
Jantungku semakin berdetak kencang. Sangat kencang. Mungkin sama kencangnya dengan kecepatan mobil yang di kendarai mas Deni.
Aku semakin erat memeluk lengan mas Arka. Yola pun aku lihat berpegangan erat pada sisi jok. Wajah-wajah tegang kami, menghiasi beberapa menit ke depan.
"Den, turunkan kecepatanmu! Kita sudah jauh. Dan kita bisa celaka Den!" ucap mas Arka dengan suara keras. Tangannya memegangi bahu mas Deni dari belakang.
Mas Deni pun mengurangi kecepatan mobi sedikit demi sedikit. Lalu meminggirkan mobil. Dan menghentikannya.
Mas Deni kelihatan sangat syok. Dia letakan wajahnya di atas kemudi.
"Istighfar Den. Kita udah selamat" ucap mas Arka pelan. Tangannya menepuk-nepuk bahu mas Deni.
"Kita gantian nyetir bro. Kamu tenangkan diri dulu di belakang" ucap mas Arka lagi. Mas Deni pun mengangguk. Lalu keluar dari mobil diikuti Yola. Kami pun berpindah posisi.
Mas Arka mulai melajukan mobilnya perlahan. Walaupun aku tau, dia juga pasti masih syok. Tapi mas Arka mencoba untuk tenang.
Aku melirik sedikit ke belakang. Aku lihat wajah mas Deni , yang duduk di belakang mas Arka, masih tegang. Yola memeluknya dari samping.
Kami lalui perjalanan panjang kami, dengan hening. Tanpa ada satu orang pun yang membuka suara. Sampai kita mulai masuk jalan tol. Barulah kita bisa bernafas dengan lega.
"Pelan-pelan aja mas" ucapku pada mas Arka. Dia pun mengangguk.
"Mas, kalau ada rest area, kita berhenti dulu ya? Aku kebelet pipis" lanjutku. Tak lama, ada sebuah rest area, mobil pun di belokan kesana.
Sampai di rest area, aku minta mas Arka mengantarkanku ke toilet. Aku bilang, aku gak mau di tinggal. Takut kalau-kalau.... 'orang' itu tiba-tiba muncul di sini.
Kami melanjutkan perjalanan kami lagi. Setelah semua menuntaskan keperluannya di toilet, dan ngopi sebentar untuk menghilangkan kantuk.
Mas Arka yang biasanya tak minum kopi pun, memesan kopi. Bahkan aku lihat, mas Deni membeli rokok di sebuah minimarket. Dan mereka mulai menghisapnya.
Aku gak protes. Keadaan yang sangat membuat kami syok. Aku dan Yola memilih meja lain. Kami memesan coklat panas, untuk merilekskan otak.
Sepanjang perjalanan, aku memilih tidur. Kelihatannya Yola juga tertidur. Kami sudah mulai tenang.
Aku dengar sayup-sayup, mas Arka dan mas Deni ngobrol, sebelum aku benar-benar tertidur.
__ADS_1
Entah apa yang mereka obrolkan. Karena aku sudah sangat mengantuk, jadi tidak bisa menyimak dengan baik.
Setelah sampai di rumah, baru aku dan Yola di bangunkan. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah.
Setelah kami mengeluarkan barang masing-masing, kami pun masuk ke rumah masing-masing.
Aku ingin segera membersihkan badan, terus merebahkan diri. Walaupun sepanjang perjalanan tadi sempat tertidur, tapi rasanya masih sangat ngantuk.
Kami pun tertidur, dengan mas Arka memelukku erat. Hilang sudah ketakutan yang tadi menyertai perjalanan pulang kami.
Besok sorenya kami berniat ke rumah orang tua mas Arka. Semalam kami tidur terlalu lelap, hingga bangun kesiangan. Mas Arka juga udah minta ijin ke kantornya, belum bisa berangkat kerja hari ini. Mungkin dia masih capek.
Aku sudah siapkan oleh-oleh untuk kedua mertuaku. Lumayan banyak juga. Kami pun segera meluncur kesana.
Sampai di sana, rumah kelihatan sepi. Tak terlihat bapak ataupun ibu mertuaku. Memang kami sengaja tak memberi kabar dulu, kalau kami sekarang mau datang.
