
Aku menggandeng mesra tangan suamiku. Aku gak akan memberi celah sedikitpun untuk perempuan lain.
Dan aku gak akan memberi ampun, untuk perempuan yang coba-coba menggoda suamiku.
Kalau perempuan lain bisa tampil seksi, aku juga bisa. Kalau perempuan lain bisa pamer paha mulus, aku juga bisa. Tapi semua itu aku lakukan di dalam rumah. Bukan untuk santapan publik.
Mas Arka juga pastinya gak akan rela, kalau tubuh istrinya di eksploitasi.
Malam ini aku akan melayani suamiku all out. Tadi siang aku udah browsing di google, berbagai gaya yang bisa memuaskan suami.
Maklumlah, aku kan pemula. Jadi harus banyak belajar. Dan belajar yang paling gampang dan murah ya lewat internet. Tinggal klik, langsung deh muncul tutorialnya.
Seumur-umur, baru kali ini aku membuka situs-situs seperti itu. Sedikit menjijikan. Tapi demi memuaskan suami, apapun akan aku lakukan.
Aku pernah mendengar kalimat, kalau perlu jadilah pelacur untuk suamimu. Sebuah kalimat yang absurd, menurutku. Tapi kalau di pahami dengan benar, gak ada salahnya juga. Karena cara kerja pelacur kan memuaskan lawannya. Begitu juga kita, sebagai istri harus bisa memuaskan suami di atas tempat tidur.
Agar gak ada alasan bagi laki-laki untuk jajan di luar, sekedar mencari kepuasan sesaat. Dan membuat laki-laki kangen, ingin segera pulang ke rumah.
Aku pun di sela-sela kesibukanku mengurus rumah, aku mengurus diri sendiri. Aku manjakan diriku dengan luluran, olah raga kecil biar badan bugar. Jangan sampai suami melihat rumput tetangga lebih hijau.
Apalagi tetanggaku kalau berpakaian all out. Jangan sampai matanya terkontaminasi. Jangan sampai otaknya traveling kesana. Aku akan buktikan, kalau aku sebagai istri jauh lebih mempesona.
Tapi rencana tinggal rencana. Selesai makan malam, mas Arka mengeluh sakit kepala. Dia meminta aku mengambilkan obatnya di tas kerjanya.
Aku jadi teringat dengan kertas copy-an resep, yang aku temukan di halaman buku, yang ada di bawah meja teras depan. Apakah obat yang sama?
Aku segera masuk ke kamar, yang di manfaatkan untuk kamar kerja mas Arka. Aku buka tas kerjanya. Aku menemukan beberapa lembar strip obat. Rupanya di tas kerjanya, dia menyimpan obat-obatannya. Pantesan aja aku bongkar laci dan lemari, gak ketemu.
Karena kebetulan aku mengantongi ponsel, aku memotret obat-obatan itu. Besok aku akan searching di google, mencari tau obat apa itu.
Aku segera menuju ruang tengah. Aku lihat suamiku sedang memgangi kepalanya. Aku mengambilkannya segelas air putih. Dan memberikan obat-obatan itu.
"Bisa tolong di bukakan sayang?" pinta mas Arka. Tanpa di perintah dua kali, aku ssgera membuka obat-obatan itu. Lalu aku memberikannya beserta air minum.
__ADS_1
"Itu obat apa mas?" tanyaku pelan.
"Obat untuk mengurangi rasa sakit" jawab mas Arka.
"Sebanyak ini?" tanyaku lagi. Karena ada empat macam yang langsung di minum mas Arka tadi.
Mas Arka hanya mengangguk, tanpa berniat menjawab pertanyaanku. Aku memilih diam. Karena aku lihat dia memegangi kepalanya terus. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Mau aku bantu ke kamar mas?" tanyaku lagi. Masih pelan. Mas Arka hanya mengangguk. Lalu aku menuntunnya menuju ke kamar.
Aku bantu dia naik ke tempat tidur. Lalu menyelimutinya.
Aku ingin bertanya banyak, tapi gak tega melihat matanya yang terus di pejamkan, seolah menahan sakit. Aku hanya berbaring di sebelahnya, sambil mengusap-usap lengannya.
