SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 96 DITEMUKAN DI ATAS KUBURAN


__ADS_3

Aku dan Sarah berlari menembus hujan dan suara gelegar dari langit.


Aku tak menghiraukan kakiku yang mungkin lecet karena bukan cuma terkena kerikil, tapi berkali-kali terantuk batu.


Menghindari jalanan yang terhalang pohon tumbang. Ranting-ranting dan dedaunan yang berserakan di sepanjang jalan.


Kami terus berlari ke arah jalan pulang ke kota. Meski kami tau itu bukan jarak yang dekat, tapi tak ada pilihan lain.


Kami tak punya nyali jika harus kembali ke arah vila. Walau pun tadi sempat kami lihat mobil Doni melintas.


Iya kalau sampai di vila bertemu dengan Doni atau pun suami Sarah? Kalau tidak? Kami tidak tau lagi akan lari kemana.


Setelah berlari cukup jauh, kami mendapati beberapa rumah warga yang menyala lampu terasnya. Bahkan lampu penerangan jalan juga menyala.


Dan kami sama-sama tercengang. Karena jalanan sangat kering. Tak ada tanda-tanda selesai hujan ataupun petir yang mengakibatkan mati lampu.


Sementara pakaian kami basah kuyup seperti baru saja kecemplung kolam.


Aku dan Sarah berhenti. Mengatur nafas yang terengah-engah. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.


Rasanya sangat malu kalau ada yang melihat kami basah kuyup seperti ini.


Untung saja tak ada siapa pun di sini. Hanya kami berdua. Semua rumah terkunci rapat.


Kami saling berpandangan lagi. Kemana orang-orang penghuni rumah-rumah itu? Masa iya mereka sudah tertidur semua di jam yang masih sore?


"Sar, ini benar jalan menuju ke kota kan?"


Sarah hanya mengangkat bahunya. Aku menepuk dahiku. Aku pikir Sarah masih mengingatnya.


"Lalu kita di mana, Sar?" tanyaku lirih.


"Aku tidak tau, Aryani. Lebih baik kita telpon Doni dan Roni."


Aku tak sadar kalau dari tadi berlari sambil menggenggam ponsel. Untung saja tak terlepas.


Seandainya terlepas pun, mungkin aku tak akan sadar. Karena tanganku pun terasa kaku kedinginan.


Aku lihat di ponselku setelah menyala, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Doni. Aku membuka sebuah pesan masuk.


(Ar, kamu di mana?)


Aku mulai mengetikan balasan. Semoga di sini ada sinyal dan batre ponselku yang lowbath tidak nge-drop.


(Aku dan Sarah ada di tempat yang kami tak tau namanya, Don. Tolong jemput kami)


Lalu aku mengirimkan share lokasi kami saat ini.


Beruntung Doni langsung merespon pesan dariku. Doni membacanya, lalu menelponku.

__ADS_1


(Hallo, Ar. Kamu di mana?) suara Doni terdengar sangat cemas.


(Entahlah, Don. Kamu ke sini saja, jemput kami. Aku dan Sarah kedinginan. Baju kami basah kuyup)


(Basah kuyup? Apa kalian selesai berenang?)


(Tidak, Don. Sudah kamu cepetan jemput ke sini. Aku matikan ya. Hapeku low...)


Selesai. Tak ada suara lagi. Hapeku mati kehabisan daya.


Hape Sarah juga sudah mati karena tadi saat berteduh di bawah pohon rindang, senternya menyala terus.


Aku dan Sarah hanya bisa pasrah. Tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu dijemput.


Sarah menunjuk sebuah batu besar di pinggir jalan, yang bisa kami jadikan tempat untuk duduk.


Aku menurut saja karena kakiku pun pegal. Belum lagi lecet-lecet di telapak kakiku yang tak lagi aku rasakan.


Aku mengikuti Sarah duduk di atas batu besar yang tidak cukup bersih. Tak apalah. Toh pakaian kami juga sudah basah dan kotor.


"Sar, aku lapar" bisikku pada Sarah yang duduk memeluk lututnya.


"Sama. Aku juga. Tapi mau beli makanan di mana?"


Aku menatap sepanjang jalan ini, hanya ada rumah-rumah penduduk yang tertutup pintunya.


Tak mungkin juga kami mengetuk pintu-pintu itu untuk meminta makanan. Bahkan membelinya.


