
Kami sampai dipelataran vila. Benar kata Doni, di sana sedang ada evakuasi jenasah pak Yono, penjaga vila.
Aku dan Sarah saling berpandang. Bagaimana tidak, sore kemarin dia masih mengantarkan minuman dan makanan untuk kami.
Sekarang kami mendapati jenasahnya sedang di evakuasi oleh polisi karena sudah membusuk.
Aku dan Sarah berdiri agak jauh dari vila. Tepatnya di dekat pintu gerbang masuk.
Jenasah sedang di masukan ke dalam mobil ambulan. Beberapa petugas dari rumah sakit dan kepolisian saling bahu membahu.
Tiba-tiba mataku menatap korden yang kemarin. Posisinya masih seperti kemarin. Setengah terbuka.
Dan aku dikejutkan oleh korden itu yang menutup sendiri. Meski tidak terlalu rapat.
Aku langsung memeluk Sarah.
"Heh! Ada apa?" tanya Sarah yang terkejut karena pelukanku.
Sarah dari tadi melihat proses evakuasi. Tadinya dia mau melihatnya dari dekat. Tapi karena aku menolaknya, Sarah mengalah.
"Korden itu, Sar." Tanganku menunjuk ke arah korden itu, tapi tidak dengan mataku.
"Kenapa korden itu?" mata Sarah justru menatap tajam ke sana.
Dan entah dorongan dari mana, tangan Sarah menarikku berjalan mendekat ke arah korden.
Yang berarti juga mendekat ke arah jenasah. Aku bagai kerbau dicucuk hidungnya, mengikuti kemana langkah kaki Sarah.
Hingga kami melihat korden itu sedikit tersibak. Mataku langsung terbelalak, meski mulutku terkunci rapat.
Sementara petugas yang mengevakuasi jenasah masuk ke dalam vila dan meninggalkan jenasah yang ada dalam kantung sendirian. Doni dan Roni entah berada di mana.
Tanganku masih menggenggam erat tangan Sarah. Tiba-tiba kantung jenasah itu bergerak. Reflek mata kami menatap ke arahnya.
Dan...
Sreett...
Kantung jenasah terbuka sendiri. Seperti ada tangan yang membukanya.
Aku dan Sarah melihat mata jenasah terbuka lebar. Serentak kami berteriak.
Aakkh...!!
Para petugas dan Doni juga Roni keluar dari dalam vila. Doni dan Roni menghampiri kami.
"Ada apa?" tanya Doni.
Aku yang sedang memeluk Sarah menunjukan tangan ke arah kantung itu tanpa membuka mata.
Doni dan Roni langsung membawa kami menjauh. Mataku masih terpejam. Kami tak sadar kalau mereka membawa kami ke saung.
Saung tempat di mana terakhir aku dan Sarah bertemu dengan pak Yono, dan dia menyuguhkan kami minuman dan makanan.
"Sudah. Kalian aman di sini." Doni memelukku erat.
Aku dan Sarah membuka mata.
"Kenapa di sini?" tanyaku dengan suara bergetar.
Doni menatapku yang masih ketakutan.
"Tak ada apa-apa di sini." sahut Doni menenangkan aku.
"Tapi..." mataku menatap nampan yang berisi dua gelas dan sebuah piring kosong.
__ADS_1
"Ini? Kosong kan? Hey, tak usah takut." Doni memegang pinggiran nampan.
"Kosong kan? Tak ada yang memberikan minuman dan makanan pada kalian!" lanjut Doni.
Aku menatap Sarah yang sedang mematung menatap nampan itu juga.
"Sudah. Kalian tunggulah di sini. Kami masih ada urusan dengan mereka." ucap Doni.
"Tidak, Don. Kami takut!" seruku.
"Ya sudah, ikut ke sana lagi." Doni menunjuk ke arah ambulan.
Aku dan Sarah pun menggeleng bersamaan. Doni menatap Roni.
"Ron, kamu tunggu di sini." Lalu Doni melepaskan pelukanku.
Roni mengangguk. Aku mendekat ke arah Sarah dan Roni. Jantungku berdetak dengan sangat cepat.
Doni berlari ke arah para petugas. Tanganku menggenggam tangan Sarah.
Sreett.
Suara nampan bergeser. Aku menoleh ke arah nampan. Seperti tak ada perpindahan.
Tapi tiba-tiba....
Praang...!!
