SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 145 KONSELING


__ADS_3

Mila hanya meringis. Sepertinya tak tega juga kalau dia berkomentar meski hanya bercanda.


"Yang penting kan sekarang kamu sudah sadar. Dan sepertinya suami kamu mau menerimamu lagi, Ar," ucap Mila setelah cukup lama diam.


"Aku enggak yakin, Mil." Aku masih meragukan kesungguhan mas Arka setelah nanti tahu kalau hasil cek darahku positif.


"Kenapa enggak yakin?" tanya Mila.


"Entahlah, Mil. Hatiku mengatakan seperti itu," sahutku.


"Lihat kenyataannya aja, Ar. Jangan terlalu percaya dengan perasaan sendiri. Bisa saja itu salah," ucap Mila.


"Aku hanya ingin bisa selalu bersama anakku saja, Mil. Kalau mas Arka nantinya akan memilih perempuan lain, silakan saja." Aku merasakan mataku berembun.


"Jangan begitu, Ar. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Kamu enak masih punya suami dan anak. Sedangkan aku? Aku tak punya siapa-siapa lagi," ucap Mila.


"Bukannya kamu masih punya orang tua?" tanyaku.


"Iya. Aku masih punya orang tua. Tapi aku tak pernah memiliki mereka. Rumah tangga mereka berantakan. Aku produk broken home. Mereka telah memilih hidup sendiri-sendiri. Dan aku dicampakan sejak kecil."


Mata Mila mulai berkaca-kaca. Aku sama sekali tak pernah mengira.


"Aku mereka titipkan pada orang lain. Orang tua angkat yang tak lebih baik dari mereka," lanjut Mila.


"Jangan begitu, Mil. Bagaimana pun mereka telah berjasa padamu, kan?" Aku berusaha membesarkan hati Mila.


"Berjasa? Berjasa untuk apa? Menjualku pada laki-laki hidung belang?" sahut Mila.


Aku tercengang mendengarnya. Otakku juga belum bisa memahami perkataan Mila.


"Mereka telah menjualku, Ar. Dan setelah mereka mendapatkan uang banyak, mereka mencampakanku. Karena aku menolak mereka jadikan budak!" lanjut Mila.


"Budak? Budak apa?" tanyaku semakin bingung.


"Budak nafsu! Juga budak di rumah mereka dan mesin penghasil uang buat mereka!"


Miris sekali ucapan Mila. Aku tak pernah menyangkanya sama sekali.


"Aku mau tanya, Mil. Setelah kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kenapa kamu masih melakukannya?"


Sebenarnya aku khawatir Mila akan tersunggung. Tapi aku penasaran dan terlanjur mengerti masa lalu Mila.


"Entahlah, Ar. Sejak aku memutuskan pergi dari mereka dan hidup sendiri, aku semakin merasa tak punya tujuan hidup. Apalagi orang yang pernah aku cintai, tak pernah mempedulikanku. Dia lebih memilih perempuan lain." Mila menundukan wajahnya.


Dia terlihat sangat terluka. Bahkan seperti dia lebih terluka dari pada aku.

__ADS_1


"Sudahlah, Mil. Lupakan saja masa lalu. Sekarang saatnya kita memikirkan masa depan. Entah masa depan yang seperti apa. Minimal kita jalani saja dulu dengan baik."


Kalimat yang entah muncul dari mana. Padahal hidupku sendiri lebih semrawut dari Mila.


Tak lama, mas Arka datang. Dia membawa beberapa minuman dingin.


Mila pun menghapus air matanya.


"Ini." Mas Arka memberikannya padaku. Aku mengambilnya satu untuk Mila.


"Kapan giliran kalian?" tanya mas Arka.


"Belum tahu, Mas," jawabku.


Mas Arka duduk di sampingku. Mila hanya diam saja. Dia menyibukan diri dengan gelas plastik berisi jus kesukaannya.


Entah mengapa, mas Arka membelikan jus yang disukai Mila. Padahal setahuku, mas Arka baru saja mengenal Mila.


Akhirnya namaku dipanggil lebih dulu. Aku pamit pada Mila dan mas Arka.


"Iya. Berdoalah. Semoga hasilnya negatif," ucap mas Arka.


Aku berjalan dengan semangat yang aku paksakan. Terus terang ini cek darah yang paling menegangkan buatku.


