SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 114 MAU MAKAN INGAT SUAMI


__ADS_3

Selesai makan dan membereskan meja makan dengan dibantu mas Arka, aku ajak dia duduk-duduk di ruang tamu.


Meski ruang tamu tidak terlalu besar, bahkan jauh lebih kecil dari rumah orang tuanya, mas Arka terlihat sangat nyaman.


"Sini Mas, aku pijat tangannya. Kamu pasti pegal tadi sudah membantuku di dapur."


Ku raih tangan mas Arka. Dan aku mulai memijatnya perlahan. Sudah lama sekali aku tak memijatnya.


Sejak dia dirawat oleh kakak sepupunya yang menyebalkan. Akhirnya aku malah menghindari suamiku juga.


Mengingatnya bikin emosiku naik. Untungnya dia sudah mati. Mati membawa dosa-dosanya.


Entah dimana dia dimakamkan. Aku tak pernah bertanya pada pihak kepolisian atau pihak rumah sakit.


Aku juga tak ada niat untuk ziarah ke makam orang yang pernah berniat membunuhku dan suamiku.


"Enak, Mas?"


Mas Arka mengangguk. Seandainya saja aku punya waktu untuk membawanya terapi kembali ke rumah sakit, mungkin mas Arka akan lebih cepat pulih.


Setelah cukup duduk-duduk dengan mas Arka, aku ajak dia tidur.


"Mas, mau tidur sendiri apa bareng aku?"


Mas Arka menunjuk kamarku. Rupanya dia ingin tidur bareng.


Aku dorong kursi rodanya ke kamarku. Lalu aku bantu dia naik ke atas tempat tidur.


Sekarang sudah agak enteng, karena badannya sudah bisa mengimbangi. Tidak cuma diam seperti patung hidup.


Sebelum tidur, aku ajak dia berbincang-bincang lagi. Meski dia belum bisa menjawab, paling tidak itu bisa merangsang otaknya untuk bekerja.


Aku raih tangannya lagi, aku gerak-gerakan naik turun. Agar tidak kaku.


"Sudah ya, Mas. Aku ngantuk."


Aku pun langsung terlelap.


Tengah malam, ponselku berbunyi. Mas Arka menyenggol-nyenggolku, memberi tanda bahwa ada panggilan masuk untukku.


Dengan malas, aku bangkit dan mengambil ponsel yang aku letakan di atas meja.


Doni. Aku menatap mas Arka yang masih terjaga dan melihat ke arahku.


Meski dia tak akan protes, tapi aku tak berani mengangkatnya. Aku tidak enak kalau mas Arka mendengarnya.


Tanpa menolak panggilannya, aku abaikan saja panggilan itu dan kembali ke tempat tidur.


Belum sempat aku merebahkan diri, ponselku berbunyi lagi.


Doni memanggil lagi. Akhirnya aku putuskan untuk mengangkatnya, tapi diluar kamar.


"Iya, Don. Ada apa?"


"Sudah, tadi abis maghrib. Iya, tidak apa-apa. Oke. See you."


Aku kembali ke kamar dan mas Arka masih melihatku.


"Teman kerjaku, Mas."


Mas Arka masih melihatku, seakan masih butuh penjelasanku.


"Doni. Masih ingat, kan? Yang menolong kita pindah ke sini."


Mas Arka mengangguk lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Aku menghela nafasku. Sepertinya dia sudah mulai ingin tahu urusanku.


Aku pun merebahkan diri dan tidur dengan memeluknya. Agar dia tidak curiga lagi.


Saat adzan subuh, mas Arka bangun. Dia menggoyang-goyangkan tanganku.


"Masih pagi, Mas. Tidur lagi saja." Aku menepiskan tangannya.


Tapi mas Arka menggoyangkan tanganku lagi.


"Kamu mau bangun?" Dia mengangguk.


Aku pun mengalah. Lalu aku turun duluan dan membantunya turun.


"Kamu mau ngapain?"


Mas Arka memberi isyarat kalau dia akan sholat.


"Sendiri bisa?" Mataku masih sangat mengantuk.


Dia mengangguk, lalu menjalankan kursi rodanya sendiri.


Sementara aku melanjutkan lagi tidurku.


Aku terbangun lagi jam enam lebih. Aku langsung beranjak. Kenapa mas Arka tidak membangunkan aku? Apa dia juga tidur lagi?


Aku keluar dari kamar, dan terkejut melihat meja makan sudah rapi dengan makanan yang aku bawa tadi malam.


"Ini kan makanan kemarin, Mas. Basi enggak?"


