
Unit apartemen Doni mulai ramai orang. Security telah menghubungi polisi. Mereka membawa jenazah Doni untuk di outopsi.
Sarah dan Mila bergantian mendekapku. Kejadian ini benar-benar sangat mendadak dan menghebohkan.
Beberapa orang dengan kameranya juga berseliweran mengambil gambar. Roni mengamankanku agar tak dicecar dengan berbagai pertanyaan dari mereka.
Beberapa jam kemudian, Roni dihubungi pihak kepolisian untuk datang ke rumah sakit. Aku juga diminta untuk ikut ke sana.
Bukan cuma aku dan Roni, Sarah dan Mila pun ikut ke rumah sakit. Agar unit apartemen Doni yang sudah dipasangi garis polisi, bisa di kosongkan dulu sementara waktu.
Sampai di rumah sakit, tepatnya di kamar jenazah, kami sudah di tunggu oleh beberapa anggota polisi yang menangani kasus ini.
Mereka berbicara serius dengan Roni. Dan meminta Roni untuk menghubungi keluarga Doni.
Tak ada satu pun keluarga Doni yang dikenal oleh Roni, kecuali Maya. Istri Doni, yang ternyata baik Roni maupun Sarah tak tahu kalau Maya sedang sakit parah.
"Sakit apa?" tanya Sarah.
Aku menoleh pada Mila. Karena Mila juga tahu.
"Dia terinfeksi HIV," sahut Maya. Reflek Roni dan Sarah membelalakan matanya.
"Kamu yakin?" tanya Sarah. Mila mengangguk. Aku pun mengangguk.
"Kalian mengetahuinya?" tanya Sarah lagi. Aku hanya menelan ludahku.
"Sejak kapan?" Sarah melanjutkan pertanyaannya.
"Beberapa hari yang lalu." Aku yang menjawab. Karena Mila kelihatan enggan bicara lagi. Mungkin dia juga sedang memikirkan kondisinya yang entah dia sudah memeriksakan diri atau belum, karena aku belum sempat menanyakannya.
"Lalu?" Sarah terlihat sangat syok.
Roni kembali menemui dokter. Dia ingin memastikan penyebab kematian Doni. Mungkin dari sini bakal terbuka kenyataan tentang kondisi Doni.
"Gimana, Ron?" tanya Sarah.
"Dia tidak terinfeksi HIV," jawab Roni. Aku memandang ke arah Mila. Bahagia. Sangat bahagia. Karena itu berarti aku juga kemungkinan tidak terinfeksi.
Karena satu-satunya orang yang menularkan virus itu kepadaku adalah Doni.
"Lalu apa penyebabnya?" tanyaku tak sabar. Bukan aku bahagia karena kematian Doni.
"Tekanan darahnya tinggi. Stres yang berat mengakibatkan pembuluh darahnya pecah."
"Tapi Doni tak mengeluhkan apapun," sahutku. Belum sempat juga aku menjelaskan semuanya, seorang anggota polisi memintaku datang ke kantor polisi.
__ADS_1
"Ron..." Aku meminta pertolongan dari Roni.
Aku takut setengah mati. Meski aku pernah mengalaminya sewaktu kematian mas Teguh, tapi aku kembali merasa syok.
"Mila! Tolong kamu temani Aryani. Aku dan Sarah akan mengurus administrasi di sini. Nanti aku hubungi lagi untuk proses selanjutnya," ucap Roni.
Mila mengangguk, lalu mengikutiku dan polisi yang mengajak aku tadi.
"Mari, Bu." Polisi yang di tag name-nya bernama Ferdy, membukakan pintu mobil untukku dan Mila.
"Nanti Ibu jawab saja pertanyaan polisi apa adanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Tapi jangan juga ditambah-tambahi," ucap Ferdy memberikan pengarahan padaku.
"Iya, Pak. Saya mengerti." Aku menggenggam tangan Mila dengan erat. Mila pun lalu memeluk lenganku.
Tak terasa air mata mengalir ke pipiku. Begitu banyak masalah yang datang dalam kehidupanku.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Pasti mas Arka tak akan tinggal diam setelah tahu masalah ini.
Apalagi setelah tahu kenyataannya kalau Doni meninggal dalam pelukanku.
