SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 86 UNTUNG ADA DONI


__ADS_3

Aku kebingungan melihat Edwin yang sudah tak sadarkan diri. Aku berusaha memanggil Mila. Tapi karena suara musik yang sangat keras, Mila tak mendengar panggilanku.


Terpaksa aku berjalan mendekatinya. Lucky teman Mila yang kelihatannya juga sudah mabuk, mencolek tanganku.


Aku menoleh ke arahnya. Dia malah meraih tanganku. Aku berusaha menepisnya. Tapi tenaganya lebih kuat, hingga tubuhku jatuh ke pelukannya.


Aku berusaha melepaskan diri. Tapi pelukannya semakin erat, bahkan dia berusaha menciumku. Aku tahan kepalanya dengan tanganku.


"Mil! Mila!" Aku berteriak memanggil Mila. Tapi Mila asik berjoged sambil tertawa-tawa dengan yang lainnya.


Aku hampir menangis karena Lucky terus saja mencoba menciumku. Tangannya masih memeluk erat tubuhku.


"Lepaskan!" Aku terus berusaha melepaskan diri. Tanganku masih menahan wajahnya agar tak bisa menciumku.


"Ayolah. Kita bersenang-senang" ucap Lucky dengan bau alkohor menguar dari mulutnya.


Tiba-tiba datang seorang laki-laki dan langsung menarik tubuhku dari pelukan Lucky. Dan...Bugh!


Lucky terhuyung ke belakang, sebuah bogem mentah mendarat di wajahnya. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya.


Aku memalingkan wajah saat bogem mentah itu melayang ke wajah Lucky.


Lucky berusaha tegak kembali dan hendak membalas. Tapi lelaki itu berhasil menangkis pukulan Lucky.


Aku memperhatikan wajah lelaki itu diantara kerumunan orang. Mereka yang tengah berjoged menghentikan kegiatannya.


"Doni" gumamku pelan. Kenapa dia bisa ada di sini?


Doni terlibat baku hantam dengan Lucky. Aku lihat Doni sempat mendapatkan satu pukulan dari Lucky yang juga mengenai wajahnya.


Beberapa orang berusaha melerai mereka. Lucky yang mabuk meracau tak jelas, tubuhnya di pegang erat oleh beberapa orang lelaki.


Sementara Doni juga di pegangi oleh beberapa lelaki, agar tak menyerang Lucky lagi.


Setelah Doni agak tenang, dia menghampiri aku.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Doni sambil matanya meneliti tubuhku dari atas hingga ke bawah.


Aku menggelengkan kepalaku. Lalu Doni menarik tanganku untuk keluar dari tempat itu.


Sebelum keluar, aku sempat melihat Mila bersembunyi diantara beberapa temannya.


Mungkin dia tidak enak kalau ketahuan Doni. Bagaimanapun Doni adalah atasan kami.


"Kenapa kamu bisa ada di sana?" tanya Doni saat kami sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Aku...diajak Mila." Terpaksa aku terus terang, karena Doni tak akan percaya kalau aku berbohong datang ke sana sendiri.


Doni tau persis dari dulu aku tak pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu.


"Mila. Kamu jangan terlalu dekat dengan dia. Maksudku cukup urusan pekerjaan saja. Dunia malam tidak baik buat perempuan seperti kamu."


Iya, aku paham. Mila sepertinya sudah terbiasa dengan dunia gemerlap seperti itu.


"Untung tadi aku pas ke sana. Coba kalau tidak. Habis kamu dimangsa mereka" ucap Doni sambil fokus menyetir.


"Kamu juga sering ke sana?" tanyaku. Doni melirikku.


"Aku ada janji dengan teman di sana." Doni terus melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Kamu masih tinggal di rumah mertuamu, kan?"


Aku mengangguk.


"Tumben iparmu tidak menjemput?" tanya Doni.


"Entahlah. Aku malah senang" sahutku.


"Besok lagi kalau iparmu tidak menjemput, kamu pulang naik taksi online saja. Atau kamu bilang ke aku, nanti aku antar kamu pulang" ucap Doni.


Bilang ke Doni? Yang benar saja. Dia kan atasanku. Masa seorang atasan mengantar bawahannya.


"Masa aku minta antar kamu sih? Apa kata orang?"


"Kenapa harus peduli kata orang? Kan yang ngejalanin kita" sahut Doni.


Iya juga sih, cuma aku merasa gak enak aja kalau mesti minta antar Doni.


