
Aku dan Yola tak bisa berlama-lama di Rumah Sakit, sekalipun kondisi ibu mertuaku belum sadarkan diri. Karena kami meninggalkan mas Arka sendirian di rumah.
"Bi, hape ibu ada di mana?" tanyaku.
"Di rumah, kalau tidak salah di kamar ibu" jawab bi Yati.
"Begini aja bi, nanti bibi pulang ke rumah ibu ambil hapenya. Ini aku tinggalin nomor hapeku. Nanti bibi bisa hubungi aku, ya?" ujar Yola.
"Baik bu Yola. Siang nanti saya juga mau pulang sebentar. Mau ambil pakaian ganti" jawab bi Yati.
"Oh iya, bi. Urusan administrasinya ibu apa udah di urus?" tanyaku. Karena ibu masuk ke rumah sakit ini cuma diantar bi Yati.
"Sudah bu Ar. Pak RT kemarin yang menguruskan semuanya. Kalau soal biayanya saya tidak tau" jawab bi Yati. Pak RT memang masih sepupu ibu mertuaku.
"Ya udah deh bi. Aku juga harus ngurus mas Arka. Nanti kalau ada apa-apa dengan ibu, tolong kabari Yola dulu" ujarku.
"Kami pamit ya bi. Tolong jaga ibu. Semoga ibu cepat membaik" Aku berpamitan pada bi Yati.
Kondisi yang sangat sulit buatku. Sementara mas Arka belum juga sembuh, ibu malah dirawat di rumah sakit dan belum sadarkan diri.
Mana aku juga sebentar lagi hampir melahirkan. Semoga ibu cepat membaik. Dan bisa membantuku mengurus mas Arka lagi.
Aku dan Yola menuju ke sebuah toko celluler yang tak jauh dari rumah sakit. Tadinya Yola mau membelikanku di pusat perbelanjaan, tapi karena kami sudah terlalu lama meninggalkan mas Arka, kami memilih membelinya di toko biasa saja. Biar cepat.
"Gak usah yang mahal-mahal, Yol. Yang penting bisa buat komunikasi aja" ujarku. Karena melihat Yola yang memilih hape mahal.
"Udah gak apa-apa. Biar awet" sahut Yola santai.
Keadaan ekonomi suami Yola memang sangat bagus. Dia bekerja di luar negeri, di sebuah perusahaan besar. Pasti penghasilannya juga besar.
Tapi aku tak tau kondisi rumah tangganya. Karena Yola belum mau menceritakannya padaku.
Dan alasan Yola pulang ke Indonesia pun, aku tak tau. Mau selamanya tinggal di sini lagi atau mau balik lagi ke sana.
Aku gak enak hati kalau memaksa Yola bercerita. Nanti juga Yola sendiri yang menceritakannya.
Selesai membeli hape, kami segera pulang ke rumahku. Pikiranku gak tenang meninggalkan mas Arka sendirian di rumah.
Dan benar saja, sesampainya di kamarku, kami mencium bau yang sangat tidak enak. Aku melihat ke tempat tidur, kotorannya mas Arka sudah meluber ke mana-mana.
__ADS_1
Karena bercampur air pipisnya dan mas Arka sudah mulai banyak bergerak.
Aku menghela nafasku. Lalu aku menyuruh Yola keluar dulu dari kamarku.
Kadang aku merasa sangat sedih, capek dan jenuh dengan semua ini. Kandunganku juga semakin membesar, semakin menyulitkan aktiftasku.
Dan kadang aku sampai melupakan kondisiku sendiri. Karena aku tak punya uang lagi untuk membeli vitamin ataupun susu hamil.
Aku membersihkan kotoran mas Arka sambil menangis perlahan. Kapan semua ini akan berakhir?
Belum lagi ibu mertuaku malah sakit. Pada siapa lagi aku akan minta tolong?
Yola memang baik. Bisa aku andalkan untuk menolongku. Tapi aku gak mungkin minta tolong terus padanya.
Selesai dengan urusan mas Arka, aku keluar lagi dari kamarku untuk menemui Yola. Dia ada di dapur. Sedang menyiapkan makanan untuk mas Arka.
"Maaf, Ar. Aku gak bisa membantu" ucap Yola.
"Gak apa-apa, Yol. Aku biasa melakukannya sendiri. Lagian itu kan hal yang sangat pribadi" sahutku.
