SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 142 YOLA DAN DENI DITANGKAP


__ADS_3

Akhirnya sampai juga mobil Roni di bandara. Tempat yang masih asing bagiku. Meski aku pernah ke sini sekali. Saat mengantar Yola dahulu.


Aku tak berani berjalan duluan, takut nyasar malah nanti jadi merepotkan.


Roni yang jadi leader kami, dia sepertinya sudah sangat hafal. Aku dan Sarah mengikutinya dari belakang.


"Ron, jangan cepat-cepat jalannya!" seru Sarah. Entah kenapa Sarah sering sewot pada Roni. Padahal sebelumnya dia selalu terlihat mesra pada Roni.


"Kamu yang jalannya jangan lelet. Percuma aja tadi aku ngebut di jalan kalau di sininya pelan-pelan," jawab Roni.


Sarah menggerutu. Aku tak komentar apapun. Otakku sedang tidak konek. Yang aku pikirkan hanya anakku.


Roni mengambil hapenya, lalu menelpon seseorang. Sepertinya menelpon petugas kepolisian yang tadi mengabarinya.


Roni berjalan mengikuti arahan orang yang ditelponnya. Aku dan Sarah yang selalu menggerutu, mengikutinya.


Kami sampai di sebuah ruangan. Entah ruangan apa, aku tak sempat membacanya.


"Selamat pagi, Pak," sapa Roni.


Aku melihat mas Arka sedang memangku Aryaka. Sedangkan Yola dan Deni duduk di sebelahnya.


Aku tak berani menyapanya lebih dulu. Hanya menatap mereka saja. Pandangan mereka pun sangat tajam. Seakan-akan aku orang yang paling bersalah.


"Mari silakan duduk," ucap seorang anggota polisi yang bernama Rudi.


"Terima kasih, Pak," sahut Roni. Lalu kami duduk di sofa yang berseberangan dengan mas Arka dan lainnya.


"Benar mereka yang Bapak cari?" tanya pak Rudi.


"Iya, Pak. Dia anak kami. Anak Aryani tepatnya." Roni menunjuk ke arahku. Aku pun mengangguk ke arah pak Rudi.


"Siapa orang yang memangku anak Ibu itu?" tanya pak Rudi padaku.


"Dia suami saya, Pak," jawabku.


Tiba-tiba mas Arka berdiri dan sambil menggendong Aryaka yang sedang tertidur, mendekatiku.


"Suami kamu bilang? Suami yang sudah kamu hianati dan bakal kamu tulari aids?" seru mas Arka.

__ADS_1


Tidak cuma aku yang terkesiap mendengarnya. Roni, Sarah dan pak Rudi pun terkejut mendengarnya.


"Jangan sembarangan bicara kau, Arka! Belum tentu juga Aryani mengidap virus itu!" sahut Roni membelaku.


"Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan perempuan murahan itu!" Mas Arka menunjuk ke arahku dengan satu tangannya. Tangan yang lain mendekap Aryaka.


"Kalau kamu menginginkan aku tidak ikut campur, suruh pergi kedua teman kamu itu!" balas Roni.


Ya, posisi kita sama. Dibantu dua orang teman. Cuma bedanya Roni dan Sarah tulus membantuku. Sedangkan Yola dan Deni, entah apa yang ada di otak mereka.


"Mereka keluargaku!" sahut mas Arka.


"Oh ya? Teguh juga saudara kamu! Dan kamu masih ingat kan, apa yang dilakukannya padamu?" Roni makin nyolot.


"Sudah, Bapak-bapak. Kita selesaikan baik-baik saja. Ini kan masalah keluarga," ucap pak Rudi mencoba menengahi.


"Tidak bisa!" sahut mas Arka. Membuat Aryaka menggeliat di pelukannya.


"Tak akan ada penyelesaian untuk perempuan seperti dia!" lanjut mas Arka.


"Enak saja! Dia sudah berhianat dengan laki-laki pengidap aids, lalu akan selesai dengan baik? Kami tak mau tertulari, Pak!" Mas Arka masih ngotot.


Aku tak bisa lagi menahan diri. Bukan karena perselingkuhanku dengan Doni yang dibongkar, tapi karena mas Arka dengan seenaknya menyebutku pengidap aids.