Karena kami tak mau ibu repot-repot menyediakan makanan untuk kami. Dan sepertinya mereka pun, tak tau kalau kami sudah pulang.
Tumben pintu rumah tertutup. Tidak seperti biasanya, kalau kami datang, pintu sudah terbuka lebar.
Mas Arka mengetuknya dan mengucap salam. Tak lama, pintu terbuka. Bi Sumi, pembantu rumah yang membukakannya.
"Ibu sama bapak mana bi?" tanya mas Arka. Bi Sumi kelihatan bingung menjawabnya.
Sampai dua kali mas Arka menanyainya. Dan akhirnya bi Sumi menjelaskan dengan terbata-bata dan wajah murung, kalau bapak kemarin sore di bawa ke rumah sakit. Ibu bilang, bapak harus dirawat di rumah sakit.
Kami sangat terkejut mendengarnya. Karena selama ini, bapak terlihat baik-baik saja. Bi Sumi pun tak mau menjelaskan penyebabnya. Entah karena benar-benar tak tau, atau bagaimana.
Akhirnya mas Arka segera menghubungi nomor ponsel ibu. Setelah mendapat jawaban, kami pun segera berangkat menuju rumah sakit.
Tak lama kami sampai di sana. Karena letak rumah sakit yang tak terlalu jauh dari rumah ibu.
Aku melihat bapak terkulai lemah di atas tempat tidur, dengan tangan yang di pasangi infus. Dan juga alat bantu pernafasan.
__ADS_1
Kami segera mendekati ibu. Ibu pun menangis, di pelukan mas Arka.
Aku terdiam, menatap bapak yang masih memejamkan matanya. Lalu mencari kursi untuk duduk.
"Kenapa ibu tak mengabari kami?" tanya mas Arka.
Ibu menjawab, karena ibu pikir kami masih di Jogja. Dan ibu tak ingin kami panik. Takut kenapa-napa di jalan.
Ibu juga menjelaskan, kemarin sore, tiba-tiba bapak mengeluh sesak nafas. Ibu menyuruh bapak tiduran dulu. Tapi kata ibu sesak nafasnya semakin menjadi. Sampai bapak kesulitan bernafas.
Sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah, ibu segera minta tolong tetangga, untuk membawa bapak ke rumah sakit. Dengan meneggunakan mobil bapak. Karena ibu tidak bisa menyetir.
Sesampainya di rumah sakit, bapak langsung di tangani di IGD. Dan bapak di haruskan rawat inap.
Kasihan sekali ibu, pikirku. Sementara kami bersenang-senang, ibu malah harus kebingungan merawat bapak di rumah sakit.
Ups. Kalau kejadiannya kemarin sore, berarti saat kita sedang mengalami ketegangan di jalan. Akibat banyak sekali kendala di jalan. Sampai kami bertemu lagi dengan 'orang' yang menakutkan itu.
Kenapa bisa terjadi berbarengan ya? Apa maksud dari semua ini? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Aku takut sesuatu yang buruk menimpa kami. Seperti saat aku harus kehilangan kedua orang tuaku. Dan juga nenek ku.
Saat itu, sebelum orang-orang yang aku sayangi berpulang, aku sering mengalami kejadian-kejadian aneh. Ah, aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatifku.
Aku juga berusaha melupakan kejadian-kejadian itu. Walaupun kenyataannya sulit aku lupakan.
Ibu yang sudah menumpahkan semua kesedihannya pada mas Arka, beralih kepadaku. Aku beranjak dari duduk ku, dan memeluk ibu mertuaku.
Ibu memelukku erat. Sangat erat. Seperti ingin menumpahkan semua kesedihannya.
Ibu menanyakan tentang kandunganku. Aku menjawab, semua baik-baik saja. Ibu juga menanyakan bagaimana liburan kami di Jogja.
Aku dan mas Arka berpandangan sejenak. Lalu mas Arka menjawab, kami sangat menikmati liburan kami. Bahkan kami membelikan ibu banyak oleh-oleh, yang kami tinggalkan di rumah ibu.
Tanpa menceritakan kejadian-kejadian luar biasa, sepanjang perjalanan berangkat dan pulangnya.
__ADS_1