SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 41 ADA GETARAN ANEH


__ADS_3

Aku sangat terbantu dengan kehadiran Bima. Meskipun aku harus merogoh kocek untuk membayarnya. Tapi gak apa-apa, yang penting mas Arka keurus. Dan bukan cuma itu, Bima juga setiap hari memberi terapi pada mas Arka.


Pagi ini mas Arka akan di terapi kakinya. Seperti sebelum-sebelumnya, bi Yati menyiapkan ember besar yang diisi air panas dan garam kasar.


Nanti Bima yang akan mengatur tingkat panasnya, dengan menambahkan air dingin. Bima kelihatan sangat profesional.


"Saya sudah biasa menangani pasien stroke, Bu. Saya dulu bekerja di sebuah pengobatan alternatif. Di sana saya di latih untuk menangani pasien-pasien stroke. Mulai dari stroke ringan sampai stroke parah, seperti bapak ini" ujar Bima menjelaskan.


"Kenapa kamu tidak meneruskan kerja di sana?" tanyaku.


"Pernah ada masalah dengan keluarga pasien, Bu" jawabnya jujur. Kaget juga aku mendengar kejujurannya. Tapi kenapa?


"Waktu itu, saya menangani pasien stroke parah. Saya di tugaskan sama bos untuk menangani dia secara privat. Beberapa kali penanganan, pasien belum juga membaik, ya kayak bapak sekarang ini. Lalu pihak keluarga marah-marah. Malah memaki-maki saya. Bahkan memfitnah saya melakukan mal praktek. Dan mereka akan menuntut saya dan bos saya. Yah daripada saya dapat masalah, akhirnya saya memilih mengundurkan diri" ujar Bima dengan nada sedih.


"Penderita stroke seperti bapak ini, gak cepat proses penyembuhannya, Bu. Perlu waktu lama untuk terapi-terapinya. Malah kadang bisa sampai bertahun-tahun" ucapnya lagi.


"Waduh, repot juga ya kalau sampai bertahun-tahun? Semoga mas Arka bisa segera sembuh. Kasihan juga kan dia tersiksa seperti ini?" ucapku.


Aku juga gak mau kalau mas Arka akan bertahun-tahun cuma duduk di kursi roda. Siapa yang akan menanggung kehidupan kami?


Sedangkan biaya untuk penyembuhan mas Arka gak murah. Aku sudah memakai uang tabungan yang rencananya buat anakku lahir nanti.


Aku juga belum tau untuk ke depannya, uang dari mana lagi. Sejauh ini, aku udah berusaha menghemat pengeluaran. Aku tidak akan mengeluarkan uang untuk hal-hal yang gak penting.


Kemarin Yola mengirimkan uang untuk ku. Katanya buat pegangan, mungkin akan bermanfaat. Dia sangat paham kondisiku sekarang. Ah, seandainya Yola masih ada di sini.


Beruntung sekarang di rumah ada bi Yati dan Bima. Jadi aku gak kesepian, dan tak terlalu meratapi nasib. Ibu juga sering datang ke sini.


Besok jadwal mas Arka fisioterapi di rumah sakit. Sebenarnya terapi dari Bima juga sudah lumayan bagus. Cuma aku juga ibu kepingin mas Arka juga mendapatkan perawatan medis.

__ADS_1


Kalau di rumah sakit kan ada alat-alatnya, lengkap untuk fisioterapi. Sedang yang dilakukan Bima semua manual. Ya, aku anggap itu sebuah pengobatan alternatif.


Daripada aku harus membawa mas Arka ke tempat pengobatan alternatif, pasti akan sangat merepotkan.


Untung Bima bisa menyetir mobil, jadi kita bisa pakai mobil mas Arka untuk sampai di rumah sakit.


Ibu yang sedianya akan ikut, tadi menelfonku. Katanya lagi masuk angin, badannya sedikit kurang enak. Jadi batal ikut. Akhirnya aku berangkat mengantar mas Arka hanya dengan Bima.


Usia Bima gak jauh dari aku. Lebih muda sedikit. Tampangnya gak ganteng-ganteng banget. Tapi cukup menarik. Orangnya supel. Gampang akrab sama orang lain. Termasuk denganku yang kadang susah bergaul.