Dia menggeleng. Aku menciumnya, dan memang tidak bau bahkan hangat.


"Kamu yang memanaskan?"


Mas Arka mengangguk. Bagaimana caranya? Sementara tak ada penggorengan yang kotor. Semua sudah bersih. Apa mas Arka juga yang mencucinya?


Mas Arka mengangguk. Tapi aku tidak percaya kalau tak melihatnya sendiri.


"Serius, Mas? Bagaimana caranya?"


Mas Arka hanya tersenyum sedikit. Atau sebenarnya dia sudah bisa berjalan?


Ah, tidak mungkin. Tangannya saja masih lemah, bagaimana mungkin dia bisa berjalan? Yang ada paling jatuh.


"Aku mandi dulu, Mas. Sudah jam enam lebih."


Biarkan sajalah, kalau memang mas Arka sudah bisa berdiri ya syukur Alhamdulillah. Artinya aku sudah tidak terlalu capek dan repot lagi.


Selesai mandi, aku langsung masuk kamar. Tempat tidur yang tadi berantakan sudah rapi.


Sepertinya mas Arka akan memberi kejutan buatku. Dia kerjakan semuanya dengan baik seperti orang normal.


Selesai memakai baju dan bersiap-siap, aku keluar dari kamar. Rasanya sudah seperti punya asisten rumah tangga. Semuanya sudah tersedia, sudah rapi.


"Ayo, Mas. Makan bareng." Aku ambilkan mas Arka makan. Karena biar bagaimana pun dia adalah suamiku. Aku tetap harus melayaninya.


"Aku berangkat dulu ya, Mas." Aku cium tangannya lalu berangkat kerja.


Di depan gang, seperti biasanya Doni sudah menungguku di sana.


Aku membuka pintu mobil dan segera naik.


"Kamu sudah makan, Ar?" tanya Doni.


"Sudah barusan. Mas Arka yang...."

__ADS_1


Aduh, kenapa ini mulut tak bisa di rem? Mungkin karena terlalu senang, sampai keluar begitu saja.


"Yang apa?"


Aku tak mau Doni tahu dulu tentang perkembangan mas Arka yang sudah sangat baik.


"Yang aku siapkan makannya. Seperti biasa."


"Ooh." Doni tetap fokus pada jalanan yang cukup ramai.


"Kamu sendiri sudah makan, Don?"


Doni menggeleng.


"Aku temani sarapan ya? Kamu mau makan apa?"


"Gak usah. Gampang nanti saja."


"Nanti perut kamu sakit. Kamu kan mau ke proyek lagi, kan?"


"Hari ini, aku tidak ke proyek. Roni sudah handle semuanya. Badanku lagi kurang sehat."


"Nah, itu kurang sehat. Ayo makan dulu."


Setelah aku paksa-paksa, akhirnya Doni mau juga sarapan. Bubur ayam jadi pilihannya. Karena pencernaannya lagi bermasalah.


"Makannya di kantor saja ya, Ar?"


"Iya, gak apa-apa. Yang penting kamu makan."


Aku memesan satu porsi bubur ayam dibungkus.


Tak lama, bubur ayamnya datang. Mm. Aromanya bikin aku laper lagi.


"Bang, satu lagi deh! Sama kayak gini ya."


Tukang bubur ayamnya kembali lagi dan membuatkannya untukku.


"Katanya sudah makan? Pingin ya?"


"Aromanya enak banget. Jadi ngiler." Doni hanya tertawa saja.


Setelah pesananku datang dan membayarnya, kami segera meluncur ke hotel.


"Don, nanti pulang kerja antar aku ke rumah Sarah ya? Aku kangen sama anakku."


"Oke, siap. Tapi kamu kasih kabar ke Sarah dulu. Siapa tahu mereka mau keluar."


"Iya, nanti aku kabari."


Sampai di hotel, Mila menyapaku. Aku hanya tersenyum saja. Doni melirik ke arahku.


Hadeh. Kepingin punya temen aja, di larang-larang. Aku kan cuma sekedar ngobrol saja kalau lagi bete.


"Mau mampir ke mejanya Mila?"


"Enggak!"


Aku tinggal Doni. Aku masuk duluan ke ruangan kerja. Langsung saja aku buka bungkus bubur ayamnya.


Hhm. Aromanya bener-bener bikin laper. Tapi tiba-tiba aku ingat mas Arka. Dulu dia paling suka sarapan bubur ayam.


Nafsu makanku langsung hilang. Aku taruh simpan lagi bubur ayamku.


"Kok enggak dimakan, katanya laper?"

__ADS_1


"Gak jadi laper!"


__ADS_2