Semua yang ada di ruangan itu kembali terhenyak. Bahkan mas Arka sampai hampir saja melepaskan Aryaka dari gendongannya.


"Kamu serius, Ar?" tanya Roni. Aku memang belum sempat bicara pada Roni dan Sarah soal ini.


Tadinya rencanaku akan mengatakannya setelah pemakaman Doni. Tapi ternyata ada masalah lain yang jauh lebih penting.


"Kalau tidak percaya, tanyakan pada pak Ferdy. Polisi yang menangani kasus Doni. Dia menemukan sidik jari di tubuh Teguh, yang ternyata milik Doni. Dan polisi baru bisa mengungkapnya setelah Doni meninggal," jawabku.


Pak Rudi mengangguk. Mungkin dia teringat dengan kasus Doni kemarin.


"Ya, Ya. Saya ingat. Hasil penyidikan kami waktu itu menemukan sidik jari di tubuh korban yang bernama Teguh. Tapi karena ada pihak keluarga yang ingin menutup kasus itu, akhirnya kami hanya bisa menyimpannya. Dan kasus itu, korban juga bersalah. Karena mencoba membunuh Bapak Arka?" Pak Rudi menunjuk pada mas Arka.


Mas Arka mengangguk. Pastinya dia ingat bagaimana mas Teguh, kakak sepupunya berniat menghabisinya waktu itu.


"Kami mengatakannya kemarin pada Ibu Aryani, karena beliau terkait dengan kematian bapak Doni. Bukan untuk mengungkit kesalahan orang yang sudah meninggal. Tapi tugas kami sebagai polisi, mengungkap kebenaran meski itu menyangkut orang-orang yang sudah meninggal," lanjut pak Rudi.

__ADS_1


Mas Arka menarik sebuah kursi. Mungkin dia pegal terlalu lama menggendong Aryaka yang sudah mulai besar.


Matanya masih terlihat syok dengan kenyataan bahwa orang yang paling dibencinya malah pernah menyelamatkannya.


Tiba-tiba, dua orang polisi masuk. Dan memberi hormat pada pak Rudi.


"Lapor, Pak. Kami mendapat surat perintah penangkapan terhadap ibu Yola dan bapak Deni!"


Hah! Kami kembali dibuat terkejut. Mas Arka menoleh dan menatap mereka berdua. Aku lihat wajah Yola dan Deni pucat. Mereka saling berpegangan tangan.


"Ada masalah apa, Pak?" tanya mas Arka.


"Mereka diduga terkait kasus money loundry dan human trafficking!" sahut salah seorang anggota polisi yang membawa surat penahanan Yola dan Deni.


Aku sangat terkejut mendengarnya. Sejauh itukah kejahatan Yola dan Deni?


Sarah mendekap lenganku dan menepuk-nepuk tanganku. Roni menatapku seakan mau mengatakan kalau kecurigaannya benar.


Mas Arka semakin mendekap erat Aryaka. Ada ketakutan luar biasa dari matanya.


"Kami tidak bersalah, Pak!" teriak Yola saat dua polisi itu mendekat.


"Silakan katakan itu di kantor. Sekarang, kalian ikut kami."


Crek!


Crek!


Dua polisi itu memborgol tangan Yola dan Deni. Lalu masuk dua orang polisi lagi yang ikut menggiring mereka.


Aku menatap tak percaya pada mereka. Jadi selama ini, uang yang dipakai Yola untuk membuka butik, adalah uang yang akan mereka cuci dari hasil kejahatan mereka?


Pantas saja Yola bisa kaya raya dalam waktu sekejap. Padahal di awal kepergiannya, dia mengeluhkan kalau Deni sedang bangkrut karena di pecat dari pekerjaannya.


Dan mereka dengan tega akan menjual suami dan anakku juga?


Aku jadi kasihan pada mas Arka. Dia hidup dikelilingi saudara-saudara yang berniat jahat padanya.


Aryaka menggeliat dan bangun. Seperti layaknya anak kecil, dia menagis.

__ADS_1


Sarah mendekat dan dengan lembut dia mengulurkan tangannya.


"Mami...!" Aryaka langsung memeluk Sarah. Aku hanya bisa menangis melihatnya. Karena saat aku mendekat, Aryaka malah semakin mempererat pelukannya pada Sarah.


__ADS_2