SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 117 MENERIMA TAWARAN YOLA


__ADS_3

"Ar, semalam kami sudah berembug. Dan kami memutuskan agar kalian pindah saja ke rumah kami. Rumah ini terlalu sempit buat kalian. Dan di sini kalian tidak bisa memulai buka usaha," ucap Deni setelah selesai makan.


"Usaha?" tanyaku tak mengerti.


"iya. Kami akan memberikan modal pada kalian untuk mulai usaha," jawab Deni.


"Usaha apa? Aku tak punya basic usaha sama sekali."


"Nanti Yola akan mengajarimu membuka sebuah butik. Kebetulan Yola di sana juga bekerja sama dengan temanku. Dan mereka membuka sebuah butik."


Aku menyimak baik-baik omongan Deni.


"Jadi begini, Ar. Aku ingin membuka cabang untuk butik kami di tanah air. Barang-barangnya nanti aku kirim dari sana. Kalau barang-barang bermerk dari luar negeri, di sini kan pasti laku. Daripada mereka harus jauh-jauh ke luar negeri, pasti lebih memilih membeli di tanah air dengan merk sama," sahut Yola.


"Nah, kamu yang mengelolanya di sini. Di rumahku saja. Kalian bisa sekalian tinggal di sana. Jadi kamu tidak perlu bolak-balik. Lagi pula sayang kan rumahku tidak ada yang merawatnya."


Aku mengangguk mendengar penjelasan dari Yola.


"Untuk sementara aku tinggal di sini dulu sampai kamu bisa mengelolanya sendiri. Deni minggu depan sudah harus kembali dan mulai bekerja lagi."


Deni mengiyakan ucapan Yola.


"Pelan-pelan kamu akan belajar. Arka juga. Nanti kalau dia sudah benar-benar sehat, dia pasti akan lebih hebat dari aku kalau soal manajemen. Iya kan, Ka?"


Mas Arka hanya tersenyum. Dia pasti sangat senang merasa diberi motivasi oleh Yola dan Deni.


"Mulai besok, kita cari tukang untuk merombak halaman dan kamar depan untuk dijadikan showroom. Kalian bisa menggunakan kamar tengah dan kamar belakang untuk anak kalian nanti."


Aku jadi ingat anakku yang kini bersama dengan Sarah. Aku jadi semangat untuk memulai usaha dan berharap suatu saat bisa mengambil anakku kembali.


Aku sudah sangat merindukannya. Mas Arka pastinya juga begitu. Tapi saat ini dia belum bisa mengungkapkan keinginannya. Apalagi dengan kondisi ekonomiku yang belum memungkinkan untuk merawat anakku.


"Atau anak kalian kami bawa saja ke luar negeri? Biar jadi anak bule?" ujar Yola sambil tertawa.

__ADS_1


"Jangan, Yol. Nanti semakin susah kami menemuinya," tolakku.


Yola dan Deni bisa mengerti. Mereka pun tidak mau memaksakan kehendaknya.


"Besok kamu mengajukan pengunduran diri saja, Ar. Kita kan sudah harus mulai bekerja. Aku tidak mau mengulur-ulur waktu. Usahaku di sana juga tidak bisa ditinggal terlalu lama. Bisa ngamuk itu si bule."


"Bule siapa, Yol?" tanyaku.


"Partner usahaku. Namanya Laura. Nih, orangnya." Yola memperlihatkan wajah temannya itu. Seorang bule asli Australi yang sangat cantik dan modis.


Yola juga memperlihatkan foto-foto butiknya di sana. Sebuah butik yang cukup mewah. Pantas saja sekarang Yola makin cantik dan modis juga.


"Ke depannya kami juga akan mengembangkan usaha di bidang kecantikan. Seperti buka salon kecantikan dan tempat spa gitu. Makanya aku harus segera menyelesaikan urusan di sini lalu Laura akan mulai kursus kecantikan di sana."


"Kalau boleh aku tahu, ini memang sudah kalian rencanakan sebelumnya atau bagaimana?" tanyaku.


"Iya sih. Dan kami juga memang akan merekrutmu untuk mengelolanya. Tapi rencana awalnya tahun depan. Berhubung kalian sepertinya butuh penghasilan sekarang, ya sudah kami percepat saja," jawab Yola.


