SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 57 CINCIN SIAPA


__ADS_3

Setelah mereka pulang, aku masuk ke kamarku. Aku lihat mas Arka sudah tertelungkup. Rupanya dia terus menggerak-gerakan tubuhnya, hingga tertelungkup dan tak bisa kembali lagi. Persis bayi yang baru berusia beberapa bulan.


Aku membalikan tubuhnya. Kasihan kalau dia nanti kesulitan bernafas. Aku memberitahukan kalau hari ini, aku menjual lemari yang ada di ruang tamu.


Aku juga memperlihatkan uang hasil penjualannya. Mas Arka hanya menatap kosong ke depan.


Setelah aku menyimpan uangnya dengan baik, karena aku gak mau kecolongan lagi, aku keluar kamar hendak mengeluarkan isi lemarinya.


Sampai di pintu kamar, aku mendengar ada benda tergeser. Rupanya gelas yang tadi buat minum mas Arka, aku lupa menyingkirkannya.


Mas Arka kelihatannya menggerakan tubuhnya lagi. Mungkin tangannya, hingga menggeser gelas yang ada di dekatnya.


Aku segera mengambil gelas itu. Takut kalau pecah dan melukai mas Arka.


"Kamu bergerak lagi, Mas?" tanyaku. Aku memperhatikan mas Arka yang terdiam kembali.


"Oke. Teruslah bergerak, Mas. Aku akan membereskan lemarinya. Nanti sore yang membeli akan mengangkutnya" ucapku, lalu keluar dari kamarku.


Setelah meletakan gelas di meja makan, aku mencari kotak besar untuk memindahkan isi lemari.


Aku membuka pintu lemari kaca itu satu per satu. Dan satu per satu juga aku pindahkan isinya ke dalam kotak yang aku bawa dari dapur.


Aku mengambil beberapa buku yang tertata rapi. Kelihatannya aku harus mencari tempat lain untuk menata buku-buku ini lagi. Biar suatu saat kalau mas Arka sudah sehat, gampang mencarinya kalau membutuhkannya.


Di ujung deretan buku, aku melihat sebuah kotak perhiasan. Aku membukanya. Dan aku cukup terkejut malihat isi kotak tersebut. Sebuah cincin cantik.


Ini pasti cincin untuk perempuan. Pastinya ini milik mas Arka. Tapi untuk siapa?


Karena letaknya di sudut ruangan atas dari lemari itu, dan tertutup deretan buku-buku, maka orang yang membukanya tak akan melihat. Kecuali mengambil buku yang ada di depan kotak itu.


Aku juga tertarik dengan buku yang tadi menutupinya. Sebuah novel. Hmm. Aku membuka halaman demi halamannya.


Di halaman paling belakang dari buku itu, aku melihat sebuah tanda tangan. Itu bukan tanda tangan mas Arka. Mungkin itu tanda tangan si pemilik buku novel itu.

__ADS_1


Tak mau berfikir lebih jauh, karena masih banyak yang mesti aku singkirkan, aku meletakan buku novel dan kotak perhiasan itu di meja tamu. Biar nanti aja aku melihatnya lagi.


Cukup melelahkan juga memindahkan seluruh isi lemari itu. Yang isinya lebih banyak barang- barang pribadi.


Aku memang hampir tak pernah membuka-buka isi lemari. Karena mas Arka sendiri pun jarang membukanya.


Aku menggeser kotak yang berisi buku-buku dan barang-barang lain dari lemari, ke samping lemari. Kalau aku bawa ke tempat lain, aku gak kuat. Terlalu banyak isinya dan berat.


Aku duduk di sofa ruang tamu. Aku membuka lagi kotak perhiasan itu. Cincinnya sangat cantik. Aku mencoba mengenakannya. Pas sekali di jariku.


Aku jadi menyukainya dan enggan melepaskan dari jari manisku. Lagi pula sekarang aku gak punya lagi perhiasan. Tak salah kan kalau aku memakainya.


Walaupun aku tak tau itu untuk siapa, minimal barang ini ada di lemari milik suamiku. Jadi aku anggap milik suamiku.