Nampan itu terjatuh. Spontan aku memeluk Sarah.
"Apa tanganmu menyenggolnya?" bisik Sarah.
"Tidak sedikit pun." jawabku pelan.
"Lalu siapa?" tanya Sarah lagi.
"Kalian kenapa? Mungkin tempat ini miring, jadi nampannya tergeser dan jatuh" ucap Roni tak masuk akal.
Jelas-jelas tempat itu rata. Bagaimana mungkin.
"Ron, kita ke mobil saja yuk." ajak Sarah.
Roni menghela nafas, lalu menggandeng Sarah menuju ke mobil Doni.
Aku pun tak mau ketinggalan. Terus mengikuti langkah Sarah dan Roni.
"Kalian berani kan ditinggal di sini?" tanya Roni.
"Tidak!" seru kami berbarengan.
Roni menghela nafas lagi.
"Ya sudah. Kita menunggu di sini" sahut Roni pasrah.
Kakiku terasa lemas. Aku menyandarkan tubuhku ke mobil.
"Aku kebelet pipis, Ron." ucap Sarah.
"Ayo aku antar" sahut Roni.
"Hah! Lalu aku?" tanyaku.
"Mau ikut juga?" pertanyaan Roni seakan meledekku yang terlalu penakut.
Aku mengangguk. Roni menggelengkan kepalanya berkali-kali. Lalu berjalan menuju ke dalam vila.
__ADS_1
Aku hanya mengikuti mereka sampai ke tempat Doni berdiri.
"Aku di sini saja." Aku langsung meraih tangan Doni dan menggenggamnya.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Doni pelan. Karena dia sedang berbicara pada para petugas.
"Oke, pak Doni. Kami permisi dulu. Nanti kami kabari lagi saat proses pemakamannya." ucap salah satu petugas.
"Siap, Pak."
Lalu mobil itu mulai berjalan perlahan dan menghilang. Aku menghela nafas lega. Semoga saja semua sudah berakhir.
Doni mengajakku duduk di kursi yang ada di teras. Menunggu Roni yang mengantar Sarah ke kamar mandi.
Baru saja aku meletakan bokongku, Roni berteriak dari dalam.
"Don...! Tolong ini pintu kamar mandinya macet! Sarah terkunci di dalam!"
Spontan aku dan Doni berlari ke dalam. Sarah berteriak-teriak dari dalam kamar mandi sambil menggedor-gedor pintunya.
Doni menarik handle pintu. Dan pintu dengan mudahnya terbuka. Kami menatap Doni sambil terbengong.
"Ta..di..." ucap Roni terbata.
"Ah, kamu ketularan mereka berdua."
Sarah langsung keluar dari kamar mandi. Wajahnya pucat. Dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.
"Kita pulang Ron." ucap Sarah yang diangguki oleh Roni.
Aku menatap Doni. Doni juga mengangguk. Aku bernafas lega. Untung saja Doni mau pulang.
Setelah mengunci pintu vila, Kami bersama-sama berjalan menuju mobil Doni.
Doni menstater mobilnya.
"Aduh! Kenapa mesti ngadat sih ini mobil!" Doni lalu turun dan membuka kap mobilnya.
Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran jok.
"Ayo dong, aku tak mau kalau harus menginap di sini." gumam Sarah.
Lalu Roni ikut turun karena Doni tak juga selesai memberesi mesin mobil.
"Aku juga, Sar. Bisa mati berdiri berada semalam lagi di sini."
Hening.
Lalu Doni masuk dan mencoba menstater mobilnya lagi. Beruntung mobil bisa di stater.
"Hhh...ada-ada saja!" ucap Doni lalu melajukan mobilnya perlahan setelah Roni masuk.
"Kamu tadi kenapa tidak bisa membuka pintu kamar mandi, Sar?" tanya Doni ditengah perjalanan.
"Entahlah. Susah sekali diputar." jawab Sarah.
"Bukan susah, kamu terlalu tegang. Kamu juga Ron, ikut-ikutan aja."
"Beneran susah, Don!" sahut Roni.
"Nyatanya aku bisa membukanya dengan mudah." Doni menepikan mobilnya. Lalu mengangkat telponnya.
"Iya juga. Eh, ada apa Don?" tanya Roni.
"Pak Sutarjo menanyakan apa kita mau ikut proses pemakaman?"
__ADS_1
"Tidaaakk...!" Aku dan Sarah dengan kompak menjawabnya.