
Aku berjalan ke luar komplek. Di seberang sana ada sebuah toko yang kata bi Yati lumayan komplit.
Biasanya memang bi Yati yang berbelanja kalau ada kekurangan belanjaan dan aku belum sempat ke supermarket.
Sekarang boro-boro mikir ke supermarket. Belanja aja seadanya.
Aku masuk ke dalam toko itu. Ternyata benar kata bi Yati, toko ini lumayan besar dan komplit. Hampir semua kebutuhan rumah tangga ada di sini.
Aku yang membawa uang pas-pasan, hanya bisa menelan ludah melihat banyaknya barang-barang yang sebenarnya juga aku butuhkan.
Tapi apa daya, uangku gak bisa untuk membelinya. Aku tetap memilih membelikan mas Arka diapers, agar tak merepotkan aku dan dia tidak makin kedinginan karena kena ompolnya sendiri.
Dan juga membalikannya coklat. Nanti bisa aku lelehkan dan menyuapinya. Udah cukup dua macam saja.
Itu pun sisa uangnya tak seberapa. Aku akan menyimpannya buat cadangan.
Setelah membayar, aku keluar dari toko itu. Aku hendak menyeberang. Aku sudah menunggu jalanan sepi, tapi tiba-tiba seorang pengendara motor, dengan kecepatan tinggi, seperti akan menabrakku.
Untung dia langsung mengerem motornya. Alhasil, dia terpelanting dan jatuh jauh dari motornya.
Lenganku pun sempat terserempet, hingga barang belanjaanku ikut terlempar.
Lumayan sakit lenganku. Tapi untungnya tak mengenai perutku. Aku kepingin marah, tapi kasihan melihat kondisi si pengendara yang babak belur.
Aku pun mengambil belanjaanku, dan segera bergegas pulang. Bukannya aku gak mau menolongnya, tapi buatku lebih penting membawa pulang kebutuhan suamiku.
Apalagi terus banyak yang menolongnya. Orang-orang berkerumun melihat si pengendara yang berusaha bangun. Ada juga beberapa yang menolongnya. Tapi banyak juga yang cuma menonton.
Seolah kecelakaan itu adalah sebuah tontonan gratis. Buakannya menolong, malah ada beberapa yang merekam si pengendara yang masih selamat.
Mungkin mereka merasa sudah seperti wartawan yang sedang dikejar deadline. Wartawan dadakan. Ujung-ujungnya videonya muncul di tik tok.
Sementara mereka mengabaikan aku yang jadi korbannya. Mereka hanya tertarik dengan pengendara yang sempat terkapar di jalanan.
Aku kembali melangkahkan kakiku. Aku harus secepatnya sampai di rumahku. Kasihan suamiku kalau aku tinggal terlalu lama.
Belum sempat aku sampai ke seberang, ada orang yang sepertinya memanggilku.
__ADS_1
"Ibu...! Ibu...! Tunggu dulu!" Aku mempercepat langkahku agar segera sampai ke seberang. Baru aku menengok ke arah suara yang memanggilku.
Dia, laki-laki yang menabrakku tadi. Berlari ke arahku. Mau apa lagi dia? Mau minta ganti rugi? Bukannya dia sendiri yang menabrakku?
Atau mau minta di uruskan biaya Rumah Sakitnya? Boro-boro. Suamiku aja yang kehabisan obat, aku tak sanggup membelikannya.
Aku kembali mempercepat langkahku. Tapi aku merasa orang itu terus saja mengikutiku. Dan tiba-tiba dia sudah ada di depanku.
Dia menatapku tajam, sambil tangannya memegangi salah satu lengannya yang kesakitan. Mungkin karena tadi dia terpelanting di atas aspal.
"Ibu, gak apa-apa?" tanyanya sambil meneliti kondisiku. Dia menatapku dari atas hingga bawah. Aku hanya mengangguk saja.
"Kalau Ibu kenapa-napa, bilang saja Bu. Saya akan bertanggung jawab" ucapnya lagi.
Aku yang malas menjawab pertanyaannya, hanya mengangkat bahuku. Lalu melangkahkan kakiku lagi memasuki gerbang komplek yang sudah di depan mata.
Aku terus berjalan hingga sampai di depan bangunan rumahku. Aku langsung menuju ke pintu untuk membukanya.
Sebelum masuk ke dalam rumah, aku sempat menengok ke arah jalanan. Aku masih melihat laki-laki itu yang masih terus saja memperhatikan aku.
Aku yang gak mau ambil pusing, langsung masuk aja ke dalam rumahku dan mengunci pintunya.
