SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 110 GARA GARA MILA


__ADS_3

Pekerjaanku dihari pertama sebagai asistennya Doni sangat banyak. Sekarang baru aku tahu kenapa Doni sering sekali lembur sampai malam.


Saking sibuknya, sampai lupa kalau aku mau menemui Mila. Bahkan makan siang pun sampai tidak sempat.


Sore jam empat Doni kembali ke ruangan. Aku masih sibuk di depan laptop.


"Hey, Don. Udah selesai urusan proyeknya?" sapaku.


"Besok lagi. Kalau dituruti gak ada selesainya. Kamu sendiri, masih sibuk?"


Doni menghampiri dan melihat hasil kerjaku.


"Wauw. Hebat kamu, Ar. Bisa mengerjakan sebanyak ini."


"Hebatlah. Siapa dulu bosnya? Kasih kerjaan gak kira-kira" sindirku.


Doni tertawa.


"Gak harus dikerjakan sekarang juga, kali. Ini. Ini. Bisa besok saja. Kalau mesti sekarang semua, besok kamu aku kasih lebih banyak lagi."


Aku menatap Doni.


"Kejam!"


Doni mengacak rambutku.


"Don, aku lapar." Perutku mulai berbunyi.


"Memang kamu belum makan?"


Aku menggeleng.


"Siang?"


Aku kembali menggeleng.


"Gila kamu, Ar. Kerja sih kerja, jangan kayak orang gila kerja dong. Waktunya istirahat ya kamu istirahat. Itu hak kamu."


"Malas, Don. Gak ada temannya juga."


"Dulu kamu yang suka mengingatkan aku. Sekarang malah kamu yang lupa makan siang."


"Paling enak ngasih tahu orang, Don." Aku ketawa.


"Ya sudah. Sekarang stop kerjaannya, kita pulang sambil nyari makan."


Doni menutup paksa laptopku. Aku meraih tasku dan mengikuti Doni keluar ruangan.


Di parkiran aku ketemu Mila. Dia juga membawa mobil. Entah mobil dari mana lagi. Setahuku mobil Mila bukan yang itu.


"Hay, Mil. Apa kabar?"


Mila menghampiriku dan kami pun cipika cipiki. Doni yang kurang suka dengan Mila, langsung membunyikan klaksonnya.


"Aku duluan ya, Mil. Nanti malam aku telpon."


Aku bergegas ke mobil Doni.


"Gak sabaran amat sih?" Aku merengut. Doni gak bisa lihat orang seneng aja.

__ADS_1


"Katanya lapar?"


"Iya. Tapi gak gitu juga, Don. Aku kan juga butuh interaksi sama teman setelah seharian kerja."


Doni menghentikan mobilnya. Dia kelihatan marah.


"Silakan kalau mau berinteraksi dengan Mila. Siapa tahu nanti kamu dibawa ke tempat nongkrongnya lagi."


Doni menyindirku. Dia benar-benar marah.


Aku diam saja. Tak berniat untuk menjawabnya apalagi meninggalkannya.


Doni yang melihatku hanya diam, melajukan kembali mobilnya. Sampai ke depan sebuah rumah makan, Doni masih tetap diam.


Aku tak berniat untuk turun. Biar saja kalau Doni mau turun. Malas kalau nanti makan masih saling diam.


"Jadi makan enggak?" Akhirnya Doni membuka mulutnya juga.


"Bungkus saja. Aku malas turunnya" sahutku.


Doni turun dan menuruti kemauanku. Doni selalu begitu. Dia selalu mengalah. Membuatku merasa bersalah.


Kadang aku berfikir, kenapa orang sebaik Doni disia-siakan oleh istrinya. Apa kurangnya Doni. Ganteng iya. Mapan pasti.


Bodoh sekali perempuan itu. Andai saja aku yang jadi istrinya....


Aku segera menghilangkan fikiran itu. Aku punya suami sendiri. Meski aku....Tak lagi bisa berhubungan dengan suamiku.


Doni kembali ke mobil dengan membawa dua box makanan. Lalu melajukan kembali mobilnya.


Kami menuju ke apartemen Doni. Bukan ke rumahku.


Aku tak bisa menolaknya. Takut Doni marah lagi. Walaupun marahnya Doni tidak dengan kata-kata atau tindakan, tapi itu lebih menakutkan.


Aku turun dan mengikuti langkah Doni menuju ke unit apartemen kami. Aku menyebutnya unit kami, karena Doni memberikannya padaku.


Tapi aku tetap menganggapnya milik Doni. Karena aku bukan siapa-siapanya Doni.


