
Tak lama kemudian, ibu berpamitan padaku, untuk pulang sebentar ke rumah. Aku duduk di sofa yang ada di ruangan ini.
Aku pandangi wajah bapak, yang semakin hari semakin memucat. Kondisi bapak tak juga membaik, walaupun sudah di rawat di sini beberapa hari.
Mungkin ini yang membuat mas Arka jadi mudah emosi. Aku harus bisa mengalah. Aku harus mampu memahami sikap suamiku, ucapku dalam hati.
Beberapa saat kemudian, dokter visit datang dengan beberapa perawat. Untuk mengecek kondisi bapak.
Aku hanya menatapnya. Karena aku sama sekali gak paham dengan penyakit bapak.
Dokter hanya mengatakan, nanti kalau ada reaksi dari bapak, harap segera menghubungi perawat. Aku mengangguk paham. Mereka pun keluar dari dalam ruangan bapak.
Setelah mereka keluar, aku menarik sebuah kursi. Duduk di sebelah bapak, yang masih saja memejamkan matanya.
Aku pandangi lagi wajah bapak. Aku ingin memegang tangannya, tapi gak berani. Kemarahan mas Arka tadi pagi, benar-benar membuatku takut melakukan kesalahan lagi.Akhirnya aku kembali lagi ke sofa.
Aku membuka ponselku. Tak ada pesan apapun untukku. Juga mas Arka. Dia tak mengirimkan pesan apapun padaku. Aku tutup lagi ponselku.
Saat aku sedang merenung, tiba-tiba monitor yang terhubung dengan tubuh bapak, berbunyi lebih cepat. Aku menatapnya. Apa yang terjadi dengan monitor itu?
Aku segera menghubungi perawat lewat tombol panggil yang ada di atas tempat tidur bapak. Tak lama seorang perawat datang.
Saat mendengar suara monitor itu yang semakin cepat, perawat itu segera menghubungi dokter. Aku yang melihatnya masih belum mengerti apa yang terjadi.
Tak lama, dokter dan beberapa perawat lain terburu-buru datang ke kamar bapak. Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lalukan?
Seorang perawat, memintaku untuk keluar dari kamar dulu, untuk menghubungi keluarga yang lain.
Aku bergegas keluar kamar. Aku pun segera menghubungi ibu. Telfonnya aktif, tapi tidak diangkat. Kemana ibu?
Aku pun berusaha menghubungi mas Arka. Telfonnya mati. Aku coba lagi. Masih sama. Lalu aku harus bagaimana?
Aku mencoba mengintip ke dalam kamar bapak. Lewat kaca yang ada di tengah pintu. Aku melihat kesibukan dokter dan semua perawat.
Bahkan kemudian, datang lagi dua orang dokter dan segera masuk ke dalam kamar bapak. Aku menatapnya dengan kebingungan. Ada apa dengan bapak? Kenapa banyak dokter yang menangani?
Aku coba lagi menghubungi ibu dan mas Arka. Hasilnya sama saja. Ingin menghubungi bi Sumi, pembantu di rumah ibu, tapi aku tak tau nomornya. Duh, aku semakin bingung.
__ADS_1
Aku mencoba menenangkan diri dengan duduk di bangku depan kamar. Aku masih terus memegangi ponselku. Berharap ibu atau mas Arka akan menghubungi balik.
Semenit. Dua menit. Sampai ... Lima menit kemudian, telingaku yang coba aku tajamkan, mendengar suara panjang dari monitor di kamar bapak.
Tiiiiiiiitt....
Aku beranjak dari dudukku. Kembali menuju pintu kamar. Baru saja aku berdiri di depan pintu, seorang dokter keluar dari dalam kamar bapak. Aku menatapnya. Lalu di susul dua dokter lain.
Dokter yang terakhir, mengatakan kalau bapak tak bisa tertolong lagi. Maksudnya?
Aku terpaku di tempatku berdiri. Aku menatap beberapa perawat, yang sedang menutup wajah bapak. Bapak?
Aku segera menghampiri tempat tidur bapak.
"Suster ... Bapak saya?" tanyaku tercekat.
Perawat itu memandangku. Lalu menganggukan kepala. Jadi bapak?
Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku buka kain putih penutup itu. Aku lihat semua alat bantu di tubuh bapak sudah di lepas.
Wajah bapak pucat pasi. Bapak benar-benar terdiam. Masih tak percaya, aku guncang lengan bapak. Berharap bapak bangun. Bapak tetap diam.
Seorang perawat berusaha menarik tubuhku, agar menjauh dari jenazah bapak. Karena mereka akan memindahkannya ke kamar jenazah.
"Ibu sebaiknya menghubungi keluarga yang lain. Kami akan memindahkan ke kamar jenazah" ucap seorang perawat kepadaku.
Aku mencoba menghubungi ibu. Alhamdulillah ibu mengangkat telfonku.
"Ada apa Ar, ibu tadi dikamar mandi" tanya ibu dari seberang sana.
Aku berusaha menenangkan diriku dulu, sebelum menjelaskan tentang bapak. Sambil langkahku mengikuti para perawat, yang membawa bapak ke kamar jenazah.
Ibu terdengar begitu syok, saat aku mengatakan kalau bapak sudah tak ada. Suara telfon tiba-tiba menjauh. Entah apa yang terjadi dengan ibu.
Aku terus mengikuti langkah para perawat. Jalan mereka yang lumayan cepat, membuat aku semakin ngos-ngosan.
Aku benar-benar melupakan kalau aku sedang mengandung. Aku semakin mempercepat langkahku.
__ADS_1
Sambil berusaha menghubungi mas Arka.
Namun ponselnya tak kunjung aktif. Aku kirimi dia pesan aja. Jadi kalau ponselnya sudah aktif, dia akan membaca pesanku.
Aku terduduk di depan kamar jenazah. Kakiku sangat pegal. Dan perutku agak terasa kram.
Aku kirimkan pesan lagi ke mas Arka juga ibu, bahwa aku ada di depan kamar jenazah. Akupun mengambil foto kamar itu, untuk meyakinkan mereka.
Para perawat yang tadi mendorong brankar bapak, sudah keluar dari kamar itu. Salah satu mendatangiku.
"Ibu baik-baik saja?" tanya perawat itu, melihatku yang sedang memegangi perutku.
"Sedikit kram, Sus" jawabku sambil meringis.
Lalu perawat itu ikut memegangi perutku, yang sudah mulai kelihatan sedikit membesar. Dia mengusap-usapnya pelan.
"Ibu mau menunggu di sini?" tanyanya lagi. Aku pun mengangguk. Sebenarnya, aku sedikit takut juga. Karena ruangan ini berada di bagian belakang rumah sakit.
Untung perawat yang baik ini menawarkan diri menemaniku. Sampai ibu dan mas Arka datang.
Tak lama, ibu datang diikuti bi Sumi. Aku langsung menghambur ke pelukan ibu. Kami menangis bersama.
Lalu setelah kami saling melepaskan pelukan, perawat itu mengantarkan ibu, untuk melihat jenazah bapak. Bi Sumi juga ikut masuk.
Aku memilih tetap di tempat dudukku. Selain karena perutku yang masih terasa kram, aku juga menunggu telfon dari mas Arka.
Aku mendengar suara ibu menangis meraung-raung, di dalam sana. Aku tak kuasa mendengarnya. Air mataku pun mengalir lagi.
Sampai ibu di bimbing si perawat keluar dari kamar itu, mas Arka belum juga menghubungiku. Aku lihat pesan dariku masih centang satu.
Perawat itu mendudukan ibu di sebelahku. Lalu ibu memeluk aku dengan erat. Kami pun menangis lagi.
Si perawat masih setia menunggui kami. Setelah semua tenang, baru perawat itu memberikan pengarahan, apa yang harus kami lakukan selanjutnya.
Kami pun berjalan mengikuti perawat itu, untuk menyelesaikan administrasi.
Sepanjang jalan, ibu tak henti-hentinya menangis. Aku yang juga sangat kehilangan bapak, berusaha menenangkan ibu.
__ADS_1
Satu persatu, orang-orang yang aku sayangi, pergi meninggalkan aku. Beberapa tahun yang lalu ayah dan ibuku. Belum genap setahun, nenek menyusul. Dan sekarang bapak mertuaku. Hhmm.