranku meminta dengan isyarat, agar aku tetap di luar menemaninya.


Aku pun ikut mendengarkan walaupun samar-samar, karena Yola tidak me-loudspeaker panggilannya.


Yola terlihat sangat marah bahkan menangis sesenggukan. Aku yang berada tak jauh dari Yola, mendekatinya. Aku tepuk-tepuk pelan lengannya untuk menguatkannya.


Selesai menerima telfon dari suaminya, Yola masih terduduk di kursi teras. Air matanya terus saja mengalir.


Aku masih terdiam, tak berani bertanya apapun. Aku biarkan dulu Yola menangis sampai puas. Mungkin itu bisa mengurangi kesedihannya.


"Ada apa, Yol?" Akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya, setelah aku lihat Yola sudah agak tenang. Yola menghela nafasnya panjang.


"Bang Deni memintaku kembali ke sana" jawab Yola pelan.


"Kembalilah, Yol. Tunggu apa lagi? Dia suami kamu dan sudah memintamu kembali" ucapku.


"Masalahnya tak semudah itu, Ar" ucap Yola. Aku menatap bola mata Yola. Ada apa dengan Yola?


Lalu Yola menceritakan persoalannya. Yola dan suaminya selama ini tinggal di sebuah apartemen mewah. Yang ternyata apartemen itu adalah milik perempuan yang sedang menjalin hubungan dengan suaminya.


Aku sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa? Mas Deni yang aku kenal adalah sosok yang sangat baik, walau sedikit misterius.


Dia kelihatan sangat menyayangi Yola. Apa pun yang Yola inginkan pasti akan diturutinya.

__ADS_1


Ternyata perempuan itu pernah menemui Yola, beberapa hari sebelum Yola pulang ke sini.


Perempuan itu mengatakan pada Yola, jika dia meminjamkan apartemennya untuk mas Deni. Alasan mas Deni, akan ditempati oleh keponakannya yang kuliah di sana.


Tadinya perempuan bernama Lila itu tak curiga. Tapi seorang kerabat dari Lila, mengetahui kalau apartemen itu di tempati oleh Yola. Bukan anak kuliahan seperti perkataan Mas Deni.Lila pun mencari tau. Dan akhirnya Lila menemui Yola.


Kata Yola, Lila itu perempuan keturunan Indonesia juga. Ayahnya yang asli orang Australi. Sedang ibunya orang jawa asli.


Tutur katanya sopan layaknya perempuan jawa, sekali pun dia di besarkan di luar negeri. Dia pun mengajak Yola berbicara baik-baik.


Menurut Lila, bagaimana pun mereka berdua adalah korban dari perbuatan mas Deni. Lila yang baik hati dimanfaatkan, sementara Yola yang tak tau apa-apa terbawa dalam permainan suaminya.


"Lila orangnya sangat baik, Ar. Dia ternyata yang mencarikan pekerjaan buat bang Deni. Biar bang Deni bisa bekerja di darat. Pastinya biar mereka bisa bertemu setiap saat" ujar Yola. Yola menghela nafasnya, menjeda ceritanya.


"Lila tak tau kalau bang Deni sudah menikah. Sejak pertama bertemu, bang Deni bilang pada Lila kalau dia masih single. Itu alasannya kenapa Lila mau menjalin hubungan dengan bang Deni."


Aku hanya diam terpaku mendengar penuturan Yola. Aku pikir mas Deni sosok suami idaman. Yang punya segalanya. Tampang ganteng, pekerjaan mapan dan sangat menyayangi istri.


"Entahlah...aku belum bisa memutuskan, Ar. Kamu bisa membantuku?" tanya Yola.


"Membantu apa?" Aku bingung dengan pertanyaan Yola. Jangankan membantu orang lain, membantu diri sendiri dan suamiku saja aku tak mampu.


"Membantu berfikir. Apa yang harusnya aku lakukan sekarang? Apa aku mesti kembali ke sana? Atau aku tetap di sini?" tanya Yola.