Mungkin yang lebih berhak adalah istri Doni. Tapi kenyataannya, Doni tak memberitahukan tentang apartemen ini pada istrinya.


Doni membuka pintu apartemennya. Padahal dia juga menenteng kantong plastik berisi makanan.


Ini situasi yang sangat aku benci. Kami bersama tapi tanpa bicara.


Aku mengambil kantong plastik yang dibawa Doni, dan membawanya ke meja makan.


Lalu membukanya dan menyodorkan satu untuk Doni.


"Kamu mau aku buatkan teh hangat?" Aku berusaha mencairkan suasana.


Doni hanya mengangguk. Aku membuatkan teh hangat untukku dan Doni.


Hingga aku kembali dengan dua gelas teh hangat, Doni belum menyentuh makanannya.


Saat aku makan, barulah Doni memakannya. Aneh. Aku tak tahu apa maunya Doni.


Sepertinya lebih baik Doni marah dengan mengeluarkan kata-kata, daripada hanya diam seperti ini.


"Don." Aku mencoba memanggilnya. Doni tak menyahut. Hanya menegakan kepalanya saja dan menatapku sejenak.

__ADS_1


"Kamu masih marah?"


Doni menggeleng. Tapi tetap menikmati makanannya hingga habis.


"Don. Kalau kamu sudah tidak marah, kenapa kamu tidak mau bicara?"


Kembali Doni hanya menatapku. Lalu berdiri.


"Aku mau mandi." Doni berjalan masuk ke kamarnya.


Bete dan kesal. Sekarang aku harus bagaimana lagi? Ngajak ngomong sudah. Nanya sudah. Tapi reaksinya hanya menggeleng.


Astaga. Aku lupa satu hal. Apa mungkin aku harus minta maaf pada Doni?


Bukannya aku yang tak jadi ngobrol dengan Mila karena Doni memaksaku cepat-cepat pergi? Harusnya yang marah aku. Kenapa malah Doni yang marah? Dan kenapa aku mesti yang meminta maaf?


Ah, sudahlah. Lupakan saja. Nanti juga Doni baik lagi. Mungkin setelah dia mandi dan segar lagi badan dan otaknya, dia akan mengajakku ngomong lagi.


Aku membuka ponselku. Ada beberapa pesan dari Mila. Dia menanyakan kenapa tadi buru-buru pulang?


Mila tak tahu kalau Doni tidak menyukainya. Mungkin Mila berfikir, kalau Doni tidak menyukainya pasti dia sudah dipecat dari pekerjaannya. Nyatanya Mila masih bisa bekerja.


Aku membalas pesan Mila. Dan aku mulai berbalas pesan dengannya. Lumayanlah buat ngilangin bete.


Banyak candaan-candaan Mila yang membuatku ketawa. Sampai aku tak sadar kalau Doni sudah ada di dekatku.


Aku langsung menyimpan ponselku. Jangan sampai Doni tahu kalau aku sedang chatingan dengan Mila.


"Chating sama siapa?" tanya Doni.


Mati aku. Bagaimana aku menjawabnya? Kalau aku terus terang, pasti Doni akan semakin marah.


Tapi kalau aku bohong, bagaimana kalau Doni ingin melihatnya?


Doni menatapku tajam. Aku pura-pura tak melihatnya.


Tiba-tiba ponselku berbunyi.


"Ada panggilan masuk. Kenapa tidak diangkat?"


Aku melihat ke ponselku yang sudah aku tutup. Panggilan dari Mila. Aku menolaknya.


Mila kembali melakukan panggilan lagi. Aku semakin gelisah. Akhirnya aku putuskan untuk menolaknya dan mengubah ponselku ke mode pesawat.


Aman. Pikirku.


Tapi Doni malah menatap curiga. Dia mengambil ponselku dan membukanya.


Setelah membuka dan membaca chatinganku dengan Mila, Doni meletakan ponselku dengan melemparnya ke atas meja.


Aku tersentak. Baru kali ini Doni begitu marah. Meski marahnya cuma sebatas itu saja.


Karena yang selanjutnya terjadi Doni masuk ke kamarnya lagi.


Aku menghela nafasku, dan menyusul Doni ke kamarnya.


Doni berbaring terlentang dengan kedua tangannya dijadikan bantal.


Aku mendekatinya. Duduk di sebelah Doni.

__ADS_1


Mencium aroma tubuh Doni yang baru saja mandi, membuatku tak bisa menahan diri.


Aku serang Doni sore itu habis-habisan karena aku tak bisa menahan hasratku saat mencium aroma tubuh Doni.


__ADS_2