SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 154 KEMBALI KE PANGKUAN


__ADS_3

"Kamu enggak balik ke proyek, Mas?" tanyaku.


Aku sudah selesai menyuapi Aryaka. Dan mas Arka membawanya ke ruang tamu.


"Enggak, Ar. Udah beres semua. Sudah dihandle sama pak Hardi." Roni yang menjawab pertanyaanku. Karena mas Arka malah menatap ke arahnya.


"Oh iya, besok pagi Arka sudah bisa mulai ke proyek, Ar. Benar begitu kan, Ka?" lanjut Roni.


"Iya, Ar. Aku besok sudah mulai kerja. Kamu bisa menunggu di rumah atau mau ke sini menemani Sarah?" tanya mas Arka padaku.


"Iya, Mas. Aku senang kamu sudah bisa kerja lagi. Makasih ya, Ron," ucapku.


Padahal tadinya aku yang akan menggantikan pekerjaan Doni. Tapi kalau memang mas Arka bisa, ya biar dia saja. Aku bisa di rumah saja merawat Aryaka kalau nanti dia sudah mau pulang ke rumah.


Aku tak mau memaksa, kasihan anak sekecil itu kalau mesti dipaksa kehilangan orang terdekatnya lagi.


Saat ini orang terdekatnya, ya Sarah dan Roni. Aku tak bisa mengingkari itu. Toh, aku bisa menemuinya kapanpun.


"Iya, Ar. Sama-sama. Aku juga memang sangat membutuhkan orang seperti Arka. Biar proyeknya bisa berjalan lancar dan cepat," sahut Roni.


Pastinya mas Arka lebih hebat daripada aku. Pengalaman dan kemampuannya dulu bekerja tak perlu diragukan lagi.


Semoga saja mas Arka masih memiliki kemampuan yang sama setelah lama sakit. Kalau dilihat dari semangatnya sih, sepertinya dia mampu.


"Iya, Ron. Mas Arka kan dulu juga kerja di property. Pastinya punya banyak pengalaman tentang pengerjaan proyek pembangunan hotelmu," sahutku.


Sedangkan aku? Pengalamanku hanya sebagai resepsionis dan asisten pribadinya Doni. Itu pun tak lama.


Aku tak banyak tahu tentang proyek itu. Selama jadi asisten Doni, aku hanya mengerjakan urusan hotel saja.


"Kita makan dulu, yuk. Udah siap semua kan, Ar?" tanya Sarah.


"Udah dong. Sana kalian makan dulu. Aku jagain Aryaka," jawabku. Aku juga belum terlalu laper. Malah boleh dibilang rasa laparku hilang saking bahagianya.


Bahagia karena mas Arka sudah dapat pekerjaan lagi, juga bahagia karena hari ini aku bisa menyiapkan makanan untuk anakku. Bahkan menyuapinya lagi.


"Kamu makan sekalian, Ar. Aryaka bisa aku pangku," sahut Sarah.


Hebat sekali memang Sarah dalam merawat anakku. Apapun dia lakukan. Seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


"Biar aku saja yang memangkunya, Sar. Kamu kan lagi hamil." Mas Arka meraih Aryaka yang sedang asik bermain.


"Ya udah. Ayo makan. Entar malah enggak jadi makan. Aku udah laper banget," ajak Roni. Dia berjalan duluan ke ruang makan. Disusul Sarah juga mas Arka dan aku.


Aku mengambilkan nasi untuk mas Arka, beserta lauk pauknya. Saat mas Arka mau menyuap, tangan Aryaka usil, hingga nasi di sendoknya tumpah.


"Hey, Aka. Tangannya enggak boleh nakal," ucap Sarah.


"Iya, Mami," jawab Aryaka dengan logat anak kecilnya yang lucu. Dia sangat menurut pada Sarah.


Akhirnya aku berinisiatif menyuapi mas Arka. Saat aku mulai menyuapi, Aryaka malah tertawa.


"Papa kaya Aka. Mamnya dicuapin."


Kami semua jadi ikut tertawa. Anak ini sangat perhatian pada lingkungannya. Dan juga kritis.


Mungkin karena Sarah selalu mengajarinya dengan baik dan memberinya makanan yang bergizi. Karena kalau ingat sewaktu Aryaka dalam kandungan, dia bulan-bulan terakhir, malah kadang aku makan seadanya. Maklum kehidupan kami sudah sangat sulit.


