SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 55 DAPAT PINJAMAN UANG


__ADS_3

Setelah selesai mengurusi mas Arka, aku keluar dari kamarku. Aku akan membersihkan teras. Menyapu juga mengepelnya.


Sudah beberapa hari ini sejak bi Yati ke rumah ibu, tak ada yang membersihkan teras. Aku menatap ke rumah sebelah. Rumah Yola.


Aku jadi kangen dengan Yola. Apa kabarnya dia ya? Aku sudah tak punya hape lagi. Aku tak bisa komunikasi lagi dengannya.


Biasanya setelah selesai dengan pekerjaan di rumahku, bi Yati akan membersihkan rumah Yola. Bi Yati juga mendapatkan tambahan gaji dari Yola setiap bulannya.


Memang tak seberapa, tapi lumayan kata bi Yati. Bisa buat nambah uang tabungannya.


Aku jadi berfikir, bi Yati aja yang sudah tua mempunyai tabungan. Sementara aku, untuk makan hari ini aja aku masih bingung uang dari mana.


Aku benar-benar merasa sedang berada di titik nol. Aku tak punya apa-apa lagi.


Benar kiranya orang bilang kalau roda kehidupan itu terus berputar. Ada kalanya orang berada di atas. Dan sedetik kemudian bisa jadi ada di titik terendah.


Semua karena kecerobohanku. Coba kalau aku tak menerima uang cash, pasti uang itu tak akan hilang di rekeningku.


Atau coba kalau aku tak lupa menutup pintu rumah, tak akan ada maling masuk rumahku dan menggasak semua uangku.


Atau mungkin kalau saja para penjaga keamanan di komplek tak akan teledor, maling gak akan berkeliaran.


Nasi sudah menjadi bubur. Lapor Polisi pun uangku tak akan bisa kembali. Sekali pun malingnya tertangkap, uangku sudah hilang.


Selain karena aku tak punya ongkos untuk ke kantor Polisi yang jaraknya lumayan jauh, aku juga malas mengurusnya. Karena pasti akan makin tambah ruwet dan bisa jadi akan banyak biaya.


Uang dari mana untuk membiayai itu semua. Untuk makan hari ini aja aku masih bingung.


Entahlah, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Sekarang yang aku pikirkan bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk makan aku dan mas Arka.


Membeli diapersnya lebih penting, agar aku tak kerepotan lagi mengganti celananya saat dia ngompol.


Menyesali keadaan atau menyalahkan orang lain, tak akan membuatku jadi kenyang.


Aku terus saja menyapu halaman. Biarlah rumah Yola nanti kalau bi Yati datang, dia yang membersihkannya.

__ADS_1


Aku tak punya tenaga untuk melakukannya. Tenagaku sudah habis untuk mengurusi mas Arka. Dan membersihkan rumahku.


"Sayur...sayuuur...!" Tukang sayur langgananku mulai memanggil pelanggan-pelanggannya.


Mungkin kalau aku minta dulu belanjaan, tukang sayur gak akan keberatan. Tapi bagaimana kalau saat dia menagih, aku belum punya uang?


Sedangkan aku gak punya penghasilan. Mau bayar pake apa? Kasihan kan dia kalau jadi rugi gara-gara aku tak bisa membayar hutangku.


Aku terdiam di tempatku, sambil memperhatikan beberapa orang yang sedang memilih belanjaan.


"Sayur Neng. Mau masak apa?" teriak tukang sayur menanyaiku. Aku hanya bisa menggeleng, sambil berusaha tetap tersenyum.


Setelah para pembeli pergi, tukang sayur itu menghampiriku. Lalu dia memberikan aku beberapa macam sayuran yang dia masukan ke dalam kantung kresek.


"Ini di masak aja dulu, Neng. Bayarnya mah nanti gampang. Kayak ama siapa aja." Aku menggeleng lagi.


"Udah atuh, di terima aja dulu. Urusan mah belakangan." Abang tukang sayur tetap memaksaku.


"Enggak, Bang. Masih banyak kok di kulkas" ucapku berbohong.


Abang tukang sayur tetap memaksa. Lalu dia meletakan belanjaan itu di meja sebelahku.