Sampai di dalam ruangan yang hanya ada satu orang dokter, aku dipersilakan duduk.


"Ibu tunggu di ruangan itu dulu ya? Menunggu giliran untuk konseling. Kalau ada pertanyaan, silakan nanti tanyakan pada dokter yang di sana." Dokter itu menunjuk sebuah ruangan yang terlihat sepi.


Dokter yang dimaksud, mungkin seorang psikolog. Dia pastinya akan memberikan support pada pasien-pasien sepertiku.


Sembari menunggu dokter itu datang, aku berjalan melihat-lihat poster dengan aneka tulisan yang mensupport kami.


Dari sebuah jendela aku melihat mas Arka sedang berbincang akrab dengan Mila. Duduk mereka tidak lagi berjauhan.


Mila sudah duduk mendekat. Bahkan badannya menempel di bahu mas Arka.


Dan tak lama, dia menangis di bahu mas Arka. Begitu sedihnyakah Mila hingga dia menangis lagi? Tapi kenapa mereka seperti begitu akrab?


"Selamat siang, Bu." Seorang dokter lelaki masuk dan menyapaku.


"Oh. Iya. Selamat siang juga, Dok," sahutku.


Dia mempersilakan aku duduk. Dan dia juga duduk di seberang meja.


Dia memperkenalkan dirinya bernama Yoga. Aku memanggilnya dokter Yoga. Meski dia bilang merasa lebih nyaman kalau aku memanggil namanya saja.

__ADS_1


Dia mengajak aku bercerita. Awalnya dia yang banyak menceritakan tentang pasien-pasiennya.


Lalu perlahan-lahan dia mengorek cerita dariku. Tadinya aku ragu menceritakannya. Tapi sikapnya yang bersahabat, membuat aku membuka semua permasalahnku.


Yoga mengangguk-anggukan kepala. Dia benar-benar menyimak semua ceritaku.


"Menarik sekali, Ar. Boleh ya aku panggil nama kamu saja? Kelihatannya umur kita tak terlalu jauh," ucap Yoga.


"Tak ada yang menarik sama sekali, Ga. Malah menjijikan. Dan endingnya? Sangat menyakitkan," ucapku.


"No. No. No. Tak ada jalan hidup yang menjijikan. Semua pasti ada jalan keluarnya. Dan selama masih dikasih kesempatan, kita bisa berusaha memperbaikinya."


Yoga terus saja menyemangati aku. Dia selalu bisa menjawab keresahanku.


"Oke, Ar. Waktu kita sudah cukup dulu. Ini nomor hapeku. Semoga kita tidak bertemu lagi di sini. Tapi di luar sana." Yoga menyerahkan sebuah kartu nama padaku.


"Terima kasih, Ga. Aku permisi dulu."


Yoga tersenyum padaku. Manis sekali. Dokter yang sangat ramah. Pasti pasien-pasiennya betah berlama-lama dengannya.


"Ibu, tunggu di luar ya? Sebentar lagi hasil cek darahnya keluar," ucap perawat yang tadi di bagian pendaftaran.


"Iya, Sus. Terima kasih." Aku berjalan ke arah mas Arka. Dia duduk sendirian. Entah kemana Mila.


"Mana Mila, Mas?" tanyaku.


"Barusan masuk. Bagaimana hasilnya?" tanya mas Arka.


"Belum. Sebentar lagi baru keluar," jawabku.


"Ngapain aja tadi di dalam? Kok lama sekali?"


"Ada konseling sebentar, Mas. Mas Arka sudah capek?" tanyaku khawatir.


"Enggak. Kenapa? Kamu enggak suka aku menunggumu di sini?"


Aku menatap wajah mas Arka. Kenapa dia mulai lagi?


Aku hanya menggeleng. Meski kesal, aku lebih baik diam.


Otak dan perasaanku lagi enggak bisa diajak kompromi.


Sebenarnya aku juga mau menanyakan kenapa tadi Mila sampai menangis. Tapi sikap dingin mas Arka, membuatku tak nyaman.


"Mas, aku lapar. Kantinnya ada di mana?" Aku cari alasan untuk tidak berbicara padanya.

__ADS_1


"Aku antar." Mas Arka berdiri dan mendahuluiku berjalan. Aku mendengus kesal. Niatnya pingin menghindar malah ikut. Mungkin dia juga lapar.


Dengan malas, aku mengikutinya.


__ADS_2