
Si tetangga seksi menatapku dari atas sampai bawah. Aku menatap tajam ke arahnya. Lalu mas Arka menghentikan aktifitasnya, dan segera menghampiriku. Dia mengecup pipiku sebentar lalu mengambil teh yang aku bawakan tadi.
Mas Arka duduk di kursi yang ada di dekatnya, lalu menyuruhku duduk di kursi sebelahnya. Mas Arka bersikap seolah tak ada orang lain.
"Jangan diambil hati omongannya tadi. Mas juga gak begitu mengenalnya" ucap mas Arka pelan. Aku mengangguk.
Sementara si tetangga seksi kelihatan sewot dan segera berlalu, masuk ke rumahnya.
"Tuh kan, dia pergi sendiri. Makanya jangan diladenin yang model begituan" ucap mas Arka lagi.
Aku mengangguk lagi, terus pamit pada mas Arka, untuk melanjutkan memasak di dapur. Dan mas Arka pun segera menyelesaikan mencuci mobilnya.
Sementara di dapur, pikiranku masih pada perempuan tadi. Rupanya tetangga sebelah, seorang perempuan seksi yang suka memakai pakaian kurang bahan.
Aku tersenyum sendiri. Kok gak malu ya, memakai pakaian kayak gitu, mengajak berbicara pada laki-laki. Di luar rumah pula. Berapa banyak mata laki-laki yang akan melotot melihatnya? Tanyaku pada diri sendiri.
Lagi asik memasak dan masih memikirkan perempuan tadi, tiba-tiba mas Arka masuk ke dapur. Posisiku yang sedang menggoreng, dan membelakangi pintu masuk dapur, membuat aku gak lihat mas Arka masuk.
Tau-tau dia sudah memelukku dari belakang. Aku terkejut. Dan nyaris melemparkan spatula yang aku pegang.
"Mas ngagetin ih" ucapku.
Tanpa mengindahkan ucapanku, mas Arka malah menciumi leherku. Aku memang mencepol rambutku ke atas, biar gak menggangguku saat masak. Walaupun rambutku belum kering sempurna.
Aku menggeliat geli. Karena mas Arka terus saja menciumi leherku.
"Udah dong mas. Geli tau. Aku kan lagi masak" ucapku. Sambil menahan geli tapi juga enak.
"Lanjutin aja masaknya sayang. Dan mas akan lanjutin nyiumnya. Kamu wangi banget" ucap mas Arka.
Dan kali ini tangannya bergerilya. Aku tak bisa konsentrasi lagi. Akhirnya aku matikan kompor. Lalu aku angkat telur yang sedang aku goreng.
Aku membalikan tubuhku. Aku tatap nanar matanya. Mas Arka pun menyambutku. Sejenak kami menikmati kissing in the kitchen. Hingga kami kehabisan nafas.
__ADS_1
"Udah mas. Mas kan harus ke kantor. Ntar telat" ucapku menyudahi. Mas Arka mengecupku sekali lagi. Lalu bergegas menuju ke kamar, untuk bersiap.
Aku pun segera menyelesaikan masakanku. Dan menatanya di meja makan.
Mas Arka keluar dari kamar. Dia udah rapi dengan pakaian kerjanya. Aku menatapnya. Emang ganteng suamiku. Pujiku dalam hati.
"Kondisikan matanya ya. Jangan lama-lama ngeliatinnya, entar naksir lho" ucap mas Arka sambil tertawa. Aku ngedumel dalam hati. GR, batinku.
Kami pun sarapan berdua. Dengan menu ala kadarnya. Cita rasa ala chef Aryani.
Setelah mas Arka berangkat kerja, aku duduk santai di teras depan. Menunggu tukang sayur yang mungkin akan lewat depan rumah. Daripada aku mesti ke pasar. Jauh.
Tak lama, yang ditunggu dateng juga. Aku segera memanggilnya.
Sedang asik memilih belanjaan, muncullah si tetangga seksi. Dia ikutan nimbrung dengan beberapa pembeli. Yang aku kira, mereka kebanyakan ART.
