SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 126 TAK ADA PILIHAN


__ADS_3

"Aku pulang, Don."


Doni menatap mataku dengan tajam. Aku membuang pandanganku ke samping.


"Pulanglah. Apartemen ini masih milikmu. Pintunya akan selalu terbuka untukmu. Maaf aku tak bisa mengantarmu. Aku sedang kacau."


Ya, aku mengerti. Keadaan Doni memang sedang kacau. Bukan cuma penampilannya, tapi juga pikirannya. Hatinya juga sepertinya sedang gundah. Meskipun aku tak yakin kegundahan hati Doni dikarenakan aku.


Doni tak secinta itu padaku. Kalau dia cinta padaku, dia pasti sudah menceraikan istrinya dan memperjuangkanku.


Tapi kenyataannya Doni masih mempertahankan rumah tangganya. Dia masih memikirkan kebutuhan istrinya. Bahkan rela dimanfaatkan oleh istrinya.


Dan sekarang, dia tak berusaha memperjuangkanku. Dia biarkan aku kembali kepada suamiku. Mulutnya saja yang mengatakan dia kehilangan. Tapi kenyataannya dia tak berbuat apa-apa untuk itu.


Aku menelan ludahku, lalu mengangguk pelan. Aku raih tasku.


Doni meraih tanganku sebelum aku berdiri. Aku menatapnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Maafkan aku, Ar," ucap Doni.


"Maaf untuk apa?" tanyaku tak mengerti. Kalau cuma untuk pulang sendiri, kayaknya enggak perlu minta maaf juga.


"Aku telah membawamu dalam keadaan ini," sahut Doni.


Aku menunduk air mataku menetes tanpa bisa aku tahan. Ini semua bukan cuma salah Doni, tapi salahku yang terlena oleh pesonanya.


"Aku boleh cerita sebentar? Ini tentang Maya." Doni merebahkan kepalanya di sandaran sofa.


Lalu Doni menceritakan tentang Maya yang terinfeksi virus HIV sejak dia keguguran dulu.


Maya yang keguguran dan sempat depresi karena kehilangan calon anaknya, sempat terjerumus ke dunia narkoba. Dia menjadi seorang pecandu.


Hampir setahun Maya berada di dunia itu, hingga suatu hari Maya sakit lumayan parah. Maya harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itulah baru terdeteksi kalau darah Maya sudah tercemar virus HIV.


Semua keluarganya terkejut, termasuk Doni yang berstatus sebagai suaminya.


"Saat itu kami sudah pisah rumah. Sejak dia kehilangan bayinya dan lari ke narkoba, aku memilih pindah dan mengontrak rumah sendiri," ucap Doni.


Tapi ternyata kepergian Doni tak membuat Maya sadar, dia malah semakin gila.


Sementara Doni harus berjuang sendiri untuk menyelesaikan kuliahnya. Walaupun sedikit, Doni memberi nafkah pada Maya.

__ADS_1


Tapi sayangnya uang itu disalahgunakan oleh Maya. Bahkan uang dari orang tua Maya yang diberikan pada Doni untuk membayar kuliahnya, juga dipakai oleh Maya untuk membeli sabu.


Setelah Doni selesai kuliah, orang tua Maya membantu mencarikan pekerjaan untuk Doni. Dengan harapan kehidupan Doni bisa mapan dan Maya mau ikut dengannya.


Awalnya keluarga Maya tak mengetahui kalau dia pecandu narkoba. Yang mereka tahu, Maya depresi karena kehilangan calon bayinya dan badannya semakin kurus.


Ditambah lagi, Doni yang malah pergi meninggalkannya. Setelah Doni menjelaskan barulah mereka tahu apa yang terjadi pada Maya.


Mereka semua berusaha menyadarkan Maya. Berbagai cara sudah dicoba, tapi Maya tak juga mau berubah.


Sampai kemudian, Maya sakit parah dan dinyatakan positif HIV, barulah Maya sadar. Tapi sayang sadarnya Maya sudah terlambat.


Dan keadaan Maya itu menyeret Doni. Bagaimana pun Doni adalah suaminya. Meski sangat jarang mereka bersama, tapi mereka pernah melakukannya lagi.


"Aku pun tak kalah takutnya dari kamu saat ini. Bahkan sampai sekarang aku masih tak berani memeriksakan diri. Aku takut kalau ternyata aku positif."


"Jadi sampai sekarang kamu belum tahu statusmu?"


Doni mengangguk. Untuk masalah sepenting ini, dia masih mengabaikannya?