"Iya. Hampir semua pintunya berwarna hitam." Rupanya Sarah juga memperhatikan. Di atas daun pintunya tergantung tulisan. Entah tulisan apa. Mungkin alamat dan nama pemilik rumah.


Rumah-rumah itu berjejer rapi. Dengan ukuran yang hampir sama. Mirip komplek perumahan.


Aku bersandar di bahu Sarah. Sayup-sayup aku mendengar musik mengalun lirih. Entah dari pintu rumah yang mana.


Membuat mataku seperti dilem. Tak bisa lagi dibuka. Aku sempat melihat Sarah pun sedang berjuang melawan matanya yang susah untuk melek.


Dan entah apa lagi yang terjadi selanjutnya. Aku tak bisa merasakan apa pun. Kecuali aku merasa tanganku digenggam oleh seseorang, yang aku pikir itu tangan Sarah.


Aku membuka mataku. Aku mendapati orang yang sedang menggenggam tanganku adalah Doni. Bukan Sarah.


Lalu ke mana Sarah? Aku juga ada di mana? Apa Doni sudah menemukanku tertidur di atas batu besar lalu membawaku ke tempat ini?


Aku meraba pakaianku. Kering. Aku menatap ke tubuhku. Ini bukan pakaian yang aku pakai tadi. Tapi kaos milik laki-laki.


"Ar! Kamu sudah bangun?" Suara Doni mengejutkanku dari lamunan sesaat.


"Doni. Mana Sarah?" tanyaku perlahan. Rasanya tak punya tenaga untuk bicara lebih keras lagi.


Doni menunjuk ke ruangan sebelah yang tertutup tirai. Doni menyibakan tirai itu. Aku melihat Roni tertidur di kursi sebelah ranjang sambil memeluk perut Sarah.

__ADS_1


Sarah pun masih terlelap. Doni menutup tirainya lagi.


"Aku ada dimana, Don?"


"Di Puskesmas desa."


"Kenapa harus di sini? Aku kan hanya ketiduran tadi?" Aku merasa heran, karena cuma tidur kok dibawa ke Puskesmas.


"Kalian tidur tak bisa dibangunkan. Kalian berdua pingsan di atas sebuah kuburan." ucap Doni.


"Kuburan? Kami duduk di atas batu besar" sahutku.


Lalu Doni menceritakan kalau aku dan Sarah ditemukan pingsan di atas sebuah kuburan di area pemakaman warga. Dengan kondisi basah kuyup.


Aku tercengang mendengar ucapan Doni. Bagaimana mungkin. Bahkan aku ingat kalau kami lari karena di belakang pohon rindang yang menaungi kami dari hujan adalah kuburan.


"Sudah istirahatlah dulu. Sebentar lagi pagi. Kita akan kembali ke vila. Mengurus pemakaman pak Yono penjaga vila."


"Maksudmu?" Jantungku berdegup kencang.


"Pak Yono ditemukan meninggal di dalam vila karena serangan jantung."


"Kapan?"


"Semalam, saat aku dan Roni hendak menjemput kalian di vila. Vila masih tertutup rapat. Kami pikir kamu dan Sarah yang menutup pintunya. Kami terpaksa mendobrak pintu vila karena tak juga ada yang membukakan."


Aku menyimak cerita Doni dengan jantung yang berdegup makin kencang.


"Ternyata kalian tak ada di sana. Hanya jenasah pak Yono yang tergeletak di atas lantai dekat jendela besar."


"Tapi aku sempat bertemu pak Yono. Dia keluar dari belakang. Dan menghampiri kami yang duduk di saung samping vila."


"Dia juga memberikan kami dua gelas teh dan satu piring camilan yang sama seperti saat kita menginap di vila dulu, Son."


Doni menggeleng.


"Menurut dokter yang memeriksanya, pak Yono sudah meninggal dari siang. Karena jenasahnya sudah sangat dingin."


"Lalu siapa yang memberikan kami minuman?" tanyaku dengan suara tercekat.


"Di saung hanya ada dua gelas kosong dan sebuah piring yang juga kosong. Bahkan masih bersih. Tak ada sisa minuman atau pun makanan."


"Kami belum sempat menyentuhnya, Don. Kami meninggalkan karena merasa janggal." jelasku pada Doni.


"Janggal kenapa?" tanya Doni.


"Pak Yono tiba-tiba menghilang entah kemana."


Doni menelan ludahnya.

__ADS_1


"Sudahlah. Besok kita lihat ke sana."


__ADS_2