Dia menatapku lagi. Aku pura-pura cuek. Pembeli yang di sebelahku udah kasak kusuk dengan yang lain. Pantas aja orang pada kasak kusuk, pakaiannya aja gak pantas.
Emang suaminya gak protes, lihat istrinya aurat di umbar kemana-mana. Tapi dia punya suami apa enggak, aku juga gak tau. Aku menepis pikiranku sendiri. Ngapain aku mikirin orang kayak dia.
"Kamu pembantu di sebelah ya?" tanya perempuan itu, entah di tujukan pada siapa. Aku karena gak merasa di ajak omong, hanya diam aja. Asik memilih belanjaan.
Setelah selesai, aku segera membayar belanjaanku. Lalu segera berjalan masuk ke rumahku. Belum terlalu jauh, aku mendengar dia bicara lagi.
"Pembantu aja sombong." Aku masih cuek. Aku masih mencoba berfikir, omongan itu tidak di tujukan padaku.
Aku juga masih ingat omongan mas Arka tadi. Gak usah mikirin omongan orang itu. Kalau di cuekin nanti dia akan pergi sendiri.
Aku pun segera masuk ke dalam rumah. Sebelum menutup pintu, aku sengaja melihat ke arahnya. Dia masih saja menatapku tajam.
Apa sih maunya manusia satu ini. Batinku. Lalu aku menutup dan mengunci pintu depan.
Perempuan kurang kerjaan. Batinku lagi.
__ADS_1
🍄🍄
Sore hari menjelang mas Arka pulang kerja, aku menunggu di teras rumah. Sambil memainkan ponselku. Aku lihat ke halaman rumah sebelah, perempuan itu juga ada di luar. Dengan pakaian yang tak kalah seksinya, dari yang dia pakai tadi pagi. Entah sedang menunggu siapa.
Tak lama, mobil mas Arka datang. Aku pun berdiri, siap menyambut suamiku. Eh, perempuan itu tersenyum ke arah mas Arka.
Wah, ada yang gak beres ini, dengan tetangga seksiku. Untung mas Arka kelihatan gak peduli. Begitu keluar dari mobilnya, langsung merangkulku. Mencium keningku. Dan kami segera masuk ke dalam rumah.
Sempat aku dengar, perempuan itu melemparkan sesuatu ke tengah jalan. Mungkin dia kesel karena di cuekin mas Arka.Lagian, nunggu kok suami orang.
Tetangga model begini yang wajib di waspadai. Jangan sampai mengganggu kestabilan rumah tangga.
Tak lama, pintu depan ada yang mengetuk. Aku yang baru saja keluar kamar, bermaksud membukakan pintu. Tapi mas Arka segera mencegahku. Biar dia aja yang membukanya.
Aku pun menurut saja. Lagi pula, aku kan belum punya teman di sini. Gak mungkin ada yang nyariin aku. Lalu aku ke dapur, membuatkan teh hangat untuk suamiku.
Tak butuh waktu lama untuk membuatkan teh. Tinggal tuang air panasnya dari dispenser, kasih gula sedikit sama teh, jadi deh.
Aku melangkah ke ruang tengah. Aku lihat mas Arka juga sedang menuju kesana. Lho, terus tadi siapa yang mengetuk pintu?
"Siapa tadi mas?" tanyaku.
"Nih" jawab mas Arka, sambil mengulurkan sebuah kotak makanan.
"Dari siapa?" tanyaku lagi.
"Tetangga sebelah" jawab mas Arka singkat.
What? Si perempuan seksi itu? Dia yang memberikan kotak makanan ini? Kenapa harus memberikannya saat mas Arka sudah pulang? Kenapa tidak dari tadi, saat aku duduk di teras?
"Udah, gak usah di pikirin" ucap mas Arka, yang melihatku cemberut. Lalu menarikku ke pangkuannya. Lalu mulai mencumbuku. Aku yang sedang merasa kesal dengan tetangga seksi itu pun, jadi melampiaskannya ke suamiku.
Aku balas cumbuannya tak kalah panas. Sepanas hatiku. Gara-gara ulah tetangga seksi, yang mencoba menjadi sang penggoda bagi suamiku.
__ADS_1