"Kamu pulang ke kontrakanmu, Don?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Enggak. Memangnya kamu mau nemenin aku, kalau aku pulang ke rumah kontrakanku?" Doni menggodaku.


"Ih, emangnya aku cewek apaan? Yang ada istri kamu ngamuk-ngamuk kalau tau" sahutku sambil mencubit lengan Doni.


"Ya jangan sampai tau lah" sahut Doni santai.


Aku menatap jalanan lagi. Maksud hati mengalihkan pembicaraan malah kena lagi.


"Kita makan malam dulu, yuk. Aku laper nih" ajak Doni.


Dan tanpa menunggu jawaban dariku, Doni sudah membelokan mobilnya ke sebuah kedai makan.


"Kelamaan. Kalau kamu gak setuju ya sudah. Kamu tunggu di mobil aja. Aku makan sendiri" sahut Doni tanpa rasa bersalah.


Nyebelin banget kan? Masa aku di mobil nunggu dia makan?


Aku pun ikut turun dan membuntut di belakang Doni.


"Sini. Kita tidak sedang main kereta-keretaan, kan?" Doni menghentikan langkahnya dan menarik tanganku biar jalan di sisinya.


Aku pun menurut lagi, berjalan di sebelahnya.


"Hey, Don! Apa kabar?" Tiba-tiba ada seorang lelaki seumuran kita menyapa Doni.


"Beni?" Doni menatap lelaki itu. Lalu mereka saling berpelukan. Sepertinya mereka teman yang lama tak jumpa.


"Ini?" tanya temannya yang bernama Beni.


"Oh. Kenalin. Ini Aryani, istriku."


Degh.


Dengan santainya Doni memperkenalkanku sebagai istrinya. Gila nih orang.


Beni menyalamiku. Aku pun menyalaminya. Tapi dengan pikiran tak karuan.


Setelah berbicara basa basi sebentar dan saling bertukar nomor ponsel, Beni pamit pergi.


Aku dan Doni mencari bangku kosong.

__ADS_1


"Kok kamu ngenalin aku sebagai istrimu?" Aku menatap wajah Doni. Dia malah cengar cengir.


"Biar gampang jawabnya. Beni itu orangnya kepo. Kalau aku bilang kamu bawahanku, pasti dia akan nanya macem-macem" sahut Doni. Masuk akal.


"Tapi yang pasti biar dia tidak minta nomor ponselmu juga."


Aku mengernyitkan dahi. Maksudnya?


"Beni itu buaya darat. Gak bisa lihat yang bening-bening" ucap Doni lagi.


Emangnya aku air putih? Dibilang bening.


"Memang kenapa kalau dia minta nomor ponselku?" tanyaku iseng.


"Emm. Enak aja!" sahut Doni. Dengan raut wajah yang sulit aku tebak. Aneh-aneh saja.


Selesai makan, Doni menawariku lagi.


"Mau kemana lagi?"


Aku menatap wajah Doni. Sudah hampir jam sembilan malam. Gak mungkinlah aku minta kemana-mana.Bisa habis aku diceramahi mas Teguh.


"Pulanglah. Sudah malam" sahutku sambil berjalan keluar dari kedai makan.


"Oke. Aku antar pulang. Perlu gak nih, aku bilang ke iparmu, kalau kamu habis nemani aku makan malam?" Doni menggodaku lagi.


"Gak perlu. Aku sudah bikin alasan yang tepat kok" sahutku.


"Eh, sudah mulai nakal ya? Bikin alasan apa kamu sama iparmu?"


"Aku cuma bilang ke Bi Yati, pembantu di rumah. Kalau aku hari ini...ada meeting dengan bos" sahutku.


Doni tertawa terbahak-bahak.


"Alasan yang tidak masuk akal!" ucap Doni.


"Biarin. Toh bi Yati gak pernah tau status pekerjaanku" sahutku.


"Iya. Tapi bagaimana kalau iparmu tau?"


Aku hanya mengangkat bahuku.


Aku jadi ingat dengan mas Teguh. Dari tadi aku tak melihat ponselku. Dan memang ponsel aku silent.


Dan benar saja. Ada puluhan panggilan suara tak terjawab dari mas Teguh.


Aku intip pesan yang dikirimkannya.


(Meeting dimana?)


(Pulang jam berapa?)


(Tolong angkat telponku)


Dan masih banyak lagi. Aku enggan untuk membacanya.


"Dari iparmu?" tanya Doni melirik ke arahku. Aku mengangguk malas.


"Kalau kamu gak nyaman, blokir aja nomornya." Dengan entangnya Doni berkomentar.

__ADS_1


__ADS_2