SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 50 SEMBUHLAH DEMI AKU DAN ANAKMU


__ADS_3

Mobil mas Arka udah laku terjual. Alhamdulillah, setidaknya aku punya pegangan untuk kebutuhan sehari-hari dan persiapan melahirkan nanti.


"Ar, kamu gak usah mikirin gaji bulananku. Pikirkan aja dulu untuk biaya persalinanmu" ucap Bima saat kami sedang menemani mas Arka makan siang.


"Maksud kamu?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


"Soal gajiku gampanglah, Ar. Urus aja dulu yang lebih penting" sahut Bima. Aku gak ngerti dengan jalan pikiran Bima.


Karena bagiku, membayar gajinya adalah kewajibanku. Kalau aku tidak menggajinya, lalu bagaimana dia bisa memenuhi kebutuhannya?


"Ar, aku kan masih bisa tinggal di sini gratis. Makan dan minum juga gratis. Jadi kamu gak perlu pusing mikirin aku" ucap Bima lagi.


"Ya gak bisa gitu juga, Bim. Aku harus tetap mikir gaji kamu. Itu kan hak kamu" sahutku.


"Tapi, Ar...."


"Udah gak usah dibantah. Aku akan tetap membayar gaji kamu!" ucapku, lalu aku masuk ke kamarku. Malas aku berdebat.


Aku merebahkan tubuhku di ranjangku. Sambil menghitung berapa kira-kira pengeluaranku sampai melahirkan nanti.


Ternyata pusing harus memikirkan semuanya sendiri. Tapi kalau aku bilang ke ibu mertuaku, nanti ibu malah jadi ikutan pusing. Sementara ibu juga harus memikirkan dirinya sendiri.Tak terasa aku tertidur.


Aku terbangun saat tanganku tiba-tiba menyentuh sesuatu di sampingku. Aku spontan membuka mataku.


Ternyata mas Arka sudah berbaring di sampingku. Kapan Bima membawanya ke sini? Lalu bagaimana aku bisa bergeser tidurnya? Jangan-jangan Bima yang menggeserku?


Ah iya, aku tadi memang tak mengunci pintu kamarku. Kenapa aku selalu ceroboh begini?


Kulihat mas Arka masih memejamkan matanya. Aku beringsut turun dari tempat tidur. Biar gak mengganggu mas Bima.


Karena haus, aku keluar menuju dapur. Setelah minum, aku berjalan ke ruang tengah.


Pintu kamar Bima sedikit terbuka. Aku hanya melihatnya sekilas. Tapi aku mendengar Bima sedang berbicara. Sepertinya dia sedang menerima telefon.


Tadinya aku gak peduli. Tapi suara Bima yang sedikit keras, membuatku terpaksa mendengar pembicaraannya.


'Ya udah, ibu dibawa dulu ke rumah sakit. Aku nanti sore ke sana, setelah menyelesaikan pekerjaanku di sini.' Itu suara Bima. Lalu dia telefonan dengan siapa?

__ADS_1


Baru aja aku sampai di sofa, Bima udah keluar dari kamarnya. Dia yang melihatku, langsung menghampiriku.


"Ar, aku nanti mau ijin keluar dulu ya? Ada urusan penting. Mungkin besok pagi-pagi aku baru bisa ke sini lagi" ujar Bima. Aku diam menyimak omongannya.


"Bagaimana kalau aku membersihkan suami kamu sekarang. Hm, maksudku kalau suami kamu udah bangun?" tanya Bima.


Bima kelihatan sangat gelisah. Wajahnya sedikit murung.


"Kamu kenapa, Bim? Kalau ada masalah, bilang ke aku. Mungkin aku bisa bantu." Aku mencoba menawarkan bantuan.


"Gak apa-apa. Aku cuma ada urusan aja. Besok pagi-pagi juga aku akan kembali ke sini. Tapi kalau gak boleh, ya gak apa-apa." Bima lalu duduk tanpa semangat di sofa satunya.


"Boleh, Bim. Aku kan cuma nanya. Kalau kamu gak mau jawab juga gak apa-apa." Aku menghela nafasku. Sepertinya Bima tak tau kalau aku tadi sempat mendengar pembicaraannya di telefon.


"Makasih, Ar. Aku lihat suami kamu dulu. Kalau sudah bangun, aku bereskan sekarang aja." Bima lalu berdiri dan menuju kamarku.


Aku hanya menatap punggungnya. Ada masalah apa dia sampai minta ijin keluar dulu?


