
Semalam Siska mengabariku bahwa temannya owner hotel Mutiara masih membutuhkan karyawan, untuk bagian resepsionis.
Kalau aku berminat, besok pagi bisa menemuinya di hotel itu. Jelas saja aku berminat. Pekerjaan apa pun, yang penting aku bisa bekerja lagi.
Nanti setelah bisa bekerja lagi, aku bisa mencari pekerjaan lain kalau memang tidak cocok. Anggap saja sebagai batu loncatan.
Paginya aku sudah berdandan rapi. Anakku sudah aku titipkan pada bi Yati. Dan sudah aku siapkan susunya juga.
Kalau urusan mas Arka, mas Teguh yang mengurus semuanya.
"Mau kemana kamu?" tanya mas Teguh saat melihatku yang sudah rapi.
"Pagi ini aku akan interviu. Ada tawaran pekerjaan untukku. Siapa tau cocok" jawabku.
"Pekerjaan apa?" tanya mas Teguh.
"Resepsionis di hotel Mutiara. Istri mantan bosku dahulu yang merekomendasikanku" sahutku tanpa tedeng aling-aling, agar mas Teguh tak perlu bertanya lagi.
Dia hanya mengerutkan dahinya saja. Aku mengambil nasi dan lauk untuk sarapan. Karena mau pergi pagi, aku harus sarapan dulu.
Mas Teguh masih terdiam. Dia tak mengambil nasi sama sekali. Sepertinya dia ingin aku yang mengambilkannya.
Aku mengambilkan juga walau pun sebenarnya malas. Karena terus jadi kebiasaan mintanya diambilkan terus.
Dianggapnya aku ini istrinya saja. Dia juga selalu mau tau urusanku. Bahkan suka mengatur aku.
Aku membuang pandanganku karena jengah dengan sikapnya.
"Mau berangkat jam berapa?" tanya mas Teguh dengan nada yang tidak seperti biasanya. Biasanya kalau tau aku akan pergi, suaranya sangat sumbang.
"Sebentar lagi. Selesai makan aku akan pesan taksi online" jawabku.
"Aku antar saja. Di hotel Mutiara kan? Kebetulan aku mau ada urusan ke arah sana" ucap mas Teguh.
Hhh...alasan saja. Bilang saja mau mengantarku dan takut aku menolaknya.
Aku mengalah lagi. Daripada berdebat. Hanya akan membuang waktuku saja.
Selesai makan, aku berpamitan pada anak dan suamiku. Mesti mereka sama-sama tidak merespon.
"Mas, aku pergi dulu. Doakan aku, biar aku diterima bekerja." Lalu aku mencium tangan mas Arka.
Mas Teguh sudah membukakan pintu mobilnya untukku. Aku naik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kenapa tidak mencari pekerjaan lain saja?" tanya mas Teguh.
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Paling tidak, jangan kerja di hotel lah. Kan bisa cari ditempat lain" jawab mas Teguh.
"Ya nanti gampanglah. Kalau tidak cocok, aku akan cari di tempat lain" Aku berusaha mengalah lagi.
__ADS_1
Tak lama, kami sampai di depan hotel mutiara.
"Terima kasih, Mas" ucapku basa basi, lalu turun dari mobilnya.
Belum sempat aku membuka pintu mobil, tanganku sudah dipegang oleh mas Teguh.
"Pulangnya aku jemput" ucapnya.
"Aku tidak tau jam berapa pulangnya" sahutku.
"Kalau begitu aku menunggu di sini" ucap mas Teguh, yang membuat aku mengernyitkan dahi.
Tadi bilang ada urusan yang searah. Sekarang bilang mau menunggu di sini. Benar dugaanku tadi. Cuma alasannya saja biar bisa mengantarkan aku.
"Oke" sahutku singkat. Lalu aku keluar dari mobilnya. Mending mengalah daripada aku harus berlama-lama di dalam mobilnya. Menyiksa.
Aku masuk ke hotel itu, berhenti di lobi lalu bertanya pada resepsionis, dimana ruangan pemilik hotel ini.
"Maaf, Ibu sudah ada janji?" tanyanya.
"Sudah" jawabku percaya diri. Padahal kenal saja tidak. Aku hanya tinggal menghubungi Siska kalau ada masalah.
"Ruangannya di lantai paling atas, Bu. Lantai lima ya. Nanti ibu tanya lagi saja di sana" ucap resepsionis itu dengan ramah.
Aku membayangkan diriku yang ada disana. Menyapa setiap orang yang datang. Menjawab setiap pertanyaan dengan ramah.
Aku tersenyum pada resepsionis itu. Besok atau lusa aku akan menemani kamu disana. Batinku.