"Itu juga kenapa aku tak pernah menceraikan Maya. Aku kasihan padanya. Kedua orang tuanya telah tiada. Siapa lagi yang akan mengurusnya kalau bukan aku?"


"Tapi sayangnya, sikap kasihanku disalah gunakan oleh Maya. Dia malah terus saja meminta uang padaku, selain buat berobat juga untuk dia bersenang-senang. Alasannya dia ingin menikmati hidup di sisa umurnya," lanjut Doni.


"Maafkan aku, Ar. Aku tak bermaksud begitu." Doni menundukan kepalanya.


"Kamu tega, Don. Kamu seret aku dalam keadaan ini." Aku terus saja menangis.


"Iya, aku salah. Aku jahat. Semua aku lakukan karena aku masih mencintai kamu, Aryani. Dan aku juga merasa diriku baik-baik saja, karena aku tak pernah sakit yang parah seperti Maya." Doni mengakui kesalahannya.


"Tapi bagaimana kalau ternyata kamu juga terinfeksi? Lalu bagaimana denganku?"


Doni mendekapku. Lalu mencium ujung kepalaku.


"Makanya tadi aku bilang. Teruslah bersamaku. Kalau memang kita akan mati karena virus itu, kita mati bersama."


Aku semakin ketakutan. Aku tak ingin mati sekarang, apalagi mati dengan membawa virus itu.


"Lalu kalau aku terus bersama kamu, bagaimana dengan Maya? Aku tak mau bermasalah dengannya, Don!" Maaf, bukan berarti aku ingin mereka bercerai, tapi setidaknya aku ingin kehidupanku nantinya lebih nyaman tanpa diusik oleh Maya.


Meski aku juga belum tentu sanggup kalau harus berpisah dengan mas Arka dan anakku.


"Nanti aku akan bicarakan dengannya. Mungkin aku akan tetap memberikan biaya untuknya berobat, dengan catatan dia tidak mengusik hubungan kita," jawab Doni.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan suamiku, Don? Dia terlalu baik untukku. Aku tak sanggup untuk meninggalkannya."


"Kamu tak sanggup meninggalkannya, tapi kamu sanggup untuk menularinya?"


Aku terdiam. Ah, kenapa masalahnya jadi serumit ini?


"Don. Sebelum aku ambil keputusan, ijinkan aku memeriksakan diriku dulu. Biar aku tak salah ambil keputusan," pintaku.


"Kamu siap kalau hasilnya ternyata positif?" tanya Doni.


"Siap enggak siap, Don. Itu lebih baik daripada kita hanya bisa meraba-raba. Kamu mau memeriksakan diri bersamaku?"


Doni menggeleng. Rupanya dia sangat paranoid.


"Ya sudah. Besok aku ke rumah sakit dengan Mila."


"Mila?" tanya Doni.


"Iya, Mila juga ingin memeriksakan dirinya. Kamu tahu sendiri kan kalau dia suka berganti-ganti pasangan?"


"Itu berarti Mila mengetahui keadaanku sekarang?" tanya Doni lagi. Dia kelihatan sangat ketakutan. Pasti dia berfikir, kalau Mila sampai tahu berarti banyak orang yang juga akan tahu.


"Mila yang memberiku informasi tentang Maya," jawabku.


"Dari mana Mila tahu tentang Maya?"


"Mereka kan berada di dunia yang sama, Don. Dan Mila mengatakannya padaku bukan bermaksud buruk. Itu karena Mila peduli denganku. Dia khawatir aku terinfeksi karena kamu adalah teman Mila." Aku mencoba membela Mila. Orang selama ini dinilai negatif oleh Doni.


Doni tertunduk.


"Kalau kamu mau membersihkan namamu, ikutlah bersama kami untuk memeriksakan diri," pintaku.


"Lalu bagaimana kalau hasilku positif?" tanya Doni.


"Ya sudah. Mau bagaimana lagi. Setidaknya kamu tak akan menyebarkan virus itu lagi pada orang lain," jawabku. Karena aku kesal, sangat kesal pada Doni.


"Aku tak akan mungkin menyebarkannya ke orang lain. Karena kamu akan menemaniku sampai akhir hayatku," ucap Doni dengan penuh percaya diri.


"Percaya diri sekali kamu, Don."


"Pastilah. Karena kalau aku positif, bisa dipastikan kamu juga positif."


Aku diam mematung. Itu artinya tak ada lagi pilihan untukku.

__ADS_1


__ADS_2