Lalu aku membuka buku novel tadi. Aku mulai membaca bab-bab awal. Menarik sekali. Lalu aku terus saja membacanya.Hingga tak terasa aku tertidur di sofa ruang tamu.


Jam satu siang aku terbangun. Perutku sudah mulai minta di isi lagi. Aku berjalan ke dapur, membuka isi kantung kresek yang tadi pagi dikasih oleh tukang sayur.


Kasihan kalau aku tidak membayarnya. Dia kan juga capek nyari uangnya. Keliling dari satu komplek ke komplek lain menjajakan dagangannya.


Selesai memasak, aku makan duluan. Perutku sudah tak kuat lagi nahan lapernya.


Aku masak seadanya saja. Itu pun aku irit-irit, biar bisa untuk memasak besok lagi.


Jadi teringat dengan kehidupan orang tuaku dahulu. Mereka juga selalu menghemat bahan- bahan masakan.


Kini nasibku sama lagi dengan kedua orang tuaku. Bukan sedih atau menyesali. Cuma aku berfikir, kenapa takdir seolah berulang?


Selesai makan, aku menyiapkan makanan untuk mas Arka. Lalu membawanya ke kamarku.


Pintu kamar agak susah aku buka. Seperti ada yang mengganjal. Aku letakan dulu nampan yang aku bawa, lalu aku mencoba mendorong pintu itu perlahan.


Setelah terbuka, aku sangat terkejut. Karena ternyata pintu terganjal kaki mas Arka. Rupanya dia bergerak lumayan jauh. Kakinya sampai hampir mengenai pintu.

__ADS_1


Untung tadi aku tak mendorong pintu itu terlalu kencang. Bisa kesakitan kakinya mas Arka kalau aku mendorong pintunya dengan keras.


Aku masuk ke dalam kamar, dan meletakan nampan yang berisi makanan dan minuman di lantai.


Perlahan aku tarik tubuh mas Arka agar kembali ke posisi semula. Lumayan berat juga. Walaupun mas Arka kelihatan lebih kurus.


Aku mulai menyuapkan makanan yang aku bawa. Perlahan-lahan seperti biasanya.


Saat tangan kananku aku letakan di dekat tangan mas Arka, dia seperti menyenggol jariku. Dan pas di jari yang ada cincinnya dia menekannya agak kuat.


Spontan aku menatap tangannya. Tapi tangan itu seperti kembali melemah. Aku kembali menyuapi mas Arka.


Kenapa tadi tangan mas Arka seperti menekan jariku yang ada cincinnya? Apa dia tau kalau aku memakai cincin itu? Atau hanya perasaanku saja?


Iseng, aku coba memancingnya dengan memperlihatkan cincin itu. Aku kepingin tau reaksinya.


"Mas, aku menemukan cincin ini di lemari depan. Dekat dengan sebuah novel yang berjudul Penyesalan Adinda" ucapku sambil memperlihatkan cincin di jariku.


Wajah mas Arka seolah berubah jadi mendung. Aku terus memperhatikan wajahnya. Matanya yang tadi agak berbinar perlahan sedikit berkabut.


Ada apa dengan cincin ini? Kenapa mas Arka jadi kelihatan murung? Apakah ada kenangan yang tak mengenakan dari barang-barang itu?


Kalau iya, kenapa tidak membuangnya jauh-jauh? Tapi hanya menyimpannya di lemari.


Berbagai pertanyaan muncul di kapalaku. Ah, sudahlah. Toh, aku tanyakan juga mas Arka tak akan bisa menjawab.


Cukup dari ekspresi wajahnya saja aku bisa sedikit menyimpulkan. Bahwa ada kenangan yang kurang enak dengan cincin ini.


Tapi biarin deh, aku akan terus memakai cincin ini. Karena aku tak peduli dengan kenangan masa lalu. Buat apa mempermasalahkan masa lalu?


Setiap orang pasti punya masa lalu. Termasuk mas Arka dan juga aku.


Dan setiap orang berhak atas masa lalunya. Mau terus di kenang atau dilupakan.

__ADS_1


__ADS_2