Tak lama kemudian, aku mendengar dia mendengkur pelan. Kelihatannya dia sudah tertidur.
Aku bangkit dari tempat tidur. Aku mau membereskan bekas makan kami tadi. Dan mematikan lampu ruang tamu.
Selesai dengan semua itu, aku menyusul mas Arka tidur. Karena gak ada lagi yang bisa aku lakukan.
Di ruang tengahpun tak ada. Lalu aku melihat ke arah kamar kerja. Lampunya menyala. Padahal tadi sebelum tidur, aku udah mematikannya. Apa mas Arka ada di sana?
Aku memanggilnya pelan. Lalu masuk tanpa mengetuknya, karena pintunya tidak di tutup. Aku lihat mas Arka tertidur di kursi, dengan kedua tangan menumpu kepalanya.
Aku trenyuh melihatnya. Ingin membangunkan, tapi tak tega. Membiarkannya sendirian di sini juga gak tega.
Akhirnya aku menggeser sebuah sofa kecil dari ruang tengah. Aku letakan di dekat pintu masuk. Lalu aku meringkuk di situ.
Hingga pagi menjelang, aku di bangunkan oleh mas Arka. Aku menggeliatkan badanku yang terasa pegal, karena tidur meringkuk.
"Kenapa kamu jadi tidur disini sayang?" tanya mas Arka.
"Semalam aku nyariin mas. Ternyata mas tidur di sini. Ya udah, aku ikut tidur disini juga" jawabku jujur.
__ADS_1
Mas Arka merengkuh tubuhku erat. Lalu mengecup puncak kepalaku.
"Udah pagi. Mau lanjut tidur di kamar?" tanya mas Arka.
Aku menggeleng.
"Aku mau ke kamar mandi dulu mas. Jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam enam sayang" jawabnya. Aku kebablasan. Aku melewatkan sholat subuh.
"Mas mau siap-siap ke kantor ya. Kamu gak perlu memasak untuk sarapan. Kalau bisa buatkan mas roti aja, di oles selai coklat. Sama teh hangat seperti biasa" pinta mas Arka.
Aku mengangguk. Lalu segera ke kamar mandi, untuk sekedar gosok gigi dan cuci muka, biar sedikit segar. Dan langsung menuju dapur, menyiapkan pesanan suamiku.
"Mas yakin mau berangkat kerja?" tanyaku, saat mas Arka menyantap rotinya.
"Jam sembilan ada rapat penting sayang. Mas harus datang" jawabnya. Dan buru-buru menyelesaikan makannya.
Aku mengantarkannya ke teras depan. Melepas kepergian suamiku ke kantor. Aku masih melihat si perempuan aneh, berdiri menghadap ke rumah kami.
Saat ini, baik aku maupun mas Arka tak ada yang menggubrisnya. Mas Arka sedang terburu-buru. Sedangkan aku, lebih khawatir dengan kesehatan suamiku.
Begitu mobil mas Arka tak terlihat lagi, aku segera masuk ke dalam rumah. Baru saja aku akan menutup pintu, tiba-tiba si tetangga seksi itu memanggilku.
Aku urung menutup pintu. Aku melihat ke arahnya. Dia menghampiri aku.
"Semalam berapa ronde, sampai kesiangan bangunnya?" tanyanya membuat kesal aku.
Aku yang sedang gak berminat berdebat dengannya, langsung menutup pintu dengan keras. Tepat di depan wajahnya. Aku melihat dari jendela, dia terhenyak ke belakang, sambil mengumpat. Entah apa yang di katakannya. Aku tak peduli.
Aku segera mengambil ponselku, dan menghidupkannya. Aku buka dulu foto obat-obatan suamiku, untuk kemudian aku cari penjelasannya di google.
Aku terdiam di tempatku. Mematung. Aku sangat terkejut dengan hasil penelusuranku. Hampir saja ponselku jatuh.
__ADS_1
Obat-obatan itu termasuk obat keras. Ada obat penurun tekanan darah. Ada obat pengencer darah. Ada juga vitamin untuk otak. Ada apa dengan suamiku?