Aku memang susah untuk dekat dengan orang lain. Tapi entah mengapa, aku bisa langsung akrab sama Bima.


Karena usia Bima yang di bawahku, jadi aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Biar aku gak risi kalau harus berdekatan dengannya.


Jujur aku jarang berdekatan dengan laki-laki. Apalagi sejak menikah, malah hampir tidak pernah.


Di mobil, aku memilih duduk di jok tengah. Menemani mas Arka. Kasihan kan kalau mas Arka sendirian. Biasanya ibu yang duduk di sebelah mas Arka.


Walaupun aku sempat bertanya-tanya kenapa. Apa ada yang salah dengan penampilanku. Aku diam-diam meneliti penampilanku.


Sesampainya di rumah sakit, Bima sigap mengeluarkan mas Arka dari dalam mobil. Di bantu beberapa petugas rumah sakit.


Setelah Bima selesai mendaftar, kami duduk menunggu di depan ruang fisioterapi. Bima duduk persis di sebelahku, tanpa jarak.


Lengannya menempel di lenganku. Aku agak risi, lalu aku pura-pura membetulkan tangan mas Arka yang jatuh dari pangkuannya. Sekedar untuk merubah posisi.


Lalu aku beranjak berdiri, pura-pura lagi ingin membeli minuman.


"Mau kemana, Bu?" tanya Bima. Aku menjawab mau membeli minuman. Bima ikut berdiri.

__ADS_1


"Biar saya saja yang membelinya. Ibu tunggu aja di sini. Biar gak capek." Aku mengangguk, lalu memberikan uang pada Bima, tapi dia menolaknya.


Tak lama, Bima memberikan aku sebotol air mineral dingin. Katanya aku jangan minum yang bersoda, karena gak baik untuk kandunganku.


Aku menurutinya. Lalu meminumnya. Botolnya udah di bukakan oleh Bima. Aku malah jadi gak enak diperlakukan seperti itu.


Nama mas Arka di panggil. Bima mendorong kursi roda mas Arka masuk ke ruangan fisioterapi. Tak lama dia pun keluar.


Bima mengajakku jalan-jalan sebentar, biar gak bete nunggunya, katanya. Karena harus menunggu satu jam lebih.


Kami jalan mencari kantin. Sejak hamil memang aku lebih sering merasa lapar. Banyak mata yang menatap ke arah kami. Mungkin mereka pikir, kami pasangan suami istri. Bahkan ada juga yang menanyakannya.


"Istrinya lagi hamil ya, Mas?" tanya seorang pegawai kantin. Dan dengan pede-nya Bima mengiyakan. Aku menghela nafas. Ada-ada aja nih orang.


Bima begitu perhatian padaku. Dia mengambilkan makanan buatku. Menawariku ini-itu. Dan semua dia yang membayarnya. Padahal dia kan cuma perawat suamiku, dan aku yang menggajinya.


Tapi ya sudahlah, aku gak mau berdebat soal itu. Nanti aja kalau menggaji dia, aku tambahin buat ganti uangnya.


Hampir satu jam kami di kantin. Kalau aku gak mengingatkan, Bima seolah lupa waktu. Karena dari tadi dia terus saja berbicara. Aku hanya menanggapi seperlunya.


Jujur, aku sebagai perempuan dewasa, yang lama tak mendapat sentuhan dari suami, menjadi agak tergetar dengan sikap Bima.


Apalagi kalau Bima nempel-nempel. Serasa merinding bulu-bulu romaku.


Kami berjalan lagi menuju ruang terapi. Sampai di sana, mas Arka sudah ada di luar, di tunggui seorang petugas.


Bima langsung mendorong kursi roda mas Arka. Aku mensejajarkan langkahku dengan Bima.


Saat berjalan, tiba-tiba kakiku terpeleset. Hampir saja aku jatuh. Bima dengan sigap menangkapku. Dan melepaskan kursi roda mas Arka. Otomatis aku berada di pelukannya.

__ADS_1


Sejenak mata kami bertemu. Dia menatapku tajam. Dan dalam. Ada getaran aneh di dadaku.


Aku segera membetulkan posisiku. Aku merasakan wajahku memanas. Jantungku berdetak sangat kencang.


__ADS_2