Agak lama Bima di kamarku. Sepertinya mas Arka sudah bangun, dan sedang dibersihkan.


Aku membuka lemariku, mengambil dompetku. Aku ambil uang satu bendel seratusan yang tadi aku terima dari penjualan mobil.


"Pakai ini. Kamu pasti membutuhkannya." Aku mengulungkan uang itu kepada Bima.


Bima menolaknya. Katanya dia tak ingin merepotkan aku.


"Aku tau kamu sangat membutuhkan ini, Bim. Ibu kamu masuk Rumah Sakit?" tanyaku to the point. Bima menatapku tajam.


"Kamu tau dari mana?" tanya Bima. Aku hanya tersenyum, lalu meninggalkan Bima setelah memaksanya menerima uang itu di tangannya.


Bima mengikutiku sambil mendorong kursi roda mas Arka. Aku sengaja pura-pura gak tau. Aku terus saja berjalan ke teras.


Lalu Bima memarkirkan kursi roda mas Arka di sampingku. Dia memegang uang dari aku tadi.


Setelah menghela nafasnya, Bima bilang kepadaku kalau dia janji akan segera mengembalikan uang itu.


Aku hanya mengangkat bahuku saja. Bukan tak peduli. Tapi tak ingin membebani Bima karena merasa berhutang padaku.

__ADS_1


Anggap saja itu hadiah untuknya. Karena bagaimana pun, Bima telah banyak membantuku selama ini.


Jadi apa salahnya aku membalas kebaikannya. Walaupun aku gak tau yang sebenarnya. Karena Bima sedikit pun tak pernah menceritakan tentang keluarganya.


Aku juga gak pernah menanyakannya. Bukan gak mau tau, tapi aku gak mau mencampuri urusan pribadinya.


Setelah mengucapkan terima kasih, Bima masuk ke kamarnya. Tak lama dia pun keluar dengan tas ransel di punggungnya.


Sepertinya dia membawa banyak pakaian. Bukannya dia bilang besok pagi-pagi mau kembali lagi ke sini?


"Aku permisi dulu, Ar. Aku janji besok pagi-pagi aku sudah sampai di sini" ucap Bima pamit padaku. Aku mengangguk.


Tak lama, ojek online datang menjemput Bima. Biasanya dulu Bima sering membawa mobil mas Arka kalau pamit keluar.


Aku masih duduk di teras memandang mas Arka yang masih saja duduk di kursi rodanya. Sudah dua bulan dia terduduk tanpa bisa merespon apapun. Hanya matanya saja yang sering memberi isyarat lewat air mata.


"Mas, kapan kamu sembuh? Aku kangen kamu yang dulu, Mas. Aku butuh kamu. Aku sendirian, Mas" ucapku lirih. Mataku berkaca-kaca.


Aku genggam tangan mas Arka. Aku mencium tangannya.


"Mas, kamu dengar aku kan, Mas? Ayo bangkitlah, Mas. Lawan penyakitmu. Mana Mas Arka yang dulu? Mana Mas Arka yang tangguh? Bangkit Mas." Tak terasa air mataku mulai mengalir di pipiku.


Aku menatap wajah mas Arka. Aku melihat ada genangan bening di sana. Dan tiba-tiba aku merasakan sedikit getaran di tanganku.


Aku menatap tanganku. Ya, tadi aku merasakannya sedikit.


"Ayo, Mas. Aku tau kamu mendengarku. Aku tau kamu bisa, Mas. Gerakan lagi tanganmu kayak tadi. Kamu bisa, Mas!" ucapku sambil terisak.


Aku goyang-goyangkan tangan mas Arka. Tapi tangan itu kembali diam tak bergerak. Bahkan kembali lemas.


Aku menangis. Aku yang berjongkok di depan mas Arka, meletakan wajahku di atas pangkuannya. Aku terus saja menangis.


Puas menangis, aku angkat wajahku. Aku tatap lagi wajah mas Arka. Buliran bening itu sudah membasahi pipinya yang semakin tirus.


Aku menghapus air mataku. Lalu aku juga menghapus air matanya.


"Mas, aku tak butuh air matamu. Aku butuh kamu bangkit. Aku butuh kamu sembuh. Aku pingin kamu sehat lagi, Mas. Ayo Mas, sembuhlah demi aku. Demi anakmu." Aku kembali menangis di pangkuan suamiku.

__ADS_1


__ADS_2