Aku jadi punya ide, bagaimana kalau aku minta tolong ke abangnya untuk menjualkan barang-barang di rumahku? Nanti kan hasilnya bisa buat bayar sayurannya juga.


"Bang, bisa minta tolong enggak?" tanyaku ragu-ragu.


"Minta tolong naon, Neng?" tanya si abang. Lalu aku mengajak si abangnya masuk ke rumahku.


"Abang udah tau kalau saya habis kemalingan?" Si Abang tukang sayur mengangguk.


"Saya ikut prihatin, Neng" ucapnya tulus. Aku menceritakan kalau sekarang aku tak punya uang sepeser pun.


"Kira-kira barang apa yang bisa saya jual, yang bisa cepat laku ya, Bang?" tanyaku. Aku buang rasa malu dan gengsiku. Aku lebih memikirkan urusan perutku dan mas Arka.


Seandainya saja aku tak lagi hamil, aku masih bisa menahan lapar. Tapi aku lagi hamil besar. Anakku di dalam perutku pasti akan kelaparan kalau aku tak makan.

__ADS_1


Belum lagi mas Arka. Aku tak bisa membiarkannya lapar. Dia sudah tersiksa dengan penyakitnya, masa harus tersiksa juga karena lapar.


"Nanti coba saya tawarkan ke pelanggan-pelanggan saya deh. Emang yang mana yang mau di jual?" tanya si Abang sambil melihat-lihat isi rumahku.


"Terserah mana aja, Bang. Yang penting bisa jadi uang. Saya butuh buat makan dan beli diapersnya suamiku" jawabku jujur.


Lalu si Abangnya mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu.


"Ini di pakai aja dulu, Neng. Jangan khawatir, ini bukan uang dagangan kok. Jadi aman."


Aku ragu-ragu menerimanya. Bagaimana caraku mengembalikannya?


"Nanti kalau ada yang minat dengan barang-barang ini, si Enengnya bisa pulangin uang saya. Enggak juga gak apa-apa, Neng. Saya ikhlas" ujarnya begitu tulus. Aku sangat terharu mendengarnya.


"Makasih Bang. Tolong usahakan aja biar ada pembelinya. Biar saya bisa balikin uangnya Abang" jawabku.


Si Abangnya manggut- manggut. Lalu segera keluar dari rumahku. Katanya keburu siang, nanti gak ketemu pelanggan yang lain.


Aku mengangguk mengerti. Lalu mengantarkan si Abangnya keluar.


Setelah si Abangnya pergi, aku bersiap ke toko depan komplek untuk membeli diapersnya mas Arka.


Aku masuk ke kamarku dulu. Pamit sama mas Arka. Bagaimana pun kondisinya, dia tetap suamiku. Kemana pun aku akan pergi, aku harus pamit padanya.


Saat aku masuk ke kamar, aku lihat posisi mas Arka sudah bergeser lagi. Dia sudah bergerak lagi.


Tapi kenapa dia bergerak kalau tak ada aku? Kenapa kalau aku suruh bergerak malah semakin lemas badannya? Kadang malah hanya matanya saja yang berkaca-kaca.


Ya sudahlah. Yang penting mas Arka sudah bisa bergerak walau cuma sedikit. Toh dipaksa kayak apa pun dia tetap gak bisa.


Dan yang paling penting, sekarang aku pegang uang untuk membeli kebutuhannya. Walaupun nanti aku masih bingung cara mengembalikannya.


"Mas, aku di pinjami uang sama tukang sayur langganan kita. Dua ratus ribu, Mas. Lumayan bisa buat beli diapersmu, Mas. Mas mau aku belikan apa? Coklat mau?" tanyaku. Walaupun aku tau dia tak akan bisa menjawabnya.


Aku lihat matanya kembali berkaca-kaca. Dia mendengarku. Aku tersenyum meski mataku ikut berkaca-kaca.

__ADS_1


Aku meraih tangannya, lalu mencium punggung tangannya takzim.


"Aku tinggal sebentar ya, Mas. Mas baik-baik aja di sini. Aku gak akan lama" ucapku. Lalu aku berjalan keluar kamar sambil menghapus air mataku.


__ADS_2