
Sepulang kerja mas Arka mengajak aku berkunjung ke rumah orang tuanya. Katanya mereka ingin berkenalan denganku?
Aku meminta mas Arka untuk mengantar aku pulang dulu. Mandi dan berganti pakaian. Gak sopan kan, kalau menemui calon mertua masih dengan pakaian kerja.
Tapi benarkah mereka ingin mengenalku? Aku sedikit ragu. Takut mereka kecewa setelah melihatku. Takut mereka akan menolakku. Takut mereka akan menghinaku.
Aku sadar diri, aku siapa. Aku hanya seorang gadis yatim piatu, yang hidup sebatang kara. Aku bukan anak orang kaya, yang mempunyai harta berlimpah.
Mas Arka seperti memahami ketakutanku. Dia menggenggam erat tanganku. Memberi kekuatan padaku.
Tapi yang terjadi, aku malah semakin takut. Takut orang tua mas Arka melarang anaknya berhubungan denganku. Aku takut kehilangan mas Arka.
Aku sudah terlanjur mencintai mas Arka.
Aku sudah terlanjur menyayangi mas Arka.
Aku menelan ludahku yang terasa kering. Aku tatap wajah mas Arka. Akankah dia nanti memperjuangkan aku di depan orang tuanya? Atau menyerah pada kemauan orang tuanya.
"Lihat aku Ar. Apapun yang akan terjadi nanti, kita akan hadapi bersama. Kamu gak perlu meragukan itu" ucap mas Arka meyakinkanku.
Aku mengangguk. Lalu aku segera masuk ke dalam kamarku. Sementara mas Arka menungguku di ruang tamu.
Mas Arka laki-laki yang sangat sopan. Walaupun dia tau kalau aku hanya tinggal seorang diri di rumah ini, tapi dia tidak pernah memanfaatkan keadaan, untuk berbuat hal-hal yang tidak semestinya.
Dia sangat menjagaku. Menjaga harga diriku sebagai seorang perempuan. Dia berjanji tidak akan menodaiku. Menodai tubuhku. Dia akan menjaganya, sampai saatnya nanti.
Itu yang membuat aku semakin mencintainya. Bukan karena dia orang sukses. Bukan karena dia orang kaya. Tapi karena dia orang yang sangat bertanggung jawab.
Dan dia pun orang yang sangat mencintaiku apa adanya. Selain, Doni.
Mereka sama-sama orang yang baik. Orang yang tak pernah melihat kasta. Orang sangat menghargai orang lain.
Tapi sayang, Doni tidak bisa menolak keinginan orang tuanya. Dia akhirnya pergi dan menghilang, tanpa jejak.
Aku sangat berharap, semoga aku tidak akan kehilangan lagi, untuk kedua kali.
Setelah selesai bersiap, aku melangkah pasti, menuju ruang tamu. Aku lihat mas Arka sedang menerima telpon. Sepertinya urusan pekerjaan.
__ADS_1
Aku duduk di sebelahnya. Mendengarkan sedikit pembicaraan mereka. Mas Arka kelihatan sangat serius berbicara.
Tangan mas Arka meraih tanganku, sambil terus berbicara. Di genggamnya erat tanganku. Aku diam aja. Aku biarkan tanganku berada di genggamannya. Lalu dia mencium perlahan tanganku.Dia masih terus saja berbicara.
Aku heran dengan mas Arka. Saat dengan teman-temannya, dia menjadi orang yang humoris. Tapi saat menyangkut urusan pekerjaan, dia menjadi pribadi yang tegas. Bahkan terkesan galak.
Jangan-jangan dia mempunyai kepribadian ganda? Tanyaku pada diriku sendiri.
Selesai menerima telepon, dia menatapku. Dia memuji penampilanku. Padahal aku gak memakai make up tebal. Hanya sapuan bedak tipis dan lipglos aja.
Dia mengecup keningku sebentar. Lalu mengajaku segera berangkat. Biar nanti pulangnya gak kemaleman. Karena rumah orang tuanya lumayan jauh dari rumahku.
Aku pun berjalan mengikutinya, setelah mengunci pintu rumahku.
Seperti biasa, mas Arka membukakan pintu mobil untukku. Aku merasa sangat tersanjung. Mas Arka selalu memanjakan aku.
Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Aku temggelam dalam pikiranku sendiri. Dengan ketakutanku. Dengan kekhawatiranku. Dan dengan keraguanku.
Aku tak akan membuka mulut kalau tidak di tanya. Untung mas Arka memahami perasaanku. Berkali-kali dia meraih tanganku, lalu menciumnya. Dia berusaha menguatkan mentalku.
"Santai aja Ar, orang tuaku bukan macan kok. Dia gak akan menerkam kamu" ucapnya untuk mencairkan keteganganku.
"Mas, nyari pom bensin ya. Aku kebelet pipis" ucapku. Karena aku benar-benar nervous.
"Emang kamu gak pake pampers?" ledek mas Arka.
Aku cubit perutnya keras. Dia malah ketawa ngakak. Nyebelin banget gak sih? Orang lagi nervous malah di ledekin.
Begitu melihat ada pom bensin, mas Arka segera membelokan mobilnya. Dia mencari tempat parkir mobil, yang tak jauh dari toilet.
Begitu mobil sudah berhenti, aku langsung turun. Berlari menuju toilet.
Ah, lega rasanya. Setelah keluar dari toilet, aku berdiri mematut diri di depan cermin besar, yang ada di sana. Melihat kembali penampilanku.
Setelah itu, aku berjalan kembali ke mobil. Mas Arka masih setia menunggu di mobil.
"Udah tuntas belum? Entar ngompol di mobil lagii" ledek mas Arka lagi.
__ADS_1
Aku cemberut. Lalu masuk ke dalam mobil.
"Pilih perutnya aku cubit apa di kitikin?" aku gemas sekali di ledekin terus.
"Pilih di cium. Dimana nya aja, aku rela deh" jawab mas Arka sambil ketawa.
Lalu dia segera menyalakan mesin mobilnya. Dan mobil pun melaju di jalan raya lagi.
Kami sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar. Halamannya luas. Banyak sekali tanaman tumbuh di sana. Sangat asri.
Mas Arka memasuki pelataran rumah, dan segera memarkirkan mobilnya. Aku mengikutinya turun dan berjalan di belakangnya.
Mas Arka meraih tanganku. Membawaku ke sampingnya, agar kami berjalan bersebelahan.
Pintu rumah yang cukup besar, terbuka lebar. Mas Arka mengucap salam.
Keluarlah seorang perempuan setengah baya. Dengan penampilan sederhana. Tapi masih kelihatan cantik dan segar.
Apa ini ibunya mas Arka? Tebakku dalam hati. Aku menyapanya dengan senyuman.
"Bu, ini yang namanya Aryani. Ar, kenalin ini ibuku" ucap mas Arka dengan sangat sopan. Sang ibu menatapku tajam. Melihatku dari ujung kaki ke ujung kepala. Aku merasa seperti sedang di telanjangi.
Tapi aku mencoba untuk tersenyum. Lalu mengulurkan tanganku, untuk bersalaman. Calon ibu mertuaku menyambut tanganku, dan tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya.
Aku sangat terkejut. Aku tak menyangka akan seindah ini sambutannya. Aku balas dengan mengeratkan pelukanku.
Mataku berkaca-kaca. Tapi aku sembunyikan di balik pelukannya. Setelah pelukan kami terlepas, aku mengerjapkan mataku. Agar air mataku tidak keluar.
Aku di bimbingnya masuk ke dalam rumah. Lalu keluarlah seorang lelaki setengah baya juga. Dan mas Arka segera menyalaminya.
Mas Arka lalu memperkenalkan aku padanya. Benar, dia adalah bapaknya mas Arka.
Kami berempat duduk di kursi dari kayu jati yang cukup besar.
Seorang pembantu datang membawakan kami minuman dan makanan kecil.
Aku bahagia dengan semua ini. Aku kira aku akan menemui calon mertua yang galak. Yang cerewet. Tapi ternyata aku salah.
__ADS_1
Calon mertuaku tidak kalah baiknya dari anaknya. Mereka menerima aku, yang hanya sebatang kara. Aku seperti menemukan keluarga baru. Walaupun mereka masih sebagai calon mertua.