"Pemasarannya bagaimana?" Aku tak punya pengalaman di bidang pemasaran. Relasi juga aku tidak punya.


"Tidak ada yang susah kalau mau belajar. Belajarnya sambil memulai. Jadi bisa langsung dipraktekan ilmu yang nanti akan diajarkan Yola." Deni menambahkan.


"Semua murni barang-barang dari sana, atau aku bisa menambahkan sendiri, Yol?" Karena aku pikir, aku bisa membuat desain sendiri.


Kalau sekedar corat-coret di atas kertas, aku bisa melakukannya.


"Sementara semua barang diimpor dulu. Nanti tugasmu untuk mengembangkan sendiri. Tergantung permintaan pasar."


"Iya, Yol. Karena aku pikir barang-barang dari daerah di Indonesia ini kan sangat beragam dan unik-unik."


"Betul banget, Ar. Tapi untuk mendapatkannya kan memakan banyak waktu. Kita harus survey ke seluruh pelosok negeri. Kalau lewat online, kadang kwalitasnya diluar ekspektasi."


"Kalau barang-barang dari butikku sudah bisa dijamin kwalitasnya. Harganya pun tidak terlalu tinggi. Jadi aku pikir masih bisa terjangkau untuk kantong masyarakat Indonesia," lanjut Yola.

__ADS_1


"Tapi apa harganya akan disamakan dengan harga di sana, Yol? Kemampuan finansial kita kan beda." Aku berkaca pada diriku sendiri yang masih mikir dua kali kalau mau beli barang-barang mahal.


"Tidak masalah. Yang kita jual kan barang-barang branded. Bukan barang kw atau second. Benar-benar new semua. Dan pangsa pasar kita menengah ke atas."


"Jangan takut enggak laku, Ar. Semua barang sudah ada pangsa pasarnya masing-masing. Mereka yang beli dengan harga mahal juga sudah paham soal merk dan kwalitas." Deni menimpali.


"Ayo semangat, Ar. Jangan terlena di zona nyamanmu. Masa hidupmu harus berhenti sebagai tukang jaga meja resepsionis. Berkemabang dong." Yola justru yang semangat sekali menyemangatiku.


Mereka tak ada yang tahu, kalau sejak keluar dari rumah sakit aku sudah tidak lagi jaga meja resepsionis.


Tapi aku tak bisa mengatakan itu pada mereka. Bagaimanapun Deni adalah sepupunya mas Arka. Pasti dia akan marah kalau mengetahui aku bekerja sebagai asisten bayangan bosku.


Apalagi kalau sampai terendus hubunganku dengan Doni. Aku bisa habis dimaki-maki sama Yola.


"Ya sudah. Aku terima tawaran kalian." Aku akhirnya memutuskan yang terbaik untuk keluargaku. Agar aku tak perlu bekerja di luar. Agar kami nantinya bisa berkumpul terus.


Mas Arka pun mengangguk setuju. Dan sepertinya banyak sekali pemikiran yang sudah ada di otak cerdasnya.


Tapi sayangnya dia belum bisa mengungkapkan. Karena bicaranya masih terbata-bata.


"Oh iya, Ar. Besok pagi kan kamu sama Yola sudah mulai mengerjakan projek kalian. Aku mau membawa Arka ke tempat temanku. Dia punya klinik pengobatan alternatif untuk teraphy Arka."


"Bagaimana, Mas? Kamu mau?" tanyaku pada mas Arka.


Mas Arka mengangguk senang. Karena dia sudah sangat ingin sembuh dan beraktifitas kembali.


"Yol. Bagaimana kalau kita mulai proyeknya lusa saja?"


"Kenapa?" tanya Yola.


"Aku kan perlu ke hotel dulu, Yol. Ketemu manajerku. Masa mau resign langsung kabur saja."


"Oke. Berarti besok aku ikut ke tempat pengobatannya Arka," sahut Yola.

__ADS_1


Aku melirik ke arah mas Arka. Terlihat ada kesedihan di wajahnya saat mendengarku besok akan ke hotel lagi. Mungkin nalurinya berkata kalau selama ini aku telah membohongi dan menghianatinya.


__ADS_2