"Bang Deni sudah mengakui soal hubungannya dengan Lila. Dan dia berjanji padaku untuk meninggalkan Lila." Yola menyusut air matanya yang masih mengalir.


"Yol, kalau menurutku, selamatkan rumah tanggamu. Pulanglah dulu kamu ke sana. Buktikan kalau omongan suami kamu benar. Kalau perlu, kamu datangi Lila. Ajak dia bicara baik-baik. Kamu kan sudah mengenalnya. Dan kamu bilang, Lila perempuan baik-baik. Kalau dia memang perempuan baik-baik, pasti akan rela melepaskan suami kamu setelah dia tau kalau mas Deni sudah beristri" ucapku panjang lebar.


"Tapi aku tak mau kembali ke apartemen itu, Ar. Itu bukan milik suamiku. Itu milik selingkuhannya. Mau ditaruh di mana mukaku, kalau aku tetap tinggal di apartemen itu?" ucap Yola berapi-api.

__ADS_1


Aku menengangkan Yola dengan mengusap-usap lengannya.


"Kalian bisa mencari apartemen sendiri kan?" tanyaku polos.


"Masalahnya tak sesimple itu, Ar. Kamu tau...ternyata bang Deni sekarang bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Lila. Bagaimana mungkin mereka akan benar-benar memutuskan hubungan kalau mereka masih bekerja di tempat yang sama?" Aku menyimak dengan baik omongan Yola.


"Dan gaji bang Deni tidak besar. Sewa apartemen di sana tidak murah, Ar. Belum lagi kalau bang Deni di keluarkan dari pekerjaannya, mau bayar pakai apa? Sementara kalau bang Deni tetap bertahan bekerja di sana, kamu bisa bayangkan perasaanku kan? Mereka pasti akan terus melanjutkan hubungan itu!" Yola kembali menangis.


Aku berfikir sejenak. Aku kembali menatap Yola yang masih sesenggukan.


"Yol, besok kembalilah dulu ke sana. Selesaikan baik-baik semuanya. Kamu harus menemui Lila. Kalian harus bicara bertiga. Cari solusi terbaik untuk masalah kalian. Kalau pun nanti kamu tak bisa menerima kenyataan, setidaknya kamu sudah berusaha menyelesaikan masalahmu. Bukan lari dari masalah" ucapku.


Yola nampak berfikir keras. Aku membiarkannya, tak ingin mempengaruhi keputusannya. Biar Yola mengambil keputusan sendiri.


Sebagai teman, aku hanya bisa memberi saran dan support. Aku tak mau menghakimi mereka. Walau pun ini semua kesalahan di awali oleh mas Deni yang bermain api.


Tapi aku juga tak tau apa alasan mas Deni melakukan hal itu. Memang tak akan pernah ada alasan untuk sebuah perselingkuhan. Tapi menurutku, tak akan ada asap kalau tak ada api.


Jadi saranku juga kepada Yola, coba introspeksi diri. Mungkin ada kesalahan Yola yang jadi pemicu perbuatan suaminya. Agar Yola bisa memaafkan suaminya jika suaminya mau meninggalkan selingkuhannya.


"Oke, Ar. Besok aku akan kembali ke sana. Tapi aku gak janji aku akan tetap di sana. Mungkin nanti aku akan kembali, kalau memang tak ada jalan keluarnya" ucap Yola.


Aku mengangguk. Semoga Yola mendapatkan jalan keluar terbaik. Aku akan sangat sedih jika Yola harus gagal dengan rumah tangganya.


Pagi ini, Yola sudah siap dengan kopernya. Wajahnya yang biasanya ceria, kelihatan lesu. Matanya bengkak dan memerah. Pasti semalaman Yola menangis.


Aku memeluk Yola, memberi kekuatan pada Yola untuk bisa kuat menghadapi semua.


"Yol, setiap orang punya masalah yang berbeda. Tetaplah kuat menghadapinya. Tetap semangat menyelesaikannya. Seperti kamu yang selalu menyemangati aku menjalani hidupku." Yola mengangguk.

__ADS_1


Kamu harus kuat Yola. Ucapku dalam hati.


__ADS_2