Aku ke kamarku, mau memasangkan diapers suamiku. Dan seperti yang sudah-sudah, suamiku sudah menggeser posisinya.
Aku tersenyum bahagia. Dia sudah mulai bisa menggerkkan tubuhnya, walau hanya sedikit. Setidaknya ada perubahan yang baik.
Setelah memasangkan diapersnya, aku menuju dapur. Aku akan membuatkan coklat hangat untuknya.
Selesai membuat coklat hangat, aku mendengar pintu rumahku di ketuk. Aku berjalan menuju ke pintu. Sebelum membukanya, aku intip dulu dari jendela. Tak ada siapapun di sana.
Aku kembali lagi ke dapur dan membawakan coklat hangat buatanku ke kamar. Aku letakan di lantai, lalu aku menyangga kepala dan punggung mas Arka dengan bantal. Agar memudahkan aku menyuapinya.
Setelah posisi mas Arka nyaman, aku menyuapkan coklat panasnya perlahan-lahan. Dia kelihatan sangat menyukainya. Terlihat dari pancaran matanya yang berbeda.
Aku tersenyum melihatnya. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mas Arka berseri-seri. Mungkin orang lain yang jarang melihatnya tak bisa merasakan wajah mas Arka yang berseri-seri. Tapi aku bisa merasakannya.
Atau mungkin itu hanya perasaanku saja? Tak apalah. Yang penting aku bahagia melihat suamiku juga bahagia.
__ADS_1
Selesai menyuapinya, aku kembali ke dapur. Membersihkan cangkir bekas coklatnya.
Tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuknya lagi. Sebenarnya aku malas menanggapinya. Tapi karena ketukan itu tak berhenti-berhenti, akhirnya aku keluar juga.
Rupanya si Abang tukang sayur. Dia bersama dengan seorang laki-laki gendut. Mau apa mereka?
Kalau bukan karena kenal dengan si Abang tukang sayur, aku tak akan membukakan pintunya.
"Selamat siang, Neng. Ini bapak yang akan membeli semua perkakas di rumah Ibu" ucap si Abang tukang sayur.
Aku mengernyitkan dahi. Semua perkakas? Wah, kayaknya salah tangkap ini si Abang. Kalau semua perkakas aku jual, terus aku pakai apa?
"Bukan semua, Bang. Hanya beberapa saja. Kalau semua, terus kosong dong rumah saya?" jawabku.
Si Abang manggut-manggut. Di ikuti oleh laki-laki itu juga manggut-manggut.
"Mari silakan, Pak. Di lihat-lihat dulu. Bapak minatnya dengan yang mana?" ujarku mengajak mereka masuk ke rumahku.
"Kalau si Bapak sih pastinya minat dengan semuanya, Neng. Kan nanti bisa di jual lagi, ya kan Pak?" tanya si Abang.
Oh, jadi bapak-bapak ini pengepul barang bekas? Wah, harus hati-hati ini. Karena pasti akan menawar dengan harga rendah.
"Bagaimana, Pak?" tanyaku. Karena aku tak mau dia lama-lama ada di dalam rumahku. Bisa-bisa semua di belinya.
"Terserah ibu mau jual yang mana? Saya sih nurut aja, Bu." Sekarang malah aku yang bingung mendengar jawabannya.
Setelah aku pikir-pikir, sepertinya lemari yang ada di ruang tamu tak terlalu terpakai. Apa itu aja yang aku jual?
"Bagaimana kalau lemari ini, Pak?" tanyaku sambil menunjukan lemarinya. Si bapak itu mengangguk.
"Boleh, Bu. Ibu mau menawarkan harga berapa?" tanya si bapak itu. Waduh, aku malah bingung mau menghargai berapa. Karena aku juga belum pernah menjual perkakas rumah.
"Terserah Bapak aja deh, yang penting harga pantas aja, Pak" jawabku.
Setelah tawar menawar harga, dan mendapatkan kesepakatan, si Bapak itu mengeluarkan dompet dan memberikan aku uang sejumlah harga lemari.
"Silakan di terima uangnya, Bu. Saya permisi dulu. Nanti sore karyawan saya yang akan ke sini mengangkut barangnya. Kalau Ibu mau menjual barang lagi, hubungi saya saja. Ini kartu nama saya" ucap si Bapak, sambil memberikan sebuah kartu nama.
__ADS_1
Sedih banget aku menerima uang itu. Bagaimana tidak, untuk sekedar makan saja, aku harus menjual lemari. Tapi aku tetap bersyukur. Masih ada yang bisa aku jual untuk makan.