Gak mungkin kan Yola ikut membersihkan mas Arka. Bagaimana pun dia kan perempuan.
"Andai Bima masih di sini. Andai dia tidak sejahat itu kepadaku." Aku menerawangkan pandanganku ke depan.
"Sekarang yang harus kamu pikirkan, bagaimana nanti saat kamu melahirkan. Kamu udah punya rencana?" tanya Yola.
Aku mengangguk lemah. Bagaimana mau merencanakan, kalau uang pun aku tak punya. Barang-barang berharga juga udah gak ada.
"Aku hanya bisa pasrah, Yol" jawabku.
"Jangan pasrah gitu dong. Lakukan sesuatu, Ar" ucap Yola.
"Lakukan apa? Kamu pikir kita bisa melakukan sesuatu tanpa uang?" Yola nampak berfikir.
"Sekarang coba kamu aktifkan hapemu. Kamu coba cari cara bagaimana mengurus BPJS. Kelihatannya itu satu-satunya cara sekarang. Daripada kalian nanti keteteran. Kalau soal bayar iuran bulanannya, biar aku yang nanggung" ujar Yola bersemangat.
Tapi aku malah sebaliknya. Bagaimana aku bisa bersemangat, kalau untuk membayar iuran bulanannya saja, aku mesti mengandalkan orang lain.
Tapi aku tetap berusaha mencari informasinya. Bagaimana pun, nanti aku pasti akan membutuhkannya.
__ADS_1
Paling tidak saat aku melahirkan, yang hanya tinggal satu bulanan ini saja.
"Tapi apa bisa langsung di gunakan? Aku kan paling satu bulan lagi sudah melahirkan?"
Yola pun hanya mengangkat bahunya. Aku yakin pada dasarnya Yola kurang memahami tentang jaminan kesehatan itu.
"Kamu kapan terakhir periksa ke dokter, Ar?" tanya Yola. Aku hanya mengangkat bahu. Sejak mas Arka sakit, aku baru sekali kontrol ke dokter kandungan.
Kesibukan memikirkan mas Arka dan keuangan yang pas-pasan membuatku tak pernah memikirkannya lagi.
"Kamu juga mestinya memikirkan kesehatan bayi dalam kandunganmu, Ar. Kasihan kan dia kalau kamu mengabaikannya."
Aku hanya tersenyum getir. Yola yang selalu hidup berlebih, tak pernah kekurangan, tak pernah bisa tau rasanya bingung memikirkan besok bisa makan apa tidak.
"Gampanglah nanti, Yol. Aku yakin anakku kuat di dalam sini" ucapku sambil mengelus perutku.
"Kamu sudah beli perlengkapan buat bayimu?" tanya Yola lagi. Aku menggeleng.
"Ya ampun, Aryani. Kamu mau anakmu kedinginan gak pake baju? Atau kamu mau anakmu memakai pakaianmu? Udah, besok kita ke toko perlengkapan bayi" ujar Yola.
Aku menolaknya, karena gak enak hati. Yola sudah banyak sekali mengeluarkan uang untukku.
Dia sudah membelikanku hape. Tadi pagi dia juga sempat membelikan mas Arka diapers dan semua kebutuhan kami.
"Yol...bukannya aku menolak, tapi aku tak mau selalu merepotkan kamu" Aku mencoba menolaknya dengan halus.
"No! Kali ini tak ada penolakan. Ini untuk kepentingan anakmu. Keponakanku. Besok kita belanja!"
Lalu Yola beranjak ke kamar dan menutup pintunya. Aku menghela nafas lagi. Dan aku pun berjalan menuju kamarku sambil membawa makanan untuk mas Arka.
Di atas tempat tidur, aku melihat mas Arka sedang berusaha menggerakan tangannya.
Tumben dia tak menghentikannya saat melihat aku. Biasanya dia akan berhenti melakukannya.
Aku sangat bahagia melihat perkembangan mas Arka. Dia mulai bisa menggerakan tangannya. Walaupun tak terlalu tinggi dan jatuh lagi.Tapi mas Arka terus mencobanya.
Aku menghampirinya. Menyemangatinya.
"Ayo, Mas. Kamu bisa! Lakukan terus, Mas!"
__ADS_1
Aku menitikan air mataku. Ya Allah semoga suamiku segera di beri kesehatan. Biar bisa menjagaku dan bayiku nanti.
"Ayo, Mas. Kamu harus bisa!"