"Makanya Aka jangan nakal. Papanya jadi enggak bisa mam, kan," ucap Sarah lagi. Lalu dia buru-buru menghabiskan makanannya dan membawa Aryaka ke ruang tamu lagi.


Aku merasa trenyuh dengan sikap Sarah. Dia malah lebih tanggap daripada aku. Aku jadi malu sendiri.


Sepanjang kami makan, mas Arka dan Roni membahas soal proyeknya. Mereka terlihat sangat serius.


Selesai makan, aku membereskan semuanya. Termasuk mencuci piring dan membersihkan ruang makan.


Kasihan Sarah kalau harus membersihkan semuanya sendiri. Dia kan lagi hamil. Belum lagi nanti Aryaka pasti akan mengganggunya.


"Ar, kita pulang yuk. Aku mau nyiapin beberapa berkasku," ajak mas Arka.


"Iya, Mas." Aku mengambil tasku dan berpamitan.


"Aka, Mama pulang dulu ya. Aka sama Mami di sini enggak boleh nakal," ucapku, lalu mencium kening anakku.


"Aka ikut Mama." Aryaka malah mengulurkan kedua tangannya minta aku gendong.


"Aka di sini dulu sama Mami. Besok, Mama sama Papa ke sini lagi," ucapku sambil menggendongnya.


Aku mengajaknya keluar. Sarah dan Roni mengikuti kami. Mas Arka berjalan ke arah sebuah motor dan mulai menstaternya.

__ADS_1


"Lho, Mas. Itu motor siapa?" tanyaku.


"Motornya Roni yang ada di proyek. Sementara aku pakai dulu buat transportasiku," jawab mas Arka.


Aryaka malah kegirangan melihat mas Arka menaiki motor. Lalu dia minta naik juga. Aku pun mendekatkannya dan menaikannya di belakang mas Arka.


"Ya udah, kita muter-muter dulu sebentar, ya," ajak mas Arka.


Bukannya kami tak mau mengajak Aryaka pulang. Kami hanya merasa tak enak saja sama Sarah dan Roni kalau membawa pulang Aryaka sekarang.


Dibawa muter-muter, Aryaka semakin kegirangan. Dan enggak mau turun. Saat aku menurunkannya dia malah nangis.


"Aka mau ikut Mama pulang?" tanya Sarah.


Aku dan mas Arka terkejut sekali mendengarnya. Bagaimana kalau Aryaka benar-benar mau?


Dan kejadian juga. Aryaka benar-benar mau ikut pulang denganku.


"Gimana ini, Sar?" tanyaku tidak enak pada Sarah.


"Bawa aja, Ar. Nanti kalau rewel, telpon aja. Biar aku jemput," jawab Sarah.


Aku menatap mas Arka. Dia juga mengangguk setuju.


"Kamu siapkan pakaian Aryaka dulu, Sar," ucap Roni. Dan Sarah pun masuk ke dalam untuk menyiapkannya.


Tak butuh waktu lama, Sarah sudah kembali dengan tas baby. Lengkap dengan susu formula dan beberapa mainan Aryaka.


Sarah benar-benar seorang ibu yang tanggap dan cekatan. Dia juga tak pernah mengeluh, meski bik Yati sudah tak ikut dengannya.


"Aku bawa dulu ya, Sar." Aku merasa tidak enak. Meski Sarah dan Roni sudah mengijinkannya.


Mas Arka meletakan tas baby-nya Aryaka di depannya. Lalu mulai melajukan motornya perlahan.


Aryaka mintanya berdiri di belakang mas Arka. Dia sangat menikmati perjalanan.


Mas Arka sengaja mencari jalanan kampung yang tak terlalu banyak asap kendaraan. Apalagi mas Arka juga melajukan motornya perlahan.


Di tengah perjalanan, Aryaka minta duduk. Aku memangku dan memeluknya dengan erat. Tak lama dia malah tertidur.

__ADS_1


Aku memeluknya lebih erat lagi. Anakku telah kembali ke pangkuanku. Juga suamiku.


Tak terasa air mataku menetes. Aku sangat terharu. Bahagia karena mendapatkan sesuatu yang kukira tak bisa aku raih lagi.


__ADS_2