Meski aku tak mengabari mas Arka, tapi berita ini telah menyebar. Bukan tidak mungkin, Yola atau pun Deni mengetahuinya. Apalagi Deni yang rajin update berita dari internet.
Bisa jadi setelah masalah ini, Yola akan membatalkan kerja samanya denganku.
Sampai di depan kantor polisi, kepalaku terasa berdenyut. Untung ada Mila yang menopangku, jadi aku tidak ambruk.
"Yang kuat, Ar. Aku akan nemenin kamu," ucap Mila menenangkanku.
Mila tak tahu kalau nanti di ruang penyidikan, dia tidak boleh ikut masuk. Hanya aku saja.
"Maaf, Ibu tunggu di sini saja, ya? Biar Bu Aryani yang masuk sendirian," ucap Ferdy.
"Tapi, Pak. Saya kasihan Aryani kalau sendirian," jawab Mila penuh kekhawatiran.
"Ibu tidak usah khawatir. Kami hanya bertanya saja. Tidak akan menyentuh ataupun menyakiti bu Aryani sedikit pun," sahut Ferdy.
Mila tetap ngeyel. Dia tetap mau terus mendampingku.
"Bu. Sesuai prosedurnya, saksi tidak bisa ditemani saat penyidikan." Ferdy kembali meyakinkan Mila.
Sepertinya Mila khawatir terjadi sesuatu denganku di dalam sana seperti di film-film.
Aku mengangguk ke arah Mila untuk meyakinkannya. Akhirnya Mila rela melepaskan genggaman tanganku.
Lalu Ferdy mengantar Mila dulu ke kursi tunggu.
__ADS_1
"Mari, Bu," ajak Ferdy pada Mila.
Aku diam di tempatku. Mencoba menenangkan diriku agar bisa kuat menghadapi banyak pertanyaan nanti.
Kalau dulu saat kematian mas Teguh, polisi menanyaiku di rumah sakit. Ditemani Doni juga, jadi aku tidak begitu nervous.
"Silakan, Bu." Ferdy gantian mengajak aku ke dalam.
Dalam bayanganku, ruang penyidikan itu sebuah ruangan yang kecil dan pengap. Gelap dan lembab.
Ternyata di luar ekspektasiku. Aku mendapati sebuah ruangan yang cukup luas dan terkesan nyaman.
Bukan tempat duduk yang dibatasi meja untuk bicara face to face. Tapi sebuah sofa besar.
Memang ada juga meja dengan dua kursi di depan dan belakangnya. Tapi Ferdy tak mengajakku ke sana.
"Silakan duduk, Bu. Ibu relaks dulu, ya." Ferdy menelpon temannya. Lalu mengambilkan aku minuman kaleng yang dingin.
"Ibu, sudah sarapan?" tanya Ferdy. Aku menggeleng. Perutku belum sempat terisi apapun sejak tadi pagi.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu makan dulu ini." Ferdy memberikan satu kotak makanan. Lalu mengganti minuman kaleng tadi dengan sebotol air mineral.
"Nanti saja, Pak. Saya tidak lapar." Aku menolak karena tak ada nafsu makan.
"Bu. Nanti akan banyak pertanyaan dari kami. Dan akan memakan waktu yang cukup lama. Ibu harus makan dulu, biar tidak lemas," ucap Ferdy.
Meski malas, aku menuruti juga omongan Ferdy. Stres kan juga butuh tenaga. Batinku.
Aku tak seberapa memakannya. Hanya sekedar membuat perutku tidak kosong saja.
"Tidak dihabiskan, Bu?" tanya Ferdy.
"Enggak, Pak. Sudah cukup." Aku letakan kotak makanan itu di atas meja.
Teman Ferdy yang tadi ditelpon, tak juga datang. Ferdy sepertinya kembali menghubunginya.
"Kita tunggu, ya? Pak Tino ternyata ada tamu mendadak. Mungkin sebentar lagi dia akan ke sini."
"Iya, Pak," sahutku menurut saja.
Mila mengirimkan pesan padaku. Dia menanyakan kondisiku di dalam sini. Mila sangat mengkhawatirkanku. Dia takut aku sudah disiksa di dalam sini.
Sudah aku jelaskan berkali-kali kalau proses penyidikannya belum dimulai. Tapi Mila tak percaya.
Apalagi saat aku jelaskan kalau aku di sini hanya dijadikan saksi saja. Bukan tersangka.
__ADS_1