Aku memencet angka lima pada lift yang akan membawaku naik. Kalau pakai tangga pasti akan sangat melelahkan. Karena aku memakai rok pendek dan sepatu berhak tinggi.
Ada seorang security dan juga seorang office boy. Aku mencoba bertanya pada security saja.
"Maaf, Pak. Ruangan pemilik hotel ini dimana ya?" tanyaku dengan sopan.
"Oh, maaf ibu siapa dan ada perlu apa ya?" tanya security itu padaku.
"Saya Aryani. Saya ada perlu bertemu dengan pimpinan hotel ini, Pak" jawabku. Security itu menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku yang merasa penampilanku sudah sempurna, percaya diri saja.
"Ibu tunggu saja di sana. Bapak pimpinan kami belum datang. Nanti kalau sudah datang, ibu saya beritahu" ucap security itu pada akhirnya.
Dia menunjuk sebuah bangku panjang yang berada di depan sebuah ruangan. Aku melangkah ke sana. Aku baru ngeh, kalau pemilik hotel ini seorang laki-laki.
Karena aku yang terlalu senang mendapat lowongan pekerjaan, sampai lupa bertanya tentang pimpinan disini.
Siapa namany. Laki-laki atau perempuan. Untung saja pegawai yang aku tanyai semua baik padaku.
Hampir sepuluh menit aku menunggu. Sebuah pintu dibuka oleh seorang lelaki dengan pakaian rapi, berjas. Aku tak sempat melihat wajahnya. Karena dia tiba-tiba sudah membelakangiku.
"Ibu maaf, kalau mau bertemu dengan bapak pimpinan kami, beliaunya sudah datang. Itu ruangannya" ucap security tadi sambil menunjuk sebuah ruangan.Ruangan yang tadi baru saja terbuka.
__ADS_1
"Oh, iya. Terima kasih, Pak." Lalu aku berdiri dan menuju ke ruangan itu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk" sebuah suara terdengar dari dalam ruangan. Aku seperti dejavu. Seperti pernah mendengar suara itu. Tidak asing. Begitu dekat.
Aku berusaha menghilangkan perasaan itu. Mungkin hanya kebetulan saja.
Aku membuka pintu ruangan itu. Tatapanku tertuju pada satu sosok lelaki yang sedang sibuk membuka-buka berkas entah apa.
"Selamat pagi, Pak". Aku sedikit membungkukan badan.
"Pagi. Ada keperluan apa ya? Dan anda siapa?" Dia bertanya dan menatapku. Tatapan kami bertemu.
Ingatan akan masa lalu seperti berputar lagi dikepalaku. Suara itu, tatapan mata itu dan wajah itu...
"Aryani".
"Doni".
Kami bersamaan saling menyebut nama. Nama yang sudah ssngat lama hilang dari hidupku. Nama yang sudah sangat lama aku lupakan.
Setelah dia memutuskan untuk kuliah di luar kota. Dan dia seperti menghindariku. Memutuskan komunikasi denganku.
Dan hubungan kita berakhir begitu saja. Hubungan yang bahkan kita mengawali dan juga pada akhirnya tak ada yang mengakhiri.
"Kamu Aryani, kan?" tanya Doni dengan mata yang tajam menatapku.
Aku mengangguk dengan senyuman mengembang. Ya aku tersenyum karena bakal bosku adalah Doni. Bisa dipastikan kalau aku bakalan diterima bekerja disini.
"Duduk, Ar. Apa kabar? Kok kamu bisa sampai disini?" tanya Doni bertubi-tubi.
Aku memilih untuk duduk dahulu baru menjawab pertanyaan Doni satu per satu.
"Hay, Don. Kabarku baik. Aku kesini dapat info dari temanku, Siska. Katanya di hotel ini sedang butuh karyawan" sahutku.
"Iya betul. Tapi yang kami butuhkan hanya seorang resepsionis" sahut Doni seperti ragu untuk memberikan pekerjaan itu kepadaku.
"Aku tau. Dan aku juga memang akan melamar untuk pekerjaan itu" sahutku. Dan Doni seperti tidak percaya dengan omonganku.
"Kamu serius?" tanya Doni terus menatapku. Aku menganggukan kepala dengan mantap.
"Oke, kalau kamu memang menginginkannya. Kamu bawa berkas-berkasmu? Untuk kami data" sahut Doni.
Aku memberikan berkas-berkas yang diminta Doni. Dia membuka sekilas berkas-berkasku.
"Kapan kamu mau mulai bekerja?" tanya Doni.
__ADS_1
"Terserah, aku sudah siap kapan pun" jawabku.
"Bagaimana kalau besok pagi?" Aku mengangguk setuju.